Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
197. Tips dari Oma.


__ADS_3

“Iiiih...kok mati sih?” keluh Jingga karena telponya terputus dengan suaminya. 


Jingga pun keluar tanduknya dan hilang moodnya untuk memilih baju. "Huuuh!" Jingga mendengus kesal.


“Kakak kenapa?” tanya Nila mendekat. Melihat kakaknya bersungut- sungut.


“Aku bingung mau pilih warna apa? Semua bagus, Bang Adip ditelpon dimintai saran malah mati,” ucap Jingga curhat ke adiknya.


“Ya sudah, Kakak tentukan yang kakak suka, di suasana genting seperti ini, Kaka kan emang harus bisa tentukan sendiri,” tutur Nila si anak kecil tapi malah nasehatin kakaknya. 


Jingga diam dan mendelik keadeknya. 


"Nggak usah sok dewasa kamu!"


"Lah Nila kan bener, mau nggak mau Bang Adip nggak ada di sini. Kakak harus tentukan sendiri!" jawab Nila.


“Tapi kan yang mau make bukan cuma aku. Dimana- dimana kan penganten milihnya berdua! Bete,” keluh Jingga lagi masih marah- marah mode anak- anak.


Nila tersenyum sangat tenang dan dewasa. 


“Kaak, calon penganten itu nggak boleh marah- marah. Kakak sebentar lagi akan jadi istri, jadi jantungnya keluarga, kakak harus belajar mandiri dan tentukan pilihan sendiri juga, resepsi Kakak lusa lho!” tutur Nila lagi. 


“Ehm...,” Jingga berdehem jadi tersinggung lagi. Kenapa Nila jadi semakin sok dewasa gitu. 


“Ya udah kasih saran kakak!” ucap Jingga. 


“Cobain aja satu- satu, hum?” ucap Nila lagi memberi ide.


Jingga mengangguk, iya yah, kenapa nggak dicoba aja. Jingga pun mencoba satu- satu.


Nila pun aktif mengambilkan dan membantu Jingga memilih gaun pernikahan termasuk pernak pernik lainya.


Nila tampak senang melihat- lihat, lebih antusias dari Jingga. Jingga sendiri jadi salah fokus ke Nila. Oma sendiri terlihat sedang asik mengobrol dengan cucu Tante Intan.


"Kamu kok tau banyak si Dhek?" tanya Jingga.


"Nila kan suka baca- baca dan lihat- lihat di internet Kak,"


“Oh. Bagusan yang mana?" tanya Jingga


"Abu bagus Kak, eh tapi ini ini lebih soft... mutiaranya juga lebih elegan... ini nih. Cantik banget!” ucap Nila menyodorkan gaun lagi berwarna gold.


Jingga mengambil dan mencobanya.


"Gimana?"


"Perfect Kak!"


"Benerean?"


“Huum...Kaak, untuk upacara sakralnya yang putih ini, manis dan simple, pas sambutan- sambutan kan pakai yang adat, nah untuk yang partynya pakai yang ini Kak Gold. Kakak kan tinggi, cocok pakai ini, perfect lah!” tutur Nila lagi sudah pilihkan dan menyodorkan gaun mewah. 


Jingga terbengong, Nila masih kecil tapi jauh lebih matang dan tahu banyak hal dari Jingga. Jingga pun menelan ludahnya dan mengangguk. 


“Kakak coba ya!” jawab Jingga. 


“Yah, ayok silahkan!” jawab Nila. 


Jingga dengan Nila jadi terlihat Jingga yang jadi adiknya.


Jingga patuh dengan nasehat Nila, mengikuti saran dan arahan Nila sehingga mereka menentukan 4 gaun. Untuk sesi akad memilih kebaya simple manis warta putih, lalu baju adat siger, setelah itu dua gaun untuk parti warna gold dan pinkpeach. 


Untuk memilih baju, Jingga menghabiskan waktu sampai 4 jam di butik Tante Intan, Oma sampai lelah menunggu. 


“Sudah?” tanya Oma, setelah melihat Jingga dan Jingga datang.


“Sudah Oma. Gimana pendapat tante?” tanya Jingga.


Tante Intan pun ikut menilai dan memberi saran. Tante intan rupanya sependapat dengan Nila.


“Mau pakai make upnya siapa? Fotografernya siapa?” tanya Tante Intan kemudian.


“Jingga ikut langganan Baba aja, Tante!” jawab Jingga. 


Untuk fotografer dan make Up mereka memang mempunyai langanan sendiri. 


"Ya udah makasih Tante. Kita pulang dulu," pamit Jingga.


Supir pun sudah menunggu dan membantu oma.


Mereka bertiga kemudian mampir ke salah satu kafe Gunawijaya di dekat butik, menikmati makan siang menjelang sore. 

__ADS_1


“Ternyata siapin nikah capek, ya Oma,” keluh Jingga. 


“Ini kamu nggak seberapa, wong kamu serba mendadak!” ucap Oma. 


“Hemm.... Ya gimana takdir Jingga begini. Emang Buna sama Baba gimana?” tanya Jingga. 


“Sama aja nggak ada yang beres, dulu kan kamu ikut Baba dan Buna resepsi, Buna resepsi kan udah hamil kamu!” tutur Oma memberitahu. 


Jingga pun manyun. 


“Ya Oma... Baba dan Buna sudah kasih tahu,”


“Dengerin Oma. Oma punya pesan untuk kalian!"


"Ya Oma!"


"Pesan Oma... Nikah memang bisa kapan saja yang penting sesuai syariat. Tapi! Meski kalian sudah menikah, jangan sampai menghalangi pendidikan kalian, tetap jadilah perempuan yang berilmu dan bermartabat!” tutur Oma menasehati. 


“Ya Oma...,” 


“Jangan hamil dulu, jangan tiru Bunamu! Menjadi ibu itu tidaklah mudah, ada beban dan tanggung jawab besar yang akan kalian pikul!” tutur Oma lagi. 


“Ya Oma. Jingga tahu dan sudah siapkan itu. Tapi Jingga heran deh. Kok semuanya bilang gitu? Kalau kehamilan Buna seperti terkesab buru- buru. Padahal Jingga juga ada setelag Baba dan Buna menikah kan? Kesanya dulu kehadiran Jingga di perut Buna kaya nggak diharapkan?” tutur Jingga malah tersinggung dengan kata Oma.


Karena Buna jadi berhenti karirnya setelah punya anak.


“Bukaan, bukan begitu. Siapa bilang kehadiranmu tidak diharapkan? Oma, orang yang paling bahagia saat tahu Buna hamil kamu. Kamu dengan Buna itu berbeda,” ucap Oma lagi. 


“Bedanya gimana?” 


“Kamu kuliah belum selesai? Secara ekonomi Adip belum mapan, tunda dulu, jangan sampai kamu jadi Ibu yang dzolim ke anak!” tutur Oma lagi agak keras, sebenarnya Oma juga ingin nasehtin Nila juga. Oma kan juga tidak suka Nila anak kecil bayangin nikah.


"Ya nggaklah, Oma. Jingga kan udah dewasa!" jawab Jingga nyindir Nila lagi


Tapi Nila tetap tenang menyimak,konsep menikah Nila di otaknya kan beda dengan Jingga.


“Kalau udah punya anak, semua akan berubah. Mulai dari pola pikir kamu, kebiasaan- kebiasaanmu, waktumu tanggung jawabmu. Dan itu pasti akan berpengaruh terhadap pendidikanmu!” tutur Oma lagi menasehati. 


“Ya... nanti Jingga Kb, Oma!” jawab Jingga. 


“Nggak, jangan kb!” 


“Kamu belum punya anak, nanti malah mengganggu kesuburanmu jangan kb pakai obat! ada tipsnya,” 


“Lah terus gimana Oma?” 


“Ck... kamu ini? Kamu kan calon dokter masa nggak tahu?” ucap Oma marah lalu melirik ke Nila. 


Jingga dan Nila mengernyit. 


“Nila, pesankan Oma teh hangat!” tutur Oma tidak ingin Nila dengar, dan mengusir Nila secara halus. 


“Ya Oma!” jawab Nila bangun dan berjalan ke arah waitress. 


Oma pun menatap Jingga mau mengajari Jingga. 


“Apa selama di pulau panorama cucu Oma ini sudah tidur bareng sama Adip?” tanya Oma berbisik. 


“Sudah!” jawab Jingga polos, maksud Jingga padahal di sana kan gubugnya plong satu ruang di rumah panggung, Jingga, Amer, Adip Baba dan kawan kawan memang tidur bersama. 


“Astaghfirulloh, benar- benar ya kamu! Nggak ada beda dengan Babamu,” omel Oma memukul tangan Jingga. 


Jingga mengernyit heran merasa tidak bersalah. Kenapa Omanya beristighfar. 


“Emang Baba dan Jingga sama kenapa? Kok Oma Istighfar, Jingga nggak salah kok!” 


“Nggak sabaran!” 


“Nggak sabaran gimana Oma?” 


“Terus sama Adip dikeluarin di dalam apa diluar?” tanya Oma khawatir di tubuh Jingga sudah terjadi pembuahan. 


Jingga semakin mengernyit keheranan. Jingga kan belum melakukan penyatuan jadi nggak mudeng.


“Oma ngomong apa sih? Di dalam apanya?” tanya Jingga belum nyambung.


“Ini serius, wes wes... kalau nggak disiapkan dan nggak diatur, masa depanmu kacau, apalagi kalau keburu hamil,” tutur Oma malah menepuk Jidat takut Jingga hamil tapi Jingga kan masih manja.


“Ah Oma Jingga pusing, Oma nggak jelas deh!” 


“Ya sudah kalau kamu malu cerita sama Oma, kita cek saja ya!” 

__ADS_1


“Oma...cek apa?” 


“Ya kamu udah hamil atau belum? 


“Ishhh Oma. Jingga belum ngapa- ngapain sama Bang Adip kok! Masa hamil? Kalaupun kejadian itu?” ucap Jingga terhenti dan ingat kata Buna untuk tidak cerita ke Oma masalah Tama. 


“Kejadian apa?” 


“Nggak, Oma! Intinya Jingga belum ngapa- ngapain sama Bang Adip!” jawab Jingga mengelak.


“Lah tadi katanya sudah tidur bareng?” 


“Ya ka di sana kita memang tidur bareng, Aku, Amer, bang Adip, pas ada Baba juga. Kita tidur bareng satu ruangan,” tutur Jingga memberitahu maksud Jingga.  


“Hahhh...,” Oma pun mengehela nafas dan bersyukur. 


“Sini Oma bilangin,” tutur Oma berbisik.


“Bilangin apalagi?” 


“Kasih tahu ke suamimu, sebelum lulus kuliah jangan di dalam dikeluarinya!” 


“Di dalam apa sih nggak jelas deh Oma!” jawab Jingga lagi. 


“Ahh sudahlah, kamu ini, umur sudah tua tapi masih nggak ngerti juga. Sudah biar Oma saja nanti yang kasih tahu Adip!” tutur Oma jengkel karena Jingga nggak mudeng- mudeng. 


Nila datang membawa pesanan. Mereka pun menyelesaiakan makanya. Setelah itu pulang ke rumah. Di rumah Baba dan Buna ternyata sudah pulang juga. 


Seperti Oma, ternyata mau Baba juga Jingga sebaiknya periksa. Dan prosedur  semua warga sebelum nikah KUA kan harus disuruh imunisasi dan memastikan tidak hamil ke Puskesmas.


Akan tetap Jingga menolak divisum atau ke puskesmas, secara umum. Jingga ingin pelayanan privat dn eksklusif. 


Jingga hanya memilih mengambil imunisasinya ke rumah sakit Opanya. 


“Sekalian cek hamil juga,” tutur Buna memberitahu. 


“Nggak Buna, takut!” jawab Jingga. 


“Katamu tadi belum ngapa- ngapain, ya udah nggak usah takut!” sahut Oma. 


“Apa mau visum sekalian?” ledek Baba. 


“Nggak!” jawab Jingga cepat. 


“Ya udah cek urin saja, atau USG!” sahut Buna. 


Karena sudah terpojok Jingga mau. Mereka pun bersiap ke rumah sakit Opa Nando. 


***** 


Amer dan Ikun sebagai anak laki- laki memilih stay cool tidak ikut campur urusan nikahan. Mereka memilih jadi pengasuh Iya dan Iyu. Kalau sudah sesama anak laki- laki ngapain lagi selain nge game dan olahraga.


Karena Ikun dan Amer main perang- perangan, Ikun jadi gemas dan pukul orang beneran. 


“Kak,” panggil Ikun ke Amer. 


“Ya! Ada apa?” 


“Kapan nih, Baba acc kita boleh eksekusi si Tam- Tam?” tanya Ikun. 


“Baba lagi fokus sama nikahan Kak Jingga dan perjodohan Nila. Awasi saja dulu dia!” jawab Amer masih asik ngegame. 


“Yeeey tembak!” teriak Iya. 


“Yaaah!” seru Amer. 


Rupanya meski masih anak kecil belum genap enam tahunn, Iya dan Iyu sudah pandai game. Padahal Buna juga membatasi Iya dan Iyu pegang ponsel. Tapi sekali pegang, Iya dan Iyu langsung paham dan jago. 


“Hore... Iyu menang, kakak kalah... ayo tlaktil es kliim!” seru Iyu ke Amer ingin beli eskrim dengan toping banyak. 


Di ujung jalan depan rumah mereka ada swalayan yang jual es krim dengan toping coklat kacang yang banyak. Ada berbagai rasa juga. 


****


Hehehe insya Alloh dua hari ini mau gaspol Up.


Doain lancar ya. Biar cepet tamat meski alur lambat.


Untuk Nila dan Rendi konfliknya memang di umur dan perjodohan mereka nanti. Tapi Author tetap sayang Nila. Nila akan tetap terjaga sampai usianya matang.


Tunggu aja. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2