
Setelah istirahat beberapa jam cukup membuat tenaga Adip pulih sebagian dan kembali segar. Meski tak ada suara Adzan, kicuan burung dan hewan hutan cukup menjadi alarm Adip.
Adip mengerjapkan matanya dan meregangkan tanganya. Sesaat sebelum kesadaranya terkumpul dia agak bingung dimana dia berada.
Semua ruangan di pulau Panorama memang hampir sama, dinding rumah dari kayu, alasnya juga kayu, tapi pagi ini beda. Rumah sekarang satu ruangan begitu loss dan tidak ada sekat.
Adip kemudian melihat sekelilingnya. Adip menyunggingkan senyum. Dia baru ingat dimana dia berada, dan apa yang sudah dia alami semalam.
Jarak sekitar satu meter dari tempatnya berbaring, Jingga yang sekarang jadi istrinya terlihat tidur meringkuk berlindung pada Amer adiknya. Amer pun memeluk kakak rasa adik yang dia sayangi itu.
Pemandangan yang menyenangkan mengingat mereka kakak adik. Adip iri melihatnya, karena Adip hidup sendirian. Adip merindukan semua itu.
Meski seharusnya, setelah proses ijab qobul semalam, Adiplah yang memeluk Jingga.
Adip mengerti, karena mereka menikah begitu cepat, belum ada pembicaraan dari hati ke hati tentang arti pernikahan mereka. Adip hanya baru meminta kesediaan Jingga dengan ucapan maaf.
Adip diam dan berdoa bersyukur masih Tuhan berikan kesempatan untuk bangun dan tidurnya. Adip kemudian bangun tanpa membangunkan dua teman di sampingnya itu, Adip lihat Amer sangat pulas begitu juga Jingga.
Adip membuka jendela rumah panggung di atas bukit itu. Memastikan keadaan luar, hujankah?
“Rupanya sudah pagi, aku belum sholat subuh!” batin Adip melihat langit warna hitam mulai memudar, sepertinya hari ini cuaca bagus. Mata Adip pun terbelalak melihat keindahan alam di depanya.
Jika semalam sejauh mata memandang hanya terlihat perbukitan yang hitam dan langit malam yang kelam karena baru turun hujan.
Kini samar- samar karena langit belum sepenuhnya menyingkapwana hitamnya, terlihat mahakarya Tuhan yang sungguh indah.
Adip ternyata berpijak di atas bukit rerumputan indah yang berjajar dengan barisan bukit- bukit tebing yang menjulang tinggi beratapkan langit yang membentang gagah.
ini hanya ilustrasi ya Kakak.
Adip kemudian menunaikan ibadah subuhnya. Seperti kebiasaan setiap harinya, tanpa ada orang yang tahu, ketika malam sepi, atau saat fajar hendak muncul seusai sholat subuh, Adip melafalkan ayat- ayat Tuhan yang buatnya menjadi pangkal dari kehidupanya. Menjadi obat, menjadi acuan hidup, menjadi teman dan juga menjadi penolong.
Suara Adip ternyata membangunkan Jinga.
“Adip...” gumam Jingga membuka matanya melihat punggung Adip menghadap berlawanan dengan duduk bersila. Dengan mata telanjaangnya Jingga juga melihat Adip tak memegang apapun.
“Dia hafalan?” gumam Jingga lagi.
Jingga memilih diam tanpa bangun atau bersuara. Jingga memilih mendengarkan suara Adip yang begitu merdu, menenangkan dan meggetarkan hati.
Sungguh, benih ketertarikan, kekaguman dan cinta yang bersemayam di hati Jingga semakin berkembang dan tak bisa dikendalikan. Jingga semakin ingin terus dekat dengan Adip dan memilikinya. Tidak peduli siapa Adip sebenarnya dan tanyanya tentang tukang ojek belum terjawab.
Jingga sungguh dibuat jatuh hati oleh setiap apapun yang Adip lakukan padanya. Lebih dari itu, meski Adip miskin dan tidak tahu asal usulnya, Adip memang berparas tampan.
“Buna...” gumam Jingga dalam hati. “Buna... tidak bolehkah Jingga memilih jodoh Jingga sendiri, Tuhan aku mohon pernikahanku nyata, aku tidak mau bercerai dari dia. Aku ingin terus dan sungguhan jadi istrinya,”
Airmata Jingga pun terkumpul menggenangi kelopak matanya dan meluap, mengalir perlahan.
Jingga ingat dengan semua nasehat dan perkataan Amer semalam. Adip hanya menolong Jingga.
Jingga sendiri tidak tahu apa dirinya masih utuh atau sudah ternoda. Kasihan Adip jika harus menerima dan beristri Jingga yang sudah tidak utuh lagi.
__ADS_1
Jingga tahu, Adip berhak mendapatkan perempuan terbaik versinya. Banyak pula perempuan yang menyukai Adup termasuk teman- teman Jingga.
Amer juga mengatakan kalau Amer datang untuk menjemput Jingga. Baba Jingga akan sangat marah jika mereka tak segera pulang.
Bahkan mungkin esok hari, pengawal Baba mereka akan segera tiba. Atau mungkin sudah sampai ke desa T.
Amer juga bilang, meski Adip bersedia menikah dengan Jingga dan dia bersedia dan janji pula melepasnya.
Adip tak pernah sekalipun mengatakan menikahi Jingga karena cinta. Adip hanya menolong Jingga. Itulah yang Amer tahu dan pahami.
Jingga sadar diri mendengar semua penuturan Amer. Jingga mengerti maksud Amer. Jingga harus jaga sikap dan mengerti bagaiamana dia harus menyikapi pernikahanya ini.
Sejauh apapun Jingga pergi nyatanya Jingga memang anak Baba.
“Tuhan... tidak bolehkah aku berharap aku sungguh menjadi istrinya, aku mohon, aku sungguh istrinya kan? Aku tidak mau pulang, aku ingin di sini....” batin Jingga lagi, kembali terus mengulang keinginanya.
Jingga meringkuk belindung ke tubuh Amer lagi, tidak ingin ketahuan Adip ataupun Amer. Air mata Jingga pun mengalir dengan deras tanpa ada yang tahu.
“Aku tidak ingin pulang... Tuhan,” lirih Jingga dalam hati menggigit bibirnya berharap agar isaknya tak terdengar.
“Shodaqollohul’adziim!!” setelah beberpa saat dan merasa cukup Adip menyudahi doanya.
Adip menoleh ke Amer yang terlihat sangat terlelap. Adip mendekat ke Amer, Jingga yang mendengar itu menjadi tegang dan segera menahan diri agar air matanya tak jatuh lagi. Jangan sampai Adip tahu.
“Aku harus bangun kan mereka!” batin Adip menyadari langit semakin cerah pertanda pagi akan segera datang. Adip kemudian menepuk bahu Amer.
“Mer... bangun!” tutur Adip.
“Bang Adip!” gumam Amer.
“Sudah hampir siang, kalian sholat subuh kan? Ayo bangun!” tutur Adip lagi.
“Ya Bang...!” jawab Amer bangun dan meregangkan tanganya.
“Ya Bang!” jawab Amer.
Amer menoleh ke kakaknya dan membangunkanya. “Kak, bangun!” tutur Amer membangunkan Jingga yang sebenarnya sudah bangun dan mash terjaga.
Jingga pun bersandiwara layaknya orang bangun tidur.
Sesaat sebelum Jingga ikut sholat, mereka pun jadi ragu. Sebenarnya Jingga masih suci atau menanggun hadas junub. Bolehkah sholat atau harus mandi dulu.
“Niat aja dulu, kita kan sama- sama nggak tahu. Alloh Maha mengetahui kan? Daripada kamu melewatkan sholat? Yang penting sholat dulu.” ucap Adip memberitahu.
Jingga menunduk mengerti dan semakin mengagumi Adip.
Padahal dari kemarin, ashar, aghrib, dan Isya semua sudah Jingga lewatkan. Jingga jadi berfikir betapa dia sangat bodoh. Kenapa tak seperti Adip yang sangat mementingkan ibadahnya. Pantas Jingga selalu buat onar dan masalah.
“Ya..!” jawab Jingga.
Amer dan Jingga kemudian sholat jamaah bersama, sementara Adip memilih keluar, menikmati pagi di atas bukit yang indah itu sambil merenungi semuanya. Sungguh camping gratis yang tidak terduga bagi Adip.
“Wuaah... bagus banget!” celetuk Jingga setelah selesai sholat ikut keluar bersama Amer.
__ADS_1
Adip pun menoleh ke Jingga dan Amer tersenyum. Jingga langsung berjingkat, berlarian dan berputar keluar melihat sekeliling tebing dengan polosnya.
Jingga sangat suka tempat itu apalagi masih pagi. Sementara Amer di belakang berjalan tertatih. Melihat itu Adip pun peka.
“Kakimu bengkak?” tanya Adip melihat kaki Amer yang dibalut kain sederhana tampak membengkak.
“Nggak tahu Bang, kok sekarang kerasa lebih sakit dan berat ya!” jawab Amer ke Adip.
Adip kemudian mendekat dan memeriksa.
“Hm.... kita ke bidan Risa saja, bisa infeksi kalau dibiarkan!” ucap Adip memberitahu.
“Ya Bang!” jawab Amer patuh pada Adip. Amer kemudian melirik ke Kakaknya yang seperti anak kecil. “Ck...!” Amer pun berdecak.
“Mer... kamu bawa hape kan? Fotoin Kakak dong! Bagus banget nih!” teriak Jingga dengan centilnya.
Adip dan Amer melihat Jingga berdecak.
"Jingga masih saja menggemaskan," batin Adip.
"Dasar kakak durhaka, sudah buat masalah bikin orang khawatir. Adiknya kesakitan masih sempat narsis dan minta difotokan" batin Amer kesal. Kakaknya sungguh egois.
“Kaki Amer sakit Kak!” jawab Amer malas.
“Hoh... sakit? Sakit kenapa?” tanya Jingga belum tahu kalau semalam Amer jatuh.
“Nih... gara- gara kakak ini! Tanggung jawab!” jawab Amer menunjukan kakinya yang mulai membesar.
“Maaf! Kakak kan nggak tahu!” jawab Jingga mengernyit polos dan sedih setelah tahu Amer terluka.
“Aku saja yang fotokan! Sini!”celetuk Adip kemudian. Adip kan juga bawa ponsel. Pemandanganya memang indah, Adip juga ingin mengabadikanya.
“Gleg!”
Jantung Jingga mendadak berdebar mau difotokan Adip, pipinya pun mendadak bersemu merah.
Ini hanya ilustrasi ya... tempatnya bedaa. Hihi
*****
Hehehe semoga kehaluanku bisa temani Kakak ngabuburit yaa.
Oh yaa, saling ingetin yaak.
Meski baca nupel, tadarus dan ibadahnya juga dikencengin yuk. Katanya bulan ramadhan pahala dilipat gandakan lho.
Met ibadah di bulan ramadhan Kakak semua.
Makasih yang udah sayang Jingga.
__ADS_1