Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
52. Bimbang


__ADS_3

Di tengah ratusan mahasiswa yang terkumpul, Jingga tetap fokus dengan diamnya. Jingga tidak berani menoleh ke kanan dan ke kiri apalagi berkenalan dengan orang di dekatnya.


Tidak peduli bagaimana penilaian orang terhadap Jingga karena nyatanya selama ini pergaulan Jingga juga sangat terbatas. Padahal kecantikan Jingga yang penuh pesona dan di atas rata- rata cukup menyita perhatian banyak orang di depanya. 


Kegiatan ruang inspirasi adalah kegiatan yang penuh resiko dan tantangan. 90 persen peremuan yang ikut adalah perempuan berjiwa sosial, pengabdian dan petualangan tinggi seperti Uti dan Tari. Dan yang pasti hampir semua dari mereka bukan orang kaya.


Karena bagi orang kaya pada umumnya, mereka tidak mau mengambil resiko menjalani hidup yang susah, nyawa juga tanggunganya. Orang kaya selain Jingga, bahkan Jingga sebelumnya juga berfikir, kegiatan semacam itu membuang waktu saja.


Jadi kehadiran Jingga yang kulitnya sangat putih mulus, bahkan mungkin lalat terpeleset jika menempel, cukup menyita perhatian. Peserta yang lain adalah perempuan- perempuan yang terbiasa dengan kerja keras dan kotor-kotor. Hanya Jingga juga yang motivasi ikut ruang inspirasi demi mengulur waktu tunangan dan menjauhi Babanya. Bukan untuk pengabdian.


“Ada pertanyaan lagi?” tanya pengisi acara. 


Semua mahasiswa diam. 


“Oke cukup ya penjelasanya, kalian boleh kembali ke kamar kalian masing- masing, selesai sholat maghrib kita makan malam bersama!” tutur salah pengisi acara menutup pembekalan pertama. 


Jingga menghea nafas lega. Setelah pembicara mengucapkan salam semua mahasiswa berhambur ke luar menuju kamar masing- masing. Jingga pun berjalan mengekori Tari memegang selembar jadwal yang tadi dibagikan panitia. 


“Keluar yuk!” ajak Jingga. 


“Abis maghrib aja!” jawab Tari menolak halus.


“Kan makan, kita belum tahu tempat ini lhoh, kalau malam kita malah bingung!” jawab Jingga merayu.


Jingga kan harus segera mendapatkan alat mandi, dan pakaian ganti. 


“Hmmm!” Tari berdehem malas. 


Uti sih terang- terangan ninggalin Jingga dan nggak mau bantu. Untungnya masih ada Tari yang baik hati. Meski dalam hati, Tari menggerutu. Tari kan mau istirahat, Jingga merepotkan saja. 


“Bentar aja ya! Pas berangkat tadi, keknya aku lihat ada toko baju dan waserba di depan situ!” tutur Jingga  memelas menunjuk toko pakaian yang dia lihat tadi.


“Oke, aku temani! Bentar aja ya!” jawab Tari berbaik hati menemani Jingga. 


Mereka berdua kemudian keluar Asrama. Sepanjang jalan Jingga terus menunduk dan cemas, jangan sampai Tama atau Rendi memergokinya. Tapi sepertinya dewi fortuna tidak berpihak padanya. 

__ADS_1


“Jingga!” panggil seseorang saat Jingga berdiri hendak menyebrang jalan raya. 


Tari dan Jingga menoleh. 


“Kak Tama!” Tari dan Jingga sama- sama bergumam. Mereka kan satu kampus dan sesama fakultas, jadi Tari juga tahu siapa Tama. 


Saat Jingga menoleh dan benar itu Jingga. Tama mengeratkan rahangnya geram dan terlihat marah. Tama kemudian berjalan mendekat ke Jingga. Jingga melihat ekspresi Tama jadi menelan ludah takut. 


“Kak Tama!” lirih Jingga lagi. 


Tanpa menunggu persetujuan dan ijin, tiba- tiba Tama meraih tangan Jingga dan mencengkeram erat. Jingga dan Tari sampai takut. 


“Ikut Aku!” ucap Tama terlihat marah, memaksa Jingga ikut Tama, tidak peduli mau kemana Jingga sebelumnya, Tama juga tidak peduli Tari yang kemudian dicueki. 


“Ikut kemana Kak? Jingga mau pergi ke depan sama Tari!” jawab Jingga agak takut. 


Tari pun menatap bingung. 


“Ikut Kakak, Kamu harus jelaskan ini!” bentak Tama tidak peduli dan mengajak Jingga duduk di sebuah gazebo di halaman Asrama. Karena Tama terlihat marah Jingga takut dan patuh. Tari, karena dicueki, akhirnya balik ke kamar karena kesal. 


“Duduk!” bentak Tama. 


“Kak Tama kenapa sih?” tanya Jingga berusaha melawan meski dirinya gemetaran. Babanya kan tidak sekasar itu meski sangat posesif. 


“Kamu anggap kakak apa sih?” tanya Tama serius, dengan mata tajam dan mengintimidasi. 


“Aku? Kakak?” tanya Jingga terbata menebak arah pertanyaan Tama. Tama bersikap sangat arogan dan kasar. 


“Ya! Aku apa sih di hidupmu?” tanya Tama lagi dengan posesif. 


“Kaka pacar Jingga!” jawab Jingga malas. 


Brak 


Tama menggebrak meja kasar melampiaskan marahnya. Jingga gelagapan tidak menyangka. Ternyata penilaian Jingga ke Tama benar- benar salah. Tama yang dari luar terlihat sangat lembut kenapa pemarah begini. 

__ADS_1


“Kalau kamu anggap aku pacar, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu ikut acara ini?” tanya Tama lagi. 


“Kaak, kan Jingga waktu itu udah cerita dan udah kasih brosur itu ke Kak Tama, Jingga udah ajak Kak Tama. Tapi Kak Tama diam aja!” jawab Jingga membela diri dan memberanikan diri melawan Tama. 


“Tapi kan kaka belum kasih ijin dan belum jawab pertanyaan kamu! Kenapa kamu pergi kesini tanpa bilang ke aku?” ucap Tama lagi dengan posesifnya seakan menganggap Jingga seperti istri yang apa- apa harus sepengetahuanya. 


Mendengar ucapan Tama Jingga melongo. “Hoh luar biasa, baru jadi pacar kenapa posesifnya Tama melebihi Babanya?” batin Jingga. Jingga aja memaksa Buna dan Omanya yang ijin ke Babanya. 


“Kan kamu nggak jawab!” sergah Tama lagi. 


“Terus, Jingga salah gitu?” tanya Jingga polos. 


“Kamu masih tanya? Kamu salah apa nggak? Kita pacaran nggak sih?” tanya Tama dengan nada membentak sehingga membuat Jingga kaget. 


“Maaf!” ucap Jingga hanya ingin mendinginkan suasana.


Sungguh Jingga merasa sangat tertekan. Jingga tidak menyangka terlibat hubungan pacaran justru sangat menyiksa tak seindah di drama korea dan syair- syair lagu yang sering dia dengar. 


“Kakak kecewa sama kamu? Kalau begini kan kamu sama saja seperti tidak menganggap aku sebagai pacarmu!” ucap Tama kemudian. 


“Maaf, bukan begitu!” jawab Jingga ingin menjelaskan. 


“Ah ya sudahlah!” jawab Tama masih emosi menatap Jingga acuh kemudian pergi. 


“Kak!” panggil Jingga ingin menghentikan Tama. 


“Kakak marah sama kamu!” ucap Tama pergi. 


“Aih!” keluh Jingga kesal. Jingga memanggil Tama bukan mau mengemis cinta, tapi Jingga ingin keluarkan unek- uneknya. Jingga merasa tertekan jadi pacar Tama. Kenapa Tama selalu marah- marah tidak jelas. 


“Apa aku putus aja ya? Benar kata Buna, pacaran itu merugikan!” batin Jingga memikirkan langkah ke depan mengenai kelanjutan hubunganya dengan Tama. 


“Hah!” Jingga menghela nafasnya menahan emosi dan merileksan badan setelah barusan tertekan karena dibentak- bentak laki- laki yang dulu dia kagumi. Ke ramahan dan perhatian Tama ternyata hanya topeng. 


Tiba- tiba adzan maghrib terdengar. Jingga pun mendengus kesal dan segeraa bangun. Gara- gara Tama Jingga jadi tertunda kan belanjanya. Jingga juga ditinggalin, eh malah ninggalin Tari. Jingga kemudian berjalan setengah berlari keluar asrama. 

__ADS_1


“Yah!” keluh Jingga. Ternyata toko pakaian yang saat Jingga berangkat buka sekarang sudah tutup. Jingga menatap sekitar, komplek pertokoan dan perumahan hanya di situ, setelahnya sawah- sawah, entah dimana ada toko pakaian lagi. 


Jingga kemudian berjalan lemas ke waserba, ****Mart. Entah bagaiamana nanti akan pakai baju siapa? Pinjam atau pesen onlin? Tapi Jingga di situ hanya tiga hari? Ah yang penting sekarang Jingga belin alat mandi dulu. 


__ADS_2