Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
146. Amer turun tangan


__ADS_3

“Astaghfirullohal’adziim!” 


Fatma dan Umminya Rendi langsung duduk beristighfar dan menutup mulutnya melihat foto Jingga berpakaian tak semestinya diikat di pohon pinang bersama pemuda tampan bertelanjang dada. Apa lagi membaca timelinenya. 


“Ummi sudah merasa sejak awal, Jingga itu berbeda dengan kriteria Ummi, tapi kakakmu keras kepala!” tutur Ummi Rendi menghela nafas kecewa.


“Tapi kita belum tahu kebenaran foto ini Umma, ini foto dari akun abal- abal di media online! Kita perlu konformasi” tutur Fatma sebagai muslimah milenial, masih berpositif thingking. 


“Sudah jelas- jelas begitu? Apalagi yang diragukan? Malu Ummi, gimana kalau santri- santri dan orang tua wali tau, calon menantu keluarga kita berkelakuan seperti itu!” tutur Ummi Rendi lagi dengan nada sangat kecewa.


“Tapi hati Fatma masih tidak percaya Ummi, Kak Jingga tatapan dan sikapnya seperti gadiis baik! Kok bisa ya?” gumam Fatma lagi. 


“Ndak, Ummi tetap harus bahas ini dengan Abi dan Rendi! Batalkan perjodohan ini!” tutur Ummi lagi dengan tegas. 


“Tapi Kak Rendi nanti nggak nikah- nikah Ummi, Kak Rendi kan maunya sama Kak Jingga!” jawab Fatma lagi. 


“Kamu mau punya kakak ipar seperti itu? Ingat Fatma, ibu adalah madrasah pertama untuk anak- anaknya nanti, hidup itu bukan hanya tentang rupa dan harta, anak Umma semua sudah disilaukan dunia. Hanya karena dia terlihat cantik, menarik dan keluarga orang terpandang lantas kita menghalalkan segala cara? Tidak! Tidak begitu,” jawab Ummi tegas. 


Sebenarnya perkataan Ummi adalah benar, tapi kebenaran itu juga darikacamata yang salah. Salah karena sebenarnya Jingga juga tak seburuk itu. 


“Ya Ummii!” jawab Fatma mengalah karena tidak ada yang perlu dikoreksi lagi perkataan Ummi.


“Telepon Rendi! Suruh dia pulang atau kita yang datangi apartemenya!”ucap Ummi tegas. 


Fatma kemudian patuh mengikuti perintah Umminya, menghubungi Rendi. Rendi ternyata sudah lebih dulu tahu dan mendapatkan foto itu. 


**** 


Di rumah sakit. 


Keluarga Jingga yang sedang menunggu Oma Rita belum tahu tentang berita itu kecuali Ikun.


Buna dan Baba sedang mengobrol dengan dokter yang menangani Oma, sementara Jingga dan Nila bermain dengan Iya dan Iyu. Amer sendiri tak membawa ponsel. 


Ikun menggerakan tanganya memperbesar layar dan matanya membulat sempurna. Seketika itu tensinya naik dan nafasnya mulai memburu.

__ADS_1


Ikun kemudian melirik ke Jingga dan Amer. Setelah itu membuka grup keluarga dan menyamakan wajah Adip. 


Ikun kemudian mengeratkan rahangnya dan menyenggol siku Amer. 


“Apa?” tanya Amer ke saudara kembarnya. 


“Ikut aku!” jawab Ikun.


“Kemana?” tanya Amer tak mengerti. 


Ikun kemudian memberi kode Amer agar menepi. Ikun tau suasana keluarganya sedang tidak baik, Ikun tidak mau menambah suasana memburuk di rumah sakit. 


“Ini apa Kak?” tanya Ikun menyodorkan layar ponselnya. 


Amer memeriksa dan membaca.


“Haisssh Shiiit!! Bajingan itu!!” umpat Amer langsung bermuram durja dan mengepalkan tanganya. “Ini pasti ulah Tama!” gumam Amer lagi. 


Ikun kemudian mengernyitkan dahinya dengan tanda tanya. Dan kali ini, Amer berubah pikiran, Amer sepertinya tidak bisa cuci tangan. Amer harus pasang badan di depan sebagai juru kunci penyelamat Jingga.


“Ini tidak seperti yang ada di foto, Bang Adip dan Kak Jingga tidak melakukan itu! Kak Jingga diculik dan dibius dan dii... entahlah! Yang pasti Bang Adi datang bersamaku, dan Bang Adip yang menolong Kak Jingga! Pelakunya ya yang nyebarin foto ini. Bukan Bang Adip!” tutur Amer akhirnya bercerita. 


"Maksud kamu Kak Jingga diperkosa?"


"Entahlah!"


“Bagaimana bisa terjadi? Bagaimana dengan Baba kalau tahu ini? Siapa Bang Adip,siapa Tama?” tanya Ikun. 


Baru Amer mau cerita, Baba dan Bunanya datang melewati mereka da membuat Amer diam. 


“Kalian lagi ngobrolin apa? Serius banget?” tanya Buna. 


“Amer mau ngobrol sama Baba!” jawab Amer cepat, sekarang mantap, bahkan Amer ingin cerita ke Baba dulu sebelum Jingga. 


“Ada apa?” tanya Baba mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Amer menelan ludahnya mengambil jeda, sesaat menatap Bunanya. Amer sebenarnya tidak tega kalau nanti Baba dan Bunanya akan sangat sedih mendengar apa yang menimpa Jingga.


Jingga diperkosa atau tidak yang tahu hanya Tama dan suami Jingga nanti. 


Meski bisa dilakukan visum, itu tidak menjamin akurat seratus persen, karena keadaan hymen semua perempuan tidak sama dan tidak 100% menjadi tolok ukur.


Pemerikaaan visum juga, kalau Jingga mau, mengingat prosedurnya harus memeriksa organ intim Jingga. Ini juga menyangkut hak asasi manusia. 


“Ini tentang Kak Jingga dan keluarga kita, Ba!” sahut Ikun tidak sabar menjawab, karena Ikun ikut resah nama keluarganya terseret dan dijelekan.


“Jingga?” pekik Buna. 


“Tapi sebaiknya kita bahas ini di rumah, tidak baik jika Oma Rita dengar!” sahut Amer lagi.


Baba dan Buna pun mulai menegang melihat ekspresi dua anaknya yang sudah beranjak dewasa tampak serius. Di otaknya mulai datang tanda tanya.


Karena sudah tua Baba dan Buna berusaha tenang positif thingking sampai ke rumah.


“Oke... ayo kita pulang dan ajak Jingga, biar Nila yang tunggu Oma!” jawab Baba membagi anaknya. Setelah mendengar penjelasan dokter, keadaan Oma stabil sudah diberi obat, dan sebentar lagi sadar. 


Baba pun tega meninggalkan Oma sementara waktu.


Amer dan Ikun mengangguk. Amer kemudian mengajak Jingga pulang dan memberitahu Nila. Nila si solekhah, penurut dan lembut mengangguk patuh tanpa bertanya banyak. 


Sementara Jingga memucat, irama jantung yang tadi menurun sekarang kembali naik lebih cepat. 


*****


Makasih udah baca.


Selalu tinggalkan like dan komen plus vote ya.


Doakan Baba sampai rumah emosinya stabil ya Kak.


Insya Alloh nanti jam 8 malam Up lagi.

__ADS_1


Hehe


__ADS_2