
Seiring berputarnya detikan jam, pesawat yang Jingga naiki sampai pada ujung lintasanya. Jika sejauh mata memandang selama beberapa waktu selalu awan yang Jingga lihat, lautan yang membentang, gunung yang terlihat hijau seperti lukisan mulai tampak dalam pandangan Jingga.
Deru suaraa mesin mulai mengeluarkan suara yang berbeda. Pramugari juga melakukan pekerjaanya, memberikan peringatan kepada para penumpang, perjalanan mereka akan berakhir.
Setelah beberapa detik, pesawat itu mendarat. Kata syukur terucap, mengungkapkan betapa leganya perjalan panjang mereka usai. Semua kemudian turun.
“Huuuuft hah!”
Jingga menghela nafasnya, menginjakan kakinya di tanah pulau P, merasakan udara yang berbeda. Udara pulau P yang masih terasa begitu murni. Meski di sekitar bandara, tapi suasana tampak lebih sepi, tak banyak gedung tinggi seperti bandara di Ibukota.
Jingga melihat sekeliling, tak ada yang Jingga kenal karena Uti dan Tari turun dengan cepat bergabung bersama kelompoknya. Jingga kini benar- benar sendirian, berpijak pada tanah asing, dengan orang asing, tanpa tumpuan tanpa pengawaalan atau perlindungan.
Hati Jingga mulai bergetar, karena detik ini, Jingga mulai menyadari bahwa kini dirinya harus menentukan sikap seorang diri. Melakukan kebebasan kehendak apa yang hendak dia lakukan tanpa intervensi.
Bahkan di sini, tak ada jaminan apakah Jingga akan bisa kembali bersua dan bertemu dengan Baba dan Bunanya. Ya,Jingga akan mengukir jalanya sendiri.
Saat turun tadi Jingga memang masih sempat melihat Tama. Karena mereka berbeda agenda Tama sudah bergabung bersama rombonganya. Adip yang masih dalam penyelidikanya siapa dia sebenarnya juga tak ada dalam pandangan Jingga lagi.
Jingga kemudian berjalan mengekor kelima teman baru yang nanti akan menjadi keluarga barunya di desa T. Jingga sempat berkenalan saat pembentukan kelompok di outbond hari kemarin. Mereka adalah Nita, Yuri, Siska dan Prilly.
Nita adalah teman baru dari provinsi lain, dia seumuran Jingga tapi kuliah di jurusan pendidikan matematika. Yuri satu provinsi dengan Nita tapi berbeda kampus, dia lebih muda dari Jingga, bahkan paling muda di kelompok itu, dia anak jurusan ilmu biologi. Siska, satu provinsi dengan Jingga tapi berbeda fakultas dia anak fakultas ekonomi. Yang terakhir adalah Prilly mahasiswa peternakan dari satu kampus yang sama dengan Jingga, dia lebih senior dari Jingga.
“Haii... tunggu dong!” seru Jingga memanggil temanya karena mereka berempat berjalan begitu cepat.
Nita, Siska dan Prill hanya menoleh dan terus berjalan menenteng kopernya. Yuri yang paling muda berhenti dan menoleh ke Jingga.
“Ayo Kak! Kita cari pesawat helikopter yang akan antar kita ke kabupaten M.” Jawab Yuri ramah.
“Iya!” jawab Jingga mempercepat langkahnya dan menyeret kopernya.
Jingga keringatan, karena ini pertama kalinya Jingga membawa barang- barangnya berjalan di bawah terik. Jika bersama Uti dan Tari mereka bisa memaklumi Jingga dan berjalan pelan, sayangnya teman baru Jingga tidak bisa memahami itu. Jingga yang harus menyesuaikan diri.
“Nggak usah lelet! Jalan cepetan!” ucap Siska menatap Jingga dengan tatapan menghardik.
“Iya maaf!” jawab Jingga mengangguk sambil mengelap keringat yang menetes di keningnya. Wajah Jingga yang putih bersih menjadi tampak merah terkena sinar matahari yang begitu terik.
Jingga mengenali Siska, dia tadi anak yang mengobrol akrab dengan Adip selama di bus menuju ke bandara. Dia tampak aktif dan supel, tapi garis mata dan bibirnya, sepetinya Siska anak yang tegas dan ingin mendominasi.
__ADS_1
“Helikopter kita warnanya hijau army katanya, itu sepertinya!” ucap Nita menunjuk sebuah helli kopter yang terparkir di depan mereka.
Jingga menelan ludahnya menatap dengan tatapan ngeri. Menaiki pesawat komersil dan difasilitasi negara saja Jingga sudah cukup risih karena tak senyaman pesawat milik keluarganya. Apa ini? Helly kopter butut dan tampak lusuh. Jingga melihatnya bisa menebak ini hely kopter jadul yang entah kapan diservis.
“Benarkah, kita akan naik helly kopter ini berlima? Yakin?” celetuk Jingga dengan ekspresi ragu dan enggan, tanpa sadar, Jingga seperti meremehkan kendaraan di depanya.
Teman- teman Jingga kemudian menatap Jingga kesal mendengar pertanyan Jingga.
“Emang kenapa?” tanya Nita sang ketua kelompok.
Lalu semua teman menatap ke Jingga dengan tatapan sengit.
Ditatap seperti itu, Jingga sensitif dan baru sadar, dirinya menyinggung teman- temanya. Kendaraan di depanya ternyata yang paling bagus catnya. Jingga melihat ke sekeliling beberapa kendaraan lain lebih buluk. Bahkan di ujung bandara terparkir pesawat kecil yang bermuat 15 orang dengan teknologi dan fasilitas sederhana.
“Maksudku, kita kan berlima, bawa barang, apa muat? Hellikopter kan bangku dan kapasitasnya sedikit!” jawab Jingga beralasan. Padahal dalam hati Jingga, Jingga bisa pqstikan Jingga akan merasa pusing naik kendaraan itu, Jingga juga takut jatuh di jalan.
“Tentu saja tidak muat, helly kopter hanya akan membawa barang kalian, kita akan naik menggunkan pesawat kecil itu!” jawab seseorang menyerobot dari arah belakang, menunjuk pesawat yang terlihat model jadul.
Semua anak- anak menoleh ke sumber suara. Pria itupun berdiri dengan topi kesayanganya, saat anak- anak menolehnya dia putar topi ke depan karena tadinya sayap topi di belakang.
Pria itu mengedikkan mata sambil mengencangkan tas punggung kebesaranya. Aura kelelakian serta kemachoanya keluar dan tergambar nyata. Siapapun yang melihatnya akan dibuat nyaman di sampingnya, karenadia terlihat friendly dan mengayomi.
“Eh, Bang Adip!” sapa Siska seketika ramah dan langsung mendekat ke Adip.
“Ambil barang berharga kalian seperti ponsel dan dompet, sisanya kumpulkan tas kalian biar diangkut helly ini. Kita berangkat dengan peswat itu! Yuk, kita ke sana yuk!” ucap Adip memimpin dan memberitahu anak- anak.
Dheg
Jingga terbengong dengan menatap Adip yang begitu supel dan lincah berkata di depanya. Entah kenapa jantung Jingga berdetak lebih kencang dari biasanya, setiap bertemu Adip
Keringat Adip yang keluar menetes di pelipis yang waktu Jingga pertaama bertemu membuat Jingga jijik kini seperti membuat laki- laki itu seksi. Adip benar- benar terlihat seperti laki- laki sesungguhnya.
“Dia tukang ojek dan supir gila itu kan?” batin Jingga merasa ngilu di hatinya. Jingga yakin seratus persen Adip adalah tukang ojek itu tapi Adip selalu bersikap seolah tak mengenal Jingga.
“Ayo!” bentak Adip sedikit kasar ke Jingga, karena Jingga justru terdiam di saat teman- temanya sudah selesai mengumpulkan tas besarnya. Jingga juga ke gep sedang menatap Adip.
“Ehm.Iya!” jawab Jingga malas. Kesombongan Jingga benar- benar hilang.
__ADS_1
Jingga mengambil cuci muka Jingga yang bermerek pasaran untuk dimasukan ke tas punggungnya, tidak lupa mukena travelling yang dikemas kecil untuk dimasukan ke tas punggung. Pakaian dari Pak Rendi kemudian dia kumpulkan bersama tas teman- teman.
Jingga kemudian berjalan menunduk dan diam di belakang seakan teracuhkan. Jingga memang tak pandai mengobrol dan berbosa-basi dengan orang baru. Jadi Jingga mengekor saja.
“Kalian di kampung T distrik M hilir kan?” tanya Adip ke Nita.
“Iya Bang!” jawab Nita.
“Yuk kalian berangkat kloter pertama, bareng sama anak- anak kampung B! Itu mereka. Ayo kita ke sana!” ucap Adip memberitahu.
“Bang Adip berangkat bareng kita?” tanya Siska centil.
“Iya, kebetulan rumah dinasku nanti di kampung B. Itu mereka!” ucap Adip menunjuk rombongan kelompok anak- anak penempatan desa Bbusa.
Jingga ikut menolehnya dan betapa bahagianya Jingga melihat ada Tari. Ternyata di kelompok Tari ada 3 orang anak laki- laki. Tari malah hanya berdua dnegan Dewi yang perempuan. Jadi Tari langsung terlihat akrab dengan teman- temanya tidak seperti Jingga yang tetap terasa terisolir.
“Ayo Kak!” ajak Siska ke Adip.
Mereka pun berjalan mendekat ke kelompok anak kampung B. Kini mereka bisa berjalan cepat karena mereka hanya tinggal membawa tas punggung kecil. Siska tentu saja mensejajari Adip berjalan di depan bersama Nita. Sementara Jingga berjalan paling belakang bersama Yuri.
"Masih ada waktu 30 menit. Yang mau ke kamar mandi, sholat dan makan dipersilahkan. Abis itu kumpul ke sini ya!" ucap Adip mengkoordinir.
"Ya Kak!" jawab semua anak- anak kampung T dan B.
Jingga kemudian menghampiri Tari dengan bahagia,karena dia satu- satunya saudaranya di situ. Jingga juga melihat ponselnya jaringanya mulai hilang timbul.
"Pak Rendi?" gumam Jingga karena banyak pesan dari dosenya itu.
****
Maaf yaa Kakak. Jingga lama Up nya.
Makasih buat yang masih setia nunggu dan mau baca. Hehe.
Semoga tetep cinta ya.
Oh ya.Jaga kesehatan ya teman2 terutama kakakk2 yg lagi hamil. Sll pake masker kalau ketemu sama org banyak.
__ADS_1
Semoga selalu sehat yaa.