
“Selamat malam, Buna!” sapa Rendi ke Buna Alya.
Setelah makan maam bersama keluarga Rendi, Rendi mengantar Jingga pulang.
“Eh, Jingga, Nak Rendi! Selamat malam!” jawab Buna.
“Assalamu’alaikum Bund!” sapa Jingga lalu mencium tangan Bunanya dan diikuti Rendi.
Di saat itu pula, adik- adik Jingga keluar.
“Itu kan Om yang tadi pagi!” celetuk Biru dan Hijau,mengikuti Bunanya dan teman lelakinya.
“Ehm!” Jingga yang sudah enek menahan kesal ke Rendi berdehem, Jingga tidak suka kalau sampai Rendi PD KT ke adik- adiknya yang rese.
“Biru, Hijau, Kak Jingga punya film baru yang bagus, mau nonton nggak?” ucap Jingga mengajak kedua adiknya mencegah mereka berinteraksi dengan Rendi.
“Mau!” seru Biru dan Hijau.
“Yuk! Ke kamar kakak, Yuk!” ajak Jingga meninggalkan Buna dan dosenya itu.
“Jingga masuk dulu ya Bun!” ucap Jingga.
“Ya!” jawab Buna mengangguk lalu menoleh ke Rendi.
“Maaf Bun!” ucap Rendi kini ikut- ikutan manggil Bunda Alya, Buna.
“Ya!” jawab Buna mengangguk.
“Maaf karena anterin Jingga malam- malam, tadi Rendi ijin ke Om Ardi!” ucap Rendi.
Buna Alya mengangguk tersenyum, suaminya memang sudah mengabari Buna. Kenapa Rendi justru minta ijin ke Baba yang di luar negeri, karena Baba Ardi melarang orang lain mengetahui kontak istrinya apalagi laki- laki.
“Iya, ayah Jingga sudah memberitahu Buna. Tapi maaf, emang sepanjang siang tadi Jingga nggak bikin masalah kan?” tanya Buna jujur mengeluarkan kekhawatiranya.
Buna memang orang yang paling tau Jingga. Buna tau kalau tadi pagi anaknya berbohong untuk mengelabuhi Rendi. Buna juga tahu Jingga kesal ke Rendi, itu sebabnya saat suaminya bilang Jingga telat karena pergi bersama Rendi bertemu dengan ibunya, Malah Buna yang sangat panik.
“Alhamdulillah, tidak ada masalah Bun. Ummi Rendi dan adik Rendi sangat menyukaI Jingga!” jawab Rendi meyakinkan ke Buna.
“Oh yaya! Alhamdulillah!” jawab Buna mengangguk tersenyu,, tapi ada tatapan kegetiran. Buna merasa aneh, benarkah anaknya semudah itu luluh?
“Ya sudah, Buna, sudah malam! Saya mohon pamit!” ucap Rendi berpamitan.
“Nggak masuk dulu?” tanya Buna.
“Terima kasih, lain kali kalau Om Ardi di rumah!” jawab Rendi. Rendi sudah dikasih bocoran ke Farid saudaranya kalau calon mertuanya itu tipe pencemburu overdosis kalau ada laki- laki yang berinteraksi dengan istrinya.
“Ya, hati- hati di jalan, salam buat Umminya Nak Rendi ya!”tutur Buna ramah.
__ADS_1
“Ya Buna!” jawab Rendi.
Di saat Rendi berjalan ke luar menuju ke mobilnya, di saat itu pula mobi Alphard Oma Nurma, Opa Nando dan Bunga tiba. Rendi sempat menganggukan kepala menyapa, lalu pergi.
“Ibu...Om Nando!” sapa Buna menyambut kedua ibu dan ayah tirinya.
Buna langsung berjalan mendekat ke ibunya dan mencium tanganya sebagai tanda hormat.
“Kamu sehat, Nduk?” tanya Oma masih tetap perhatian ke anaknya meski sudah tua.
“Alhamdulillah sehat Bu! Ibu Om Nando sehat?” jawab Buna kemudian bergantian mencium tangan Ayah tirinya.
Oma Nurma dan Opa Nando kemudian mengangguk.
“Hai Buna!” sapa Bunga ikut- ikutan memanggil Buna.
“Hay Sayangnya Buna, makin cantik aja nih!” jawab Buna merentangkan tangan siap memeluk dan cipika cipiki ke keponakanya.
“Buna katanya mau punya Dhedhek lagi ya?” tanya Bunga.
“Insya Alloh, doain ya, Buna dan dhedhek di perut sehat terus!” jawab Buna.
“Aamiin, oh ya Bun. Nila mau pulang katanya yah?” tanya Bunga.
“Insya Alloh minggu depan!” jawab Buna lagi.
“Ye.. Bunga kangen banget sama Nila!” ucap Bunga mengungkapkan perasaanya. Buna Alya kemudian menggandeng keponakan imutnya itu erat. “Sebentar lagi ya!” jawab Buna.
“Oh itu, dosen Jingga, Bu!” jawab Buna.
“Dosen?” tanya Opa Nando.
“Sepertinya masih muda!” sahut Oma Nurma.
“Memang masih muda, Bu! Iya dia dosen Jingga!” jawab Buna
“Ganteng amat Bun. Dosen apa katanya? Kalau dosenya keren begitu, Bunga geh mau Bun kuliah seharian!” celetuk Bunga.
“Bunga! Anak kecil juga, kecentilan!” tegur Oma Nurma.
“He..maaf Oma!” jawab Bunga.
“Mas Ardi berniat menjodohkan, Jingga dengan dia Bu!” jawab Buna memberitahu.
“Wah!” Bunga yang mendengarnya langsung melotot. Oma dan Opa kemudian memicingkan mata menatap Buna.
“Jingga dijodohkan?” tanya Oma tidak suka mendengarnya.
__ADS_1
“Iya! Dibahas di dalam aja Bu, ayok masuk dulu!” jawab Buna Alya.
Buna Alya tau, pasti Oma Nurma tidak setuju kalau cucu kesayanganya yang masih kuliah dijodohkan. Entah dengan dosen, dokter atau presiden sekalipun, Oma menentang cucunya nikah dipaksa.
Untuk meredam ibunya yang sudah lansia Buna mengajak mereka masuk dan istirahat dulu. Mereka kemudian masuk ke rumah. Pelayan pun dengan sigap mengambil oleh- oleh dan koper Opa dan Oma Nando.
“Kak Jingga mana Bun?” tanya Bunga lagi.
“Jingga sama Iya dan Iyu ke kamar, sana susul!” ucap Buna.
“Oke Bun!” jawab Bunga girang.
Oma Nurma kemudian sungguhan menatap anaknya serius. Sementara Opa Nando memilih merebahkan badanya ke tempat santai mendiang sahabatnya.
"Apa maksudnya Jingga mau dijodohkan?" tanya Oma tidak sabar mewawancarai putrinya.
Buna Alya gelagapan. Meski sudah tua, tapi Buna masih segan ke ibunya.
"Ibu, tidak suka, ibu tidak setuju kalau cucu ibu dijodoh-jodohkan! Cucu ibu masih muda!" ucap Oma Nurma.
"Iya Bu. Alya juga hanya ikut Mas Ardi aja!"
"Lho, yo nggak begitu! Kamu istrinya Ardi, kamu ibunya Jingga kamu berhak ikut andila dan menentukan!" ucap Oma Nurma mulai ngomel.
"Iya Bu. Alya juga udah usaha bicara ke Mas Ardi" jawab Buna lagi.
"Memang Jingga mau dijodohkan?" tanya Oma lagi.
"Alya juga belum tahu Bu, Mas Ardi baru kasih tau kemarin. Alya juga ketemu baru hari ini! Kalau bilangnya sih Jingga belum mau!"
"Nah kan?"
"Kan baru rencana perjodohan Bu, kata Mas Ardi dicoba dulu. Biar Jingga ada yang jagain!" jawab Buna Alya lagi.
"Emang siapa Dia. Ardi sampai mau menjodohkan Jingga?"
"Dia saudara Kak Farid Bu. Mas Arfi katanya khawatir Jingga salah jalan. Mas Ardi ingin Jingga ada yang menjaga!" jawab Buna lagi.
"Astaghfirulloh. Nggak, nggak gitu caranya, Nduk. Kalian itu orang berpendidikan tapi pikiranya pada aneh" sergah Oma Nurma mengomel.
"Hmmm!" Buna diam menunduk.
"Setampan apapun, Ibu tau cucu Ibu. Jingga pasti menolak menikah cepat. Jangan ikuti si suamimu yang sontoloyo itu. Biar Jingga pilih jodohnya sendiri!" ucap Oma Nurma lagi.
"Ya, kan baru mencoba kenalan Bu!"
"Kamu dikasih tau. Ngeyel, apa karena kamu hamil lagi teris nggak sanggup jaga Jingga, sampai mau menjodohlan Jingga cepat-cepat?" omel Oma.
__ADS_1
Buna hanya menunduk.
"Ibu nggak setuju, cucu Oma dijodohin. Biar dia selesai kuliah. Mana Jingga. Panggilkan Jingga. Oma mau ngomong!"