Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
50. Ketinggalan


__ADS_3

Satu persatu mahasiswa yang ikut Ruang Inspirasi menapakan kakinya memasuki bus dari kampus negeri tempat Jingga seleksi. Jelas dari semua yang ikut adalah teman baru untuk Jingga, kecuali Uti dan Tari. 


Jingga tampak diam dengan identitas dirinya yang berkelas. Jingga memilih kursi bus yang berjajar tiga kursi, di kursi paling depan dekat sopir. Kebetulan bus kampus itu terdiri dari dua kursi dari sebelah kiri dan 3 kursi sebelah kanan. 


“Gue duduk di pinggir ya!” tutur Jingga meminta ke Uti dan Tari duduk di tepi jendela.


“Oke!” jawab Tari dan Uti mengalah. 


Jingga diam di kursinya memainkan ponsel. Kia memberitahu Bunanya untuk mengambil koper. Meski Jingga duduk di depan Jingga tidak peduli ke teman- temanya yang masuk dan naik ke bus melewati dirinya.


Padahal wajah Jingga yang terkesan cantik mendominasi dan baru ikut gabung ke komunitas, cukup menarik perhatian. Teman-teman pun berkasak kusuk siapa Jingga?


Berbeda dengan Jingga yang pendiam karena tidak pandai bergaul, teman- teman baru Jingga di dalam bus tampak riuh dan ceria. Mereka saling sapa, berkenalan dan bercerita. Bahkan di antara mereka ada yang membawa gitar dan okulele. Mereka bersiap menghidupkan suasana bus.


Sebelum bus melesat, salah satu teman yang bernama Feri memimpin doa perjalan. Lalu disusul dengan teman yang lain saling bercanda dan menyanyi bersama.


Di dalam bus itu mereka ramai, seperti sudah saling kenal. Mereka langsung membaur jadi satu dan akrab. Mereka terlihat tanpa beban, bersuka cita menikmati perjalanan bersama. 


Di tengah perjalanan menuju bandara, salah satu teman berdiri memetik dawai gitar dan ukolele. Mereka mewarnai perjalanan bus itu dengan membawakan lagu- lagu asik versi mereka.


Kebetulan salah satu teman yang bernama Fadil penggemar Sheila on seven. Lagu pertama yang dinyanyikan adalah lagu tunggu aku di Jakarta, dilanjut Seberapa Pantas, Dan, Itu Aku terakhir Anugerah Terindah. Selanjutnya lagu- lagu sesuai permintaan teman- teman. 


Penumpang bus pun ikut berdendang, menikmati petikan gitar dan ukolele dari kawannya itu. Mereka yang hafal lirik itupun ikut bernyanyi. Suasana di dalam bus benar- benar menyenangkan dan hangat. Sayangnya Jingga belum bisa menyesuaikan diri dan tetap merasa asing. Bagi Jingga situasi seperti itu aneh dan berisik.


“Kok lo diam aja sih Ngga? Lo nggak sakit kan?” senggol Tari ke Jingga saat teman- teman kompak menyanyi Jingga malah diam menatap jalanan.


“Terus gue harus ngapain?” jawab Jingga dengan polosnya.


“Nikmati dong. Kita nyanyi bareng!” jawab Tari lagi. 


“Nikmati apaan sih? Nggak suka gue! Ish,” jawab Jingga ketus. 


Saat Jingga mejawab pertanyaan Tari, sebenarnya Jingga hanya menjawab sesuai hatinya. Jingga tidak berniat menghina atau menyinggung, tapi rupanya teman Jingga di belakang mendengar Jingga. Mereka pun langsung memberikan respon berbeda.


Orang itu adalah, Lili, Desi dan Nia. Mereka langsung melihat dan mengambil kesimpulan Jingga anak yang sombong. 


“Apa maksud lo nggak suka?” tanya Uti menyahut dan ikut tersinggung.


“Nggak apa- apa! Gue pengen diem aja!” jawab Jingga lagi dengan wajah tanpa ekspresi.


"Lo nggak kalau mau mundur mundur aja, Nggak!" ucap Uti emosi.


"Gue mau ikut kok. Emang salah ya kalau gue diem?"


“Nggak, nggak! Ya udah sih nggak usah dibahas!” sahut Tari melerai. Mereka pun terdiam. Untung yang dengar hanya mereka dan teman yang di belakang mereka.


Tidak lama bus sampai di bandara. Ternyata pesawat khusus yang memang sudah di booking untuk program Ruang Inspirasi sudah menunggu.

__ADS_1


Peserta ruang inspirasi juga tidak hanya dari daerah Jingga, masih ada 2 kelompok lain dari provinsi yang berbeda. Mereka juga berasal dari banyak kampus dan mengikuti seleksi di salah satu kampus besar di provinsinya. Jadi peserta masing - masing provinsi ada satu kampus besar yang ditunjuk sebagai tempat seleksi, tapi pesertanya tak terbatas dari mana saja.


Mereka pun masuk ke pesawat dan menempati kursi masing- masing. Bagi Jingga ini pertama kalinya naik pesawat yang kelas ekonomi dan komersil. Jingga kan biasanya naik pesawat pribadi milik keluarga kakeknya.


"Buna... kenapa pesawatnya sesak begini?" batin Jingga kecewa.


Jingga merasa kesal. Jingga merasa pusing karena tidak biasa. Hal itu membuat Jingga semakin diam selama di perjalanan. Jingga tidak mengobrol satu katapun dengan temanya.


Tanpa Jingga tahu, ternyata ada sesosok yang sedari tadi memperhatikan Jingga. Orang itupun tersenyum dengan penuh tanda tanya. Di dalam pesawat dan di dalam bus itu, hanya Uti, Tari dan orang itu yang tahu identitas Jingga. 


“Kita lihat saja nanti, seberapa kamu bertahan?Apa sebenarnya motivasimu ikut kegiatan ini? Gadis angkuh!” batin orang itu. 


***


Sekitar 3 jam perjalanan pesawat mendarat di pulau S. Semua peserta pun turun. Jingga mengekori Tari dan Uti.


Mereka ternyata singgah di sebuah penginapan khusus, yang berbentuk Asrama tua, sekamar 3 orang. Mereka akan singgah di situ selama 3 hari. Mereka akan dibekali dengan pembagian kelompok, tempat kerja, pengenalan mengenai tempat yang akan dituju dan apa saja yang harus mereka lakukan. 


“Alhamdulillah sampai juga!” ucap Uti langsung merebahkan badan di kasur tingkat. 


“Kita tidur di sini?" tanya Jingga.


Jingga menatap kamar Asrama getir, kamar itu sempit, luasnya hanya seperempat kamarnya di rumah Baba Ardi. Ranjangnya pun tingkat tiga dan cukup satu orang. Fasilitasnya hanya ada satu lemari untuk berbagi. Sangat asing buat Jingga.


"Ya!" jawab Tari.


“Iya kenapa?” tanya Uti sinis, melihat ekspresi Jingga yang tampak sangat sedih.


“Nggak apa- apa!” jawab Jingga menahan dirinya untuk tidak mengeluh. 


Padahal dalam hati Jingga ingin menangis, Jingga kan orangnya  jijikan dan maunya bersih semua. Di rumah saja Jingga mau sprai di kamarnya selalu diganti. Jingga mau kamarnya selalu wangi. Apa ini? Kamar bertingkat spreinya tampak usang, aromanya juga seperti pakaian lama.


Jingga menelan ludahnya dan menatap ngeri ke sekelilingnya.


“Kuat, Jingga kuat, ini lebih baik daripada aku harus menikah segera dengan dosen itu!” batin Jingga dalam hati. 


“Ya udah mandi yuk!” ucap Tari mengajak temanya mandi. 


“Kamar mandinya Cuma satu. Siapa dulu?” tanya Uti. 


“Gue dulu ya!” ceplos Jingga ingin segera membersihkan diri.


“Oke!” jawab Uti dan Tari. 


Jingga kemudian membuka kopernya berniat hendak mengambil alat- alat mandinya. 


“Sreeet!” Jingga membuka kunci kopernya. 

__ADS_1


Seketika mata Jingga melotot melihat isi kopernya. 


“Hah.... kok ini?” gumam Jingga kaget.


Lalu Jingga megobrak- abrik isi kopernya itu. Tari dan Uti kemudian saling pandang melihat aneh ke Jingga. 


“Lo kenapa Ngga’?” tanya Tari dan Uti melihat Jingga panik dan gusar. 


“Duh gimana nih?” ucap Jingga terlihat sangat panik. 


“Gimana apanya?” 


“Alat mandi gue ada di koper yang satunya. Ini isinya makanan dan alat tulis doang!” ucap Jingga kecut menatap teman- temanya.


Uti dan Tari kemudian turun dan melihat isi koper Jingga. Ternyata isi koper Jingga berbagai macam coklat, snack ringan dan camilan lain. Benda besar selain makanan adalah kamera, power bank, mukenah, ballpoint dan buku. Lalu kotak kecil berisi obat- obatan. 


Untuk pakaian, alat mandi, sepatu, sandal, make up ada di koper Jingga yang Jingga tinggalkan di kampus tempat Bus mereka menunggu. Jingga kan tidak membereskan dari awal, jadi Jingga tidak tahu apa isi di setiap kopernya. 


“Ya ampun Jingga!” ujar Uti melongo melihat isi koper Jingga. 


“Lo mau piknik apa mau ikut Ruang Inspirasi sih Ngga’?” tanya Tari menimpali. 


“Maaf! Gimana dong!” jawab Jingga dengan muka polosnya. 


“Kok bisa gini? Lo nggak bawa baju? Alat mandi juga nggak? Terus lo mau gimana?” tanya Uti lagi seakan mau bilang Jingga bodoh. 


“Gue udah siapin semuanya, gue juga udah belanja baju seperti apa yang kalian bilang. Tapi gue salah ambil koper, yang natain tuh ART gue, jadi gue nggak inget kalau koper ini isinya makanan doang!” jawab Jingga bercerita tanpa merasa bersalah.


“Ck. Hah!” Uti dan Tari kemudian berdecak dan menatap Jingga heran. 


Jingga diam menunduk memilin jarinya. Niat mereka kan ikut ruang inspirasi melatih diri mandiri. Apa ini? Uti dan Tari malah siap- siap kedapetan bayi besar yang siap merepotkan mereka. 


“Lo harus beli, pumpung kita belum berangkat ke pulau P! Di sana nggak di gunung akan susah cari pakaian!” ucap Tari memberitahu. 


“Ok! Di daerah sini, ada toko nggak yah?” tanya Jingga. 


“Coba aku tanyain ke teman sebelah ya!” ucap Tari dewasa dan baik. 


“Iya, makasih!” jawab Jingga. 


Endingnya persiapan Jingga belanja di Mall tempo hari yang menghabiskan uang jutaan rupiah sia- sia. Semua baju mahal Jingga, make up mahal Jingga, dan sepatu mahal Jingga, semua ditinggalkan. Di tas punggung Jingga pun juga hanya ada laptop, charger ponsel dan parfum. 


****


Maaf ya, kalau cerita ini agak berbeda dengan nupel author lain.


Makasih udh baca.

__ADS_1


Oh ya, meski berbeda, kalau mau ada bayangan ttg kegiatan Ruang Inspirasi yg author buat, kakak semua boleh search ttg, SM3T, Seribu Guru, Kelas Inspira dan Nusantara sehat. (Pokoknya ide author dari itu) tapi ini beda.


__ADS_2