Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
168. Ketiduran


__ADS_3

Seharusnya dari ibukota Pulau Panorama ke kota kabutapaten menggunakan pesawat kecil, dari kota kabupaten ke desa atau ke kecamatan menggunakan perahu mesin yang kecil antar desa bisa menggunakan perahu alami.


Karena Baba nekat memakai perahu yang agak besar dari ibukota dan malam hari pula, waktu yang Baba gunakan benar- benar satu malam full. 


Baba pun mulai mengeluhkan perjalananya dan kesal. 


“Ini nggak salah arah kan? Perahunya jalan nggak sih?” omel Baba ke Amer, melihat langit mulai cerah.


Untung Amer anak kandungnya dan menuruni sifat Buna jadi Amer selalu sabar pada Baba ganteng dan manjanya nggak ketulungan. 


“Emang kenapa Ba? Baba lihat kan ini perahunya jalan?” jawab Amer.


“Kok nggak sampai- sampai sih? Kita lagi ngukur sungai apa berkunjung ke desa sih? Apa perahunya didiemin pas Baba tidur? Kalian bohongin Baba pasti ya?” tanya Baba lagi sempat- sempatnya mikir dikerjai pas tidur perahunya berhenti. 


“Ya kan memang jauh, Ba. Amer kan sudah bilang, seharusnya kita naik pesawat, Baba sendiri yang milih naik perahu,” jawab Amer menggerutu.


“Ya tapi kan ini sudah 10 jam, Mer! Lama banget?” 


“Ya udah, Biar Baba percaya, mau ulangin, kita ke ibukota lagi? Terus Baba duduk di depan sana sepanjang jalan, nggak usah tidur makanya biar tau, berapa jauh,” jawab Amer lagi kesal.


“Anak durhaka kamu ya? Kamu mau Baba sakit?” jawab Baba nggak mau kalah sama Amer. 


“Lhah kok gitu?” 


“Ya kamu nyuruh Baba begadang di sungai, Baba kan udah tua!” 


“Ya Baba, bilang perahunya nggak dijalanin segala? Baba udah subuhan belum?” tanya Amer mengingatkan mengngat langit sudah mulai cerah. 


“Udalah, udah siang begini!” jawab Baba


"Ya kali, Baba tidur lagi tadi," jawab Amer akrab dengan Babanya.


Baba kemudian duduk di dekat Amer dan menikmati pemandangan sekitar sungai.


Sungai besar itu membelah hutan yang masih sangat alami. Sungainya benar- benar lebar dan juga deras. Meski begitu, airnya tampak sangat bersih dan biru. 


“Kakakmu lewat sungai ini juga?” tanya Baba ke Amer. 


“Iya Ba,” 


“Apa ini satu- satunya lalu lintas di pulau ini?” 


“Ya Ba...,” jawab Amer. 


Baba mengangguk dengan pandangan ke depan sedikit ngeri melihat airnya. Masih sulit Baba terka, putrinya melewati sungai itu.

__ADS_1


Baba kemudian ke depan dan berbincang pada nahkoda kapal yang merupakan penduduk pribumi. 


Baba menanyakan sangat detail mengenai sungai itu yang melintasi dua provinsi, dan puluhan kabupaten tapi jembatanya hanya ada 2.


Baba bertanya berapa perahu yang ada? Kapasitasnya? Lalu jumlah mobilitas warga dalam rata- rata sehari sekaligus keadaan dari sungai itu, termasuk dalam luas sungai dan sebagainya. 


Saat bertanya begitu, Baba terlihat sangat keren, tenang dan dewasa. Jika begitupun Amer menjadi anak manis yang ikut hormat dan segan pada Baba.


Amer jadi ikut pintar membayangkan banyak hal tentang sumber daya alam dn potensi- pontensi yang bisa diambil dari sungai itu. Terkadang pikiran Baba memang sulit ditebak.


“Masih sangat sedikit sekali kalau begitu?” jawab Baba mendengar perahu yang bermuatan lebih dari 10 orang seperti yang Baba naiki sekarang hanya ada 5. 


Padahal sungai utama itu lumayan besar deras dan dalam, itu juga melintasi lebih dari satu provinsi. 


“Iya, Tuan. Ini perahu dari perusahaan luar negeri, Mister Max yang punya perusahaan minyak di provinsi barat sana,” ucap Tukang Nahkoda. 


“Mister Max?” gumam Baba mengenal siapa bos besar dari luar negeri itu. 


Baba diam dan mengeratkan rahangnya. Orang itu adalah saingan Baba dalam berbisnis. 


Baba mengangguk diam dan melihat sekeliling. Mereka ternyata sudah memasuki wilayah kecamatan MR, kecamatan tempatnya desa T, akan tetapi untuk sampai ke desa T, Baba harus berganti dengan perahu kecil. 


“Kenapa harus ganti Mer?” tanya Baba. 


“Perahunya yang seperti apa? Itu?” tanya Baba menunjuk perahu kayu kecil, tanpa atap dan terlihat tempat duduknya kotor. 


“Iya...” jawab Amer. 


“Kamu yakin?” tanya Baba lagi heran. 


“Sangat yakin Ba, kemari Amer juga naik perahu itu. Emang itu alat transportasi di sini Ba.” jawab Amer. 


“Kamu dan kakakmu naik perahu itu juga?” tanya Baba. 


“Iya..., naik apalagi memangnya?,” jawab Amer. 


Baba langsung melongo bahkan matanya tak berkedip, putri kesayanganya yang bak puteri kerajaan kayangan, naik perahu kecil dan kotor itu?


Terlebih, putrinya mengangis menginginkan tetap tinggal di tempat itu, bahkan melawannya dan kabur darinya, demi seorang pria.


Laki- laki seperti apa Adipati itu sampai bisa menyihir putri cantiknya? Apa jangan- jangan dipelet? Begitu pikir Baba, sampai Baba menelan ludahnya. Pikiran Baba mulai kacau lagi.


“Ayo, Ba!” ajak Amer turun.


Baba memang tidak ingin mampir ke kota kecamatan. Baba ingin cepat sampai bertemu Adip sebelum Jingga sampai. Baba ingin menggagalkan Jingga bertemu Adip rupanya.

__ADS_1


Pak Dino berhasil menyewa 4 perahu mengingat mereka jumlahnya lebih dari 10 orang. Rombongan Baba juga cukup menyita perhatian, melihat semua berkulit bersih, bertubuh tinggi tegap dan berpakaian bagus. 


“Oke... ayo!” jawa Baba turun.


Mereka pun berangkat ke desa T.


Begitu memasuki wilayah desa, Baba tak berhenti memanjakan matanya melihat sekeliling. Sungai yang jernih, tebing- tebing pegunungan yang menjulang tinggi, gagah dan cantik, ternyata di luar dugaan Baba.


Belum juga pepohonan yang berbaris acak membentuk tangga nada alam yang tak bisa dinilai angka keindahanya. Diam-diam Baba mengeluarkan ponsel mahalnya, senyum-senyum dan menyalakan kameran mengabadikan keindahan alam itu.


“Woaaah,” gumam Baba sekarang baru mengerti kenapa putrinya jatuh cinta dengan alam di pulau itu. 



“Sebentar lagi sampai Ba,” tutur Amer memberitahu Babanya agar bersiap- siap. 


“Udah mau sampai?” tanya Baba dengan ekspresi berbeda dengan tadi pagi.


“Iya, kenapa Ba?” tanya Amer karena ekspresi Baba seperti kecewa. 


“Kok udah mau sampai sih?” tanya Baba lagi membuat Amer benar- benar dibuat gemas dengan ayahnya sendiri. 


“Lah tadi kan Baba katanya pengen cepat sampai?” jawab Amer. 


“Baba masih ingin lihat pemandangan,” jawab Baba lagi.


“Haiiish...,” desis Amer. 


“Makanya Ba... jangan tidur! Padahal pemandanga semalam lebih bagus Ba, bulan bersinar terang, bulat sempurna!” jawab Amer mengatai Babanya.


“Hemmmm,” Babanya hanya berdehem, entah kenapa, Baba jadi dheg- dhegan mau bertemu dengan laki-laki yang mengalahkanya merebut hati Putri dan istrinya.


“Udah Ba.. siap- siap turun, nanti akan lebih banyak tempat yang lebih indah dari ini!” jawab Amer memberitahu lagi karena Baba mah terlihat melamun.


******


Kakak Malam ini double up.


Episode sesudahnya tinggal nunggu release kok.


Oh iya, pengumuman give away buku cetak, ada di IG (@ririnrohmanningsih) dan story wa ku.


Yg belum kebagian, jangan sedih. Kalau aku gajian ada give away pulsa lagi.


Pokoknya dukung terus Aku yaaa.. vote, like, koment, hadiah n Fav

__ADS_1


__ADS_2