Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
89. Mengecewakan


__ADS_3

Hari pertama mereka menjalankan tugas, semua melaluinya dengan semangat dan gembira. Siswa- siswi pun bahagia kedatngan tamu, yang menjadi guru jadi jadianya. Mereka semua bekerja sesuai arahan Bu Siti.


Jingga kebagian mengajar anak kelas dua SD. Sementara Yuri memegang kelas 3. Nita dan Siska memgang kelas 4 dan 5. Prilly sendiri membantu kelas 6 bersama Bu Siti. 


Jingga kaget saat diberitahu Bu Siti materi apa saja yang harus disampaiakn, benar- benar di luar standar komepetensi yang seharusnya. 


Jingga hanya dititipi Bu Siti untuk melatih anak- anak menghitung sampai dua puluh, dan mengenal huruf. 


Adik Jingga yang masih di bawah TK, bawaan sekolahnya sudah I-PAD pandai menghafal huruf dan doa doa, ini sudah kelas dua, huruf belum hafal semua.


Jingga pun menelan ludahnya syok dan tidak percaya. Pendidikan di kota dan pedalaman ternyata sekatya sangat jauh. 


Jingga menatap ke sekeliling, murid kelas dua ternyata hanya ada 11 orang. 


“Hai selamat pagi!” sapa Jingga manis dan ramah. 


Herannya semua anak langsung berdiri, mengucapkan salam dengan kompak, lalu salah seorang murid memimpin doa sebelum belajar. Di dalam doa mereka lafalkan dengan keras. Mereka berdoa memakai bahasa indonesia sehingga bisa dimengerti isi doanya. 


Jingga terharu karena dalam isi doa murid- muridnya mendoakan gurunya juga agar selalu diberi kesehatan dan berkah. Berdoa pun selesai, Jingga memperkenalkan diri dan saling berkenalan dnegan murid- muridnya. 


Ternyata murid- murid Jingga tak ada yang memakai sepatu, sendl pun tidak. Jingga hanya memperhatikan sekilas. Saat Jingga berjalan mendekat dan berkeliling Jingga membau aroma yang hampir membuat Jingga ingin muntah. Baru kali itu Jingga membau aroma aneh itu, sangat berbeda dengan adik- adiknya yang selalu wangi jika hendak pergi sekolah. 


Settelah bercakap- cakap Jingga baru tahu kalau tak semua murid berangkat ke sekolah mandi dulu. Bahkan dari mereka juga terlihat tak merawat giginya. 


Jingga jadi berfikir merasa perlu mengajarkan pola hidup bersih dan sehat ke mereka. Hanya saja tetap yang pertama Jingga menyampaiakan pelajaran seperti yang Bu Siti titipkan. 


Karena Jingga hampir tidak tahan ingin muntah Jingga mengajak anak- anak belajar di luar kelas. Jingga mengajarkan berhitungnya dengan praktek menggunakan batu di luar kelas. Di luar juga udara bergerak bebas sehingga Jingga yang sangat jijikan itu bisa bernafas netral. 


Kurang lebih sampai pukul 11 waktu setempat pelajaran di akhiri. Jingga pun mulai merasakan bahagia melakukan pekerjaan di luar bidangnya dengan misi menginspirasi anak bangsa agar mempunyai semangat belajar. 


“Besok... kalian bawa sikat gigi ya!” ucap Jingga meminta. 


“Untuk apa ibu dokter?” tanya salah seorang siswa tahu kalau Jingga kata temanya itu dokter, ternyata si Yusuf dan Adam sudah menyebarka gosip, tentang Nona Bidadari sehingga mereka juga antusias menyambut Jingga. 


Jingga pun tak keberatan jika hanya panggilan saja toh dirinya memang calon dokter. 


“Apa di sini ada yang suka sakit gigi?” tanya Jingga berusaha mencari alasan agar anak- anak semangat. 

__ADS_1


Anak- anak pun menjawab dan saling menuduh sesama teman, padahal tanpa menjawab Jingga bisa menebak. Anak- anak di sini benar- benar tak merawat giginya dengan baik. 


“Ya sudah- sudah, makanya biar kalian nggak sakit lagi, besok bawa sikat gigi ya! Ibu akan ajarkan kalian biar tidak sakit giginya!” jawab Jingga. 


“Ya Bu!” jawab anak- anak kompak, ketua kelas kemudian menyiapkan dan kelas dibubabarkan. 


Jingga kemudian menghela nafasnya, ternyata sangat menyenangkan bermain bersama anak- anak. Semua sangat menjung tinggi kesopanan terhadap guru. Hanya saja daya tangkap mereka lumayan lamban sehingga Jingga harus ekstra sabar. 


Tidak terbayangkan menjadi guru sungguhan yang bertugas di situ. Untung Jingga bukan guru. 


“Aku jadi kangen Iya dan Iyu,” gumam Jingga dalam hati saat berjalan menghampiri Yuri dan mengajaknya pulang. 


Yuri keluar dan mereka pulang. 


Alangkah kagetnya mereka. Di depan rumah dinas mereka beberapa warga duduk mengantri di tangga rumah panggung. Merek terdengar batuk- batuk keras, tubuhnya pun tampa kering. 


“Siapa mereka? Kok banyak warga? Mereka mau apa ya?” tanya Jingga ke Yuri berhenti di balik pohon tidak buru- buru mendekat. 


“Entahlah, yuk kita kesana!” ajak Yuri. 


“Jangan!” ucap Jingga menarik tangan Yuri agar kembali dan tidak melangkah. 


Jingga menelan ludahnya memperhatikan dengan seksama semua warga itu. 


“Mereka seperti penderita tbc, kita tak memakai masker atau apapun. Jangan berhadapan dengan mereka!” ucap Jingga memberitahu. 


Sebenarnya niat Jingga baik, Jingga yang tahu tentang ilmu kesehatan sangat protektif terhadap dirinya dan temanya. Hanya saja ilmu sosial Jingga terbilang minim dan tidak pandai menempatkan. 


Yuri yang buka orang kesehatan hanya mendengar dan melihatnya bingung, 


“Tau dari mana kamu Ngga?” tanya Yuri. 


“Nebak aja, dari batuk dan tubuhnya!“ jawab Jingga. 


Nita dan Siska yang pulang lebih dulu melihat Jingga berhenti pun langsung menghampiri Jingga. 


“Kok kalian malah ngumpet di sini sih?” tanya Nita tiba- tiba. 

__ADS_1


“Hoh?” Jingga dan Yuri menoleh. 


“Mereka tuh nungguin kamu Ngga, tanggung jawab dong!” ucap Nita. 


“Nungguin aku?” tanya Jingga tak percaya. 


“Iya! Buruan sana temuin!” ucap Nita. 


Jingga pun langsung gelagapan. Bagaimana bisa mereka mencari Jingga dan nungguin Jingga. Untuk apa? 


Jingga yang sangat jijikan di situ paling anti dan takut menemui mereka, ternyata Jingga yang dicari mereka. Jingga pun menatap Yuri bingung bagaimana menemuinya. 


“Ayo Ngga!” ajak Yuri. 


“Tapi kenapa mereka mencariku?” tanya Jingga. 


“Mereka tahu, kalau kamu tuh dokter, mereka mau berobat ke kamu!” jawab Prilly,


“What? Berobat?” tanya Jingga kaget, Jingga kan tak punya obat, tak punya alat pelindung diri juga yang memadai, Jingga juga belum lulus.


“Sana buruan temui!” ucap Nita lagi. 


Karena gerakan Nita yang tak bersembunyi dan omonganya yang keras warga pun menengarahi dan melihat ke Jingga. Mereka melihat ke Jingga dengan tatapan penuh harapan. Jingga melihat mereka justru terpancar ketakutan. 


Karena sudah di depanya Jingga pun terpaksa menghadapinya. 


“Maaf, bapak ibu? Kalian mau apa?” tanya Jingga terkesan ketus. 


“Kami dengar Nona cantik seorang dokter, tolong bantu kami!” jawab salah seorang ibu. 


Jingga menelan ludahnya dan langsung menjawab. 


“Maaf saya bukan dokter, saya hanya mahasiswa calon dokter, saya tidak bisa bantu kalian!” jawab Jingga singkat. 


Warga saling pandang kecewa. 


“Saya juga tidak punya dan tidak membawa obat untuk mengobati kalian. Saya minta maaf, kalian pulanglah!” ucap Jingga lagi tanpa oikir panjang. Tentu saja hal itu sangat menyakiti warga meski buat Jingga itu hal yang benar. 

__ADS_1


Warga pun langsung berbalik tanpa kata, padahal mereka berharap Jingga menjadi penolong mereka. 


__ADS_2