Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
194. Persiapan 1


__ADS_3

Jingga manyun berjalan ke kamarnya. Endingnya, Adip kasih tawaran ke Jingga mau jadi nikah atau manut aja mau pakai mobil apa aja? Ya jelas saja yang penting jadi nikah sah. Apapun kendaraanyaa yang penting nikah.


Tapi meski Jingga bilang iya. Jingga tetap dongkol sangat. Jingga benci sekali dengan mobil merah itu.


"Kak Jingga kenapa?" tanya Amer melihat Jingga berjalan menghentakan kakinya.


"Biasa Jingga kan emang suka ngambek gitu!" jawab Buna


"Halah... udah jadi istti juga masih kaya anak kecil," cibir Amer.


"Dimana yang lain?" tanya Baba.


"Di taman samping!" jawab Amer.


Seperti sebelumnya, Baba dan Buna kembali berunding dengan Oma Rita, Oma Mirna dan Opa Nando mengenai nasib Nila dan bagaimana mereka menghadapi pembatalan perjodohan. 


“Gery.. Mira dan Bunga kemana, Om?” tanya Baba ke Opa Nando. Baba menghampiri orang tuanya yang sedang menikmati pemandangan ikan- ikan koi mereka.


Meski Opa Nando sudah menikah dengan mertua Baba dan Baba menghormati Dokter Nando, Baba tidak bisa manggil Opa Nando dengan sebutan Papa, kata Baba aneh, Baba kan sudah dekat dengan Opa Nando sejak kecil manggilnya Om. 


“Pulang. Bunga ada les. Mira ada jadwal praktek, Gery ada kunjungan kerja!” jawab Opa Nando. 


Dokter Gery sebagai pejabat negara memang harus bagi waktu dan disiplin tak seperti Baba yang bisa tentukan waktunya sendiri.


Dokter Mira juga tak seperti Buna yang hanya ibu rumah tangga. Apalagi Bunga, sekarang sudah setuju mengikuti jejak ayah ibunya dan Kakeknya, akan mendaftar di fakultas kedokteran. Bunga rajin ikut les untuk daftar kuliah ke universitas negeri favoritnya dengan jalan yang lurus dan baik. 


Anak Baba dan Buna juga dalam hal akademik pintar, tapi Amer dan Ikun memilih kuliah di luar negeri. Jingga sendiri di kampus negeri akan tetapi tak serajin Bunga. 


Pola didik Baba dan Buna juga berbeda dengan Dokter Mira. Baba dan Buna membebaskan putra- putranya hidup seperti yang disuka, yang penting harus sesuai jalan yang benar.


Buna lebih banyak menanamkan nilai- nilai agama, terserah mau sekolah dimana dan sampai jenjang apa. Itu sebabnya Nila justru dimasukan ke pesantren dan sekolah di yayasan pesantren. 


“Oh...!” jawab Baba mengangguk. 


“Bagaimana? Kapan kamu akan menemui Farid dan orang tua Rendi?” tanya Oma Mirna to the point.


“Hari ini!” jawab Baba duduk.


“Kamu yakin dengan keputusanmu, Nak. Nila masih anak- anak Ard!” tutur Oma Rita memantapkan.


“Tapi Nila bersedia! Nila yang menawarkan diri, Mah!” jawab Baba merasa keputusanya benar. 


“Anak seusia Nila mungkin hanya berfikir singkat dan tidak, matang! Menurut Ibu, jangan diteruskan! Kasian Nila. Biar masa depan Nila kelak Nila tentukan sendiri!” sambung Oma Mirna. 


“Ardi sudah pikirkan matang. Tetap akan diteruskan, tapi Ardi meminta dengan syarat!” tutur Baba lagi.


“Syarat?” tanya semuanya merasa heran dengan Baba. 


“Ya!” 


“Apa syaratnya?” tanya Buna. 


“Sampai lulus SMA, dan selesai menempuh pendidikan di pesantren, Nila biar bersama orang Tua Rendi, nikah agama saja. Baru setelah lulus SMA, Rendi boleh bawa Nila tinggal bersama dan kita sahkan!” jawab Baba. 


“Maas, Rendi itu udah kepala 3 lho!” ucap Buna memperingati. 


“Baba tahu, Bun!” jawab Baba. 

__ADS_1


“Rendi itu mencari istri juga pasti butuh pemenuhan kebutuhan biologis, kasian Rendinya kalau begitu!” tutur Buna meminta pertimbangan. 


“Ya kalau kita tidak minnta syarat begini, kasian Nilanya masih terlalu kecil!” jawab Baba. 


“Ya udah, berarti kita nggak usah jodohin mereka!” jawab Buna menolak. 


“Jadi atau tidak, kita putuskan setelah bertemu dengan Farid dan orang tua Rendi!” jawab Baba bersikukuh dengan pendapatnya. 


Baba sudah merasa kepalang malu dengan keluarga Farid dan Rendi. Baba yang mengajak perjodohan, masa Baba juga yang membatalkan, tanpa ada solusi. Padahal Nila mengajukan diri dan menyatakan suka dengan Rendi, meski masih bau kencur. 


“Hhhh....,” Buna pun hanya bisa menghela nafasnya. Pendapat Baba memang sulit dipatahkan, biar Alloh tunjukan sendiri ke Baba apa pendapatnya itu benar atau salah.


“Sebenarnya tak ada salah pendapar Ardi, Rendi anak yang tampan bertanggung jawab dan mapan. Oma hanya khawatir, justru dari pihak Rendi yang tidak mau, bagaimana tanggapan Rendi? Setahu Oma, Rendi kan sukanya sama Jingga!” tutur Oma Rita mengingat Rendi beberapa waktu pernah mengunjungi dan pedekate ke Oma. 


Selama Jingga di pulau Panorama, meski tak ada Jingga, Pak Rendi memang beberapa kali berkunjung. Itu sebabnya diam- diam Nila memperhatikan dan jatuh cinta. Padahal niat Rendi pedekate agar Jingga tak bisa berkutik jika semua keluarganya mendukungnya. 


“Ya masalah itu, biar nanti Ardi bahas dengan keluarga Rendi. Kita bertemu di kafe Danau. Om Nando? Ibu? Mamaa mau ikut?” tanya Baba menawarkan. 


Mereka semua yang tidak setuju Nila menikah atau dijodohkn di usia dini semua diam. Tidak merespon. 


“Ya sudah, Baba pergi sendiri?” jawab Baba. 


“Buna ikut!” celetuk Buna. 


“Buna lagi hamil, istirahat aja!” jawab Baba. 


“Nggak! Nila juga anak Buna. Nila harus pastikan keputusan yang diambil benar atau salah. Buna harus pastikan Nila diterima di keluarga itu!” tutur Buna lagi. 


“Oke!” jawab Baba. 


“Dino sudah mengurusnya, tetap ada resepsi. Saya tetap mengundang teman- teman!” 


“Kamu serius? Acaranya lusa Ard?” tanya Oma Rita. 


Baba mah selalu penuh kejutan, orang lain mempersiapkan resepsi itu dalam hitungan bulanan, bahkan ada yang tahunan, Baba kok dalam waktu hitungan hari mau adain resepsi. 


“Lah, desiner baju tinggal ambil di butik, rias dan tempat sekarang juga udah dikerjain di hotel kita, Mah. Makanan kita juga sendiri. Emang kurang apa lagi?” jawab Baba. 


Usaha panti Gunawijaya kan memang komplit di semua bidang. Meski saham dan pembagian keuntungan tetap dibagi – bagi banyak orang tetap saja brandnya Gunawijaya, kepunyaan Baba dan ada bagi hasil untuk Baba. Baba pun punya kuasa untuk meminta dilayani ekslusif. 


Karyawan profesional Baba juga akan langsung gerak cepat jika Baba bertitah. Sebab 70 % karyawan Baba adalah anak- anak panti yang Baba didik agar menjadi orang berguna. Sebagian lagi orang- orang yang Baba tolong. Jadi selain mereka mencari pelanggan mandiri untuk kesejahteraan hidup sendiri, mereka juga bekerja dengan hati agar semua bidang usaha Gunawijaya berkembang dan semakin banyak mennghidupi dan menolong orang. 


“Tapi emang Jingga mau, pakai gaun yang udah jadi? Adip aja pulang kampung?” ucap Buna. 


“Baba udah bilang ke Intan, niatnya untuk tunangan. Oma temani Jingga temui Intan. Baba sama Buna temui keluarga Rendi dan Farid,” ucap Baba membagi tugas. 


“Lah Adipnya gimana?” tanya Oma juga merasa anaknya ini suka bertindak gegabah dan suka- suka dia. 


“Tubuh Adip itu hampir sama denganku, nanti kupinjami jas kesayanganku!” jawab Baba asal lagi, 


“Heh?” pekik Buna dan kedua Oma. 


“Baba tahu darimana tubuh Baba sama dengan Adip? Baba sekarang udah mulai buncit, Adip seger gitu!” ucap Buna tidak terima. 


“Selama di pulau, Panorama, Baba pakai baju Adip. Muat!” 


“Lah masa penganten pakai baju bekasnya mertua! Nggak, kasian Adip. Buna nggak setuju!” jawab Buna serius. Suaminya ini kaya tapi suka aneh. Masa untuk menantu nikahan pakai jas Baba. 

__ADS_1


“Sayang... kalau mau jahit atau belanja, waktunya nggak cukup. Jas Baba itu semua keren dan berkualitas, anggap saja warisan dari aku buat Adip,” jawab Baba tegas. 


Buna hanya memiringkan mulutnya kesal, Baba apa- apa serba inginnya Baba dan mendadak. 


“Lagian Adip sekarang juga nggak ada kan? Kasian juga dia bolak- balik!” jawab Baba membela diri 


“Yoweslah, Le.. le..., terserah. Karepmu! Ibu mumet!” celetuk Oma Mirna akhirnya bahasa daerahnya keluar. Oma Rita dan Oma Mirna dari dulu kan memang tidak cocok dengan semua pendapat Baba. 


“Ya jangan mumet- mumet lah, Bu! Dibuat senang, kan kita mau mantu!” jawab Baba Ardi.


Mau Oma Mirna, toh, setelah nikah Jingga dan Adip akan LDR an, Adip selesaikan kontrak, Jingga selesaikan kuliah sarjana kedokteranya. Resepsi  nanti saja setelah Jingga lulus. Nah Jingga koas dimana, Adip kan bisa dampingi setelah Adip selesai kontrak juga. 


“Menurut Oma sih, baiknya Jingga memang resepsinya nanti! Abis wisuda!” sambung Oma Rita pendapatnya sama dengan Oma Mirna. 


“Nggak. Ardi nggak setuju, resepsi di waktu istri hamil itu nggak enak! Jadi bahan pertanyaan juga!” jawab Baba tidak ingin anaknya sepertinya. 


“Ya, itu kan kalian yang keburu hamil sebelum resepsi. Jingga dikasih tahu, KB dulu!” sahut Oma Mirna. 


“Terserah Jingga lah mau kb apa enggak!” jawab Baba melawan mertua dan ibunya sendiri. 


Semuanya pun diam mencibir, percuma ada moment diskusi tetap saja keputusan ada di tangan Baba. Hanya teguran dari Tuhan yang berupa kejadian yang bisa patahkan pendapat Baba. 


Opa Nando sebagai kakek tiri tak banyak berkomentar, hanya setia menemani istri tercintanya dan membantu jika diperlukan. 


“Memang mau undang berapa tamu? Gimana undangnya? Kan tinggal lusa hari H nya?” tanya Oma Rita lagi. 


“2 ribu!” jawab Baba dingin. 


“Hah?” pekik semuanya ke Baba dan melotot. 


“Kenapa sih? 2 ribu itu Cuma diambil yang dekat- dekat saja. Artis- artis dan dan yang lain juga banyak. Kita cuman dua ribu lho!” jawab Baba. 


“Mas... undangan 2 ribu? Gimana undangnya? Souvenirnya gimana? tempat dan makanannya gimana? Mas jangan suka aneh- aneh deh!” jawab Buna ikut kaget. 


“Udah tenang aja. 2 hari ini karyawan kita liburkan untuk siapin pernikahan Jingga. Souvenir semuanya kita borong produk kreatif dari panti Gunawijaya. Makanan kita kan punya banyak restoran, dalam satu hari mereka masak bersama juga cukup! Undangan udah beres kok!” jawab Baba lagi dengan enteng. 


“Beres?” tanya Buna curiga. 


“Kok bisa nyebar undangan 2ribu sehari cukup?” tanya Oma Rita.


“Kan sekarang ada hp!” 


“Astaghfirulloh!” pekik  Buna. 


“Kenapa?” tanya Baba. 


“Baba emang undang siapa? Kok Cuma lewat hp. Nggak sopan, Baba ini pemilik Gunawijaya lho!” ucap Buna lagi. 


Undangan Baba kan seharusnya orang- orang penting. Nggak elegan sekali kan undang dengan hp. 


“Sudahlah, Buna nggak usah khawatir, semua udah diurus! Yang kenal mereka dan berhadapan dengan mereka kan juga Baba, Buna jadi istri yang baik saja sudah di rumah!” jawab Baba keluar lagi sombongnya. 


Buna yang hanya jadi ibu rumah tangga pun terdiam. Hal itu membuat Oma Rita tersinggung, kan anaknya jadi ibu rumah tetangga gara- gara Baba, kok Baba malah ngrendahin. 


“Yoweslah, Ibu nggak mau ikut campur! Yok mas, kita pulang aja. Semoga acaranya tidak malu- maluin!” ucap Oma Mirna mengakhiri pembicaraan. 


“Nggak...semua akan berjalan dengan lancar, hikmad dan meriah kook!”jawab Baba yakin. 

__ADS_1


__ADS_2