Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
210. Om Dika mau ngomong Penting.


__ADS_3

Kata orang, dewasa itu ketika seseorang pandai mengendalikan dan menempatkan emosinya. Orang yang baik juga orang yang bisa mempunyai empati terhadap orang lain, dan tidak hanya berfikir dari sudut pandang diri sendiri. 


Kalau saja bisa diungkapkan, jelas Adip sangat kecewa, pusing, pegal dan rasanya ngilu. Saat di puncak kenikmatanya harus dihentikan secara paksa. Padahal Adip tak melakukan kejahatan, itu adalah haknya.


Kalau hanya mengikuti egonya, Adip tidak mau berhenti, tinggal dimajukan sedikit lagi buah zakarnya, masuk sampai pangkal, dia mainkan dan diatur ritmenya, dia bisa mendapatkan apa yang dia mau. 


Akan tetapi, Adip sadar, dia berpartner, dia tidak sendiri, dia tidak mau egois.


Rasa sayang dan cintanya pada Jingga melebihi rasa kasianya, pada adik kecilnya sendiri. Adip pun harus mengulur rasa sabarnya. 


Adip tidak tega melihat Jingga meneteskan air matanya merasakan sakit sementara dia keenakan.


Akan tetapi Adip yakin, rasa sabarnya itu kelak akan terbayar, lunas, tuntas dan sepadan. 


Dan sekarang dengan telaten, meski di kecewakan, Adip tetap membantu Jingga berjalan, karena katanya selanggkanganya sakit saat dibuat berjalan. 


"Sekalian mandi ya! Bareng mau kan?" tutur Adip pelan ke Jingga menuntun ke kloset.


"Iyah. Tapi jangan maksa itu, ya!" jawab Jingga dengan wajah manjanya. Jingga bisa melihat punya Adip berdiri lagi.


Mereka berdua masih sama- sama tak berbusana sama sekali, sebenarnya lucu kalau ada yang lihat.


Adip tersenyum dan mengelus kepala istrinya.


"Iya, nggak! Abang bisa ngerti kok!" jawab Adip


"Tapi itu masih kaya gitu?" jawab Jingga menunjuk punya Adip.


"Ya udah biarin, kan Abang normal. Setiap Abang bareng sama kamu, dia pasti respon!" jawab Adip memberitahu.


"Tapi nggak apa- apa?" tanya Jingga lagi pelan.


"Sebenarnya apa- apa sih. Tapi kan kamu sakit, gimana coba?" jawab Adip ambigu.


Mereka berdua sama- sama tidak tahu harus bagaimana. Yang pasti Adip tahu, sebagai santrinya Abah Anwar dan yang berusaha mengamalkan dan menjaga tuntunan agamanya, menjaga *********** dari hal- hal menyimpang itu penting.


Yang Adip pelajari, sebagai orang yang beriman, melampiaskan syahwatnya tidak hanya asal mencari puas, tapi ada beberapa rambu- rambu yang harus dipatuhi. Apalagi jika ingin dapatkan keturunan yang sholeh dan sholekhah, mulai dari proses pembuatanya harus hati- hati.


Adip tak mau menanggung dosa jika hanya menuruti hawa nafsunya, melanggar norma, dan melakukan yang diharamkan atau yang menjadi perdebatan.


Adip lebih memilih menahan sabarnya, tetap memuliakan istrinya. Mengalah dulu.


Jingga yang masih polos juga hanya bisa diam. "Aku harus belajar sama Buna. Kasian suamiku." batin Jingga merasa sangat kasian pada suaminya.


Sebenarnya Jingga juga ingin bahagiain Adip, tapi Jingga tidak tahu harus bagaimana.


"Maaf ya!" ucap Jingga ke Adip.


Adip mengangguk tenang dan dewasa. Saat Jingga terlihat bisa sendiri, Adip memilih meninggalkan Jingga.


Sebab jika terus bersama Adip akan semakin jahat pada adik kecilnya.


Mereka berdua kemudian segera membersihkan diri. Adzan subuh juga terdengar sehingga mereka juga segera menunaikan kewajibanya.


Karena masih petang dan pagi, Jingga memilih bersantai dan rebahan di kasur. Sementara Adip memilih ke dapur dan membuatkan minuman hangat.


"Aku buat teh Sayang. Sini dong ngeteh bareng!" tutur Adip membawa dua cangkir teh dari cangkir yang disediakan hotel.


"Abang buatin teh untuk Jingga? Buat sendiri?" tanya Jingga kaget, suaminya segitu baiknya sampai buat minuman untuknya.


"Iya... ni disediain ini kok!" jawab Adip menunjuk fasilitas hotel.


Jingga kan nggak pernah buatin teh, dan belum tahu kewajiban sebagai istri, Jingga tahunya dilayani pelayan.


"Issh ini teh murahan Bang. Abang nggak perlu repot-repot, kalau mau kita telpon aja bagian restonya atau kita turun!" jawab Jingga berniat mengalihkan alasan agar dirinya tak terkesan jahat sebagai istri.


Adip sedikir kecewa mendengar penuturan Jingga.


"Nggak apa- apa murahan. Tehnya masih wangi kok, nggak mau ya teh buatan Abang?" tanya Adip.


"Ya mau sih. Makasih ya!" jawab Jingga.


Jingga kemudian turun dan mengambil teh menyeruput tehnya dengan tanpa rasa bersalah.


"Nanti kalau di rumah, Emak. Pagi- pagi kamu juga buatin untuk Bang Adip ya!" tutur Adip pelan mengajari Jingga agar nanti di rumahnya tak merepotkan Emak dan membuat Emak jantungan.


"Uhuk...," Jingga langsung tersedak mendengar penuturan Adip.


"Hati- hati!" ucap Adip memberi tissu.


"Kita nginep?" tanya Jingga kaget.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Jingga, Adip mengernyit.


"Semalam kamu bilang mau ikut Abang. Ya ngineplah masa enggak?" jawab Adip.


"Gleg...," Jingga menelan ludahnya. "Gawat, kapan aku bisa tanya- tanya ke Buna kalau gini? Nanti malam pasti Bang Adip nagih lagi?" batin Jingga.


"Kok bengong?" tanya Adip.


"He... enggak,"


"Nggak mau ikut Abang?"


"Mau kok mau.. he..," jawab Jingga nyengir dan segera meneguk tehnya lagi.


"Bisa kan bikin teh?" tanya Adip.


"Bisaaa...," jawab Jingga sok sokan bisa, padahal enggak pernah. Tapi batin Jingga gampanglah bisa searching di internet.


"Oke... kalau masak bisa?"


"He... enggak!" jawab Jingga jujur.


"Nanti belajar ya sama Emak!"


"Okeh!" jawab Jingga mantap.


"Kita di sana berapa hari Bang?" tanya Jingga lagi.


"Dua hari aja. Biar dua hari sisanya ke rumah Baba dan ke kontrakan, Abang. Sebelum Abang berangkat, Abang kenalin kamu ke temen- temen. Jadi kan lihat kontrakan Bang Adip?" tanya Adip lagi. Sebenarnya kontrakan yang dimaksud Adip adalah perumahan yang Adip pribadi yang kelak akan disewakan untuk mahasiswa.


"Ya!" jawab Jingga mengangguk.


"Aku harus belajar ke Buna sekarang juga. Bang Adip 4 hari lagi berangkat, aku harus senengin Bang Adip, sebelum dia pergi," batin Jingga.


Lalu Jingga segera menghabiskan minumnya. Lalu bangun berniat mengambil ponselnya. Sementara Adip masih duduk di sofa.


Jingga segera menghubungi Bunanya berniat mau curhat.


Kebiasaan Jingga kalau mainan hp rebahan, apalagi ada kasur. Jingga pun merbahkan dirinya di kasur sambil mainan hp dengan santainya.


Adip melirik istrinya yang berbaring di kasur santai.


Posisi Jingga sangat menggoda, apalagi dengan mini dressnya di atas lutut membuat pahanya terlihat, rambut setengah basahnya juga terurai indah. Belum leher jenjang dan bagian atas dadanya yang terpampang.


"Apa aku terlalu bodoh jadi laki- laki?" batin Adip mengacak-acak rambutnya.


Kalau Adip sekarang mendekat ke Jingga, karena sudah mencicipi lubang indah itu, maunya Adip juga balik lagi, tapi pasti Jingga menolak. Adip memilih menjauh saja dulu.


"Haissshh. Aku memang kurang pandai? Kenapa anak-anak SMP saja pada bisa aku tidak?" batin Adip sangat frustasi.


"Apa hanya aku yang gagal di malam pertama?" batin Adip lagi.


Sebagian teman Adip masih bujang tapi ada sebagian sudah menikah dan langsung punya anak. Adip jadi HDR (Harga Diri Rendah) karena Jingga.


"Apa aku tanya Mas Tyo yah?" gumam Adip mencari ide. Tapi Adip malu tanya pada seniornya.


Adip kemudian iseng searching di internet, setelah membaca beberapa artikel, langkah- langkah di intenet sepertinya sudah di lakukan. Itukan reflek juga.


Mulai dari ciuman ke bawah dan lain sebagainya. Kalau secara step, memang sudah benar tapi secara keterampil tangan, kelembutannya penekanannya, kecepatannya dan ritmenya kan butuh jam terbang.


Sebenarnya Adip juga sudah benar dan pintar. Jingganya saja yang tidak tahan sakit, padahal tinggal selangkah lagi. Jika Jingga kuat dan Adip tega, Adip sudah berhasil.


"Aaah.. pusinglah, coba lagi saja nanti?" batin Adip frustasi.


Karena semalam tidak bisa tidur. Adip memilih membaringkan tubuhnya di sofa. Tidak butuh lama Adip terlelap.


*****


"Kenapa Buna tidak jawab dan bales sih?"gumam Jingga kesal karena sapaan Jingga tak kunjung dibaca Bunanya.


Jingga sudah merangkai kata banyak untuk bertanya dan cerita, tapi dia hapus kembali.


"Kalau aku ketik, nanti Baba baca lagi? Aku samperin Buna aja ah!" batin Jingga kemudian.


Jingga turun dari kasur dan mengambil pakaian panjangnya. Lalu berjalan keluar.


"Bang Adip tidur, kasian sekali suamiku, sampai tidur di sofa. Tapi kalau aku bangunkan kasian, ya udahlah biarin?" batin Jingga meninggalkan suaminya sendirian di kamar.


Jingga tidak tahu seberapa besar efek bapernya Adip yang merasa gagal. Adip sampai frustasi. Tidur adalah pelarian terbaik untuk Adip.


Jingga berjalan ke resepsionist.

__ADS_1


Semua karyawan tau, Jingga anak pemilik hotel. Dengan mudahnya Jingga meminta kunci cadangan kamar Bunanya.


Karena telponya diacuhkan tanpa pikir panjang Jingga masuk ke kamar Baba dan Bunanya. Ini kan sudah pagi, Buna kan sedang hamil, pasti aman kan? Pikir Jingga.


"Klek...," Jingga masuk ke kamar Bunaanya pelan.


Di pintu luar sepi. Jingga masuk berniat mau ucap salam, tapi belum Jingga berucap, Jingga segera menutup mulutnya.


"Hooh," pekik Jingga segera menghentikan langkah.


"Ouuh..ouuh...,"


Jingga mendengar yang tak seharusnya didengar.


"Astaghfirulloh, Jingga kan aku sudah menikah, kenapa ceroboh begini?" batin Jingga.


Jingga berniat segera pergi menyadari dirinya lancang dan tidak sopan. Tapi sebelum pergi, Jingga reflek menoleh sebentar ke Buna dan Babanya.


"Baba dan Buna sudah tua? Buna juga sedah hamil, kenapa mereka terlihat sangat menikmati, tapi aku tidak?" batin Jingga dengan polosnya dan segera meninggalkan kamar Bunanya.


Meski tak sengaja, Jingga melihat orang tuanya bermain hebat. Jingga juga bisa memastikan seluruh senjata Babanya terbenam sempurna. Buna dan Baba memang sama- sama masih sehat. Buna tampak di atas. Jingga jadi terbengong dan merinding sendiri.


Jingga dan Adip kan masih muda, usia segar- segarnya. Usia Jingga kan sudah 20 tahun. Harusnya Jingga lebih dari orang tuanya.


"Sakitnya hanya pertama kan? Setelah ini nggak sakit lagi kan? Tapi bagaimana kalau sakit lagi?" batin Jingga juga merasa payah dan mengucek ujung bajunya sambil berjalan.


"Jingga... ," panggil Dokter Dinda, menghentikn langkah Jingga.


"Eh Tante," jawab Jingga berhenti dan menoleh.


Dokter Dinda dan Om Dika berpakaian olah raga sepertinya mereka hendak ke ruang gym di lantai atas hotel Baba.


"Penganten baru, pagi- pagi abis dari mana?" tanya Tante Dinda.


"Mau ke kamar Buna. Tapi Buna belum bangun sepertinya," jawab Jingga beralasan.


"Oh," jawab Dokter Dinda.


"Suamimu mana?" tanya Om Dika.


"Di kamar, Om!"


"Om Dika mau ngobrol sama suamimu boleh?" tanya Om Dika lagi tidak sabar.


"Boleh Om, Bang Adip tapi tidur lagi," jawab Jingga.


"Oh ya, ya ampun lupa. Kalian kan penganten baru ya. Ya sudah katakan pada suamimu. Om Dika mau ngobrol penting. Nanti temui Om Dika yah!" tutur Om Dika tersenyum, Jingga jadi menunduk tersipu..


Semua orang pasti mengira Adip dan Jingga semalam lembur, padahal Jingga dan Adip sedang sama - sama frustasi karena merasa gagal.


"Iya Om," jawab Jingga singkat.


"Ya sudah Om mau cari keringat, nanti ketemu di restoran bawah ya!" tutur Om Dika lagi.


"Ya Om!" jawab Jingga.


"Tunggu, Jingga!" pekik Dokter Dinda lagi.


"Ya, Tante!" jawab Jingga berhenti lagi.


"Boleh tahu nama panjang suamimu?" tanya Dokter Dinda tidak sabar. Baba Ardi belum kunjung memberitahu nama ayah kandung Adip, jadi dokter Dinda tanya nama panjang Adip dulu.


"Nama suami Jingga, Adipati Wirajaya, Tante," jawab Jingga.


"Hoooh," seketika, Dokter Dinda menghela nafas dan menutup mulutnya saling tatap dengan Om Dika. Bahkan mata Dokter Dinda dan Om Dika berkaca-kaca.


Jingga jadi heran.


"Kenapa Om? Tante?" tanya Jingga.


Dokter Dinda malah meneteskan air mata tapi tersenyum. Jingga semakin bingung.


Tiba- tiba Dokter Dinda maju dan memeluk Jingga.


"Kalau suamimu sudah bangun, segera telpon Tante yah," ucap Dokter Dinda.


Jingga hanya bengong karena bingung.


"Bilang Om Dika mau ngomong penting!" tutur Om Dika lagi.


Jingga hanya mengangguk.

__ADS_1


****


__ADS_2