Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Rendi Gila


__ADS_3

Jingga dan Tari yang sedang bercanda seketika terdiam dan saling melepaskan.


Jingga pun menoleh.


"Pak Rendi!" pekik Jingga dalam hati.


Dan alangkah kagetnya Pak Rendi menatap dalam ke Jingga. Pak Rendi melihat Jingga dari ujung kaki sampai ujung kepala serasa menguliti Jingga.


"Maju ke depan!" titah Pak Rendi cepat.


"Sss, Sa- ya?" tanya Jingga terbata dan merasa heran untuj apa ke depan.


"Ya!" jawab Pak Rendi.


Jingga yang sudah menikah, kenal pribadi denhan Rendi dan tahu rencana Baba jadi berani membantah.


"Untuk apa saya maju ke depan? Saya tidak mau!" jawab Jingga ngeyel.


Semua orang jadi heran dan menatap Jingga, berani sekali Jingga.


"Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan?" tanya Pak Rendi lagi.


"Tidak ada, aku tidak melakukan apapun!" jawab Jingga masih tetap berani.


Pak Rendi mendengus lalu menyodorkan media pembelajaran yang patah yang tadi dia bawa tapi jatuh, karena Jingga.


Jingga masih tidak mengerti.


"Apa salah saya? Apa hubunganya dengan saya?" tanya Jingga.


"Kampus dan kelas bukan tempat olahraga atau berlarian. Ini tempat belajar!" ucap Pak Rendi lagi.


Kali ini Jingga paham dan ingat tadi Jingga berlari dan hampir menabrak Pak Rendi, yang Jingga kira teman Jingga.


Jingga diam menunduk.


"Perbaiki panthom ini! Keluar!" titah Pak Rendi lagi.


"Kok gitu sih Pak?" lawan Jingga lagi.


"Kamu boleh ikut kuliah jika pantom ini sudah kembali seperti semula!" titah Pak Rendj lagi.


Jingga pun tidak bisa menolak mengambil media pembelajaran itu. Jingga keluar hendak membeli lem dan memperbaikinya.


Jingga tidak mengikuti perkuliahan dan membenahi alat itu. Sayangnya awalnya menurut Jingga mudah ternyata susah. Apesnya juga di toko dekat kampus lem habis sehingga jingga harus keluar kampus.


Saat Jingga kembali, Pak Rendi sudah di kantor.


Jingga, mau tidak mau datang ke ruangan Pak Rendi. Karena Jingga sudah terlampau sering dihukum disuruh mengerjakan tugas, Jingga biasa saja masuk.


"Alat ini sudah saya perbaiki Pak!" ucap Jingga meletakan alat itu di atas meja.


Pak Rendi menoleh dan menatap Jingga lagi seperti tadi.


Jingga jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Tidak usah menatap saya seperti itu. Saya perempuan bersuami Pak. Permisi!" jawab Jingga percaya diri.


"Tunggu!"


"Apalagi?"


"Hah....," Pak Rendi tetiba tersenyum getir lalu menatap Jingga lagi.


Jingga semakin geram dan mengepalkan tanganya, melihat ekspresi Rendi.


"Keperluan saya, sudah selesai kan? Saya harap bapak tidak menganggap saya bolos hari ini meski saya tidak ikut mata kuliah! Saya minta maaf karena berlarian," ucap Jingga lagi merendah padahal Jingga sebenarnya tidak salah. Salah Pak Rendi saja bawa barangnya ceroboh.


Prosentase kehadiran berpengaruh terhadap nilai, Jingga tidak mau hukumanya membuat Jingga dianggap bolos.


"Oke, Kakak Iparku yang cantik, saya terima permibtaan maafmu!" jawab Rendi tersenyum mengejek. Untuk pertama kalinya Rendi berbahasa seperti itu.


"Whoah? Kakak Ipar kau memanggilku?" pekik Jingga sekarang berani balas menatap Rendi.


"Hooooh," Jingga merasa Rendi sedang mengejeknya.


"Salah ya?" tanya Rendi lagi.


"Salah! Aku mahasiswimu dan kamu dosenku! Bukan kakak iparmu?" jawab Jingga tegas.


"Bisa sopan sedikit Kakak? Ini ruanganku!"


"Aku bukan kakakmu!"


"Apa kamu lupa, 3 hari lagi orang tuamu akan menyerahkan adikmu padaku, kan? Aku ingin tanya pada kakak iparku ini? Baiknya aku apakan ya?" tanya Rendi tiba- tiba di luar akal Jingga.


"Sopan Jingga!"


"Tidak bisa! Dengar ya Pak! Adikku bukan barang. Apa maksud perkataan Bapak? Bapak seperti tidak suka pada Nila? Kalau memang.tidak suka kenapa harus terima?"


"Seharusnya aku yang bertanya pada kalian. Kasihan sekali adikmu. Diperlakukan seperti barang lelang!"


"Kurang ajar! Bapak mengatai adiku?" tanya Jingga sangat geram.


Rendi hanya tersenyum tenang.


Jingga kemudian melihat keluar sepi. Jingga pun dengan berani Jingga duduk dan mendekat. Jingga berfikir ini langkah terakhir Jingga mencegah pernikhan konyol adiknya.


"Jadi bapak tidak suka dengan Nila? Lantas kenapa Bapak setuju dengan perbikahan ini? Batalkan sebelum terlambat!" tutur Jingga lagi.


"Kalau aku putuskan untuk tetap menikahinya gimana?" tanya Rendi tiba- tiba berwajah sangat mengerikan.


Jingga pun mendelik kesal.


"Nila gadis yang tulus dan polos, Pak. Jangan sakiti Nila! Kalau memanh bapak tidak suka. Batalkan saja!" ucap Jingga.


Rendi kemudian tersenyum mengerikan.


"Sepertinya menyenangkan. Kalau bisa menyakiti orang lain, kenapa harus dilewatkan?" jawab Rendi blak blakan dan malah menantang Jingga.


Jingga langsung syok mendengar oerkataan Rendi. Jingga menelan ludahnya dan memukul kedua pipinya.

__ADS_1


"Saya nggak salah dengar kan? Jadi bapak berniat sakiti Nila?"


"Aku ingin tahu seberapa sayang bapakmu terhadap putri kecilnya. Mengorbankan satu Putri demi Putri yang lain. Aku juga penasaran bagaimana kasih sayangmu terhadap adikmu? Bagaimanan perasaanmu jika melihat adikmu menangis! Apa kamu akan tetap bahagia dengan hidupmu?"


"Maksud Bapak apa? Bapak balas dendam ke aku lantas melampiaskan lewat adiku?"


"Hah... haha," Rendi tersenyum mengerikan lagi.


"Kamu memang cerdas Jingga!"


Jingga semakin nanar melihat dan mendengar Rendi, tentu saja Rendi sangat puas melihat Jingga emosi dan kelabakan.


"Kurang ajar kamu Pak. Saya akan katakan ini pada Baba. Tidak akan kubiarkan kamu sakiti adiku!"


"Silahkan. Babamu tidak ajan percaya!"


"Batalkan pernikahan kalian! Jangan sakiti Nila!" seru Jingga menggebrak meja saking gemasnya.


"Waduh... kakak Ipar jangan galak- galak dong!"


"Stop panggil aku kakak ipar. Batalkan pernikahan kalian. Aku tidak setuju kalian menikah! Tidak akan kubiarkan kamu sakiti Nila!"


"Tapi aku ingin tetap menikah. Sepertinya seru bermain dengan adik mungilmu itu?" jawab pak Rendi lagi.


Jingfa menggelengkan kepalanya.


"Ini salah. Aku tidak salah dengar kan? Bapak waras kan Pak? Bapak saudarabta Pak Dhe Farid kan?" tanya Jingga sudah lepas kendali.


Pak Rendi sangat mengerikan lebih ngeri dari Tama.


"Menurut kamu aku waras tidak!" jawab Rendi malah semakin menjadi.


"Bapak gila. Nggak! Bapak Nggak boleh nikain Nila. Aku nggak akan biarkan Nila hidup dengan orang gila kaya Bapak!" ucap Jingga saking geramnya.


"Bukankah sudah lama kamu tahu? Aku memang gila sejak awal. Dan ini karena kamu!" ucap Rendi lagi semakin memancing Jingga marah.


"Hoooh...!" Jingga hanya bisa mendengus tidak bisa berfikir.


"Saya mohon Pak. Jangan sakiti Nila. Batalkan pernikahan kalian. Menikahlah denhan orang lain yang lebih pantas!" pinta Jingga kali inu sampai Jingga berkaca- kaca.


"Okeh. Kalau aku mau batalkan pernikahan ini. Memang apa yang bisa kamu lakukan sebagai bayaranya?"


"Whoaah? Bayaran?".


"Adikmu saja rela mengorbankan masa depanya untuk kakaknya. Masa kamu sebagai kakak nggak?".


"Bapak psikopat ya!" tuduh Jingga cepat saking kesalnya.


"Ceraikan suamimu dan menikahlah denganku! Bagaimana?" tanya Rendi tiba- tiba.


"Plak!" kali ini Jingga tidak tahan dan satu tamparan mendarat di pipi Rendi.


"Bapak gila. Bapak sinting. Bagaimana bisa bapak berfikir rendah seperti ini? Jodoh itu Tuhan yang tentukan, Pak. Saya mencintai suami saya. Sejak awal saya katakan. Saya tidak suka bapak! Seharusnya Bapak terima itu. Bukan balas dendam lewat Nila. Saya yang akan batalkan pernikahan kalian!" ucap Jingga berani menatap Kesal ke Rendi yang memegang pipinya.


Jingga pun segera keluar dari ruangan Rendi sambil menangis.

__ADS_1


"Bang Adip, Baba dan Buna harus tahu ini tapi bagaimana caraku memberitahu? Kasihan Nila."


__ADS_2