
Seperti ada kabel yang tersambung, saat kedua mata saling terhubung, menghadirkan getaran yang tidak bisa dijelaskan.
Jika Adip merasa tersihir dengan pesona Jingga yang terlihat lebih menawan saat berkeringat dan ketakutan begitu, Jingga justru dibuat kesal menatap Adip.
Perkataan Adip menghancurkan semua bongkahan bara rasa yang menggunung di hati Jingga. Padahal setiap melihat Adip, sedikit demi sedikit tersusun gunungan rasa yang sulit di artikan di hati Jingga, yang pasti membuat tubuh Jingga jadi berkeringat dag dig dug.
Apalagi saat Adip memaksa Jingga naik ke perahu dan menggenggam tangan Jingga. Jingga seperti mendapat suntikan listrik, sayangnya Adip langsung memutus arus itu, memadamkanya dengan hebat.
Bahkan Jingga sangat sakit dituduh mencari perhatianya. Jingga pun kembali mengencangkan kedua bibirnya yang mengatup. Jingga memalingkan wajahnya sangat kecewa dan sedih terhadap perkataan Adip.
"Kenapa dia baik ke semua orang, tapi selalu nyakitin dan rendahin aku sih? Dia tukang ojek itu kan? Benar- benar nyebelin. Kenapa juga dia ikut di perahuku?" batin Jingga menggerutu memandangi air sungai yang mengalir ke hilir.
Siska pun tak menyiakan kesempatan, pedekate dengan Adip, dan membuka pertanyaan.
"Bang Adip!" panggil Siska yang mengembalikan kesadaran Adip yang hanyut dalam pandanganya ke Jingga.
"Ya!" jawab Adip menoleh ke Siska.
"Bang Adip ikut di desa kami ya?" tanya Siska girang.
"Emem bisa dibilang begitu!" jawab Adip mengangguk.
"Kok bisa dibilang? Pastinya dong Bang!"
"Wilayah kerjaku di kecamatan ini. Aku keliling desa di setiap bulanya. Jadi bebas aku mau kemana!" jawab Adip.
"Oh gitu? Syukur deh kalau Bang Adip di desa kita!" jawab Siska lagi.
"Iya. Setiap 3 hari sekali atau maximal satu minggu nanti aku ke kota!" jawab Adip lagi
"Oh ya?" tanya Siska dengan wajah berbinar. Jingga yang tak diajak ngobrop pun mendengarnya ikut menoleh ke Adip, dan di saat itu juga Adip juga sedang melirik ke Jingga sehingga mereka kembali saling pandang.
"Kita boleh ikut nggak Bang?" tanya Yuri yang di samping Jingga menyahut, seakan melontarkan apa yang ada di pikiran Jingga. Sementara Jingga memilih diam menyimak.
"Nggak!"
"Kok gitu?" tanya Siska, Yuri dan Prilly serentak.
Ternyata saat Adip mengatakan akan bolak balik ke kota semua tower anak- anak tersambung memikirkan hal yanh sama.
__ADS_1
"Kalian ini sampai aja belum pada mikir ke kota. Waktu kalian di sini tidak banyak! Selesaiakan misi kalian. Yang ingin berlibur, berliburlah! Yang mau selesaikan tugas kuliah selesaikan! Yang mau cari jodoh ya dapetin!" jawab Adip santai dan bersikap akrab ke anak- anak.
Adip hendak menyentil Nita yang tadi curhat di jalan tentang Aji. Adip juga ingin menyindir Jingga, Adip mengira Jingga ke Pulau P cuma mau main- main aja.
"Emang di desa ada cowo ganteng ya Kak?" tanya Prilly dengan lugunya.
"Ya barangkali!" jawab Adip.
"Ada kok!" sahut Yuri.
"Benarkah?" tanyq Prilly lagi semangat.
"Bang Adip!" sahut Siska.
Lalu semuanya tertawa termasuk pak Nahkoda perahu.
"Saya juga ganteng Nona!" sahut tukang perahu.
Lalu mereka tertawa akrab, Jingga pun sebenarnya ingin ikut tertawa, tapi Jingga tersipu- sipu malu. Saat Jingga tersenyum menahan tawanya pun tak lolos dari pandangan Adip.
"Aku tahu kamu milik orang lain , tapi kenapa kau membuatku tak bosan melihatmu, gadis bodoh!" batin Adip mengulum lidahnya mulai mengakui dirinya tersihir kecantikan Jingga.
"Apapun tujuan kalian kesini, capailah dengan cara yang baik. Patuhi aturan adat yang ada. Aturan adat di sini lebih dipakai dari aturan umum yang kalian tahu!" tutur Adip dewasa melanjutkan memberi wejangan ke adik- adik mahasiswanya.
"Ya Bang!" jawab semua anak- anak. Termasuk Jingga meski tak bersuara dia reflek ikut mengangguk dan menyadari saat bicara serius seperti itu. Adip sungguhan keren.
"Di sini kalian berlima satu almamter dan membawa satu nama, yang mengikat kalian jadi keluarga. Prinsip pokok yang harus kalian pegang adalah kompak dan pupuk rasa persaudaraan.Jika ada kesalah pahaman harus diselesaikan. Kalau sampai itu dilanggar dan ada yang berniat jahat. Percayalah niscaya itu akan menjadi bumerang untuk kalian!" lanjut Aeip lagi memberi petuah yang banyak.
Kali ini kata- kata Adip membungkam Nita, Siska dan Jingga. Yury dan Prilly yang hatinya bersih dan netral mengangguk setuju dan semangat merasa sungguh mempunyai kakak yang baik dalam.waktu singkat.
"Iya Kak! Setuju!" jawab Prilly.
Adip mengangguk menatap anak- anak satu persatu dengan tatapan menginterpretasi, sinar matanya seakan berbicara kalau kata Adip adalah ancaman dan Adip tahu semua permasalahn kecembyruan Nita dan Jingga.
Nita pun mengangguk pucat dengan ekspresi tudak nyaman. Saat menatap Jingga mereka pun beradu pandang lagi, tapi Jingga dan Adip tentu saja menyiratkan kata yang berbeda..Sorot mata Jingga seperti mengiba meminta pertolongan dan perlindungan. Begitu lemah penuh dengan keraguan dan ketidakyakinan.
Sementara Adip menatapnya dengan rasa yang tidak bisa ditebak. Ada rasa yang ingin terus memastikan keputusan membawa Jingga kesini tidak salah.
"Kalian mengerti kan?" tanya Adip lagi menatap Jingga lurus.
__ADS_1
Jingga menelan ludahnya salah tingkah, dan mengangguk.
"Iya Kak!" jawab anak- anak serempak.
Perahu mereka pun kini berbelok memasuki anak sungai kecil. Airnya lebih jernih, arusnya pun lebih lamban, samping kanan kiri sungai semak belukar dan pepohonan kecil.
Adip tersenyum desa T hampir terlihat. Letak desa T ternyata dekat dengan bagian hilir sungai besar itu. Itu tandanya mereka akan dekat dengan pantai asri dan alami yang akan menawarkan pesona indah dengan pasir putih dan air jernihnya.
"Sebentar lagi kuta sampai, Nona- Nona. Siap- Siap ya!" tutur tukang oeragu memberi tahu.
"Ya, Bapak terima kasih!" jawab anak- anak mengambil tasnya dan memakai tas punggungnya masing- masing dengan benar.
Perkampungan pun mulai terlihat, dari kejauhan samar- samar tertangkap dalam pandangan mata.Rumah yang berjejer tapi juga mempunyai jarak yang jaug dengan dinding kayu dan panggung.
Sayangnya atap rumahnya berbeda dengan di kecmatan kemarin. Besar rumahnya juga berbeda. Halamanya juga berbeda. Jingga menelan ludahnya dan membulatkan matanya.
"Ini nyata kan? Aku tidak mimpi kan? Berada di dunia manakah aku sekarang? Ini jaman purbakala? Atau aku masuk ke dongeng time travel. Kenapa rumah penduduk seperti rumah- rumahan kayu?" batin Jingga tidak menyangka di pelosok negeri masih ada kehidupan yang jauh berbeda dengan dunianya.
Saking fokusnya Jingga melihat rumah- rumah.Jingga tidak sadar sudah berhenti perahunya.
"Ayo turun Ngga!" ajak Yuri.
"Ah ya!"jawab Jingga.
Karena perahunya kecil dan dermaganya hanya berupa pathok kayu kecil lalu pijakan tanah dan batu. Mereka turun satu persatu dibantu Adip dan tukang perahu.
Sebagai senior Adip pun belakangan dan membiarkan semua naik, tentu saja Jingga paling akhir lagi.
"Ayo!" ucap Adip mengulurkan tangan lagi menawarkan bantuan ke Jingga.
Jingga melihat tangan Adip. Rasa sakit hati Jingga masih ada. Jingga pun ingin membuktikan, dirinya tak minta perhatian.
"Aku bisa sendiri!" jawab Jingga ketus.
"Oh Oke!" jawab Adip mengangguk ketus dan cuek. Adip kemudian naik lebih dulu.
Jingga terakhiran. Saat jingga menginjakan kakinya, ternyata pijakan batunya bergeser, Jingga yang tak terbiasa dan sepatu Jingga yang tak sesuai membuat Jingga terpeleset. Jingga pun kehilangan keseimbangan.
"Byur....." Jingga terjatuh ke sungai.
__ADS_1