
Benar kata teori, untuk bertahan hidup, kita harus beradaptasi dengan lingkungan. Jingga yang awalnya ragu saat melihat asrama tua di Pulai S, yang notabenya pulau persinggahan pesawat penuh dengan keterbatasan, kini Jingga mulai bersahabat. Kasur tingkat dan sempit yang awalnya Jingga jijik kini jadi tempat istirahat yang nyaman.
Jingga Uti dan Tari kini memilih menghabiskan waktu istirahat di kamar. Tentu saja Jingga yang minta, Jingga tidak mau didekati Tama lagi. mereka bertiga kemudian dengan antusias membuka paper bag dari Pak Rendi.
“Waaah, bagus juga selera Pak Rendi!” celetuk Uti. Meski Jingga yang dibelikan Uti dan Tari ikut memeriksa baju- baju yang Pak Rendi kasih.
“Kelihatan sih, Pak Rendi kan juga selalu berpenampilan necis dan trendy gitu!” balas Tari.
Jingga hanya diam sambil berfikir, kapan Pak Rendi membelinya. Merek- merek baju yang Pak Rendi beli juga hampir sama dengan merek selera Jingga, meskipun masih di bawah standar Jingga, tentunya karena di Pulai S tak selengkap di ibukota. Darimana Pak Rendi bisa tahu? Jingga juga tahu pasti ini semua tidak murah.
Pak Rendi membelikan 3 celana jeans merek levis asli dan 5 celana kain merek lokal dengan harga yang lumayan tinggi. Selebihnya ada 5kemeja dan 3 kaos dengan merek berbeda- beda. Tidak ketinggalan juga 2 setelan baju tidur. Yang pasti semua bajunya sopan tertutup dan panjang.
Jingga jadi kasihan terhadap Pak Rendi.
"Kalau begini, dia terlihat seperti sungguhan mencintaiku? Sebenarnya memang tidak ada yang kurang darinya. Tapi aku belum siap menikah!" batin Jingga memegangi pakaian dari Pak Rendi.
“Kok ngelamun, sih Ngga?” tanya Uti melihat Jingga malah melamun.
“Dimana Pak Rendi beli ini ya? Itu berarti di sini ada Mall dong?” tanya Jingga.
“Emang ada!” jawab Tari.
“Kita ke mall yuk!” ajak Jingga.
Spontan Tari langung melempar Jingga bantal.
“Auh, apan siih?” jawab Jingga.
“Udah tahu jadwal kita padat, nggak ada waktu kita buat jalan- jalan!” jawab Uti.
Dan benar saja alarm pemberitahuan mahasiswa untuk kembali berkumpul terdengar. Mahasiswa pun langsung berkumpul. Pembekalan selanjutnya tentang ketahanan pangan, bagaimana cara agar para mahasiswa ketika di sana tidak mendapatkan makanan sesuai yang ada di daerah asal, tapi tetao bisa makan.
Dilanjut dengan pembekalan jika mereka menemui hewan- hewan liar. Lalu pengenalan tentang adat budaya masing- masing daerah. Dan untuk hari besok hari terakhir adalah, outbond di luar. Anak- anak akan diajari cara membuat api, dan lain- lain.
Kali ini Jingga duduk di depan sehingga beberapa orang bisa melihatnya. Tentu saja tidak luput dari pandangan Tama dan Adip. Meski mereka tak saling kenal.
__ADS_1
Sayangnya Jingga sama sekali tidak tahu, kalau bahkan sejak naik bus, dan naik pesawat Jingga terus menjadi bahan perhatian orang.
Jika saat naik bus Jingga selalu murung dan menampakan muka bete. Kini Jingga terlihat banyak senyum karena mulai akrab dengan teman- temanya. Jingga juga terlihat menyukai materi yang diberikan.
“Kita di sana 1 bulan doang kan?” bisik Tari.
“Kalau berdasar penjelasan kayaknya lebih deh!” jawab Uti.
“Nggak apa- apa semakin lama semakin bagus!” timpal Jingga kepedean.
“Yakin kamu semakin lama semakin bagus?” tanya Uti.
“Kayaknya asik ngebayanginya!” jawab Jingga hanya melihat dari power point pemateri yang menampilkan pemandangan- pemandangan indah alam di pulau P.
“Huh! Awas aja kamu baru seminggu di sana minta pulang!” jawab Tari.
“Nggak!” jawab Jingga.
Mereka pun kembali memperhatikan pemateri yang memberikan pengarahan. Jingga kemudian melirik ke belakang mencari sesosok yang dia cari. Sayangnya Jingga justru nemuin Tama.
“Maafkan aku Kak, kamu memang pernah membuat jantungku berdebar kencang saat melihatmu. Kak Tama pernah membuatku semangat untuk berangkat ke kampus. Kak Tama yang buat Jingga ngerasain rasanya jatuh cinta. Tapi Jingga nggak kuat Kak, cinta yang Jingga impikan tidak sama dengan Cinta yang Kak Tama berikan padaku!” batin Jingga bermonolog dalam hati. Jingga meunduk dan memilin ballpoint di tanganya.
Meski baru sebentar, tapi Jingga juga merasa sakit dan merasa bersalah harus mengakhiri hubunganya. Tapi Jingga juga tidak mau terkekang dan tersiksa dalam hubungan yang tidak sehat.
Tama yang dulu jadi sahabat dan buat nyaman , seketika mengekang Jingga dengan posesif. Jingga jadi ingat teman- teman Jingga di Ibukota.
“Apa komentar mereka ya? Kalau tau gue putus?” batin Jingga.
Amora pasti menentang keras.
“Dua hari ini mereka belum menelponku, mereka lagi liburan juga kan?”
Gara- gara bertatapan dengan Tama sekilas. Jingga jadi melamunkan kehidupan di ibukota. Saat pemateri bertanya Jingga jadi tidak konek. Bahkan Jingga tidak tahu kalau pemateri berdiri di hadapan Jingga. Pemateri berdiri sambil geleng- geleng kepala.
Semua peserta jadi menertawai Jingga dan berpusat menatap Jingga. Tidak terkecuali Adip yang bersedekap menyunggingkan senyum mengejeknya sambil menggelengan kepala. Ternyata Adip duduk satu baris dengan Jingga jarak 3 anak dari Jingga.
__ADS_1
“Jingga!” panggil Tari menggerakan sikunya menyenggol Jingga agar Jingga sadar.
“Ha..iya! Kenapa?” tanya Jingga dengan polosnya. Semua anak jadi tertawa.
“Itu!” bisik Tari lagi Jingga baru ngeh di depanya ada pemateri yang menatap Jingga sangar.
Jingga langsung menelan ludahnya dan menunduk malu. Bisa tergambar dari mukanya yang mendadak pucat menyadari dirinya ke gep ke kawan seisi aula dirinya sedang melamun. Jingga jadi ingin menghilang saja rasanya.
Semoga saja Tama tidak tahu kalau Jingga sedang memikirkanya. Ah betapa bodohnya Jingga.
“Siapa namamu?” tanya si pemateri.
“Nama saya Jingga!” jawab Jingga sambil menggigit bibir bawahnya, Jingga terlihat sangat seksi jika begitu. Untungnya saja pemateri bukan Pak Rendi atau pemateri laki-laki lain, pemateri saat itu perempuan.
“Nama lengkapnya?” tanya pemateri lebih ketus seakan ingin memberitahu ke seisi aula nama peserta pembekalan yang ngelamunan itu adalah Jingga.
“Jingga Pelangi Putri Guna- wi- jaya!” jawab Jingga sambil terbata dan memelankan suaranya saat menyebut nama keluarganya. Jingga tidak mau peserta lain mengenali identitas Jingga. Untungnya si pemateri adalah dosen perawan tua yang hidupnya fokus dengan buku- bukunya jadi tidak tahu siapa keluarga Gunawijaya.
“Oh!” jawab Si Pemateri perempuan. Pemateri itu berdiri dengan sorot mata meremehkan ke Jingga. “Kamu dengar kata saya tadi? Apa yang kamu lakukan jika kamu tidak menemukan air dan hanya ada pohon kelapa?” tanya si Pemateri mengetes.
Tepat sesuai perkiraan, Jingga tidak bisa menjawab karena Jingga tidak memperhatikan. Akhirnya Jingga disuruh maju ke depan menghadap ke semua peserta sebagai hukuman.
Jingga jadi tontonan semua peserta. Untung Jingga cantik jadi tidak mengotori pandangan malah jadi vitamin. Sungguh duduk di depan sangat tidak menguntungkan bagi Jingga.
“Jingga... Jingga!” batin semua teman- teman Jingga.
Kalau saja Baba Ardi tau anaknya dihukum begitu. Pasti tidak terima.
"Ternyata dia sangat cantik. Apa iya dia akan bertahan di Pulau P? Kasian juga? Akan di tempatkan di daerah mana dia?" batin seseorang dengan santai memperhatikan Jingga dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Kamu terlalu polos untuk dilepaskan, Jingga. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu. Ini sebagai balasan kamu berani mempermainkanku! Di sana kamu tidak ada siapapun. Ini kesempatanku!” batin orang lain lagi tersenyum sinis melihat Jingga berekspresi begitu polos berdiri di depan.
*****
Maaf ini episode terandom hahaha.
__ADS_1
Kasih komen yg banyak ya biar author rajin ngetik lagi. heheha aku suka komen Kakak- kakak