Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
120. Jalan Tengah.


__ADS_3

Seiring berjalanya waktu, bertambah maju zaman, bertambah pula kemajuan berfikir dan peradaban.


Meski masih tetap menghargai adat leluhur dan menjaganya, tapi banyak pemuda dan penduduk warga S yang sudah keluar desa dan membandingkan banyak hal terkait hukum adat di tempatnya, termasuk teman Pak Anton. 


Terlebih, bagi Bu Bidan desa yang merupakan warga yang mengenyam pendidikan dan juga omonganya disegani dan dipatuhi oleh warga.


Kebetulan Bidan yang bertugas di desa S itu juga keturunan asli daerah situ yang menikah denga orang luar dan sudah merantau. 


Semua sepakat tetap mempertahankan adat, tapi ditambah, harus dipastikan dulu kebenaranya agar mereka tak salah langkah.


Lebih dari itu, para warga yang sudah berfikir maju, juga berfikir lagi, jika terjadi hal serupa dengan mereka bagaimana. Mereka perlu mengkaji ulang. Sebelum menjatuhkan hukuman harus dipikirkan agar tak memakai hukum kekerasan, juga perlu memodifikasi aturan tambahan untuk mencari jalan tengah. 


“Maaf Tuan Guru Tua!” ucap Bu Bidan hendak melaporkan analisinya. 


“Ya....!” jawab Guru Tua lelaki berambut panjang dan putih dengan sangat tenang.


“Saya memang tidak bisa melakukan visum karena keterbatasan alat saya. Tapi Nona cantik ini benar dalam penaruh obat! Dia dicelakai, dan seharusnya kalau memang mereka berdua berlezat, saudara Adipati ini tidak melindungi nona ini memberikan pakaianya! Saudara Adipati bahkan masih menutup rapat tubuh bagian bawahnya, melepas pakaian atasya itu karena untuk melindungi nona ini! Saya rasa mereka jujur tidak berlezat!” tutur Bu Bidan mencoba berfikir waras dan rasional dengan berbagai analisis. Bidan desa juga mempertimbangkan pengakuan Adipati. 


“Ya benar, Guru Tua, saya tidak melaukan apapun, saya melihat teman saya sudah tidak sadarkan diri di gubuk itu tanpa pakaian. Saya sebelumnya datang ke rumah Bu Bidan untuk mencari teman saya!” sahut Adip memperkuat pendapat Bidan Desa.


“Tapi mereka satu rumah, tidak ada yang tahu pemuda ini jujur atau tidak? Memang kita tahu apa yang mereka lakukan seblumnya?” sahut warga serempak tetap merasa Adip berlezat dengan Jingga. 


“Tapi apa kalian juga punya bukti kalau mereka berlezat?” tantang teman Pak Anton. 


Ternyata di antara kerumunan warga, sebagian dari mereka juga ada pemuda yang berfikir rasional dia, bahkan tidak hanya satu. Satu di antara mereka yang bernama Sassy, mengangkat tanganya memberikan pendapat.


“Saya setuju dengan bapak ini dan Bu Bidan. Jika mereka berlezat, seharusnya saudara Adipati ini melepas pakaian bawahnya bukan pakaian atasnya dan justru melindungi Nona ini. Kita juga tidak punya bukti kah mereka melakukan itu?” tutur  Sassy ikut bersuara. 


Pemimpin tertua diam, berusaha memikirkan jalan terbaik.


Sebagian warga terus menyuarakan pendapatya tetap saja mereka bersalah karena di temukan berdua di dalam gubuk dalam keadaan sama- sama tak berbusana. Berdasarkan penuturan dari Tama mereka sedang berlezat. 


“Kalau begitu, dimana pemuda yang kau katakan itu, kepala?” tanya Guru Tua ke kepala suku, kepala suku, ada pemuda yang menyaksikan mereka berdua berlezat.


“Tadi dia di rumah kami. Tapi kata istri saya sudah pergi!” jawab Kepala suku. 


“Cari pemuda itu, kita tunggu sampai jam 12 malam!” titah Guru Tua segera.


Saat itu waktu setempat sudah masuk jam 10 malam. 


Semua pemuda dan warga kemudian patuh, mencari keberadaan Tama. Seseorang yang melapor dan bersaksi kalau Adip dan Jingga melakukan hubungan yang sangat dilarang adalah Tama. Warga sangat percaya dan sangat takut bisa mendatangkan mala petaka. 


Bu Bidan desa dan teman Pak Anton yang sifatnya hanya memberikan gagasan pemikiran baru, tetap mematuhi dan menghargai kebijakan tetua Adat membiarkan semua berjalan apa adanya.


Sambil mencari keberadaan Tama, teman Pak Anton memanggil Amer dan menceritakan yang terjadi. 


“Apa??” pekik Amer sangat syok dan emosi. “Yang benar saja Bang Adip melakukan hal senonoh itu!” pekik Amer emosi. 


“Saya yakin, kawanmu itu tidak melakukan itu!” ucap kawan Pak Anton memberikan pendapat.


“Kak Adipati pria yang baik dan santun, dia juga muslim yang taat, saya bersaksi! Sepertinya dia tak melakukan itu!” jawab Pak Anton ikut mendukung Adip.

__ADS_1


“Aku harus temui kakakku!” ucap Amer sangat gusar. 


Pak Anton dan temanya kemudian memapah Amer menuju ke bukit tempat berkumpulnya warga. Pukul 12 malam kurang beberapa menit lagi, tapi tak kunjung ada yang tahu dimana Tama. Entah bersembunyi, kabur atau jatuh ke jurang. 


Amer pun sangat syok melihat keadaan kakaknya, sayangnya tak boleh ada yang boleh melewati batas. Amer tak boleh mendekat ke Jingga apalagi memeluknya. 


“Kakak!” ucap Amer meronta ingin segera memeluk Jingga. Kenapa juga Jingga tetap memejamkan matanya, seperti patung tapi bernafas.


Sayangnya kaki Amer masih terluka. Amer juga ditahan oleh Pak Anton dan yang lain. Amer tak bisa berbuat apa- apa selain menangis. Adip pun memandang Amer dengan penuh rasa bersalah.


“Baba... Buna... maafkan Amer, maafkan Amer!” lirih Amer dalam hati.


Sebagai lelaki tertua, menjaga saudara perempuan dan adik- adiknya adalah tanggung jawab Amer setelah Babanya.


Para warga sudah kembali berkumpul dan sekarang menjadi dua kubu. Satu kubu, yakin Adip salah, kubu yang lain harus mempertimbangkan hukuman sebelum salah langkah apalagi jka harus membunuh. Saat itu juga, angin dan hujan juga reda. 


“Theng.... theng.....!” pesuruh desa kemudian menabuh lonceng di belakang Guru Tua.


Guru Tua didampingi kepala suku kemudian maju ke depan, karena sudah jam 12 malam, hujan juga sudah reda, awan hitam menghilang bahkan datang sinar bulan meski sebagian tertutup awan. 


Guru Tua menafsirkan ada signal kebaikan dari alam dan leluhur mereka. 


Guru Tua memutuskan menunda atau mengganti hukuman dan memilih berdiskusi dulu sebelum memutuskan.


Mereka menghadirkan dua kubu ; warga primitif yang percaya Adip salah ; warga yang percaya Adip benar, keluarga Jingga ;Pak Anton ; kepala suku ;Bu Bidan, pemuka agama dari semua kepercayaan dan agama yang ada di situ dan juga guru Tua. 


Warga pun mematuhi aturan guru tua. Mereka masih setia menunggu di bukit itu. Warga lrimitif, mereka sangat percaya keselamatan mereka akan terancam terhadap kejadian ini. Mereka sangat percaya aturan leluhur. 


Mereka juga begitu hormat dan segan terhadap Guru Tua yang mereka anggap begitu bijak dan memiliki kesaktian atau hubungan dengan leluhur dan yang menguasai alam. 


Warga primitif hanya tak ingin warganya terkena musibah, warga modern jangan sampai berbuat kriminal terhadap orang asing tanpa bukti apalagi hanya dari aduan orang tak dikenal. 


“Baiklah, karena hujan reda, rembulan pun datang menyapa meski langit kelam dan berkabut.  Kita ambil jalan tengah" Tutur Guru Tua menghentikan adu pendapat kedua kubu.


Semua diam begitu Guru Tua bersuara.


"Jika 3 hari dari sekarang tak turun hujan dan semua aman, kita bebaskan mereka berdua. Tapi jika ada hujan dan badai, sebelum terjadi bencana, apapun keadaanya, kita bawa mereka dan kita cambuk mereka!” ucap Guru Tua memberikan solusi. 


Semua diam dan setuju. Diberi waktu 3 hari.


“Apa itu berarti kami harus tinggal di sini selama 3 hari?” tanya Amer kemudian. 


“Ya..." jawab Guru tua mengangguk tenang kemudian menatap Adip tajam "Dan kakakmu harus menikah dengan pemuda itu!” lanjut Tuan Guru.


“Hah?” pekik Amer kaget. “Kenapa harus menikah? Kakak saya tidak sadarkan diri, kakak saya juga sudah punya calon suami!” bantah Amer merasa konyol.


“Mereka terpergok dalam satu rumah dalam keadaan yang seperti itu, meski tak ada yang bersaksi, tetap saja. Mereka berdua harus menikah, malam ini juga!” ucap Guru Tua memutuskan.


Semua diam, tidak ada yang berani membantah lagi.


Para warga modern pun patuh tak ada sanggahan. Merasa hukuman menikah itu tidak jahat dan tidak membahayakan nyawa orang apalagi kejam. Menikah itu baik pikir mereka. Selebihnya mereka akan sungguhan menikah atau bercerai terserah yang menjalankan. 

__ADS_1


Amer hanya diam meski hatinya penuh keraguan.


Guru Tua kemudian kembali menemui warga dan mengumumkanya.


Warga setuju, menikahkan Jingga dan Adip malam itu juga. Mereka juga menunggu tiga hari, jika turun hujan dan ada angin kencang, Jingga dan Adip tetap harus dihukum dipukul ramai- ramai diikat di pohon pinang. 


Adip yang mendengar itu benar- benar syok tidak tahu harus berbuat apa. Adip ingin menikah dengan cara yang baik bukan seperti ini, tapi Adip kemudian dilepas di bawa turun ke gedung balai desa.


Mereka kbi berada di tempat, seperti tempat ibadah warga, mirip kuil karena bangunanya luas dan ada patung- patungnya. Tapi mereka tak beragama. Bentuk rumahnua seperi jamur dindingnya dari kayu- kayu atapnya juga.


Bu Bidan membantu Jingga, yang tak sadarkan diri dibantu warga. Mereka juga membari pakaian yang layak untuk Jingga pakai. Mereka juga berusaha membangunkan Jingga dari biusya. Jingga sungguh seperti mimpi dan tidak tahu apapun. 


****


“Bang... bagaimana ini? Aku tak berani menghadapi Babaku, menikahkan Kak Jingga kan tanggung jawab Baba!” ucap Amer pada ketika Adip berhasil dilepas. 


“Saya tahu kakakmu sudah dijodohkan dan sebentar lagi menikah, kamu tenang saja!” 


“Maksud Bang Adip?” 


“Yang penting kakakmu selamat dulu, nikahkan kami sesuai mau mereka. Aku berjanji aku akan mejaga kakakmu, jika memang kau tak ingn disalahkan Babamu, aku akan ceraikan kakakmu sebelum pulang nanti. Aku juga tidak akan menyentuh kakakmu tanpa persetujuan kakakmu!” ucap Adib berjanji ke Amer.


Amer terdiam, tiba- tiba dada Amer bergetar, kenapa Adip begitu baik dan terkesan tulus.


Amer jadi tidak tega. Kalau memang Jingga dan Adip sama- sama suka, Amer mah nggak masalah terserah mereka. Amer hanya tak berani menghadapi Baba.


 


Adip kemudian menepuk bahu Amer, meyakinkan. 


“Yang penting kakakmu selamat dulu, aku berjanji, aku akan menjaganya!” ucap Adip dewasa.


“Baiklah Bang!” 


“Berdoa tiga hari ke depan matahari bersinar cerah dan terang! Kita harus pergi dari sini!” ucap Adip memberitahu. 


“Ya...” 


Mereka pun setuju dan bersiapa maju.


“Apa kalian beragama?” tanya Guru Tua bijak. 


“Kami beragama!” jawab Adip mantap. 


“Apa agama kalian?” 


“Muslim!” jawab Amer dan Adip. 


Guru Tua memanggil salah satu warga dan mengkode anak buahnya memanggil seseorang. Guru Tua ternyata benar- benar bijak dan menghargai warganya, meski dia akan menikahkan secara adat, Guru Tua juga menghormati kepercayaan Adip dan memanggil warga yang dituakan sebagai pemuka agama Adip untuk menikahkan Adip secara kepercayaan Adip. 


“Apa ini artinya Bang Adip akan menikah beneran?” bisik Amer ke Adip.

__ADS_1


Amer kira kan hanya nikah bohongan kalau secara Adat, selapas pergi dari tempat itu semua batal.


Adip pun menelan ludahnya. Jika memanggil pemuka agama. Itu berarti menikah sungguha di hadapan Tuhan Adip bukanya untuk menyelamatkan diri. Adip jadi gelagapan.  


__ADS_2