Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Isak Jingga


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinya, Jingga Putri Gunawijaya binti Ardi Gunawijaya, dengan maskawin tersebut dibayar tunai..,” tutur Rendi tegas dan lantang. 


Akan tetapi suasana langsung tegang dan semuanya memicingkan matanya ke Rendi gemas. Baba sendiri langsung melepas tanganya dan menatap tajam Rendi. 


“Jingga sudah bersuami! Kamu niat nggak? Jangan kecewakan aku dan Nila!” ucap Baba entah kenapa kali ini terdengar serius dan pertama kalinya sinis ke Rendi. 


Untung pernikahan kali ini masih nikah sirih. Karena kesepakatan Umi Rendi dan Baba, meski Nila masih harus lanjut ngaji dan sekolah, agar perjodohan tidak batal lagi, mereka harus nikah dulu. Walau nikah sirih tak masalah, bagi Umi Rendi prinsipnya lebih baik menjaga diri dari dosa ketimbang tunangan. Kalau nikah negara kan belum boleh karena Nila di bawah dua puluh tahun. Nila juga harus sekolah. 


“Maaf, Ba. Maafkan saya! Saya ulangi!” tutur Rendi gelagapan. 


Untung saja, prosesi pernikahan di adat Umi Rendi sebelum sah, Nila masih disembunyikan di dalam. Nila memilih berdoa dan duduk tenang bersama Buna dan oma di kamar. Nila jadi tak sakit hati mendengarnya. 


Untung juga tak ada Amer dan Ikun. 


Yang menyaksikan justru Jingga, Pak Dhe Farid, Bu Dhe Anya dan ponakan mereka yang masih kecil- kecil. Meski begitu, Jingga merekam prosesi akad. 


Jingga pun mengeratkan rahangnya kesal. Rasanya ingin teriak dan bubarkan saja. Tapi mau bagaimana lagi, di situ ada keluarga besar. Komitmen Jingga, Jingga ikut prinsip Nila. Nila jatuh cinta dan percaya Rendi, Jingga tak bisa berbuat melancangi kuasa Baba. 


Penghulu mengistirahatkan sebentar dan menasehati, bahwa pernikahan harus dalam keadaan sadar tanpa ada paksaan atau niat buruk. Jingga puas mendengarnya. 


“Denger tuh, dosen bangkotan, semoga Alloh buka pintu hidayah. Awas aja kalau kelak air mata Nila jatuh karenamu, tak sambal kamu!” batin Jingga kesal. 


Entah Rendi hatinya tersentuh atau tetap membatu. Rendi hanya diam, dan menyatakan siap melanjutkan akad. Kali ini akad yang diucapkan benar. Pak Dhe Gery, Om Dino dan Pak Dhe Farid semua mengucap sah dan syukur begitu juga saksi yang lain. 


Salah satu emban mengkode memanggil Nila. Dibantu dengan Oma dan Buna, Nila turun. Didandani dengan kebaya putih, Nila tampak cantik dan anggun. Sayangnya tanpa ada yang tahu, Rendi malah melirik ke Jingga, dan di saat yang bersamaan Jingga juga sedang menghadap ke arahnya. Mereka jadi saling tatap. 


Tentu saja Jingga langsung memicingkan matanya nyaalang. Ternyata, hidayah yang diharapkan Jingga belum datang, bagaimana ini? 


Di luar hati Jingga dan Rendi keluarga lain sibuk menyambut Nila, dengan simbolis, Nila bersalaman dengan Rendi dan duduk di sebelah Rendi. Akan tetapi Rendi tampak sedikit menggeser tubuhnya dan Nila justru disambut Umi Rendi. 


“Mulai sekarang, ananda Nila jadi Putri Umi, sore ini kita pulang ke rumah Umi ya...,” tutur Umi Rendi. 


Ya di sini orang yang paling bahagia adalah Umi Rendi. Umi mendapatkan menantu sesuai keinginanya, santri yang cantik, sopan teduh, tidak punya jejak nakal, Nila calon Ibu sempurna di mata Umi. 


“Iya, Umi!” jawab Nila. 


“Apa harus sore ini?” tanya Oma berat melepas Nila. 

__ADS_1


“Kan kegiatan belajar mengajar tahun ajaran baru, lusa sudah dimulai Oma, Ibu Alya,” tutur Umi 


“Oh begitu, Oma belum sembuh kangenya, Nila harus pergi lagi,” 


“Nggak apa- apa Oma. Oma bisa jenguk Nila kapan saja kalau mau,” jawab Umi. 


Bu dhe Anya dan BU Dhe Mira kemudian mendekat dan menyalami. Buna bahagia sekali, sekarang mereka sungguhan jadi saudara. Setelah berbincang- bincang mereka kemudian makan. 


Entah kenapa, di saat semua bergembira, Jingga jadi sedih. Suaminya tak ada di sampingnya. Amer dan Ikun juga tidak ada. Jingga kemudian memilih menepi ke belakang. Jingga menuju ke taman, nggak tahu lihat Buna dan Baba mesra, lihat yang lain berpasangan, Jingga timbul rindu beratnya ke Adip. 


Tentu saja, Rendi yang sedari tadi curi- curi pandang ke Jingga, ikut beralasan ke kamar mandi. Akan tetapi Rendi bukan ke kamar mandi melainkan menemui Jingga. 


“Hai kakak ipar!” sapa Rendi tiba- tiba. 


Jingga pun menoleh gelagapan dan mengedarkan pandanganya. Kenapa Rendi selalu menemuinya di tempat yang tidak ada cctvnya. 


“Mau apa kamu mengikutiku Pak? Tidak sadarkah sekarang keluarga kita sedang berkumpul?” omel Jingga. 


Rendi malah tersenyum. 


“Santai dong. Emang kita ngapain? Aku belum dengar ucapan selamat darimu. Apa kamu tidak ingin memberikan ucapan selamat pada adik iparmu ini?” tanya Rendi.


“Nggak puas dimarahin Baba? Mau baba saya ngamuk dan kubuka kedokmu?” 


“Marah kenapa? Kedok apa sih?” 


“Benar- benar ya Pak? Apa maksud Bapak salah sebut namaku? Mau nyakitin Nila?” tanya Jingga ingat tadi. 


Rendi hanya tertawa. “Apa salahku Jingga? Bukankah semua orang tahu, yang seharusnya aku nikahi itu kamu. Kamu sekarang ikut aku dan tinggal di apartemenku. Seharusnya aku yang marah, kenapa Babamu harus marah?” tanya Rendi. 


Jingga pun mengulum lidahnya, tadi di depan Baba tampak sok baik, kenapa sekarang bicara begitu. 


“Bapak lupa perkataan Bapak di pulau S? Bapak harusnya terima takdir ini dnegan legowo. Kalau memang tidak mau sama Nila ya katakan saja. Ingan Pak. Cinta nggak akan salah jalan, sejak awal kan saya bilang, saya nggak cinta bapak. Lepaskan saya, dan kita jalani takdir kita masing- masing. Dan sekarang Nila istri Bapak, tolong jaga dia!” ucap Jingga. 


“Bagaimana kalau aku tidak bisa?” 


“Ya kenapa Bapak mau?” 

__ADS_1


“Karena aku ingin dekat dengan kamu?” jawab Rendi terang- terangan. 


Jingga pun memundurkan langkahnya dan menoleh sekeliling, sepi. 


“Hati- hati ya Pak, saya akan teriak dan biar semua orang tahu siapa Bapak!” 


“Sook teriak, yang ada kamu akan menyakiti keluargamu.” Jawab Rendi. 


“Dasar gila,” umpat Jingga rasanya ingin menangis, bagaimana bisa Nila bersuamikan laki- laki mengerikan begini. 


“Bukankah sejak awal aku sudah bilang, aku memang gila karenamu!” jawab Rendi. 


Jingga pun berusaha menghindar dan segera pergi. 


“Dengar ya Pak. Jangan pernah sakiti Nila dalam pernikahan kalian. Demi Alloh aku nggak rela adiku kamu sakiti, dan aku nggak akan tinggal diam kalau sampai Nila mengadu padaku disakiti Bapak!” ucap Jingga mengancam lalu segera berlari. 


Jingga berjalan cepat sembari menahan tangis ke kamarnya. 


“Bagaimana ini? Kenapa kata tawakal itu susah sekali. Apa ini kesalahan membiarkan Nila menikah denganya? Bang Adip apa yang harus aku lakukan? Bagaimana nasib Nila nanti?” gumam Jingga menggigir jarinya sesampainya di kamar. 


Jingga pun meneteskan air matanya kebingungan. Kenapa tidak ada yang pernah mendengarkanya. 


“Saat kamu sedih, merasa buntu dan tak ada jalan keluar, sholat Sayang?” 


Tetiba seakan Adip berdiri di samping Jingga member pesan. Ya.. di malam- malam mereka bercengkerama sebelum tidur atau bermeesra Adip banyak memberi pesan ke Jingga. Jingga pun memilih mengambil air wudzu dan sholat.


**** 


Di bawah, Nila dan Buna kecarian Jingga. Buna jadi ingat peristiwa di meja makan. 


“Apa terjadi sesuaitu dengan Jingga?” gumam Buna peka dan ada firasat. Sayangnya Buna telat mencari Jingga karena saat Buna mau langsung cari Jingga, Iya dan Iyu minta diambilkan makanan. 


Baru setelah Iya dan Iyu tenang, Buna kembali mencari Jingga. Jadi Buna meski merasa ada yang aneh, Buna tak memergoki Rendi mendekati Jingga.


“Kenapa perasaanku nggak enak?” batin Buna terus mencari Jingga. 


Buna pun berinisiatif ke kamar. 

__ADS_1


“Haaah...,” ucap Buna lega melihat Jingga sedang sholat. 


Jingga memang terdengar terisak dalam sholatnya, tapi Buna mengira Jingga menangis karena berdoa ingat Adip. 


__ADS_2