
Waktu yang ditunggu pun tiba. Semua barang- barang Jingga dan teman- temanya sudah rapih dimasukan ke dalam tas.
Beberapa mahasiswa menampilkan raut muka gembira tidak sabar. beberapa tampak sedih. Sementara Jingga duduk di kamarnya dengan berjuta rasa keraguan.
Entah kenapa ada rasa sedih yang menusuk hatinya. Pak Rendi tadi sempat menemuinya berpamitan.
"Jaga dirimu baik- baik,Jingga!" ucap Pak Rendi dengan sangat tulus.
Jingga diam mendengatkanya. Seakan Jingga merasa di pulau S itu hanya dia yang paling peduli denganya. Para pemateri dan pemimpin rombongan sudah memberitahu. Kalau mau puas-puasan pamitan ke keluarhanganya sekarang pumpung signal bagus. Saat di pulau P signal akan susah.
Begitu pesawat besar landing, mereka tidak lagi transit di kota atau di asrama, tapi saat itu juga pesawat kecil milik pemerintah daerah siap menjemput dan mengantar mereka ke daerah masing- masing.
"Hiks hiks...." sayangnya saat Jingga pamitan ke Bunanya. Bunanya tidak berkata- kata.
__ADS_1
Entah karena saking sayangnya, atau kenapa. Buna Jingga seakan tidak rela Jingga pergi. Jingga jadi ragu mau melangkah. Jingga mau berubah pikiran tapi Pak Rendi sudah pulang,waktu berangkat juga tinggal beberapa menit lagi..
"Besok kabar- kabaran ya!" celetuk Tari girang membuyarkan lamunan Jingga
"Iya! Enak kalian yang deketan. Aku jauh sendiri, hu hu huuu" jawab Uti.
Ternyata benar mereka bertiga terpisahkan tidak ada yang satu daerah. Semua berpencar. Mahasiswa kelompok Jingga ada 5 semuanya tak ada yang Jingga kenal, mereka berasal dari kampus luar semua. Untungnya semua perempuan.
Tari kegirangan karena Tari satu kecamatan dengan Adip bekerja, dan tetanggaan dengan desa Jingga.Jingga di desa yang paling dekat dengan kota, tapi tetap saja di pedalaman.
"Yok berangkat yok!" seru salah seorang teman Jingga.
Ketika teman- teman Jingga bersorak sorai. Jingga malah meneteskan air mata gemetaranya. Jingga akan benar- benar pergi ke tempat yang nggak ada signal dan nggak bisa denger suara Buna dan adik- adiknya. Jingga juga akan menemui dunia baru yang tidak bisa Jingga tebak apa isinya.
__ADS_1
"Buna, Jingga berangkat!" batin Jingga dalam hati tiba_ tiba keingat wajah Baba dan Bunanya. Entah kenapa seketika itu Jingga sangat ingin memeluk Babanya. Tapi nyatanya Jingga berada di negeri antah berantah yang tak ada Babanya. Jingga berada di tengah orang- orang yang Jingga nggak kenal.
Meski berat langkah Jingga seperti punya nyawa sendiri bergerak maju mengikuti teman- temanya masuk ke bus. Mereka pun siap menuju ke Bandara.
Kali ini tempat duduk mereka tidak asal. Mereka diatur sesuai penempatan, tepatnya sesuai kecamatan. Meski satu bus dengan Tari, Jingga tidak satu temlat duduk dengan Tari dan Uti lagi. Jingga duduk dengan Novi dan Ica. Sesuai nasehat Tari Jingga pun menyapa ramah mereka. Tapi tetap rasanya beda.
Dan tntu saja mereka satu bus dengan Adip karenaAdip akan bekerja di kecamatan itu. Kebetulan Adip duduk di dekat supi,sementara Jingga duduk di bangku belakang supir jarak satu bangku.
Tidak dekat, tapi mereka masih bisa mendengar percakapan masing-masing. Adip terlihat supel dan terus mendongeng dengan teman duduknya.Sementara Jingga diam terus di Bus.
"Suaranya benar- benar mirip! Itu dia! Aku nggak salah kok!" batin Jingga.
****
__ADS_1
Maafkan Up nya pendek. Author olengg...