Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
105. Pasti kembali


__ADS_3

Tidak Jingga kira, the power ot mulut ke mulut di desa ternayata lebih canggih dari berita di televisi. Semua warga desa jadi ramah ke Jingga dan pagi itu Jingga kedapatan 3 pasien. Dua pasien ibu- ibu mengeluh diare, satu anak- anak batuk. 


Untung keluhan ringan jadi Jingga yang terbiasa diajari obat oleh Buna jadi bisa membantu. Kalau sedikit parah, bisa mallpraktik beneran dan auto pusing Jingga. Dari sini Jingga baru mulai merasakan betapa bahagianya saat dia bisa bermanfaat dan menolong orang.


Jingga jadi tidak sabar ingin segera menuntaskan pendidikanya.


Setelah melihat matahari naik lumayan tinggi, jam Jingga rusak, ponsel juga hilang, jadi acuan waktu Jingga matahari, atau bertanya pada Yuri. Yakin waktu sudah siang, Jingga memutuskan pulang dan menutup pintu poskesdes.


Sesampainya di rumah dinas, Jingga langsung masuk, menemui Prilly yang sedang menyantap mie rebus jatah untuk Adip tadi.


“Lahap banget! Makan apa?” tanya Yuri ke Prilly. 


“Mie rebus. Maaf ya abis, kalian kalau mau, masak lagi aja! Aku masih punta stok tuh di tasku!” jawab Prilly baik. Kalau Nita memang sering egois dan tidak memikirkan Jingga kalau masak, Nita hanya memasak mengukur dirinya, Siska dan Prilly.


“Kita udah makan di rumah Bu Martha!” jawab Yuri mau sombong.


“Oh ya? Enak tuh!” jawab Prilly. 


“Iya lah, kan Jingga bu Dokter, kita dijamu makanan enak – enak dan banyak, nih aku bawain makanan ringan!” jawab Yuri malah mau memberi anak- anak oleh- oleh. 


Meski Nita dan yang lain sering jahat ke Jingga, tapi Jingga tidak membalasnya. Jingga akan nekat cari makan sendiri dan menunjukan dia tidak lemah. Sekarang dia berhasil menunjukan ke anak- anak, malah dia dapet makanan banyak. 


“Mana- mana? Mau dong!” jawab Prilly antusias membuka bungkusan daun pisang yang berisi beberapa olahan singkong dan pisang. 


Prilly yang menganut paham gerakan non blok suka- suka aja dapet makanan dari Jingga. Sementara Nita dan Siska setelah keluar kamar hanya melirik melihat di meja ada makanan. 


“Makan Nit, Sis!” sapa Jingga menyindir, membalas perlakuan Nita dengan pukulan sempurna, membuat Nila dan Siska menelan ludah karena malu, tapi sebenarnya ingin. 


Di desa itu kn tidak ada kafe, tidak ada alfamidi, tidak ada toserba apalagi mall. Tidak dipungkiri terhadap makanan mereka seperti orang kelaparan. Setiap hari makan mie instan cukup membuat bosan. 


“Hmmm! Gue kenyang!” jawab Nita dan Siska gengsi mereka kemudian pergi duluan. Padahal dalam hati mereka bergumam. “Itu makanan apa? Kok seperti menarik, ada berwarna warni, ada yang hijau, hitam, merah dan putih, ada yang digoreng juga!” 


“Kenapa Jingga mudah sekali dapat makanan?” batin mereka lagi.


Nita dan Siska kemudian berangkat ke sekolah. 


Di rumah, Jingga jadi ingat Adip yang mau ke kota. Jinggakan mau ajari anak- anak sikat gigi yang benar. Jingga jadi berfikir apa Adip suruh belikan sikat gigi dn pasta gigi untuk anak- anak sebagai dukungan agar mereka semangat sikat gigi. 


“Yuri, ke rumah Bang Adip dulu ya!” ceplos Jingga membuat Yuri dan Prilly menoleh. 


“Ngapain?” tanya Yuri sementara Prilly yang dimulutnya masih mengunyah makanan jadi tertahan mau ngomong. 

__ADS_1


“Aku janji mau kasih tau dia barang apa yang kuperlukan untuk dibeli di kota, hari ini dia bilang mau ke kota!” jawab Jingga semangat dan berseri- seri. 


Prilly yang berhasil menelan pisang rebus akhirnya ikut berkata. 


“Tadi Bang Adip kesini! Dia emang nanyain kita mau nitip apa? Tanyain kamu juga. Tapi kita buat Bang Adip marah, jadi diaa pergi!” jawab Prilly memberi tahu.


“Wuah? Dia udah kesini?” pekik Jingga kecewa. 


“Iya!” jawab Prilly mengangguk lesu. 


“Buat dia marah gimana?” tanya Yuri. 


“Ehm!” Prilly melirik Jingga tidak nyaman. 


“Cepat katakan kenapa dia marah? Apa dia sudah berangkat? Aku butuh barang penting!” seru Jingga sangat kecewa. 


“Nita dan Siska mengira Adip naksir kamu, dia memperingati Adip kalau kamu udah dijodohkan dengan dokter Rendi seperti kata Tari! Nita dan Siska suruh Bang Adip jangan dekati kamu dan jelekin kamu. Jadi Bang Adip nggak suka!” ucap Prilly mengadu. 


“Haish! Kalian!” pekik Jingga mukanya langsung merah padam dan merasa sangat kesal, kenapa selalu sih teman- temanya nyebeli, Jingga menelan ludahnya ingin marah tapi tak seharusnya marah ke Prilly dan Yuri. Jingga hanya meremass ujung bajunya dan mengeratkan rahangnya.


“Bang Adip baru saja keluar kok! Mungkin masih di rumah!” sambung Prilly lagi. 


Tidak menunggu berpamitan dan persetujuan Yuri, Jingga langsung keluar meninggalkan Yuri dan Prilly, Jingga turun dan berjalan setengah berlari menuju ke rumah Adip. 


"Aku nggak suka Pak Rendi, aku nggak suka Pak Rendi, aku nggak mau menikah denganya!" batin Jingga masih kesal kenapa temanya itu sok tahu.


Entah kenapa ada rasa khawatir dan Jingga tidak suka jika Adip tahu tentang perjodohanya. Padahal Adip sudah tahu lebih dulu dan menaruh curiga saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Jingga duduk berdua di depan asrama bersama Pak Rendi.


Setelah berjalan sedikit lama dengan keringat yang mulai muncul di keningnya, Jingga sampai di gubug kecil tempat Adip menginap.


Di halaman terlihat Yusuf, Adam dan Marcel sudah memakai seragam dekil tanpa sepatu, membawa buku di tangan dan pensil dimasukan ke saku. Mereka tidak punya tas sekolah dan sepatu sekolah. 


“Hai Nona bidadari? Kenapa kau berlarian?” tanya Marcel ke Jingga. 


“Apa Kakak Adip masih di rumah?” tanya Jingga. 


“Kakak Ganteng sudah pergi Nona Bidadari!” jawab Adam. 


“Sudah pergi? Kapan? Apa sudah lama?” tanya Jingga dengan ekspresi sangat kecewa. 


“Baru saja!” jawab Jusuf. 

__ADS_1


“E... sudah beberapa waktu lalu!” sahut Marcel membenarkan. 


"Baru!" jawab Jusuf.


"Lama"


Anak- anak malah berdebat tentang berapa lamanya Adip sudah pergi, tidak menanggapi anak- anak Jingga langsung berlari ke dermaga menyusuri jalan pinggiran sungai itu. 


Jingga tidak peduli lelah, dan keringatnya bercucuran. Jingga berlari dengan deru nafas yang menggebu.


Jingga berlari melewati jalan setapak yang penuh bebatuan dan pinggirnya di kelilingi rumput semaki belukar tinggi. Ada banyak pohon putri malu ataupun ilalang yang daunya tajam.


Jingga tidak takut jatuh atau kakinya tergores duri rerumputan, yang penting Jingga harus segera sampai di dermaga dan berharap Adip belum pergi.


"Please jangan pergi dulu!" lirih Jingga sangat berharap.


“Hohh...!” dengan nafas terengah- engah dan menahan kegetiran Jingga brhenti di dermaga sungai itu. 


Rasanya sakit sekali, melihat sekeliling dermaga sangat sepi. Ada satu perahu terparkir tapi tak ada orang, kalau Jingga bisa nyalakan rasanya Jingga ingin menyusul pergi ke kota dan belanja bersama.


Nyatanya, Jingga tak bisa berbuat apapun, di depan Jingga hanya ada arus sungai yang membentang panjang tanpa orang. Terdengar beberapa kicau burung seakan mereka mengerti kesedihan Jingga dan berusaha menghibur.


Tanpa Jingga mau, air yang terbendung di kelopak matanya tumpah. Jingga juga tidak mengerti kenapa suka sekali matanya mengumpulkan air dan menumpahkanya.


“Kenapa pagi sekali? Kenapa tak menungguku? Berapa lama kamu akan pergi? Hiks! Katanya menunggu apa yang ingin kubeli? Kamu jahat!” gumam Jingga rasanya sesak sekali menyadari ditinggal Adip.


“Dia akaan kembali ke sini kan? Dia akan kesini lagi kan? Kenapa nggak pamitan sih?” batin Jingga lirih masih meneteskan air mata. 


Jingga sendiri tidak tahu kenapa rasanya sesakit itu ditinggal Adip, padahadal kan niatnya menemui Adip hanya mau nitip barang seharusnya tak sesakit itu, tapi  ada rasa takut yang menyusup ke hati Jingga.


Rasanya Jingga seperti mau ditinggal lama oleh kekasihnya, padahal Adip kan bukan kekasihnya. Saat ditinggal Baba pergi juga Jingga tak sesakit ini, kata orang kan Baba adalah cinta pertama Jingga. 


Jingga selalu merasa yakin kalau ditinggal Baba, Baba akan kembali ke rumah menemui Bunanya dan dirinya.


Kalau sekarang terhadap Adip berbeda. Ada rasa takut Jingga tak dapat melihat Adip lagi, ada rasa takut Jingga akan lama tak melihat Adip lagi. Jingga kan ingin terus melihat Adip. Jingga ingin melakukan banyak hal bersama Adip. 


Satu hal yang sangat Jingga ingini juga, Jingga ingin mendengar dari mulut Adip, kalau Adip akan bilang, “Ya, aku tukang ojek dan supir hari itu!". 


“Dia akan kembali kan?” batin Jingga lagi menyeka air matanya masih terus meyakinkan diri kalau mereka akan bertemu lagi. 


Jingga kemudian berbalik lesu dan baru menyadari perih di kakinya. Jingga liat ke bawah ternyata ada banyak goresan di kaki, Jingga terkena semak duri dan rerumputan. 

__ADS_1


“Auh!” pekik Jingga.


Jika tadi berangkat, Jingga berlari kencang dan semangat, kini Jingga berjalan sangat pelan dan hati- hati. Sakitnya pun bertubi- tubi.


__ADS_2