Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
235. Coba Kaya Buna.


__ADS_3

Di sebuah rumah.


“Gue nggak mau dipenjara,” gertak Tama ke anak buahnya memukul meja.


“Terus ini bahagimana Bos?”  tanya anak buah Tama.


“Kita harus cari cara. Sewa pengacara dan cari bukti kalau gue nggak bersalah,” ucap Tama lagi seenak jidatnya  


Anak buah Tama menelan ludahnya, diam sejenak. Bukti- bukti kejahatan Tama sudah nyata semua. Tama tidak bisa mengelak, bisanya hanya meminta keringanan.


“Akan saya usahakan Bos,” jawab anak buah Tama cari aman, meski hatinya ragu.


"Jangan usahakan gobblok. Kerjakan!" ucap Tama menendak anak buahnya itu.


"Iiiya. Bos!" jawab Buah Tama ketakutan.


Tama mendapat surat panggilan dari kampus tepat di hari pernikahan Jingga. Karena terkena skandal dari foto pornografi dirinya sendiri bersama seorang perempuan yang diupload dari intagramnya sendiri. Tama diskors. 


Selain hukuman dari kampus, surat panggilan dari polisi juga datang. Rupanya, Ikun berdasar perintah Baba menghentikan aksinya mengerjai Tama. Tapi Baba ingin memberi titah menyerahkan ke polisi saja. 


Ikun dan Amer sudah waktunya kembali ke tempat mereka menimba ilmu di luar Negeri.


Meski begitu, Ikun sudah menyelesaikan tugasnya. Memberi tahu Baba, kalau Tama adalah anak pengelola perusahaan sisa sitaan yang ditinggal oleh Tuan Wira. 


Baba sudah tua dan terlalu banyak masalah, ditambah perihal Odah si Uwak Palsu.


Fokus Baba adalah menyambut kelahiran anak ketujuhnya dan anak- anak lainnya bahagia. Baba sudah malas mengotori tanganya dan mengeluarkan tenaganya.


Baba hanya berpesan pada Ikun, “Serahkan polisi, kita irit tenaga saja, kalau dia macem- macem lagi atau cari masalah, baru bertindak, sikat dan habiskan semua. Kalian kembali kuliah saja!” begitu pesan Baba.


Pokoknya kalau masih mau bertobat dan tidak mengganggu akan ada belas kasihan, dipenjara kan paling lama 5 tahunan, bisa berkurang kalau pengacaranya pintar. Setelah itu Tama tetap bisa hidup dan menata masa depan sebagai pembisnis.


Tapi kalau masih berulah barulah Baba buat babak belur, babat habis usahanya dan baru serahkan ke polisi dan biarkan busuk di dalam seperti Tito yang sampai sekarang masih dikurung.


Akan tetapi berbeda hal dengan orang yang Baba kasihani. Sejak awalnya hatinya kotor, sudah basah terlanjur basah dan tetap saja kotor. Bukanya kooperatif temui polisi dan akui kesalahan, tapi hatinya masih membara.


“Apapun yang terjadi pada gue, gue nggak terima kalau pria miskin itu bahagia, dia udah gagalin semua rencana gue. Dan kehancuran gue semua karena dia, dia harus hancur juga!” gertak Tama kesal. 


Anak buah Tama hanya bisa menunduk. Mereka memilih diam daripada disalahkan dan tidak dapat gaji. 


“Ini data tentang pria itu, Tuan!” ucap salah satu anak buah Tama menunjukan data tentang Adip.


Diam- diam, anak buah Tama dari kejauhan memang memantau aktivitas Adip dan Jingga. Tama semakin terbakar saat anak buahnya mengirim betapa sweetnya Jingga dan Adip. 


Tama meraih kertas itu dan membacanya. Kertas itu berisi detail tentang Adip, akan tetapi detail tentang Adip bersama Emak, rahasia orang tuanya belum ada yang tahu selain Om Dika cs. Data orang tua Adip yang tertera adalah, alamat Emak dan Bapak, tempat sekolah Adip dari SD sampai kuliah. 


“Hehhh,” Tama tersenyum mengejek dan melempar kertas itu. “Rendah sekali selera Jingga, aku dihancurkan kacung seperti dia. Ini memalukan!” ucap Tama mengepalkan tanganya merasa sangat terhina dikalahkan oleh orang yang dia tahu rendahan. 


Tama pun semakin membara ingin buat balas dendam ke Adip. Padahal jelas- jelas satu lawan satu, Tama selalu kalah dengan Tama, sejak di asrama sampai di Pulau Panorama.


“Data terakhir, mereka diantar keluarga Gunawijaya ke kampung orang tuanya. Keluarga Gunawijaya sudah kembali ke kota,” lapor anak buah Tama lagi. 


“Bagus!” jawab Tama mengangguk. “Lakukan tugas kalian. Bikin mereka menderita seumur hidup. Habisi dia! Dia pernah memukuliku. Dia harus rasakan juga!” ucap Tama memberi perintah. Tama ingin Adip babak belur di tangan anak buahnya.


“Ya Tuan Muda!” jawab anak buah Tama. 


Mereka kemudian berkumpul membuat siasat untuk mencelakai Adip, Emak, Bapak dan Jingga. 


**** 


Di rumah Gunawijaya. 


“Bunaa... Baabaaa, Iyu kangen?” seru Biru langsung nempel Bunanya. 


Iya pun tak kalah berlari ingin digendong Baba. 


“Buna dan Baba juga kangen, kalian nggak rewel kan sama Kakak?” 


“Nggak, Iya sama Iyu kan pintar!” jawab Iya dan Iyu.


Malam itu keluarga mereka pun kumpul. Dengar Om Dika nginep, Oma Mirna dan Opa Nando sekeluarga yang tadinya sudah pulang jadi ke rumah Baba.


Om Dika dan Tante Dinda itu melepas rindu di rumah Baba. Oma Mirna kan juga lama tak pulang kampung. 


Selama resepsi dan setelah resepsi, Iya dan Iyu berada dalam pengasuhan Nila, Ikun dan Amer. Baba dan Buna honeymoont di hotel, mengantar Jingga dan selesaikan urusan Uwak. 


Kini anak- anak Buna langsung kembali melepas rindunya. Buna dan Baba menceritakan semua tentang Adip. Ikun dan Amer pun melaporkan pekerjaanya dengan Tama. 


Semua tercengang sekaligus bahagia.


“Mashaa Alloh, jadi ternyata Adip saudaramu, Nak?” tanya Oma Mirna. 


“Ya, Bu!” jawab Om Dika. 

__ADS_1


“Oma senang sekali rasanya? Jadi nggak sabar ketemu mereka. Kapan Jingga dan Adip pulang kesini?” tanya Oma Mirna. 


“Mungkin besok, Bu, biarlah Jingga akrab sama mertuanya, biar latihan juga jadi istri!” jawab Buna. 


“Terus gimana katanya rencana Adip setelah ini?” sahut Oma Rita bertanya. Oma Rita sangat mencemaskan masa depan Jingga dan ke depanya gimana. 


“Adip sama Jingga belum bahas, Mah. Kita masih beresin masalah uwaknya Adip itu,” jawab Baba. 


“Iyah... kita aja yang tahu syok, apalagi Adip. Pasti dia juga syok dan sedih. Kesel banget rasanya Tante, Yang Utinya Adip sampai meninggalnya itu dikejar rasa rindu dan bersalah, ternyata cucunya didzolimi orang. Sampai di ubun- ubun saya gedegnya.” celetuk Tante Dinda. 


“Tante bisa ngerti Din. Ini pelajaran buat kita semuanya. Jangan sampai para penipu dan orang dzolim punya celah. Terhadap orang yang kita sayang. Kita harus percaya, harus terima dan ada di saat sedihnya. Jangan asal telan berita dan salah bertindak,” tutur Oma Rita mengambil jalan pelajaran kesalahan Eyang Utinya Adip yang perrcaya terhadap hasutan Odah dulu. 


Mereka jadi kehilangan jejak cucunya.


“Ya.. Tante, semoga Dinda kelak jadi orang tua yang baik,” jawab Dokter Dinda. 


“Ardi, juga! Jangan suka ambil keputusan sendiri tanpa melibatkan yang bersangkutan. Jangan remehkan orang sebelum kenal. Mantumu ternyata bukan orang sembarangan kan? Sejak awal sih Oma suka sama Adip,” sahut Oma Mirna. 


“Yaya...,” jawab Baba malah jadi yang disalahkan. 


“Kasian Adip, harusnya malam ini mereka kan bulan madu liburan malah begini? Apa Jingga bisa kuat menghadapi hal seperti ini?” celetuk Oma Rita menerawang sedih cucu kesayanganya. Jingga kan hampir tak pernah kena masalh hidupnya selalu enak dan bahagia.


“Adip terlihat tenang kok Mah, Insya Alloh Jingga bisa bahagiain suaminya!” jawab Buna.


Buna kan dengar gurauan nakalnya Jingga. Buna bisa tebak sedang apa mereka sekarang. Hihi.


“Yaah semoga saja. Telponkan dia ya, agar cepat pulang kesini!” tutur Oma Rita. 


“Ya nanti Mah!” jawab Buna. 


Malam itu keluarga besar itu berbincang- bincang sampai malam. Om Dika banyak ngobrol dengan Opa Nando dan Oma Mirna dan Dokter Gery. Dokter Dinda melepas rindu dengan Dokter Mira dan Oma Rita.


Iya dan Iyu pun gelendotan sama Buna, setelah itu nempel pada Nila. Minggu depan Nila berangkat ke Pondok Yayasan kepunyaan orang tua Pak Rendi. 


*****


Di kampung Emak. 


Emak sudah tidur di depan tivi. Sementara Bapak  pergi ke rumah teman di desa sebrang. Anak temanya baru lahir dan mengadakan selamatan. 


Adip dan Jingga berduaan di sumur yang letaknya terpisah dari rumah.


“Abang udah sholat Isya kan?” tanya Jingga heran suaminya ambil air wudzu. 


Seperti di Pulau Panorama mereka bisa melihat langit yang indah dengan kerlipan bintang tanpa kebisingan kendaraan.


“Udah, kenapa? Kamu wudzu juga sih!” jawab Adip selesai berucap doa setelah wudzu. 


“Terus wudzu buat apa? Jingga kan dingin Bang, kalau wudzu berarti kita nggak boleh sentuhan dong? Berarti nggak jadi yah?” jawab Jingga cemberut. 


Gegara digodain Adip di ruang makan otak nakal Jingga jadi betah bersemayam. 


Adip pun tersenyum simpul, pancinganya berhasil. 


“Jadi apa?” goda Adip. 


“Enggak! Lupa,” jawab Jingga malu, Jingga ogah terlihat pengen duluan. 


Pikir Jingga, Adip wudzu mau sholat atau ngaji yang lama seperti di pulau Panorama. Yang ada nanti Jingga nungguin Adip  selesai, sampai ngantuk sendiri. Jingga kan pengen dipeluk. Sejak omongan Adip di ruang makan, Jingga juga otaknya langsung nyambung ke cumbuuuanya tadi siang. Bahkan Jingga sudah bersiap kasih lebih. 


“Nanti Bang Adip ambilkan selimut, minggir jangan deket- deket nanti wudzunya Bang Adip, batal!” jawab Adip sengaja ngerjain Jingga. 


Adip pura- pura jual mahal dan menghindar dari Jingga berjalan duluan masuk ke dalam. 


“Isshh... gitu banget sih?” cibir Jingga kesal dan manyun. 


Adip berjalan sambil senyum- senyum sendiri. Nggak apa- apa Jingga belum mau ikutin yang dia lakukan, sekarang Jingga biar tahu dulu untuk apa dia wudzu. 


Sesampainya di kamar, Adip memang menggelar sajadahnya, berniat sholat.


Jingga tidak tahu Adip sholat apa? Tapi Jingga tahu melarang orang ibadah dosa. Jadi Jingga no koment, tapi merasa kesal dan berfikir di phpin. Jingga pun naik ke kasur tapi meringkuk membelakangi Adip memakai selimut tipis Adip.  


“Pasti Lama... kessel, ngantuk deh dasar php,” gerutu Jingga sambil memilin ujung selimutnya dan memejamkan matanya. Punya Jingga ternyata sudah berkedut.


“Sreet... sreeet,” tidak ada 5 menit tiba- tiba terdengar semprotan parfum dan bau parfum. 


Jingga mengendus baunya, lalu memiringkan badanya berbalik. 


“Hoh...,” pekik Jingga kaget. Jingga langsung menelan ludahnya, dan mendadak jantungnya berdebar. 


Mata Jingga langsung di hadapkan pada senyum nakal Adip yang sudah melepaskan pakaian sholatnya. Tidak hanya kokonya tapi termasuk sarung dan pelapis di dalamnya. 


“Abaang,” pekik Jingga langsung menutup wajahnya pakai selimut dan berlindung. Jingga melihat ular pyton mainannya siap bertempur. 

__ADS_1


Adip pun naik dan mendekat ke Jingga.


“Iiiish,” desis Adip sudah di samping Jingga dan berusaha membuka selimutnya. 


“Katanya dingin? Abang udah siap nih!” bisik Adip ke telinga Jingga b


“Abang udah sholatnya? Udah sana terusin aja sholatnya, sholat yang banyak!” jawab Jingga masih berusaha menutupi wajah dan tubuhnya pakai selimut, balas jual mahal. 


“Iiish buka, nggak usah pura- pura, kenapa ditutup?” 


“Takut!” 


“Takut kenapa?” 


“Itu kenapa nggak ditutup sih?” tanya Jingga. 


“Hallah, kamu suka juga?” gurau Adip lagi.


"Itu tadi sholat apa sih?" tanya Jingga.


"Sholat Sunnah, Sayang. Besok- besok kamu ikut!" tutur Adip lalu menjelaskan ke Jingga sunnahnya dan adapnya orang hendak beribadah suami istri.


"Ooh!" jawab Jingga.


"Buka ya selimutnya!" ucap Adip lagi.


"Nggak!" jawab Jingga jual malah.


Adip pun cerdas. Jika Jingga menutup mukanya dari atas, Adip membukanya dari bawah. Tangan Adip pun bergerilnya ambil jalan bawah langsung menekan intinya. 


“Abaaang,” pekik Jingga sadar kecolongan. “Gelii Bang,” 


“Tapi suka kan? Udah basah juga?” bisik Adip. 


Akhirnya Jingga menyerah dan membuka selimutnya ketahuan. Adip kemudian merentangkan selimutnya dan ikut masuk di dalamnya. 


“Buka yaah, kan udah pakai selimut! Kulit sama kulit lebih hangat,” bisik bantu Jingga melepas kancing bajunya. 


“Kayunya beneran udah aman kan Bang?” tanya Jingga bangun dan mengikuti mau Adip membuka satu persatu kancing kemejanya, lalu melepasnya. 


“Amaan,”  jawab Adip mesra, kini sembulan dua bulatan indah Jingga tampak di depanya. Adip pun tidak sabar melihat semuaanya dan membuka pengaitnya. 


“Bapak sama Emak nggak denger kan?” tanya Jingga lagi. 


“Bapak pergi, Emak udah tidur, denger kan suara nafas Emak. Emak bangunya nanti kalau udah ada aayam berkokok jam 3 aan,” jawab Adip lagi. 


“Ok..,” jawab Jingga tersenyum.


Kini Jingga juga sudah tidak malu dan polos lagi, Jingga berubah jadi centil dan garang. 


Tangan Jingga terulur duluan meraih pipi Adip dan memajukan bibirnya. Jingga menciuum Adip lebih dulu. Tentu saja Adip sangat senang. 


“Kamu siap kan? Udah nggak sakit lagi kan?” tanya Adip mengambil jeda berbincang. 


“Sakit kalau udahan sama pas buat jalan, kalau Bang Adip cciium2 Jingga, ma sentuh- sentuh enggak, Jingga suka,” jawab Jingga centil. 


“Dassar,” jawab Adip gemas lalu menerkam Jingga dengan buas. 


Di bawah selimut itu mereka berdua pun membuat malam yang dingin jadi panas. 


“Bang... tahan dulu!” bisik Jingga ke telinga Adip di tengah permainan Adip yang sedang memompa diiringi deritan kecil dari kasur bambunya.  


Adip berhenti meski tubuhnya masih di atas tubuh Jingga dan si dia masih bersarang. 


“Apa Sayang?” 


“Cobain kaya Buna,” ucap Jingga pelan. 


“Hoh?” pekik Adip melotot. “Kaya Buna apa maksdunya?” 


“Jingga lihat Baba sama Buna. Kayaknya lebih enak, dan mungkin nggak bunyi,” bisik Jingga lagi. 


“Lihat apa?” tanya Adip kaget setengah mati. 


“Udah cabut dulu itu! Ikuti Jingga” ucap Jingga. 


Malam ini, Jingga pun mempraktekan apa yang tanpa sengaja dia lihat dari orang tuanya.


Jingga penasaran kenapa Bunanya yang sudah tua masih sangat semangat. 


****


Hehehe. 

__ADS_1


__ADS_2