Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
85. Kakak Ganteng


__ADS_3

Selama perjalanan pulang Adip bertemu dengan anak- anak desa yang polos. Adip pun menyambutnya dengan baik. Adip berkenalan denga anak- anak itu.


"Hai anak- anak ganteng, siapa namamu?" tanya Adip akrab.


"Namaku Adam!" jawab salah seoarang anak berkaos merah.


"Aku Marcel," jawab yang berpakaian kaos biru.


"Aku Jusuf!" jawab anak tanpa baju hanya dengan kaos kolor.


"Senang bertemu kalian,namaku Adip, maukah kalian jadi temanku?"


"Tentu saja kakak!" jawab anak- anak serentak.


"Oke,kalau begitu? Ada yang mau ikut denganku?" tawar Adip mengajak anak- anak bertandang ke rumah dinas Adip di pinggir sungai .


Mereka pun langsung akran dan mengobrol dengan Adip.


"Apa kalian sekolah?"


"Sekolah kalau ada Bapa dan Mama Guru. Tapi sudah 3 hari tidak ada Bapak dan Mama Guru yang datang, jadi kami main saja!" jawab anak- anak polos.


Mendengar verita anak itu, hati Adip jadi ngilu. Ternyata berita kekosongan masih ada anak- anak yang kurang mendapatkan hak oendidikan di negerinya bukan isapan jempol belaka, benar- benar masih ada.


Padahal di kota,para lulusan sarjana pendidikan menumpuk dan berjibun, berlomba mencari temoat mengajar. Apalagi sekolah yayasan swasta yang mahal, untuk bisa mengajar di situ butuh banyak tahap untuk ketrima. Di sini, di tanah yang Adip pijak, guru sampai tidak berangkat berhari- hari dan kosonng padahal anak - anak ingin belajar.


"Memang ada berapa guru di sekolah kalian?" tanya Adip.


"Tiga!"


"Berapa kelas memangnya?" tanya Adip lagi.


"6 kelas!" jawab anak- anak.


"Kalian kelas berapa?"


"Kami kelas 4" jawab anak- anak kompak.


"Apa semua guru tidak berangkat?"


"Ada beliay ibu Siti. Yang rumahnya dekat dengan masjid itu. Tapi Bu Siti sudah mengajar kelas 5 dan 6.Sebentar lagi mau ujian.Jadi kelas 3 dan 4 kelas kami kosong. Kelas 1 dan dua juga hari ini kosong!" tutur Marcel bercerita.


Adip menelan ludahnya benar- benar merasa tergelitik hatinya. Tanpa jijik Adip mengelus puncak kepala anak- anak itu.


"Apa kalian suka sekolah?"


"Sangat suka Kakak!" jawab Anak- anak.

__ADS_1


"Oke. Mulai besok kalian tidak akan kekurangan guru. Ada 5 kakak cantik yang akan mengajari kalian!" turur Adip semangat.


"Yang Kakak- kakak tadi bersama Kak Adip? Itu kah guru kami?" tanya anak- anak


"Iya. Di antara mereka juga ada bu dokternya lho!" jawab Adip ingin mengenalkan Jingga ke warga.


"Waah yang mana? Yang Kakak gendong tadi itukah?" tanya Yusuf menebak.


Adip mengangguk terswnyum


"Wah ternyata Nona bidadari itu Nona guu dan Nona dokter. Aku ingin berkenalan denganya Kakak!" ucap Marcel polos.


Adip tersenyum mendengarnya Jingga memang sangat cantik sampai anak kecil memanggilnya Nona Bidadari.


"Ya besok kalian akan berkenalan denganya!"


"Horee...kalau boleh tau siapa nama Nona Bidadari itu Kakak?" tanya Yusuf.


"Kalian tanyakan saja ke Nona bidadari itu besok ya! Tapi kenapa kalian memanggilnya Nona bidadari?"


"Karena dia sangat cantik, kulitnya putih seperti susu. Hidungnya juga mancung!"jawab Marecel polos. Adip pun terkekeh anak kecil kenapa jeli sekali melihat perempuan cantik.


"Ya oke. Kalau sudah berkenalan, kalian harus baik- baik ya sama dia!" ucap Adip menasehati.Padahal dirinya juga tidak memperlakukan Jingga dengan baik


"Siap Kakak!" jawab anak- anak.


Adip sebagaia bujangan pun membersihkan sendiri. Melihat kawan barunya sibuk bersih- bersih anak- anak tanpa diminta berinisiatif membantu. Akhirnya Adip dibantu anak- anak.


"Makasih ya Broo.. kalian sudah bekerja keras untukku!" tutur Adip sok akrab pada anak anak usia 10 tahun.


"Ya Kakak ganteng!" jawab anak- anak kompak.


"Namaku Adip. Adipati Wirajaya!" jawab Adip membetulkan.


"Ya Kak. Adip!" jawab anak- anak lagi.


"Karena kalian sudah bantu aku. Aku punya sesuatu untuk kalian nih!" tutur Adip bahagia mengeluarkan isi tasnya.


"Apa Kak?" jawab anak- anak antusias.


Adio kemudian mengeluarkan bungkusan cokelat, kornet dan mie instan. Sebenarnya itu makanan tidak sehat dan biasa saja, tapi untuk Adam, Yusuf dan Marcel yanh setiap hari makan ubi dan ikan laut itu semua istimewa.


"Waah apa itu Kak?" tanya anak- anak heran


"Ini makanan enak! Di sini ada tungku kan?" tanya Adip berpengalaman


" Ada Kak!" jawab anak- anak.

__ADS_1


Adip kemudian berjalan ke arah dapur yang berada di bawah karena dapurnya memakai tungku api. Bahkan bisa dibilanh di halaman.


Adip bersama ketiga anak kecil itu memasak mi instan dengan kayu bakar. Adip yang suka berperpetualang dan hobby mendaki itu semua sudah di luar kepala.Tidak butuh waktu lama masakan jadi.


Dengan alat sederhana yang disediakan di rumah itu.Adip menyajikan masakan itu ke atas rumah panggung. Lalu mereka berempat makan bersama dengan lahap. Meski baru bertemu anak- anak sangat bahagia dan menyukai Adip.


"Biar saya cuci Kakak!" ucap Yusuf nyeletuk.


"Ini sudah sore, nanti kalian dicari orang tua kalian. Pulanglah, tak apa aku yang bereskan!" ucap Adip sayang ke anak- anak


"Tidak apa- apa Kakak. Kami biasa melakukanya!" jawab Marcel ikut menyahut.


Ketika anak itu dengan cekatan membersihkan sisa makan. Adip tersenyum kecil,meski di desa dan mungkin mereka belum bisa membaca tapi oranh tua mereka mengajarkan kerja keras dengan baik.


Anak- anak kemudian membawa dan menata piring Adio lagi ke tempat semula.


"Makasih ya!" jawab Adip merasa sangat beruntung, tanpa meminya dan membayar atau seleksi Adip langsung punya 3 anak buah.


"Sama- sama Kakak!" jawab anak itu.


Setelah sore anak- anak pulang, tapi ada satu yang tertinggal namanya Marcel.Ternyata dia anak seorang nelayan. Ibunya sudah meninggal, ayahnya berlayar belum pulang sudah satu bulan.


"Lhoh kok kamu nggak ikut pulang? Apa kau tak dicari ayah ibumu?" tanya Adip.


"Ibuku sudah meninggal 1 tahun lalu!" ucap Marcel sendu.


"Oh begitu?" jawab Adip sendu. "Lalu ayahmu?"


"Ayahku kelaut, ayah belum kembali padahal sudah satu bulan!" tutur Marcel lagi dengan lugunya.


Adip bisa menangkap sorot mata kesepian dan putus asanya anak itu.


"Lalu bagaimana kamu tidur? Apa kamu tidur sendirian? Darimana kamu makan?" tanya Adip ingin tau lebih jauh.


"Aku berpindah- pindah, kadang tidur di rumah,Yusuf kadang di rumah Adam. Kadang di rumah Bu Siti!" jawab Marcel bercerita.


Adip kemudian mendekat ke Marcel dan menepuk punggungnya lembut.


"Apa kau mau menemaniku?" tanya Adip menawarkan. Sesungguhnya itu juga yang diharapkan Marcel.


"Mau!" jawab Marcel bahagia.


"Tinggallah bersamaku!" ucap Adip.


"Iya Kakak ganteng!"


"Namaku Adip!"

__ADS_1


"Ah biar saja. Aku ingin memanggil Kakak Ganteng saja!"


__ADS_2