Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
48. Oma tidak boleh luluh


__ADS_3

Jingga melangkahkah kakinya dengan gembira. Seakan semua hal di sekelilingnya ikut berjingkat dan menari mengiringinya, memberikan senandung rasa bahagia. 


Pengumuman peserta yang masuk seleksi peserta Ruang Inspirasi sudah diumumkan. Nama jingga ada di deretan nama- nama peresta yang ikut, meski nama Jingga berada di urutan terakhir. Ini pertama kalinya sih Jingga berada di urutan terakhir sebuah pengumuman, biasanya Jingga berada diurutan atas.


Itu semua tak mengurangi rasa bahagia Jingga, bayangan Jingga bisa hidup dan bergerak tanpa aturan dan pengawasan seperti dunia mimpi yang indah. Sebentar lagi hendak menjadi kenyataan. 


Ujian akhir semester telah usai. Ini kali pertama Jingga tidak menyiapkan paspor atau visa. Biasanya di liburan akhir semester, Buna dan Jingga menghabiskan waktunya di luar negeri. Keluarga mereka berkumpul. Anak Gunawija lengkap Amer, Ikun, Oma Rita, Nila, Baba dan Si Kembar Iya Iyu. Tahun ini mereka mewarnai liburan semester dengan warna yang beda.


“Bun....!” seru Jingga. 


“Iya Kak! Ada apa?” jawab Buna yang sedang berkebun bersama Oma Nurma menoleh ke Jingga. 


“Jingga mau belanja. Boleh ya!” ijin Jingga. 


“Sama Pengawal ya!” jawab Buna. 


“Ya Bun!” 


“Mau belanja apa sih?” tanya Buna. 


“Jingga ketrima, Buna. Jingga besok berangkat ke Pulau S, buat pembekalan di asrama, kaya dibriefing gitu, nanti ageda kita ngapain aja, terus lusa Jingga berangkat ke pulau P!”  tutur Jingga dengan wajah penuh bahagia. 


“Alhamdulillah!” sahut Oma mendukung.


Berbeda dengan Buna, Buna sedikit kaget. Ini pertama kalinya, putri tercintanya akan pergi jauh darinya. Sejak lahir hingga kini duduk di bangku kuliah, Jingga tak pernah lepas dari pengawasan pengawal keluarga Gunawijaya lebih dari 3 jam. 


“Sayang, Baba belum kasih ijin lho! Tunggu Baba pulang ya! Nanti Baba marah, apa harus ada pengawal atau tidak?” tutur Buna mengeluarkan kekhawatiranya. 


“Buna! Nggak boleh ada pengawal Bun!” 


Mendengar kata Baba Jingga langsung menelan ludahnya asam. Wajahnya murung, dan kabut kegelisahan datang. Jingga menggerakan matanya meminta perlindungan dari nenek tercintanya.


“Memang kapan suamimu pulang?” sahut Oma peka. 


“5 hari lagi!” jawab Buna.

__ADS_1


“Nah kan, dengar Oma! Baba pulang lima hari lagi, Jingga berangkat besok pagi! Jingga ingin ikut ini Buna, Oma. Please! Nanti Jingga dapet sertifikat, Jingga juga nanti bisa buat laporan untuk tugas mata kuliah Jingga, please Buna, ijinin ke Baba! Ijinin Jingga pergi sendiri. Jingga ada banyak teman!” tutur Jingga dengan rangkaian kata manjanya yang membuat Bunanya luluh karena terlampau sayang pada putrinya itu. 


“Yang ikut berapa orang? Yang tanggung jawab selama kalian di sana siapa?” tanya Buna ingin memastikan. 


“Ini sejenis kaya event kegiatan kemahasiswaan gitu, Bun. Jadi organisasi- organisasi kampus besar kumpul gitu Jingga nggak tau persisnya berapa? Nanti dibagi per desa dan kecamatan. Yang tanggung jawab ya dari pemerintah setempat dan kampus. Kampus di bawah pengawasan kementrian!” *note tolong jangan diprotes kakak, ini hanya ada di dunia Jingga ya. 


“Ini kegiatan positif Alya, biarkan anakmu berangkat, Jingga masih muda, masanya mencari ilmu," tutur Oma membela Jingga.


"Kalau Babamu marah, Oma yang bilang nanti!” sahut Oma lagi. 


"Yes!" Jingga bersorak dalam hatinya.


“Ya. Buna ijinin, ingat bawa obat, selalu kabari Buna, nggak boleh deket- deket atau kontak fisik dengan teman pria, ingat sholat, dan!” tutur Buna panjang tapi langsung dipotong. 


“Dan selalu makan tepat waktu, nggak boleh main malam, Buna juga berharap Jingga siap, segera pakai hijab! Buna mau bilang gitu kan? Jingga tau Buna. Jingga akan jaga diri, Jingga akan pakai hijab kok, tapi nanti!” jawab Jingga manyun.


Buna Alya pun hanya menatap putrinya dan menghela nafas mengangguk saja. Buna banyak pesan kan karena sayang.


“Janji ya!” ucap Buna


“Buna, Jingga udah gedhe. Percaya Jingga dong Bun! Ya udah Jingga berangkat ya!” 


“Siap Bun!” jawab Jingga. 


Secepat kilat, tanpa merasa lelah padahal baru pulang kuliah. Jingga langsung memanggil pengawal dan sopir menemaninya belanja. Jingga langsung searching semua keperluan untuk tinggal di desa pelosok. 


Jingga membeli banyak makanan kesukaanya, seperti berbagai macam coklat ; silverqueen almod milk chocolate, cadbury dairy milk, ferrero roccher dan camilan manis lainya.


Selain coklat Jingga juga membeli aneka camilan gurih dengan berbagai rasa, mulai dari kacang panggang rosta, keripik talas, keripik tempe, taro dan camilan gurih lain. Selain camilan Jingga juga belanja minuman kaleng dan kotak. Anek susu, teh dan juga yoghurt. 


Setelah merasa puas belanja di bagian makanan, Jingga berbelanja di bagian alat mandi. Jingga mendatangi toko perawatan khusus dirinya dan Bunanya biasa membeli lulur mahal, hand body, sabun dan shampo, Lengkap dengan vitamin rambut dan maskernya. 


Selesai peralatan mandi Jingga membeli banyak pakaian. Pesan Tari dan Uti Jingga jangan banyak menggunakan heels, wedges dan dress seperti kebiasan dia di rumah atau di kampus. Hari ini Jingga belanja banyak kemeja batik, kaos santai celana kain panjang dan flat shoes. Tidak ketinggalan Jingga membeli banyak pakaian dalam. Semua dibeli sebanyak 30 buah persiapan Jingga hidup selama sebulan. 


“Sudah cukup kan Non?” tanya Bu Fitri yang sudah kuwalahan membawa paper bag belanjaan Jingga. Pahal Bu Fitri sudah dibantu Pak Asep. Beberapa barang juga sudah Bu Fitri simpan ke mobil. 

__ADS_1


“Masih adalagi Bu!” jawab Jingga. 


“Hah!” Bu Fitri terbengong. 


“Kita beli tas, koper, sama alat elektronik Bu, Jingga harus bawa ponsel dua, power bank, senter, headset, kamera. Flash disck dan Jingga juga mau beli laptop yang baru!” ucap Jingga lancar barang yang belum dia beli ternyata masih banyak. 


Bu Fitri menelan ludahnya tak percaya. Padahal belasan tahun mengabdi pada Buna Alya, Buna Alya tak pernah serepot dan sebanyak ini kalau belanja. 


“Oh ya, selimut, kos kaki, terus apalagi ya. Bantal sama boneka Bu, Jingga nggak bisa tidur kalau nggak pakai itu!” ucap Jingga lagi dengan ceria. 


Bu Fitri benar- benar hanya melongo dibuatnya. Bu Fitri mau mencegah, tapi apalah daya, dia hanya pesuruh sementara perempuan cantik yang sedang berlenggok di depanya itu, Sang Putri dari keluarga Gunawijaya yang sangat disayang majikanya. Bu Fitri hanya menurut saja. 


Setelah berputar-putar dan bolak balik beberapa kali meletakan barang belanjaanya ke mobil, sampai kaki Bu Fitri yang menua protes ngilu. Non Jingga akhirnya mengajak pulang. 


“Sudah Non, ada yang masih mau dibeli?” tanya Bu Fitri. 


“Udah, Bu Fitri sama Pak Asep mau makan dulu nggak? Makan dulu yuk!” ajak Jingga. 


“Nggak usah Non! Kan tadi udah makan!” jawab Bu Fitri. 


Bu Fitri sebenarnya bukan tidak ingin makan, tapi Bu Fitri lelah ingin segera pulang dan mengurut kakinya. Begitu juga Pak Asep. 


“Nggak usah jual mahal, Bu! Ayok makan yuk!” 


“Sungguh Non. Lain kali saja ya. Nanti malah dimarahin Buna lho kalau kelamaan, makan malam di rumah saja!” jawab Bu Fitri menolak. 


“Hemmm, oke deh!” jawab Jingga. 


Akhirnya mereka pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mata Jingga terbelalak kaget melihat pemandangan di gazebo teras rumahnya. 


“Haishh... pria gila itu, ngapai dia di sini? Deketin Oma lagi!” gerutu Jingga dengan kening mengekerut sempurna. Jingga sangat khawatir Pak Rendi dekat-dekat dengan Nenek sang penyelamatnya.


Rupanya, meski perkuliahan sedang libur, Rendi tak mau melewatkan untuk mendekatkan diri dan bisa melihat wajah Jingga. Rendi ngapel ke rumah Jingga dengan membawakan dua pohon Anggrek oncidium berwarna merah pekat dan merah muda, dengan pohon yang subur dan gemoy. 


“Tuhan, tolong teguhkan hati Oma. Oma nggak boleh luluh dengan sogokan dan rayuan mulut manis dosen gila itu!” batin Jingga kesal. 

__ADS_1


“Ayo turun, Non!” ajak Bu Fitri. 


“Lewat pintu samping, Bu!” jawab Jingga tidak mau papasan apalagi menyapa Rendi. 


__ADS_2