
Nahkoda perahu menyalakan mesinya, deru suara mesin yang menyapu air melawan arus pun terdengar. Perahu kecil yang membawa penumpang itu mulai jalan.
Adip menarik nafasnya panjang, kedua matanya menunduk dan menelan kegetiran.
Sesaat kemudian, dia mengangkat wajahnya menatap sekeliling dermaga sungai keciil itu, masih sangat jelas semua ingatanya, saat dia pertama datang ke sini. Setiap detik yang berlalu terbingkai indah di hati Adip.
Walau, Adip melakukanya dengan tulus, tak ada nafsu tapi hatinya tetap bergejolak dan berdebar, rasa bibir Jingga yang sempat terpaut dengan bibirnya saat Jingga pingsan juga masih sangat membekas.
Perahu bergerak ke arah menjauhi desa, tapi Adip justru terus menghadap ke desa, seakan berat meninggalkanya. Dia menatap jalan desa yang semakin lama semakin hilang.
Di jalan itu Adip masih mengingat rasa hangat dan lembutnya pelukan Jingga yang menempel pada bahunya saat dia gendong.
Bahkan dalam pandanganya kini seakan dia melihat bayanganya sendi kembali ke masa dia menggendong Jingga. Adip terus memandangi jalan dermaga itu berharap Jingga ada di situ dan melambaikan tanganya dengan senyum.
Sayangnya semua itu hanya ilusin dan harapan kosongnya. Ujung jalan dermaga menuju ke desa tetap sepi, tanpa kata, tanpa suara, tanpa senyum Jingga.
Perahu terus melaju menjauh, semua pandangan itu hilang, berganti dengan semak dan pepohonan. Adip menelan salivanya lagi. Adip mengingat apa yang dia lakukan sebelum pergi tadi, Adip kemudian tersenyum kecil.
“Kenapa aku begitu kecewa dan merasa sesakit ini hanya karena aku pergi tanpa melihatnya? Bukankah selamanya aku memang tidak berhak melihatnya lagi? Siapalah dia siapalah aku? Dia seperti matahari yang terlalu menyilaukan jika terus aku pandang. Aku cukup mendapatkan sinarnya dari kejauhan, merasakan hangat meski tanpa memeluk! Dia terlalu sulit untuk aku gapai, sadar Adip!”
Adip bermonolog sendiri dalam hatinya, sambil mengepalkan tanganya menahan pedih yang menyergap hatinya.
Kata orang cinta tak pernah salah tempat, cinta tau jalan pulang dan rumahnya. Sayangnya Adip benar- benar merasa perasaanya ini seperti kutukan. Rasa yang datang terus berkembang dan menyiksanya. Dia ingin padamkan tapi tidak bisa.
Sebagai laki- laki Adip seharusnya cukup tangguh melawan semua ini. Bukankah kata orang cinta tidak harus memiliki?
Adip ingat apa yang terjadi pada dirinya tadi, tentang semua percakapan dirinya dengan teman- teman Jingga.
Adip kemudian tersenyum kecil dan menghela nafasnya lagi. Dia tidak boleh egois. Niat dia membawa Jingga ke sini kan untuk mengerjainya, lalu untuk membuat dia bermanfaat di desa ini. Bukan untuk dia miliki atau dia dekati.
Flashback pagi tadi.
Adip celingak – celinguk mencari Jingga tapi yang keluar anak- anak lain. Semua kemudian menyapa Adip ramah.
“Ayo Bang! Dimakan!” ucap Siska ramah menyerahkan mi rebus dengan sayuran hijau. Mereka memang membawa stok makanan banyak. Baik Siska atau Nita di koper yang dibawa dengan kendaraan terpisah banyak membawa sarden, kornet, mie instan, sosis dan berbagai bahan makanan lain. Sayangnya, Adip lebih suka sayur mayur, Adip juga sebenarnya pandai memasak.
“Wah... Ada Bang Adip tumben pagi- pagi kesini?” tanya anak- anak keluar dari dapur menyapa Adip.
“He...!” Adip hanya nyengir, bola matanya masih tetap berputar mengelilingi setian sudut ruangan terutama mengamati satu pintu di dekat ruang tamu itu.
__ADS_1
“Kok sepi?” tanya Adip nyeplos membuat ketiga gadis itu saling pandang tidak mengerti.
“Sepi gimana Kak?” tanya Prilly polos.
Adip berdehem salah tingkah, rasanya berat sekali lidahnya menyusun huruf melontarkan tanya menyebut nama Jingga ada dimana?”
“Maksudku yang lain dimana?” tanya Adip tampak gugup dan tidak nyaman!”
“Kita kan memang biasa bertiga, nggak sepi kok!” jawab Nita merasa tidak ada yang salah.
“Maksud Bang Adip, Jingga dan Yuri?” sahut Prilly dengan polosnya.
Adip tersenyum masih tetap berat bertanya dengan jelas dimana Jingga.
“Kakak mau ngapelin Jingga yah?” tanya Prilly langsung tanpa bosa basi. Tentu saja Adip yang baru pertama jatuh cinta dan beneran seperti itu langsung malu dan gelagapan. Belum Adip menjawab Siska sudah menyela.
“Bang Adip ada hubungan sama Jingga? Jingga pulang dari sini mau nikah Bang! Mending hati- hati deh, dia emang suka kecentilan dan php. Cantik dan kaya sih memang. Tapi harusnya dia nggak manfaatin kecantikanya buat sakitin orang dong!” jawab Nita.
Mendengar jawaban Nit, Adip langsung menelan ludahnya geram dan mendelik. Adip tahu kalau Jingga memang dijodohkan dan mau menikah dengan Pak Rendi, tapi Adip tidak terima jika ada yang menjelekan Jingga. Adip juga mendengar dan melihat, saat mereka melakukan perundungan ke Jingga, hanya saja Adip sadar diri, jika Adip tidak menemui kejadian salah di depanya lagi, dia tidak berhak ikut campur.
“Kenapa kalian malah menjelekan teman kalian sendiri?” tanya Adip sedikit kecewa.
“Maaf, Bang! Siska tidak bermaksud menjelekan Jingga. Kita Cuma mau tegur Bang Adip. Kita tahu kok Jingg cantik, semua laki- laki akan terpana, tapi jangan sampai Bang Adip sakit sendiri! Cinta Bang Adip hanya akan bertepuk sebelah tangan!” sahut Siska lagi semakin menghasut Adip.
Siska sendiri dadanya sudah cukup terbakar mendengar Adip membawa Jingga ke pantai, ditambah jika benar, Adip datang ke mereka sepagi itu mencari Jingga. Siska sangat benci dan ingin membuat Adip menjauh dari Jingga.
adip diam mengeratkan rahangnya dan mulai merasa tidak nyaman. Meski begitu, masih dengan pikiran sadarnya, apa yang dikatakan Siska memang benar menurutnya. Bahkan sebelum Siska mengatakan itu, Adip sudah cukup tahu lebih dulu.
“Kalian ngomong apa sih? Jangan ngelantur kalau ngomong. Kalian pikir aku siapa? Aku ke sini hanya mau memberitahu ke kalian, aku mau laporan ke kantor dan mengambil beberapa barang untuk menjalankan program kerjaku! Aku kesini ingin menanyai kalian, barang apa yang kalian butuhkan. Aku menanyakan teman kalian tanpa terlewat agar semua adil! Mana barang yang paling kalian butuhkan!” jawab Adip menyembunyikan kesalnya, perasaanya dan tidak ingin membicarakan Jingga.
Adip pun berhasil membuat semua terdiam, dan menyadari kesalahanya.
Nita dan Siska terdiam malu, meski begitu, Siska tersenyum senang, Siska mengartikan kecurigaan awalnya salah. Adip bukan mencari Jingga, batinya. Siska menarik sudut bibirnya tersenyum dan ingin minta maaf sayangnya Adip hilang muut dan bangkit dari duduknya.
“Bang Adi mau kemana?” tanya Prilly.
“Gue kecewa sama kalian. Ternyata begini ya kalian? Kalian di sini itu keluarga, seharusnya kalian saling menyayangi dan mendukung seperti kataku tempo hari kenapa seperti ini?” ucap Adip menatap mereka masam.
Nita dan Siska pun jadi tersudut.
__ADS_1
“Maaf Bang! Maaf, maksud kita bukan begitu!” tutur Siska kecewa, niat diri menjelekan Jingga malah Siska menjelekan dirinya sendiri.
“Batal niatku membelikan keperluan kalian!” jawab Adip marah.
Adip berusaha membuat dirinya terlihat marah karena kelakuan Siska dan Nita, padahal di hati Adip selain dia kecewa dengan sikap teman- teman Jingga. Adip juga benar- benar merasa patah.
“Bang, maafin Kami!” ucap Nita lagi.
“Tunjukan kekompakan kalian di sini!” ucap Adip berusaha pergi.
“Gak jadi buka jastip, Bang?” tanya Prilly lagi dengan polosnya.
“Nggak!” jawab Adip tanpa menatap mereka.
“Jingga dan Yuri pamit ke poskesdes dan jengukin Bu Martha!” teriak Prilly mengejar Adip, entah kenapa feeling Prilly tetap berkata Adip memang mencari Jingga. Prilly secara reflek ingin memberitahu Adip.
Prilly pun berdecak kesal karena dia merasa dicueki. Prilly kembali masuk ke ruang tamu, memandangi mie rebus Siska yang mulai dingin dan mengembang.
“Ini pertama kalinya, Bang Adip marah dan bertampang kesal!” ucap Nita.
“Kamu sih, kan udah tau, Bang Adip steril orangnya, dia nggak suka cewek jahat, kita harus baik di depanya!” sahut Siska.
“Ya mana gue tau, Prilly sih mancing- mancing bahas Jingga!” jawab Nita lagi melimpahkan kesalahan ke Prilly.
“Kok gue?” jawab Prilly tidak terima.
“Tau ah!” jawab Siska ngambek lalu bangun dan pergi. Nita juga melakukan hal yang sama. Prilly kemudian duduk dan tersenyum.
“Ya udah mienya buat aku aja!” batin Prilly senang. Di desa itu mie instan saja terasa nikmat dan enak.
Adip tetap berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh ke Prilly, tapi di balik punggung Adip yang terus menjauh dari pandangan Prilly, Adip tersenyum lega.
“Syukurlah dia benar- benaar berubah!” batin Adip senang tapi tetap merasa pedih.
Adip pun mantap pergi ke kota tanpa pamitan, apalagi, perahu yang Adip naiki bukan hanya mengangkut Adip, melainkan ada orang lain yang hendak menjual tangkapan ikanya ke kota.
Ya Adip harus bisa menepis semua anganya tentang Jingga. Lebih baik Adip terbiasa menahan pedih seperti ini, daripada Adip membiarkan dirinya dekat dengan Jingga perasaanya berkembang, tapi mereka tetap terpisahkan pasti akan sangat menyakitkan.
Dan kini Adip sudah berada di perjalanan hampir sampai di kota.
__ADS_1