
“Meski hanya satu bulan, kehidupan di sana tidak mudah, mungkin kamu juga bisa lebih lama di sana. Kalau kamu berubah pikiran ikutlah pulang bersamaku besok!”
Sebagai orang dewasa dan laki- laki matang yang serius ingin menikahi Jingga, Pak Rendi kembali pedekate. Pak Rendi mendekati Jingga berusaha berbicara baik –baik dari hati ke hati.
Di bawah langit malam yang penuh bintang dengan angin semilir dari persawahan dan pesisir. Karena pulau S memang di kelilingi pantai yang indah. Mereka berdua kini duduk di bangku depan asrama. Pak Rendi duduk sebagai lelaki dewasa dengan sikap perhatianya ingin memberi yang terbaik untuk Jingga.
Jingga menunduk diam. Dalam hati Jingga sebenarnya juga ragu setelah materi terakhir pembekalan tadi. Meski di surat kontrak masa bakti mereka 1 bulan, tapi akses ke masing- masing daerah susah, mereka bisa molor lebih lama. Selain itu kemungkinan mereka akan banyak hidup bersahabat dengan binatang liar dan berbahaya.
Tapi kan niat Jingga adalah mengulur waktu menikah dengan Pak Rendi dan apa ini? Malah Pak Rendi yang mengajaknya pulang. Kalau Jingga pulang bersama Pak Rendi sampai rumah bisa langsung dinikahkan.
“Saya mantap akan berangkat Pak!” jawab Jingga.
“Oke! Kalau itu keputusanmu, aku hanya berharap kamu baik- baik saja selama di sana dan ini keputusan yang tepat buat kamu!” jawab Pak Rendi.
Jingga menelan ludahnya gemetar. Awalnya Jingga kan hanya emosi ikut acara ini. Besok sore Jingga akan benar- benar berangkat. Bagaimana ini?
“Kalau boleh tau, apa motivasimu untuk ikut acara ini?” tanya Pak Rendi dewasa.
Dheg
__ADS_1
Jingga gelagapan, jika sedang begini, Pak Rendi tak ada kurangnya. Pak Rendi juga sangat baik, Jingga jadi tidak tega kalau harus mengucapkan dengan sadar dirinya ingin jauh dari Babanya. Jingga ingin pergi dari perjodohanya. Jingga marah dan protes ke Babanya.
Jingga jadi menunduk dan tidak menjawab.
“Kenapa tidak menjawab? Aku harap, kamu pergi dengan niat yang tulus sesuai niat apa yang kamu sampaikan ke Oma!” ucap Pak Rendi lagi, masih dengan nada yang sangat tenang.
Jingga pun merasa tersentil, karena kenyataanya Jingga tidak ada niatan seperti itu. Jingga berbohong pada Oma dan Bunanya agar diijinkan.
“Sebab, jika kamu mempunyai niat lain, itu tidak baik untukmu di sana nanti! Oma dan Buna mengijinkanmu dengan hati yang tulus, berharap sungguh- sungguh putri kesayanganya akan berubah menjadi dewasa. Tapi kalau kamu berbohong, itu akan menyulitkanmu!” lanjut Pak Rendi menasehati.
Jingga menelan ludahnya gemetaran. Seakan perkataan Pak Rendi seperti perkaataan ancaman dan hukuman.
Jingga yang dari tadi terpojokan dan diam langsung mengangkat wajahnya dan menjawab.
“Kalau begitu ayo kita buktikan itu! Takdir akan berpihak pada siapa? Yang pasti aku tidak mau menikah dengan bapak!” jawab Jingga dengan teganya masih terus menolak Pak Rendi.
“Oke! Kita akan lihat, tapi jika takdir berpihak padaku, dan pernikahan kita tetap berlangsung apa kamu bersedia mencoba mencintaiku?” jawab Pak Rendi tak gentar dan sakit hati berjuang untuk Jingga
“Oke!”
__ADS_1
“Deal? Kamu berjanji?”
“Ya!” jawab Jingga.
“Baiklah, waktu keberangkatan masih besok sore, renungkan benar- benar perkataanku, jika kamu berubah pikiran. Aku sudah belikan tiket untukmu ke Ibukota!” ucap Pak Rendi berpamitan.
“Aku tidak akan berubah pikiran!” jawab Jingga.
“Baiklah!” jawab Rendi.
Lalu mereka berdua bangun hendak kembali ke kamar masing- masing.
“Terima kasih!” celetuk Pak Rendi menghentikan langkah Jingga.
“Untuk?”
“Memakai baju yang kubelikan!” jawab Pak Rendi tersenyum.
Jingga diam dengan ekspresi kaku. Harusnya Kan Jingga yang berterima kasih. Lalu Jingga kembali berjalan ke kamarnya tidak menjawab.
__ADS_1
Dari balkon lantai dua asrama putra. Dua orang dari kamar yang berbeda juga memperhatikan Pak Rendi dan Jingga.