Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
135. Cinta


__ADS_3

"Kalau bukan? Terus apa? Kenapa kau terus menghindar dari aku?" tanya Jingga lagi berani, masih dengan mode bawel, sakit hati dan cemburu. Jingga merasa sakit dan tertolak karena Adip terus menjaga jarak.


"Jingga Pelangi Putri Gunawijaya!" panggil Adip kemudian, nadanya penuh penekanan dan membuat Jingga diam.


Adip kemudian mendekat ke Jingga.


"Apa dia akan menciumku lagi?" guman Jingga dalam hati menelan ludahnya. "Aku mau, ayo lakukan lagi?" batin Jingga bersiap- siap dan memejamkan matanya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu?" ucap Adip tiba- tiba dan duduk di samping Jingga tanpa melakukan apapun. Hal itupun membuat Jingga membuka matanya malu karena berharap dan kecewa.


"Tanya apa?" jawab Jingga lirih dan memalingkan wajahnya.


"Kamu ingin tahu apa aku mencintaimu atau tidak?" tanya Adip serius.


Saat Adip bersikap serius, Adip memang terlihat jauh lebih tampan dan berwibawa, tapi hal itu membuat Jingga mendadak dheg- dhegan dan terdiam.


"Iya...Aku ingin tahu!" jawab Jingga lirih.


"Jingga Pelangi Putri, seorang putri cantik dari Tuan Ardi Gunawijaya dan Nyonya dr. Alya Berlian Sari. Jawab pertanyaanku?


Kamu lahir di Rumah Sakit Tuan Gery, pada tanggal 10 Oktober 20 tahun lalu,


Tinggimu 165 cm, beratmu kurang lebih 57kg, kamu suka buah- buahan tapi tidak pada sayuran. Kamu hanya bisa makan masakan ibumu, adikmu dan juga kokimu sebelumnya. Kamu punya 6 adik, 1 masih dalam kandungan ibumu, dua balita, satu remaja putri dan dua beranjak dewasa. Aku tahu teman- temanmu, saudaramu aku bisa sebutkan itu, Faya, Amora, Joana. Kau baru berkenalan dengan Tari dan Uti.


Kamu punya dua Oma. Oma Rita dan Ibu Mirna Nurmalasai. Kakekmu Dokter Nando dan Tuan Aryo.


Kamu sangat benci hal kotor, keramaian dan juga kucing.


Hobbymu diam di dalam kamar, nonton drama dan membaca buku di pojokan perpustakaan.


Aku tahu kamu menolak perjodohanmu sehingga kamu memutuskan untuk pergi dari rumah dengan cara ke sini. Semua yang aku katakan benar kan?" ucap Adip panjang kali lebar kali tinggi dengan sangat lancar.


Jingga menelan ludahnya, dan menatap Adip tak berkedip. Jingga sungguh tidak percaya Adip tahu tentang dirinya sedetail itu.


"Apa aku salah?" tanya Adip mengulangi, dengan tatapan seriusnya.


Jingga yang masih syok dan tidak menyangka, hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak, darimana kamu tahu semua tentangku?"


"Jangankan hanya karena kamu korban pemerkosaan yang hanya satu kali. Bahkan jika kau sekarang mempunyai anak, dan orang tuamu menyerahkan kamu padaku, aku siap menerimamu apa adanya, Jingga?" lanjut Adip memberi tahu perasaanya.


"Apa kamu tahu bagaimana aku mencoba menghapus bayangmu di setiap malamku? Apa kamu tahu bagaimana aku bersusah payah menyadarkan diri siapa aku dan siapa kamu? Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu Jingga? Apa kamu tidak merasakan itu? Aku di sini untuk kamu?" lanjut Adip lagi..


Kali ini Jingga semakin tidak bisa menjawab, matanya berkaca- kaca, dan nafasnya tersengal sangat terharu. Jingga yang merasa cintanya bertepuk sebelah tangan ternyata terbalas, dan lebih dari yang dia minta.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu?" lanjut Adip.


"Kamu sungguh mau menjadi istriku?" tanya Adip menatap Jingga intens.


"Tentu saja. Aku bukan mau jadi istrimu, tapi aku ingin jadi istrimu," jawab Jingga sambil menyeka air matanya yang berhasil lolos dan menetes.


"Kamu belum tahu apapun tentangku dan masalaluku, menjadi istriku tidak akan mudah Jingga. Apa kamu siap hidup denganku, meninggalkan semua label keluargamu?" lanjut Adip bertanya lagi.


"Memang apa masalalumu? Kita kan hidup sekarang dan yang akan datang, bukan masalalu. Aku mau jadi istrimu! Tidak peduli bagaimana kamu dulu?" jawab Jingga polos masih sambil terisak.

__ADS_1


"Kenapa kamu mau menjadi istriku?" tanya Adip lagi ingin terus memastikan Jingga.


Ditanya seperti itu Jingga gelagapan dan menelan ludahnya berfikir.


Jingga hanya tau, saat berdekatan Adip, Jingga selalu berdebar- debar. Setiap hal yang Adip lakukan membuat Jingga kagum. Saat Jingga berpisah dari Adip Jingga selalu merindu dan ingin terus melihatnya.


Belum Jingga menjawab Adip sudah melanjutkan perkataanya.


"Aku tidak mau kamu menyesal di kemudian hari karena memilihku. Aku tidak punya apapun Jingga, gajiku sebulan dengan harga jepit rambutmu saja masih mahalan jepit rambutmu. Aku tidak bisa membangunkan istana untukmu dan anak- anakmu jika aku menjadi suamimu," ucap Adip lagi.


Adip masih ingin terus berakat tapi Jingga memotong.


"Aku ingin jadi istrimu karena kamu membuatku merasa memiliki segalanya. Kamu tidak perlu memberi apapun atau melakukan apapun. Tetap jadilah dirimu sendiri seperti sekarang. Aku tidak butuh apapun lagi, jika aku bersamamu! Aku merasa dipenjara dengan semua kekayaan Babaku. Aku butuh orang sepertimu, aku sungguh ingin jadi istrimu!" potong Jingga dengan deraian air mata mengungkapkan isi hati Jingga.


"Apa kamu bersedia ikut denganku kemana aku pergi?" tanya Adip kemudian.


"Tentu saja aku mau. Kamu bisa lihatkan? Aku bisa hidup di sini?" jawab Jingga.


Adip menghela nafasnya diam. Lalu Adip menatap ke lentera di depan gubung, nyalanya bergoyang mengikuti arah angin. Adip sungguh bahagia dan lega mendengarnya.


"Perlakukan aku sebagai istrimu sebagai mana mestinya. Katakan apa yang kamu ingin dariku? Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu!" ucap Jingga lagi menatap Adip menunjukan keseriusanya.


Adip kemudian menatap Jingga tersenyum.


"Terima kasih" ucap Adip.


"Kalau kamu memang mencintaiku dan menginginkanku, jangan hindari aku. Ayo kita lakukan itu!" ucap Jingga lagi tanpa canggung tiba- tiba berani mengatakan pikiranya dan bahkan mengajak Adip melakukan hubungan suamj istri yang seharusnya laki- laki yang memintanya.


Jingga berfikir satu- satunya cara agar Baba membatalkan perjodohanya adalah dengan cara itu. Dengan cara Jingga menunjukan pada Babanya Jingga sudah bersuami.


Hubungan suami istri yang Jingga mau pun lebih dari sekedar pengakuan warga pedalaman. Melainkan hubungan pernikahan yang sebenarnya. Ada penyatuan dari suami istri.


"Plethak!"


Adip kemudian menyentil kepala Jingga sehingga, suasana yang tadinya melankolis jadi netral dan Jingga mengaduh kesal.


"Sakit! Kenapa kau suka sekali memukulku? Apa aku tidak menarik? Apa kamu tidak ingin menyentuhku?" tanya Jingga lagi terus berusaha, Jingga tidak kenal malu dan gengsi lagi.


"Aku baru tahu kalau ternyata otakmu sangat messum!" ucap Adip kemudian.


"Ehm.... Kita kan suami istri! Aku tidak melakukan kesalahan kan? Ajakanku wajar kan? Kamu saja yang selalu bersikap aneh," jawab Jingga lagi.


"Daritadi aku berbicara panjang lebar, apa kau masih tidak mengerti? Sungguh aku mencintaimu? Kamu bukan hanya menarik, sangat menarik. Tapi apa cinta harus aku buktikan dengan cara aku melakukan itu?" tanya Adip kemudian merasa jengkel sendiri ke Jingga.


"Tidak juga! Tapi kan kita suami istri!" jawab Jingga sambil cemberut merasa dirinya benar.


"Pantas saja Tama begitu padamu. Jangan- jangan kamu juga yang menginkanya?" ucap Adip mencibir


"Iiih, bukan, tentu saja bukan. Enak aja. Aku sungguh dibius dan dijahati, aku hanya ingin kamu! Sungguh!" jawab Jingga lagi.


Adip kemudian diam menatap Jingga. Adip baru tahu, gadis pujaanya ternyata bucinnya melebihi dirinya.


"Aku percaya!" ucap Adip karena Adip juga melihat sisa obat bius Tama dan melihat barang belanjaan Jingga berjatuhan.


"Aku sungguh tidak tahu apapun dan aku benci Tama!"

__ADS_1


"Oke" Ucap Adip mengangguk, "Dengar aku!" lanjut Adip menatap Jingga serius lagi.


"Ya!"


"Berhentilah bertanya aku mencintaimu atau tidak? Hanya karena aku tidak menyentuhmu. Jika aku mau kamu bisa habis di tanganku, kau siapkan saja dirimu!" tutur Adip dengan tatapan laki- lakinya sehingga membuat Jingga sedikit berdebar.


"Ish....!" desis Jingga. Meskipun Jingga sok- sokan mengajak, tapi sebenarnya Jingga juga takut dan penasaran.


"Aku berjanji pada Amer akan menjagamu. Aku bukan laki- laki yang sejahat itu. Satu lagi, Pernikahan kita belum sepenuhnya sah, karena kamu di atas Amer masih ada Babamu yang lebih berhak atasmu dari pada Amer. Aku tidak ingin membuatmu jadi anak durhaka. Tetap patuhi Babamu, pulanglah bersama, Amer!" tutur Adip memberitahu Jingga alasan Adip menjaga jarak.


Akan tetapi Jingga justru berfikir, langkah Jingga adalah upaya melawan Babanya. Patuh ke Babanya akan membuat Jingga terpenjara lagi.


"Kau tidak tahu Baba. Baba akan menikahkan aku dengan Pak Rendi. Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini! Aku mau bersamamu!" jawab Jingga lagi ngotot.


"Tidak, Jingga! Kau harus pulang. Amer akan bantu kita. Percayalah! Kalau kamu memang percaya aku. Kau juga harus percaya pada hatimu, pernikahanmu dengan Pak Rendi tidak akan terjadi, apapun caranya!" tutur Adip menasehati dengan dewasa.


"Kalau Baba berhasil nikahin aku dengan Pak Rendi gimana? Aku nggak mau pulang! Ayo buat aku hamil anakmu!" ucap Jingga lagi semakin tidak waras, dan tanganya malah bergerak hendak membuka kancing bajunya.


Adip pun menahan tagan Jingga agar tidak memancingnya dan melakukan hal yang bodoh.


"Jangan jadi anak durhaka. Aku tidak akan menyentuhmu sebelum aku bertemu Babamu!" jawab Adip mantap.


"Lah kok gitu? Aku tidak mau Baba marah padamu!" ucap Jingga masih berfikir, Baba Ardi pasti akan tolak Adip dan Adip tak punya kuasa menghadapi Babanya.


"Kalau kamu percaya padaku. Yakinkan hatimu pada Tuhan. Jodoh itu tidak akan tertukar! Tunggu aku!"


"Kenapa terdengar begitu berat?"


"Tidak berat kau hanya perlu percaya dan berjuang. Aku lihat Pak Rendi bukan laki- laki yang jahat. Aku yang akan memintamu padanya agar dia membatalkan perjodohan kalian! Kau kan sudah jadi istriku?" jawab Adip lagi dengan tenang dan penuh keyakinan.


"Kau berani? Apa kamu kenal Pak Rendi?" tanya Jingga tidak menyangka.


"Tentu saja?"


"Benar ya. Kamu harus bisa gagalkan pernikahanku denganya!"


"Tentu saja, aku akan lakukan semua yang terbaik untuk orang yang aku cinta! Kamu masih kuliah kan? Aku tidak mungkin menghancurkan masa depan dan cita- citamu. Jadi berhentilah berfikir me.sum!" jawab Adip kemudian.


Mendengar kata masa depan dan cita- cita Jingga jadi ingat kejadian yang menimpanya lagi.


"Ah...ya aku lupa. Aku diberi pil kontrasepsi darurat. Aku belum minum aku lupa naruhnya?" ucap Jingga panik lalu Jingga bangun dan mencari dua butir kondar dari bidan.


Adip hanya memperhatikanya Jingga yang sibuk mencari obat itu dengan cuek. Tapi semua baju sudah diperiksa tidak kunjung Jingga temukan obat itu.


"Tidak ketemu? Kalau aku hamil anak Tama bagaimana?" ucap Jingga panik.


Adip hanya tersenyum menanggapinya.


"Sudahlah. Belajar menjadi orang yang percaya kehendak Tuhan. Hamil dan tidaknya seseorang itu kuasa Tuhan. Nggak usahlah kamu minum obat begituan. Kalaupun kamu akan hamil anak Tama. Aku tetap menerimamu, kok!" ucap Adip menasehati.


"Benarkah?"


"Tentu. Lupakan kejadian kemarin jangan bahas lagi. Besok aku akan sampaikan ke Amer. Kau pulanglah bersamanya. Tentang Pak Rendi aku yang akan bicara padanya!"


"Terima kasih!"

__ADS_1


"Tidurlah, buang pikiran mesummu. Kau akan menyesal nanti!"


"Hemmm!"


__ADS_2