
”Hiks... hiks....,”
Jingga tidak kuasa mengejar Bunga. Jingga memilih pergi ke taman dekat dirinya duduk itu.
Di taman samping rumah, dekat ruang keluarga ada kolam kecil kesukaan Jingga, di situ terdengar gemericik air yang mengingatkan dirinya dengan Adip.
Gemericik air yang mengingatkan saat mereka mencuci sayuran dan umbi-umbian bersama, bergantian mandi, dan banyak hal yang menyenangkan.
“Kenapa mencintaimu semenyakitkan ini Adipati? Benarkah aku serakah dan play girl karena mencintaimu? Apa salah aku mencintaimu dan ingin memilikimu?” batin Jingga melihat ikan koi peliharaan Babanya bergerak bebas.
“Aku memang salah langkah pernah percaya dan memilih Tama, tapi aku juga tidak pernah meminta perasaan ini ada untuk Adip, apa aku salah jika sekarang aku memilih Bang Adip yang memenuhi hidupku?”
"Siapa yang bisa salahkan cinta jika dia datang dan berkembang tanpa ada yang bisa mencegahnya. Apa salah jika cinta ini ingin berkuasa? Aku mau Adip jadi milikku, bukan untuk Tari, bukan untuk Bunga, apalagi Nita. Bang Adip milikku, dia suamiku titik. Dia untuk aku dan aku cuma mau dia titik!” batin Jingga lagi bertekad dengan sepenuh hati.
Adip kan bebas tidak terikat lada siapapun. Bahkan di hati Adip juga ternyata bersemayam nama Jingga. Jadi biarkan Adip yang bertahta di hati Jingga.
Jingga merasa, Bunga kan anak kecil dan baru lulus SMA. Jingga tidak mau berbagi kalau urusan hati.
ilustrasi taman Jingga.. hehehe
“Kak...” panggil Amer menyusul Jingga.
Jingga segera menyeka air matanya dan menoleh ke Amer.
“Hai... Mer, kapan pulang?” tanya Jingga ramah ke adiknya.
“Aku dengar semuanya Kak, Bunga masih remaja, maafkan dia yah!” jawab Amer kemudian menepuk bahu Jingga lembut.
Jingga mengangguk tersenyum
“Aku tahu, Bunga masih cinta monyet, aku tidak peduli itu nanti Bunga akan mengerti seiring berjalanya waktu. Bang Adip suamiku, tidak ada yang bisa merubah itu, kami saling mencintai dan kami akan bersama!” ucap Jingga dengan penuh semangat dan percaya diri ke Amer.
“Gleg!”
Amer menelan ludahnya tertegun melihat cinta Jingga untuk Adip yang begitu besar. Amer pun bisa paham itu, Amer sebagai laki- laki saja ada kekaguman pada Adip yang berkarisma.
Adip tidak pendiam tapi tidak cerewet juga, dia bisa menempatkan diri kapan harus diam dan bicara.
Adip yang pembawaanya santai tapi pasti. Adip yang bisa bergaul dan bertahan di semua tataanan kehidupan. Adip yang selalu mempunyai tatapan istimewa pada kakaknya itu. Adip yang terlihat begitu tenang dan humble. Amer mengerti kalau kakaknya klepek- klepek dan cinta mati ke Adip.
“Kakak baik- baik saja kan?” tanya Amer khawatir, Jingga kan baru siuman dari pingsanya.
“Aku sangat baik Amer!" jawab Jingga menepuk pipi Amer nakal.
__ADS_1
"Eh gimana tadi? Kata Buna, kamu sama Baba habis ketemu ibunya Pak Rendi yang nyebelin itu? Kata Buna Baba sama kamu mau jemput Bang Adip? Kapan? Aku nggak sabar... aku ikut yah!” tutur Jingga panjang dengan semangat membara dan sifat manjanya yang tidak tertolong.
Amer menelan ludahnya lagi, bingung mau jawab gimana. sejelek- jeleknya Baba, dia ayah mereka. Dan segimana Jingga, dia kakaknya. Amer juga pusiang kalau ayah dan kakaknya ini bertengkar lagi.
“Jawab pertanyaan Amer dulu, kenapa Kakak pingsan? Calon dokter kok pingsan?” tanya Amer ingin menasehati Jingga dulu agar tidak melakukan hal aneh lagi saat tahu kelakuan Babanya.
“He....!” Jingga malah tersenyum cengengesan.
“Jangan bilang kakak mogok makan!”
“Iyaah, abis Baba kalau nggak digituin nggak ngerti juga. Kakak rasa Baba jahat sama Kakak, nggak bisa ngertiin perasaan Kakak, kadang Kakak mikir Baba egois, nggak sayang Kakak, Kakak sampai pengen mati aja! Salah nggak sih Kakak benci sama sifat Baba!” ucap Jingga dengan polos curhat ke adiknya.
Kalau Jingga sedang bahagia, kan Jingga bisa ngomong panjang kali lebar kali tinggi. Jingga bahagia karena kata Buna, sebentar lagi dirinya akan benar- benar menikah.
“Ehm....,” Amer berdehem dan mengatur nafasnya bersiap menyampaikan berita buruk ke kakaknya.
“Kalau kakak benci sifat Baba, jangan diikuti makanya!" tutur Amer dewasa.
"Heheh nggak lah!" jawab Jingga menyadari dirinya banyak kesamaan dengan Baba.
"Duduk sini Kak!” ucap Amer.
“Huh?” pekik Jingga dengan tatapan polosnya, kenapa Amer tampak serius dan mengajak duduk segala.
“Huuuft,” Amer menghembuskan nafasnya.
“Kita semua tahu, sifat Baba emang keras dan sulit dipatahkan, tapi Kakak bisa kan janji jangan diulangi lagi melakukan hal- hal yang bahayain Kakak!” ucap Amer serius.
“Kamu ngomong apa sih?” jawab Jingga sekarang ekspresinya berubah jadi penuh curiga.
“Kakak sungguh cinta Bang Adip? Bukan cinta monyet seperti yang kakak rasakan pada Tama itu?” tanya Amer lagi.
“Ya beneran, kakak cinta beneran?” jawab Jingga menggebu.
“Kakak beneran nggak mau nikah sama Kak Rendi? Nggak mau coba mengenal dan buka hati untuk dia?” tanya Amer hati- hati.
“Kamu apa- apaan sih? Udah jelas kamu yang nikahin Kakak sama Bang Adip, kok masih tanya Pak Rendi segala, ini apa sih, ada apa sih? Aneh banget!” tanya Jingga mulai emosi.
“Kakak dan Bang Adip menikah karena terpaksa Kak... dan lagian!” jawab Amer tapi terpotong.
“Tunggu! Ini ada apa? kamu ngomong apa? Terpaksa atau tidak, aku menerima pernikahanku dengan suka cita, bang Adip juga melakukannya dengan hati yang ikhlas dan bahagia. Kami berdua mengucap syahadat dan berjanji akan bersama. Kamu kok jadi gini? Ada apa sih?” tanya Jingga benar- benar mulai naik pitam lagi.
Amer menelan ludahnya, jangan sampai Jingga melakukan hal konyol dan mencelakai dirinya lagi.
“Oke kalau begitu...,” ucap Amer ingin melanjutkan perkataanya dan mengajak Jingga cari solusia karena ternyata Baba balik haluan, tapi belum selesai bicara sudah terpotong Jingga.
__ADS_1
“Jangan bilang Baba nggak jadi batalin perjodohanku dan tetep ingin nikahin aku dengan Pak Rendi?” tanya Jingga menebak dan sekarang matanya berkaca- kaca.
“Kak...” pekik pelan. Amer merasa salah ucap terlalu cepat kasih tahu Jingga.
“Hugsss...” air mata Jingga tumpah lagi melihat ekspresi Amer. “Hiiiks...hiiiks,”
Amer jadi tambah bingung, kakaknya sekarang sangat sensitif.
“Kaaak!” tutur Amer meraih bahu kakaknya.
“Baba hanya belum mengerti, Baba sayang kok sama Kak Jingga. Ayo kita bicara sama Buna dan Opa Oma untuk kasih tahu Baba.. ya! Kita cari solusi!” tutur Amer menenangkan Jingga.
Sayangnya Jingga menghempaskan tangan Amer kasar, lalu berlari masuk ke kamar sambil menangis.
“Kaaak!” panggil Amer, tapi tidak dihiraukan.
Amer berfikir Jingga butuh waktu sendiri dan membiarkan kakaknya menyendiri. Amer tidak mengejar Jingga.
Jingga berlari ke kamarnya tanpa ada yang melihat. Baba sedang mengejar Bunga dan bicara di luar.
Buna bersama Nila sedang merapihkan kembali kamar Oma Rita dan menyiapkan segala kebutuhanya.
Sementara Opa Nando dan Oma Mirna di belakang bercengkerama.
****
Di Kamar.
“Aku harus kabur! Aku nggak mau di sini. Aku mau susul Bang Adip!” batin Jingga membuka lemari dan mengambil tabungan uangnya.
Jingga merasa Buna dan Babanya bohong.
****
Makasih udah setia sama Jingga.
Jingga ketahuan nggak ya? Doain Jingga berhasil kabur ya kaak.
Sungguh sebenarnya author pen ngetik banyak dan tamat, tapi pekerjaan dunia nyata jauh lbh penting.
maafkan kalau nupel ini lama. Dinikmati saja ya.
Author juga nikmati nupel meski.... ya udahlah, tau sendiri namanya author kentang menulis dengan riang dan tulus ikhlas hahaha... dinikmati sendiri.
Oh iya kalau aku kasih give away buku cetak aku ada yang mau nggak ya? He...
__ADS_1
Kalau mau follow ig author
@ririnrohmanningsih. Makasih