
Sepanjang jalan di kapal, Jingga terus cemberut dan merasa dipermainkan sekaligus diabaikan. Bukan tidak suka Baba dan Adip jadi akrab, tapi Jingga benar-benar dibuat menjadi anak yang tidak tahu apa- apa.
Setiap pertanyaan yang Jingga lontarkan dianggap sebuah lelucon yang menggemaskan. Siapa yang tidak marah diperlakukan seperti itu.
Jingga bertanya pernikahanya sah atau tidak, dijawab sah, tapi Jingga dilarang dekat- dekat dengan Adip. Kan membingungkan, kalau sah harusnya kan bebas, tidur sekamar, boleh peluk- peluk. Katanya Sah tapi Baba selalu mengawasi, kan bete.
Jingga jauh-jauh menyeberangi lautan bertaruh nyawa sampai teler dan kepalanya seperti di ubek-ubek ingin mendapatkan kepastian, tapi zonk. begitu pikirnya.
Kalau tau Baba dan Adip akan pulang kan Jingga tidak harus melakukan itu semua. Tapi tanpa itu semua, Baba juga nggak akan dekat Adip sih. Yah begitulah.
Entah, Adip jadi nyambung dengan Baba dalam waktu dekat. Jingga nguping sedikit, beberapa kali Adip bercerita tentang makanan di daerah situ. Lalu jenis-jenis ikan yang Adip temui di pulau Panoramatapi tidak di Ibukota. Adip juga menyinggung tentang pelayanan kesehatan, ketersediaan fasilitas dkk.
Intinya obrolan baba dan Adip seputar bisnis, pembangunan dan masa depan. Terlihat sangat asik tidak ada habisnya, Baba seperti langsung klop dengan Adip.
"Ishhh...," desis Jingga kesal. Jingga benar- benar dicueki. Seperti tidak dianggap keberadaanya.
Mereka pun sampai di desa Teras tempat Baba, ataupun Jingga dan Adip pertama mendarat. Betapa kaget Adip ternyata Baba bawa rombongan pengawal.
"Sekaya apa mertuaku ini? Presiden saja paspampresnya tak sebanyak ini kelihatanya?" gumam Adip belum tahu betul mertuanya.
Adip kan memang bukan cowok matre, Adip hanya tahu Gunawijaya itu nama pengusaha. Yang terkenal justru yayasan yatim piatu gagasan Oma Rita yang menginspirasi. Adip tidak terlalu kepo dengan harta Gunawijaya yang lain.
Adip mempersilahkan Baba istirahat di rumah sedernanya sementara dia pergi ke warung.
"Bang Adiiip!" panggil Nita dan yang lain.
Saat Adip hendak membeli gula untuk menjamu tamu- tamunya, langkah Adip terhenti melihat segerombolan gadis membawa tas ransel besar.
"Hai.. apa kabar?" jawab Adip ramah selayaknya menjawab sapaan teman- temanya. "Kok udah pada bawa tas aja?"
"Kita udah mau pulang, Bang!" tutur Yuri menunjukan tas punggungnya.
"Oh iya yah? Kalian udah satu bulan ya di sini ya?"
"Iyah... hiks hiks...," Yuri pun tak sanggup membendung kesedihanya.Merasa waktu cepat berlalu.
"Iya Bang. Kita harus pulang. Padahal PR masih banyak," turur Nita.
"Nggak apa- apa. Ambil pengalaman baiknya. Kalian kan masih bisa ke sini lagi. Welcome back to kampus. Lanjutkan pendidikan kalian!"
"Ya Bang. Pokoknya pengalaman di sini berarti banget buat kita!"
"Siiip!" ucap Adip mengacungkan jempol " Oh yam Jingga ada di sini!" tutur Adip memberi tahu.
"Hoh...," teman-temanya pun memekik kaget.
"Dia ada di rumahku dan orang tuanya. Kalian bisa menemuinya, dia pasti senang!" tutur Adip memberitahu. Barangkali mereka ingin menyapa. Meski sebentar mereka kan teman suka duka Jingga.
"Ya Bang. Kami kangen Jingga!" seru Yuri bersemangat menemui Jingga.
Sepulang dari ruang Inspirasi mereka akan kembali ke kampus masing-masing yang semua berjauhan.
Semua pun mampir ke rumah Adip di tepi sungai, sementara Adip melanjutkan perjalanan membeli gula kopi dan camilan.
Jingga sangat senang bisa bertemu dengan teman- temanya. Nita dan Siska yang dulu jahat juga jadi baik. Dari pengawal Baba yang tertinggal di desa teras karena perahu tidak muat, anak- anak jadi tahu kalau keluarga Jingga sangat kaya.
Bahkan Siska jadi kenalan dan bertukar nomor hape dengan salah satu bodyguard Baba yang masih perjaka.
Mereka pun melepas rindu dan saling berpelukan.
"Sory ya... gue nggak bisa lanjutin pekerjaan dan program kita," tutur Jingga meminta maaf Jingga tak menyelesaikan programnya.
"Nggak apa- apa kita ngerti. Oh ya. Anak-anak merindukanmu?" tutur Siska.
"Nanti aku temui mereka," jawab Jingga.
"Oh ya. Sekarang di sumur ada katrolnya lho. Semoga sih nanti listrik bisa masuk sini jadi ada pompa air," tutur Nita bahagia bercerita.
Mereka ingat awal sampai mengerjai Jingga harus menimba air manual tanpa katrol atau apapun.
"Oh ya. Alhamdulillah. Aamiin semoga segera di sini ada listrik," jawab Jingga.
__ADS_1
"Selamat yah!" bisik Nita ke Jingga.
Nita bahagia kalau Adip dan Jingga, Aji tetap untuk Nita.
"Selamat apa?" tanya Jingga polos.
"Sepertinya pernikahan kalian bukan pernikanan abal- abal dan akan berlanjut ke pelaminan yang sesungguhnya. nggak nyangka ternyata kalian ya!" bisik Nita.
Mereka jadintahu dengan kedatangan orang tua Jingfa m3nj3mput Adip.
Jingga pun tersenyum dan tersipu-sipu mendengar ucapan itu.
"Kalau adain resepsi undang kita yah!" tutur Yuri.
"Iyah. Makasih ya! Oh ya.. aku sekarang punya hape baru. Catat nomerku. Masukin grup lagi yaa!"
"Oke!"
Jingga pun tampak bahagia dan akrab dengab teman-temanya itu. Baba memperhatikan dari gubuk rumah Adip.
Baba ikut bangga melihat circle baru Jingga. Dari circle Jingga yang sejak kecil dari orang-orang tertentu, kini berteman dan akrab dengan anak- anak yang terlihat energik tomboy tapi auranya cerah.
"Aku salah menilai anakku. Aku ternyata sudah banyak membatasinya," gumam Baba dalam hati.
Di saat yang bersamaan, Adip datang membawa sekantong bahan makanan. Teman- teman Jingga yang tadinya duduk melingkar semua bangun.
"Bang foto yuk. Buat kenang- kenangan!" sergah Siska langsung menodong Adip meminta foto sampai mengacuhkan Jingga.
Jingga langsung cemberut dibuatnys. Yang serumah dengan mereka kan Jingga. Jingga daritadi nggak diajak foto.
"Oke... ayuk!" jawab Adip meletakan kreseknya.
Mereka berempat kompak foto, dengan Adip. Baik yang kelompok atau gantian sendiri- sendiri.
Sebenarnya mereka juga tahu Jingga itu yang ada di hati Adip, tapi sebagai junior tetap saja kebanggaan foto dengan senior. Apalagi mereka tahu ruang Inspirasi dulu gagasan Adip. Meski sudah pensiun.
"Ishhh...," desis Jingga cemburu tapi tidak berani protes. Rasanya sangat tidak rela melihat Adip senyum-senyum di kamera bersama teman-temanya. Jingga mau Adip hanya tersenyum untuk Jingga.
"Eh Jingga kenapa duduk? Ayo sini ikut foto!" panggil Yuri si paling pengertian, melihat Jingga diam menunduk.
Tidak ada yang paham kalau Jingga sangat cemburu dan sedang menahan urat marah di dadanya biar nggak jebol.
Adip mendengar perkataan Yuri ikut menoleh dan menangkap muka gelap istrinya itu. Adip pun hanya tersenyum, ada rasa yang nggak bisa dijelaskan dan baru Adip rasakan. Dicemburui ternyata seindah itu.
Adip berjalan dan meraih tanga Jingga di depan teman-temanya.
"Ayok foto. Teman- temanmu mau pulang!" bisik Adip menarik Jingga.
Jingga, terpaksa memberikan senyum dan ikut berfoto. Ada rasa bangga juga, di depan teman-temanya Adip memperlakukan Jingga istinewa. Bahkan Adip memposisikan Jingga selalu di sisinya saat berfoto.
Jingga kini bisa tersenyum.
"Ya udah kita pamit ya!" tutur Nita, setelah puas berfoto.
Jingga dan teman-temanya pun saling berpelukan, maaf-maafan dan memberikan salam perpisahan. Teman-teman Jingga akan pulang dengan pesawat dari pemerintah. Setelah berkumpul dengan semua peserta dari daerah lain.
"Pamit. Om!" sapa anak- anak ke Baba.
"Ya. Hati- hati. Semangat dan sukses terus ya!" tutur Baba dingin.
Semua menganggukan bahu tanda hormat dan pamit.
Adip dan Jingga beserta pengawal gebetan Siska mengantar sampai mereka sampai dermaga. Jingga dan Adip jadi curiga.
"Mas Ben... kenal dengan Siska?" tanya Jingga.
"Ehm..., Iya Nona." Pengawal yang bernama Bento hanya tersipu.
Adip pun menyenggol Jingga, memberi kode.
"Lancar- lancar pedekate nya Bang. Nggak usah malu. Kita dukung! Siska anak baik kok. Cantik juga, hehe!" tutur Adip berniat menyemangati Bento.
__ADS_1
Sayangnya ucapan Adip justru disalah artikan Jingga. Setelah memberi hidangan makanan untuk Baba dan yang lain sebelum berangkat cuti dan pulang ke Ibukota Adip berpamitan mengajak Jingga berpamitan. Jingga juga ingin pamit baik-baik.
Sayangnya sepanjang jalan mereka berpamitan pada anak- anak asuh Jingga, menemui warga dan juga bidan desa yang usai cuti, Jingga jadi diam dan menjauhi Adip. Jingga selalu bermuram durja pada Adip, tak mau menatap Adip dan selalu mengacuhkan.
"Ehm...," dehem Adip saat mereka ada di jalan berdua.
Jingga berjalan sangat cepat di depan.
"Cepet banget jalanya! Ati- ati lho nanti jatuh!"
"Bodo!" gumam Jingga mencibir.
Adip kemudian mengejar dan mensejajari Jingga.
"Kamu kenapa sih? Diam begitu? Cemberut terus!" tanya Adip sekarang merasa diacuhkan.
"Tauk!" jawab Jingga jutek.
"Jutek banget!"
"Biarin!" jawab Jingga masih cemberut.
"Salah apa sih aku? Dijutekin gitu?" tanya Adip lagi.
"Pikir aja sendiri!" jawab Jingga lagi.
"Astaghfirulloh, sama suami itu nggak boleh jutek- jutek begitu!" tutut Adip kini berusaha memegang tangan Jingga.
"Suami apaan. Lepas!" jawab Jingga berkebalikan dari saat di desa semilir. Jingga yang tadi agresif kini sangat jual mahal.
"Eh aku salah apa sih? Kamu marah? Maaf kalau salah." tanya Adip lagi.
Tapi Jingga tetap berjalan cepat membawa emosi, sampai akhirnya apa yang dikhawatirkan Adip terjadi.
"Aaakh," pekik Jingga jadi terkilir ke got.
"Tuh kan?" ucap Adip menolong Jingga berusaha bangun.
Bukanya senang di tolong, Jingga malah tersinggung dan menghempaskan tangan Adip..
"Aku bisa sendiri. Sanah! Jangan dekat-dekat aku! Sama Siska aja yang baik dan cantik!" celetuk Jingga keceplosan.
Jingga tidak suka Adip memuji perempuan lain.
Jingta berusaha bangun dan berjalan tertatih meski kakinya linu. Pokoknya rasa marah dancemburu mengalahkan semua sakit yang lain.
"Woh!" Adip justru terhenti dan tersenyum. Adip menatap Jingga dan menggelengkan kepalanya.
Ternyata Jingga cemburu.
Adip kemudian berjalan cepat dan berjongkok di depan Jingga. Lalu menepuh bahunya.
Sayangnya Jingga masih cemberut.
"Puk puk. Ayo naik!" ucap Adip menepuk bahunya meminta Jingga mau digendong.
"Aku bisa jalan sendiri!" jawab Jingga masih ngambek.
"Pasti sakit kan? Sini Aku lihat!" tutur Adip menawarkan diri menolong Jingga.
"Nggak perlu!" jawab Jingga belum mempan dirayu.
"Jangan marah gitu dong. Masa sama Siska cemburu. Mereka kan juga tahu kita udah menikah!"
"Bodo!" jawab Jingga memaksa kakinya berjalan cepat.
"Haissshh," desis Adip garuk- garuk kepala.
Adip kan baru juga punya hubungan cinta dengan perempuan jadi tak berpengalaman merayu gadis yang sedang cemburu.
"Bisa gawat kalau cemburunya awet nih?"gumam Adip berpikir keras cari cara merayu Jingga.
__ADS_1