
Begitu merasa aman, Jingga langsung naik ke kamarnya, membersihkan diri dan bersiap- siap. Setelah Jingga cantik dengan penampilanya Jingga langsung turun ke meja makan, tetapi heranya, meja makan masih sepi.
“Buna sama Baba belum turun Mbok?” tanya Jingga ke Mbok Siti.
“Belum, Non!”
“Tumben?” tanya Jingga.
“Subuh tadi Nyonya dan Tuan udah bangun Non. Nyonya muntah- mutah terus, Tuan besar dari pagi udah sibuk buatin minum hangat, mungkin karena itu Tuan dan Nyonya jadi masih istirahat,” jawab Mbok Siti menjelaskan.
"Hhhh... begitu?" jawab Jingga menghela Nafas. Bunanya ternyata sedang sakit.
“Hijau sama Biru gimana Mbok?” tanya Jingga lagi ingat adik-adiknya.
“Mereka juga ke kamar Tuan dan Nyonya, tadi bangun sama Mbak Ida langsung minta diantar ke kamar Nyonya. Katanya mau lihat Buna”
“Oh gitu, berarti mereka belum mandi dan belum keluar kamar?"
"Belum Non. Kan tau sendiri den Hijau dan dem Biru maunya sama Tuan dan Nyonya"
"Hmm yaya, ya udah kalau gitu Jingga susul mereka dulu ya Mbok!” jawab Jingga.
Jingga tidak mau sarapan sendiri tanpa Baba, Buna dan adik-adiknya. Kebiasaan keluarga itu kalau makan harus berkumpul lengkap semua anggota keluarga. Apalagi kalau adik-adik Jingga pulang, diabsen sama Babanya.
Jingga berjalan ke lantai atas ke kamar orang tuanya. Diketuknya pelan kamar itu, tapi tidak kunjung dibuka.
Jika hanya ada Buna dan Baba, Jingga tidak berani mengganggu, karena tau hijau dan biru di kamar itu berarti Jingga tidak melanggar privasi orang tuanya, Jingga kemudian membuka pintu kamar orang tua mereka yang ternyata tidak kunci.
Terlihat kedua adik kembarnya memeluk Buna mereka, dan Baba mereka ada di sampingnya. Jingga bisa melihat, dari dengkuran halus Buna, kalau Buna dan Baba sangat kelelahan melalui harinya.
Jingga melihat jamnya sudah jam 07.30 lewat, mau dibangunkan tapi Jingga kasian, tidak dibangunkan, Jingga tau Hijau dan Biru harus sekolah Paud, babanya juga harus kerja.
Selain Jingga tidak ada yang berani membangunkan. Art mereka masuk saja takut, hanya Jingga yang berani masuk ke kamarnya, itu karena Jingga anaknya.
Jingga berjalan maju dan duduk di ranjang di samping kaki Bunanya di bawah Biru. Hati- hati sekali Jingga sentuh kaki Bunanya.
“Buun!” panggil Jingga lembut.
“Buna... bangun udah siang!” panggil Jingga lagi, tapi justru yang bangun Babanya.
“Jingga!” panggil Babanya melihat putri cantinya ada di dekatnya.
Baba kemudian membuka mata dan merentangkan tanganya, lalu bangun dan mengucek matanya.
“Morning, Ba...” sapa Jingga.
__ADS_1
“Morning, Sayang!” jawab Babanya sambil bangun mengecup kepala putrinya, Jingga pun menerimanya. Kalau di saat seperti itu, anak dan ayah itu tampak hangat dan harmonis.
“Buna baru bisa tidur setelah subuh, biarkan Bunamu istirahat! Jangan dibangunkan!” tutur Baba Jingga pelan.
“Ya, Ba! Adik- adik gimana?” tanya Jingga,
“Asal tidak merepotkan biar temenin Buna!"
"Tapi mereka harus sekolah Ba!"
"Sekolah Paud ini! Nanti Bana undang guru home schooling aja. Lagian mereka masih balita?" jawan Baba lagi.
"Sarapan Buna Ba?"
"Biar diantar ke atas. Bunamu belum bisa masuk makanan banyak. Yang penting Buna istirahat dulu!"
"Ya Ba!"
"Baba mau mandi tunggu baba di bawah ya!” tutur Baba Jingga menuju ke kamar mandi.
"Ya Ba!"
Jingga mengangguk patuh pada perkataan ayahnya. Jingga turun ke meja makan menunggu Babanya mandi, sambil menunggu babanya turun, mengusir rasa bosan Jingga kembali bermain ponsel.
Jingga tersenyum sendiri lagi. Rupanya, nanti siang selepas kuliah Tama hendak mengajaknya kencan. Jingga sangat bahagia, kalau jadi ini akan jadi kencan pertamanya.
“Aman Kak, Jingga kuliah jam 1- jam 4,” jawab Jingga.
“Oke, mau di perpustakaan atau di kantin?” tanya Tama memberikan pilihan.
“Di perpustakaan aja kali ya?” jawab Jingga.
“Siip, see you nanti sore Jingga,” jawab Tama mengakhiri pesan dengan emot cium.
"See you Kak!" jawab Jingga.
Jingga langsung tersipu dan pipinya merah.
“Ehm... chattingan sama siapa? Senyum – senyum gitu?” tanya Baba Jingga tau- tau udah duduk di bangku depan Jingga.
Jingga langsung gelagapan dan menyembunyikan ponselnya, tapi sebenarnya Baba Ardi tau kalau Jingga sedang chattingan dengan laki-laki, bahkan Babanya tau dengan siapa.
“He... sama temen Ba!” jawab Jingga.
“Teman siapa?”
__ADS_1
“Temen kuliah, Ba..Faya, Amora,” jawab Jingga berbohong.
“Hhh, Bohong itu tidak terampuni Nak!" ucap Baba Jingga dingin.
Glek.
Jingga terdiam. Iya Jingga memang bohong, apa sedetail itu Baba mengawasinya. Ah rasanga Jingga harus ganti nomer ponsen dan ganti hp agar tidak disadap, begitu fikirnya.
"Simpan ponselmu, baba nggak suka kalau lagi maka pegang ponsel!” tutur Baba Ardi bertitah lagi.
“Ya, Ba!” jawab Jingga patuh.
“Makanya jangan banyak- banyak, setelah ini ikut Baba!”
“Iya Ba!” jawab Jingga lagi.
Mereka sarapan dengan cepat tanpa berpamitan pada Bunanya, dan tanpa Jingga tau kemana Babanya mengajaknya pergi, Jingga ikut saja.
Jingga duduk di samping Babanya naik mobil mewah, dengan sopir Pak Arlan. Jingga duduk tenang tanpa banyak berfikir, sepanjang perjalanan ayah dan anak itu juga tidak mengobrol.
Baba sibuk dengan email- email dari bawahanya. Jingga memilih menikmati pemandangan jalan ibu kota. Sebenarnya Jingga juga penasaran mau kemana, tapi Jingga enggan bertanya, toh tau atau tidak tahu tujuanya, yang pasti Jingga harus nurut sama Babanya.
Setelah sepersekian menit mereka sampai di sebuah restoran mewah yang terletak di salah satu gedung berlantai 9. Baba Jingga sudah reservasi private room. Mereka pun berjalan menuju ke ruang itu.
“Kok kesini Ba? Kita mau ngapain Ba?” tanya Jingga akhirnya.
“Baba mau kenalin kamu dengan seseorang!” jawab Baba Jingga dingin.
“Kenalin Jingga? Dengan seseorang?” tanya Jingga dengan mata melotot.
Baba Jingga mengangguk tenang. Jingga langsung menelan ludahnya.
“Baba mau jodohin Jingga?” tanya Jingga mulai ketus ke Babanya.
“Kenalan dulu, nggak ada salahnya kan kenal dulu!”
“Ba...!”
“Jangan kecewakan Baba, rapihkan rambutmu, ayo masuk!” jawab Baba Jingga tidak mengenal penolakan.
Jingga langsung memanyunkan bibir dan mengepalkan tanganya, kalau saja di dunia ini tidak ada hukum tentang durhaka pada orang tua, mungkin Jingga akan berteriak dan ngomel ke Babanya, tapi Jingga cukup waras, meski terpaksa Jingga diam dan mengikuti Babanya.
Mereka kemudian berjalan ke arah meja yang sudah dipesan Baba Ardi. Persis seperti kriteria Baba Ardi, laki- laki yang hendak dikenalkan Baba Ardi sangat disiplin. Dia sudah duduk dengan tenang di meja yang dipesan Baba Ardi.
“Selamat Pagi, Tuan Ardi, selamat Pagi, Nona Jingga!” sapa pria itu berdiri dengan santun mempersilahkan Baba Ardi dan Jingga turun.
__ADS_1
“Hoh!” Jingga terbengong dengan mata melotot menyadari siapa orang yang menjadi pilihan Babanya.
Jingga langsung tercekat mulutnya, kekesalan Jingga pada Babanya semakin memuncak, rasanya Jingga ingin lari dan pergi dari situ. Jangankan berjodoh, membayangkan hidup satu hari dengan laki-laki di depan Jingga ini membuat Jingga mati kutu.