Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
187. Aku mau jadi suami yang punya Harga diri.


__ADS_3

Sekitar 12 jam perjalanan pesawat pribadi Baba mendarat di Ibukota. Ibukota negara Indah yang suasananya ramah indah dan serba canggih tapi banyak juga hal- hal jahatnya. Karena dari pulau Panorama siang menjelang sore sampai Ibukota petang menjelang pagi.


Pesawat Baba kan beda dengan pesawat komersil yang pernah Adip naiki. Semua fasilitasnya desain terbaik yang dibuat senyaman mungkin selama perjalanan. Adip pun tertidur nyaman sampai tidak tahu kalau pesawat sudah mendarat.


Apalagi Adip kan cloter tidur paling akhir. Di saat yang lain tidur Adip masih ngobrol. Jadilah saat yang lain bangun Adip masih tertidur.


Akan tetapi itu tidak berlaku untuk Jingga. Jingga kan sudah tidur di kapal dan saat di hotel. Sampai digendong, dipeluk dan dikecup keningnya tidak sadar.


Di saat semua orang tidur, Jingga terjaga dengan otak paranoidnya yang terus mengajaknya berfikir. Dari hal kecil sampai hal besar muncul, dari hal yang masuk akal sampai yang di luar nalar semua Jingga pikirkan.


Salah satu yang mengganggunya adalah Bunga. Jingga masih ingat betul bagaimana Bunga melontarkan ujaran kebencianya.


Jingga masih ingat betul bagaimana Bunga menyatakan betapa dia sukanya dengan Adip sejak awal bertemu tapi Jingga yang enggan menemui Adip di rumah Pak Dhenya itu. Jingga bertemu Adip dengan jalanya sendiri.


Belum lagi semua ingatan tentang Tari yang menjadi fans beratnya Adip. Hal itu membuat penyakit posesifnya Jingga kambuh. Di Ibukota Jingga kan akan bertemu mereka.


"Ayo turun Kak!" ajak Amer pas melewati Jingga.


Jingga masih diam dalam lamunanya. Mendekati rumah malah Jingga tidak bahagia.


"Duluan aja!" jawab Jingga dengan tatapan malasnya.


Amer melirik ke Adip yang masih melongo tertidur.


"Hemmm...," jawab Amer cuek.


Amer kan sudah tidak sabar ingin segera pulang. Amer kangen isengin Iya dan Iyu. Selain itu juga kan mereka (Amer dan Ikun) mau punya mainan baru Si Tam- Tam.


Amer kemudian berjalan cepat menuruni tangga pesawat. Di luar bandara mobil jemputan juga sudah ready.


Pak Dino tentu saja rindu Tante Risa dan anak- anaknya. Begitu juga pengawal yang lain ingin segera pulang bertemu keluarganya.


Apalagi setelah ini Pak Dino juga harus menjadi jin yang harus punya jurus sulap, wajib beres mengkoordinir mempersiapkan pernikahan kilat tapi harus sempurna.


Baba yang seminggu tidak melihat istrinya yang buncit dengan segala isi di dalamnya juga tidak sabar ingin cepat pulang.


Mereka berjalan sesuai isi otak masing- masing tanpa ingat Jingga.


"Jingga mana?" tanya Baba baru sadar setelah tiba di mobil.


"Lah ya nggak tahu. Baba yang terakhir, masih di pesawat kali!" jawab Amer.


"Haish... ! Kamu gimana sih? Kok kakaknya ditinggal," desis Baba marahi Amer.


"Kok Amer yang salah. Yang lelet kak Jingga, Ba"


"Panggil dia. Gimana sih?"


"Pengawal aja lah Ba. Udah ada Bang Adip ini! Kak Jingga dan Bang Adip itu Kakak Amer. Mereka udah menikah. Nggak akan hilang ketinggalan di sini! Udah bukan tugas Amer lagi jagain mereka!" jawab Amer.


"Hhhh...," Baba menghela nafasnya, iya juga. Adip kan sudah dewasa, sampai ke pulau P saja mereka selamat. Siap menikah bukan cuma siap ena' enak, tapi siap segalanya menghadapi kerasnya dunia.


"Ya sudah, si Alan sama Iwan yang layani mereka. Lainya pulang!" tutur Baba memberi perintah mengatur pembagian mobil penjemput.


"Siap Tuan!" jawab pengawal Baba.


Akhirnya 2 mobil Baba, BMW dan Alphard beserta rombongan pulang duluan. Satu mobil terparkir menunggu. Alan dan Iwan pun berbalik memanggil Tuan Putri yang nggak ngerti maunya apa.


****


Di Pesawat.


Bukanya membangunkan Adip, Jingga malah memandangi setiap lekuk wajahnya dan membelai rambutnya. Tentu saja Adip semakin larut dalam mimpinya. Setiap orang yang dibelai rambutnya kan rasanya kek ngefly.


"Pokoknya kamu punyaku. Kamu nggak boleh dekat- dekat Bunga. Kamu nggak boleh dekat- dekat dengan Tari!" gumam Jingga dengan posesifnya.


"Isssshh... Kenapa rasanya aku ingin tetap tinggal di pulau Panorama saja sih?" gumam Jingga lagi malas turun.


Tiba - tiba Jingga pun dikagetkan Alan dan Iwan yang berdiri di belakangnya


"Selamat Pagi Nona. Tuan Muda!" sapa Alan ke Jingga.


"Pak Alan!" pekik Jingga kaget, sehingga ikut membangunkan Adip.


"Ehm...," Adip terbangun kaget dan langsung mengusap wajahnya sungkan ke pengawal Baba.


"Maaf, Nona, Tuan. Ayo bangun dan silahkan turun. Semua sudah menunggu di bawah dan akan segera pulang, Nona Jingga juga harus segera pulang!" tutur Iwan memberitahu.


Jingga yang sudah tahu hanya diam. Sementara Adip mendelik melotot kaget lalu meneliti sekeliling ternyata pesawat memang sudah berhenti dan kosong. Adip dibuat malu dan sungkan.


"Hoh...," pekik Adip lalu melirik ke Jingga. "Iya, Pak. Maaf ya! Makasih ya!" jawab Adip sopan.

__ADS_1


"Iyah!" jawab Jingga malas.


"Mari, Nona, Tuan!" sapa pengawal.


"Ya! Sana kalian duluan!" jawab Jingga dengan muka juteknya.


Alan dan Iwan kemudian berjalan.


"Jingga kamu nggak bangunin, Abang?" pekik Adip mau marah tapi tidak bisa dan hanya tertahan. Bagaimana tidak marah, Jingga jalan pikiranya suka aneh.


"Ya kan Abang terlihat tidur pulas!" jawab Jingga beralasan.


"Terus kamu nggak bangunin? Malah diam? Gitu!"


"Enggak,"


"Haish! Terus ngapain kamu di sini daritadi?"


"Liatin suami aku yang ganteng!" jawab Jingga lagi dengan polos dan centil tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"Haisssshh....," desis Adip hanya bisa mengulum lidah menatap gemas ke Jingga dan menggigit bibir bawahnya, bingung mau gimana cara ngomong ke Jingga agar sedikit berfikir normal.


"Seharusnya kamu bangunin Abang. Jadi ketinggalan kan kita! Kan Abang malu!"


"Ya kenapa sih kalau ketinggalan. Nyatanya masih ada Pak Alan dan Pak Iwan kok," jawab Jingga lagi membela diri. Bukanya bangun malah masih menyandarkan kepalanya.


"Hhhhh...," Adip pun hanya bisa menghela nafas menahan sabar.


Yaya. Adip lupa istrinya kan makhluk limitid edition jelmaan bidadari yang otaknya tidak bisa disamaratakan dengan manusia pada umumnya. Adip pun mengerjapkan matanya dan melepas semua atribut naik pesawat.


"Ya udah ayuk bangun yuk. Ayo kita pulang. Abang juga harus segera ke desa!" ajak Adip.


Jingga bukan bangun malah menatap Adip dengan senyum centilnya.


"Apalagi?" tanya Adip panik, mau tingkah apalagi Jingga.


"Gandeng aku!" tutur Jingga mengulurkan tanganya centil.


"Haishh...," desis Adip lagi.


Bukan tidak suka, tapi kan Jingga berlebihan.Ini kan di pesawat tidak ada orang, kenapa harus gandengan. Adip kan juga harus bawa tas.


"Abang bawa tas. Jalan sendiri ya! Di pesawat kan sempit! Nggak usahlah gandeng- gandengan, nggak ada orang juga!" jawab Adip menolak.


"Astaghfirulloh," gumam Adip gregetan, tapi mau bagaimana lagi, resiko punya istri cantik dan bawel memang harus sabar.


"Ya udah ayok!" jawab Adip mau tidak mau patuh lalu menggandeng Jingga.


Jingga pun memegangi tangan Adip dengan erat dan posesif. Padahal tidak ada orang lain. Saat di depan pintu pesawat Adip pun mulai risih.


"Jingga ini ditangga. Lepas tanganya yah! Jalan sendiri-sendiri!" ucap Adip sedikit galak, Jingga bener- bener berlebihan.


"Ya!" jawab Jingga.


Adip lega dan berjalan turun.


"Tunggu!" ucap Jingga.


"Apalagi?" tanya Adip dengan wajah panik dan pusingnya. Adip sudah gelisah pas tau tidak ada orang lagi.


"Nanti sampai rumah, Abang harus gandeng aku terus. Titik!" ucap Jingga lagi dengan muka bawelnya.


Kali ini Adip habis kesabaran. Suka sih suka istrinya tergila- gila ke Adip, tapi kan kalau berlebihan bikin pusing. Adip kemudian memijat keningnya dan menatap Jingga kesal.


"Kamu kenapa sih. Abang nggak pergi kok! Oke kita berdekatan. Kamu tahu hati aku cuma buat kamu. Tapi nggak harus gini juga!" ucap Adip.


"Ishh. Cuma gandeng doang. Pokoknya nanti di rumah aku harus digandeng!" jawab Jingga ngeyel.


"Hhhhhhh...," Adip hanya menghela nafasnya berusaha berpikir waras. Tapi tetap tidak bisa dan tidak mengerti. Tapi kalau tidak diiyain ngambek lagi.


"Ya...,"


"Gitu dong!"


"Tapi emang kamu kenapa sih?" tanya Adip heran.


"Nggak apa- apa! Ayo cepat pulang!" jawab Jingga malah melengos dan sekarang berjalan cepat mendahului Adip.


"Hooh!" Adip pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat istri anehnya itu. Lalu berjalan mengikuti Pak Iwan dan Pak Alan.


Di depan anak buah Baba sudah menunggu mereka. Bahkan Adip dan Jingga seperti punya jalan istimewa.

__ADS_1


Anak buah Baba pun membungkukan badan lalu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan masuk.


"Ehm...," dehem Adip merasa aneh dan risih.


Biasanya kan Adip yang jadi tukang ojek, menunggu pelanggan di depan bandara, melayani orang lainn dengan santun dan sabar demi cuan yang tidak seberapa. Sekarang Adip ditunggu mobil mewah beserta pria berkemeja rapi membukakan pintu.


"Baba sangat kaya ya?" tanya Adip ke Jingga berbisik.


"Ya begitulah!" jawab Jingga.


Adip kemudian memperhatikan seisi mobil, luas wangi empuk kinclong semua.


"Jalan ke Mansion atau mau mampir dulu Nona?" tanya Pak Alan sopan.


"Langsung pulang!" jawab Jingga enteng.


"Baik Nona!" jawab Jingga.


Adip hanya diam dan memperhatikan, istrinya benar- benar seperti seorang putri. Jingga terlihat sangat berbeda saat di pulau teras dengan Jingga yang sekarang. Jujur Adip lebih suka Jingga yang di pulau teras saat tak ada embel- embel apapun. Meski bodoh tapi mudah dididik Adip pun hanya menelan ludahnya.


Sayangnya sepanjang perjalanan ketika Adip mendapatkan semua perlakuan itu, hatinya menolak. Adip tidak suka dan tidak nyaman dengan kehidupan seperti itu.


Adip pun jadi berfikir tentang rencana- rencana kehidupanya ke depan. Adip tidak mau menumpang di atas kemewahan orang lain dan tidak jadi diri sendiri.


"Jingga Abang mau ngomong serius!" ucap Adip kemudian di tengah jalan.


"Ya katakan saja!"


"Kali ini tolong jangan bercanda. Usiamu sudah 20 tahun kan?" ucap Adip khawatir dan ragu Jingga tidak bisa diajak diskusi serius.


Jingga pun mendelik tersinggung.


"Mau ngomong apa sih?"


"Sungguh kamu siap menjadi istriku? Mengabdi dan menjadi istri pria miskin sepertiku?" tanya Adip dengan tatapan seriusnya.


"Ya! Berapa kali kamu tanya itu. Aku siap!"


"Apa kau tahu apa itu istri?"


"Kenapa kamu bertanya begitu? Tentu saja aku tahu."


"Aku tidak ingin kamu menyesal menikah denganku! Kamu sungguh tahu apa kewajiban istri kan?"


"Adip. Bang Adipati Wirajaya. Aku tidak pernah menyesal hidup dengan kamu ataupun menikah dengan kamu. Aku mencintaimu. Aku mau jadi istri kamu! Aku tidak tahu banyak tentang istri karena aku baru memasuki peran itu. Tapi aku seorang yang bisa belajar dengan baik. Dan aku akan belajar jadi istri yang baik!"


"Termasuk mematuhiku? Mengikuto aturanku meski itu tak membuatmu suka?"


"Ya! Kata Buna, istri kan memang harus patuh ke suami asal suaminya tidak melakukan dosa!" jawab Jingga lagi.


"Oke. Aku pegang katamu. Tapi kamu sadar dan mengerti arti ucapanmu ini? Kan? Tidak asal kopi paste?" tanya Adip lagi ragu Jingga masih saja polos.


"Aku mahasiswa kedokteran semester 7. Ipkku selalu bagus. Ngertilah masa enggak! Aku akan mematuhimu. Kamu pemimpinku sekarang!" jawab Jingga tersinggung dikira bodoh beneran. Sebenarnya Jingga bukan oon atau bodoh tapi bawel dan manja bertindak sesuka hati.


"Oke! Baguslah kalau kamu mengerti!" jawab Adip.


"Emang ada apa?" tanya Jingga kali ini serius.


"Aku mau setelah kita menikah di catatan negara. Kamu mau melepas semua embel- embel Gunawijaya, Babamu. Hiduplah sebagai istri Adipati Wirajaya. Apa kamu bersedia? Apa kamu siap?" tanya Adip serius.


Jingga pun malah tersenyum, tentu saja Adip jengkel. Adip lagi serius, Adip kira Jingga tidak mudeng lagi.


"Tuh kan ketawa. Haish! Jangan- jangan kamu nggak mudeng?" desis Adip frsutasi.


"Lah kok marah!"


"Kamu paham kan maksud aku? Kamu siap nikah kan? Kamu udah dewasa kan?" tanya Adip lagi.


"Iya aku paham. Apa kamu khawatir aku takut hidup denganmu?"


"Iya,"


"No! Dengan senang hati aku juga ingin melepas bayang- bayang Baba dari identitasku. Aku bersedia mematuhimu. Dan kehidupan yang seperti itu, adalah yang aku ingin!" jawab Jingga.


Tuhkan Jingga tidak benar- benar bodoh kok. Jingga bisa diajak kerjasama untuk beberapa hal.


"Hooh oke!" jawab Adip lega.


"Memang apa yang kamu inginkan? Apa yang kamu takutkan? Kita sudah menikah kan?"


"Maafkan aku harus berbicara ini. Aku ingin jadi suamimu yang mempunyai harga diri. Aku memintamu, setelah kita tanda tangan di catatan KUA nanti. Tolong pakailah nafkah dariku untuk kehidupanmu! Biarkan aku bekerja keras untukmu. Jadilah istriku, bukan sebagai anak Baba lagi. Aku ingin kita hidup mandiri, kamu mau kan?" tutur Adip kemudian.

__ADS_1


Jingga pun melongo mendengar penuturan Adip.


__ADS_2