
Pagi itu di kediaman Gunawijaya, semua penghuni rumah sibuk dengan pekerjaanya masing- masing. Semakin bertambah umur dan semakin tua, Baba Ardi semakin rajin dan tetap semangat menjalani hidup.
Sebelum subuh Baba Ardi dan Buna Alya sudah bangun, tapi karena kehamilan di usia yang tidak tepat membuatnya banyak keluhan. Begitu membuka mata Buna langsung mual dan berlari ke kamar mandi.
Jika biasanya Baba dan Buna bangun, melakukan sholat sunnah malam dulu dilanjut beribadah di atas ranjang lalu mandi wajib dan sholat subuh berjamaah. Setelahnya berolahraga dengan senam, jogging atau gowes, lalu urus anak- anak, sarapan baru beraktivitas kerja.
Semenjak Buna ketahuan hamil lagi, agenda baba buna berubah. Bangun pagi Baba dengan telaten merawat istrinya, memapahnya kekamar mandi, kadang juga digendong, ditungguinya Buna muntah, setelah itu bantu pijit dan memberinya obat.
Baba memang galak, orang yang tidak kenal akan melihatnya sebagai ayah yang otoriter dan egois. Di dalam lubuk hati terdalamnya sesungguhnya Baba Ardi sangat rapuh dan penyayang. Dia sangat paranoid jika menyangkut istri dan anak- anaknya.
Melihat istrinya sakit, sebenarnya Baba juga dihinggapi rasa bersalah yang amat sangat. Hamil ke lima ini sebenarnya bukan hamil yang diinginkan. Baba Ardi kelupaan tidak pakai pengaman dan kelepasan di dalam. Buna bukan tidak mau berKB, tapi tubuhnya selalu berespon negatif pada semua jenis kb.
“Maafin Mas, Sayang... selalu kamu yang menanggung semua perbuatan Mas!” tutur Baba Ardi lembut di atas kasurnya sambil memijat kepala istrinya yang terasa sakit.
“Nggak ada yang perlu dimaafin Mas, ini memang sudah tugas dan kodratku sebagai perempuan dan sebagai istrimu, anak kan juga rejeki,” jawab Buna lembut.
Buna selalu berfikir positif dalam segala hal yang dia alami, itu sebabnya Buna selalu terlihat cantik dan menyenangkan.
“Kalau bisa tukar, biar mas aja yang rasain sakit dan mual- mual begini, pasti sangat tersiksa? Maafin mas, Sayang,” tutur Baba Ardi lagi menciumi kepala Buna.
“Baba nggak usah tukar- tukar posisi dengan Buna, cukup berubah Ba, tolong jangan ambil keputusan sepihak terhadap nasib anak kita, Buna nggak mau Baba sampai dibenci sama anak sendiri,” tutur Buna cerdas mengambil kesempatan dalam kesempitan merayu suaminya.
“Hmmm,” mendengar modus istri yang menyentil hati dan prinspin Baba Ardi, Baba jadi hilang mood. Baba langsung menjauhkan dirinya dan meletakan tanganya tidak memijat Buna lagi.
“Kok hemm Ba?” tanya Buna.
“Sayang, mas bersikap begini juga hanya pada Jingga, pada Nila, pada Amer dan Ikun, Baba selalu menerapkan prinsip demokrasi dan fair ke mereka. Mereka dewasa dan mengerti mau Baba dan Bunanya, berbeda dengan Jingga, makanya Baba harus begini!” jawab Baba Ardi membela diri.
“Ba.. jangan bandingkan anak kita yang satu dengan yang lain, nggak baik Ba! Kalau Jingga dengar itu bisa sakitin hatinya!” tutur Buna lagi menasehati.
“Tapi kenyataanya begitu, dari kecil disuruh pakai hijab nggak mau, sukanya juga mainan di luar, nggak pernah nurut sama Baba, dari memilih sekolah dan jurusan juga selalu menolak keinginan Baba. Baba khawatir Sayang,” tutur Baba Ardi mengungkapkan kegalauanya.
“Hmm, anak punya dunia sendiri, pikiran dan pilihanya sendiri, kita harus hargai itu Ba, sebagai orang tua kita memang wajib mendampinginya, membimbingnya, megawasinya dan mengontrolnya tapi tidak boleh memaksa. Kita tidak berhak masuk ke dunianya Ba!” tutur Buna sekali lagi berusaha memahamkan suaminya.
Baba Ardi diam, dia mendengarkan dan memikirkan perkataan istrinya. Tapi tetap saja, sekali menurut baba Ardi benar, maka itu jalan yang akan dia pilih.
“Baba juga nggak maksa kok, bawa cuma mau kenalin Jingga dengan kandidat calon suami yang Baba pilih,” jawab Baba Ardi tetap ngeyel dan tanpa rasa brsalah.
“Hhhh, hah!” Buna yang sedang menahan serangan morning sickness hanya bisa menghela nafas kesal, entah bagaiamana caranya menyadarkan suaminya ini. Menjodohkan itu sudah tidak jaman, bahkan dirinya dulu juga tidak mau dijodohkan.
“Kenapa Buna begitu ekspresinya?” tanya Baba tersinggung melihat istrinya menghela nafas dan memasang muka bermuram durja.
__ADS_1
“Mas!” panggil Buna dengan panggilan mas lagi memposisikan dulu saat mereka muda.
“Hmmm”
“Mas dulu juga sampai kabur kan dari Mama Rita buat dijodohin sama aku? Terus kenapa sekarang mau jodohin anak? Mas instropeksi diri dong, udah nggak jaman Mas!”
“Sayang, tapi buktinya mas nikah sama kamu, kamu perempuan pilihan mamah, berarti intinya pilihan orang tua itu yang terbaik!” jawab Ardi beralasan.
Buna Alya terdiam geram, ada aja alasan Baba Ardi ngeles mempertahankan pendapatnya.
“Tapi kita menikah bukan karena perjodohan Mas, kita menikah karena emang Alloh yang nemuin kita. Jadi jangan samain dengan kasusnya Jingga!”
“Sayang...Mas hanya berusaha mencarikan jodoh terbaik untuk anak kita! Selebihnya juga biarkan Tuhan dan mereka yang menetukan! Apa salah seorang ayah menginginkan hidup yang terbaik untuk anaknya?” Baba Ardi masih terus membela diri.
“Hhh, hah!” Buna Alya menghela nafas lagi, mereka sudah hampir 21 tahun hidup bersama berbagi ranjang, tapi tetap saja selalu ada perdebatan di hari- hari mereka, dan kesabaran Buna tiada habisnya menghadapi suaminya ini.
“Baba Cuma berusaha Bun,” tutur Baba lagi merayu istrinya yang merajuk.
“Tapi Jingga masih dua puluh tahun Ba, Jingga masih kuliah, belum waktunya menikah, itu yang Buna nggak suka, dan nggak setuju!” jawab Buna lagi.
“Juatru itu Bun, Baba ingin kenalkan Jingga dari sekarang sebelum Jingga terkontaminasi dan salah jalan,”
“Baba... kenapa selalu berfikir negatif terhadap anak sendiri sih?”
“Umur berapa sekarang?” tanya Buna lagi.
“30 tahun!”
“Ba...!” pekik Buna mendengar umur calon kandidat suaminya menurut Buna tidak ideal.
“Kenapa emangnya Bun?”
“30 tahun, Baba nggak salah?”
“20 tahun dan 30 tahun, cocoklah tidak terlalu jauh! Dia bisa bimbing Jingga dan awasi Jingga. Apalagi kalau Jingga masuk ke keluarga Kyai, Jingga otomatis mau tidak mau akan berhijab, Baba nggak menanggung dosa banyak, Buna harusnya dukung keputusan Baba!”
“Ya tapi kalau anak kita nggak seneng gimana?”
“Pokoknya dicoba dulu Bun, dia ganteng Bun, sungguh! Pekerja keras, dari awal ketemu, Baba sudah jatuh hati pada pria ini, baba mau dia jadi anak mantu Baba! Baba yakin kalau Jingga akan suka!” tutur Baba percaya diri.
“Tapi Jingga pernah cerita naksir teman di kampusnya Ba!”
__ADS_1
“Itukan cinta monyet Bun, kita nggak tau asal usul dan perangainya. Pokoknya laki- laki yang boleh deketin Jingga harus seijin Baba!”
“Hmm, ya udahlah terserah Baba, tapi kalau Jingga nggak mau jangan paksa!”
“Ya..., Baba akan usahain biar mau lah!”
“Ba...”
“Iya.. ya!”
“Terus rencananya gimana?”
“Hari ini Baba mau ajak Jingga ketemu orangnya”
“Hmmm”
Buna Alya kemudian hanya bisa diam, di saat obat pusing Buna bekerja, dan baru mulai menutup mata, kamar mereka di ketok. Dua buah hati mereka yang masih membawa bantal dan baju piyama setelah berdiri di depan pintu.
“Baba... Buna...” panggil mereka.
“Morning, Sayang..., udah bangun kalian rupanya?” jawab Buna ramah.
“Iyu sama Iyau mau tidur sama Buna dan Baba!” seru mereka berdua kemudian naik ke kasur dan langsung menggeser Babanya, mereka berdua kemudian berebut memeluk Bunanya, mau tidak mau Baba mengalah.
“Udah pagi masa mau tidur lagi? Mandi dong sana sama Mbak!” tutur Ardi menjawab anak- anaknya.
“Baba sama Buna juga masih tiduran, Iyu mau ikut juga!” jawab Biru anak Ardi cerdas membuat Ardi langsung tercekat.
“Iya... Iyau juga, mau peluk Buna dulu, nanti mandinya kalau Baba mandi!” timpal Hijau.
“Hmmm yaya!” jawab Baba Ardi.
“Iyu nggak mau mandi sama Mbak! Iyu maunya mandi sama Buna,” sambung Biru.
“Buna masih sakit, Nak. Hari ini nggak ada mandi sama Buna!” jawab Ardi lagi.
“Ya udah sama Baba aja!” jawab Hijau.
“Ya..” jawab Baba Ardi.
Mendengar anak- anaknya yang terus menjawab pernyataan baba Ardi, Buna Alya tersenyum. Untungnya senakal apapun anaknya kalau sama Buna langsung patuh dan nurut.
__ADS_1
“Berani Buat harus tanggung juga akibatnya Ba...” batin Buna Alya.