
Jingga yang ingin mempersembahkan yang terbaik sebelum suaminya pergi jadi malu katahuan Bunanya. Jingga kan ingin semua orang makan dulu, agar berekspresi jujur saat makan. Baru Jingga kasih tahu setelah selesai..
"Kalian sedang apa? Tumben pagi- pagi udah di dapur. Nggak siap- siap?" tanya Buna.
Belum tahu anaknua masak padahal Jingga jelas- jelas pakai apron
"Kita sedang....," jawab Adip terpotong mulutnya langsung dibekap Jingga.
"Iya Bun. Bentar lagi kita siap- siap!" jawab Jingga.
Buna sedikit menatap aneh. Tapi masih tidak begitu memperhatikan. Mungkin karena Buna bangun tidur atau habis ngapain nggak tahu.
"Kejutan apa sih? Adip dicari Baba tuh di depan!" jawab Buna sambil berjalan cuek mengambil gelas dan obat yang ada di lemari es.
"Oh ya Bun!" jawab Jingga melepaskan tangan dari mulut Adip.
Buna berfikir anak dan menantunya sedang bermesraan seperti dulu Buna awal menikah. Apalagi Jingga yang di dalam rumah masih membiarkan rambut basahnya terurai, jadi Buna berlalu begitu saja.
****
"Sana temui Baba!" bisik Jingga.
"Yakin mau goreng ayam dan numis tanpa Bang Adip?"
"Yakin. Jingga bisa kok!" jawab Jingga.
Adip kemudian mengangguk dan menemui mertuanya.
Jingga melanjutkan masak. Tidak berselang lama Jingga seleeai masak. Baru Jingga minta tolong ke ARTnya membantu menata di meja makan.
Oma juga sudah mandi dan siap sarapan di antar Nila. Baba dan Adip juga tampak ngobrol serius. Rupanya Baba sama sekali tak keberatan Adip berangkat tak seperti Buna dan Oma.
Buna dan yang lain hanya melirik sekilas tak ingin ikut campur urusan laki- laki. Buna hanya dengar penuturan Baba. Baba ingin antar Adip ke Pulau Panorama lagi. Kali ini membawa rekananya.
Baba menunjukan banyak foto di sana dan Buna juga antusias ingin main. Sayangnya Buna sedang hamil trimester dua dan sudah berumur. Buna terima diceritain aja.
"Baa... Diip. Sarapan dulu!" tutur Buna meminta.
Baba dan Adip pun menoleh dan mengangguk.
Mereka kemudian berjalan bersama ke meja makan.
__ADS_1
Seperti sebelumnya, Buna mengambilkan makana untuk Baba dan Oma. Nila bantu Iya dan Iyu dibantu maid. Jingga dan Adip mandiri. Tapi karena lagi sweet Jingga ambilkan makan Adip.
Oma tetap pada menu sop karena memang mengurangi minyak. Sementara Baba dan Buna tumis dan ayam pedas buatan Jingga
"Kok ada yang beda?" celetuk Buna.
"Uhuk... uhuk...," Jingga langsung tersentak.
"Beda gimana Bun?" tanya Jingga menyela. Belum Buna menjawab Baba berkata lagi.
"Aduh... apa sih ini?" gerutu Baba mengambil makanan dari mulutnya.
"Apa Ba?" tanya Buna.
Baba mengambil makanan dari mulutnya dengan wajah menyeringai.
"Tumbenan Bibi Laos nya nggak diambil dulu sih. Ahh emang ada maid baru. Harusnya kan tahu Baba paling tidak suka ada begini di makanan!" omel Baba.
Jingga semakin menciut mentalnya. Jingga menunduk. Harapan dengan ceria bilang..."Yeeei ini masakan Jingga," harus Jingga kubur dalam- dalam. Biar saja bibi baru yang jadi kambing hitam padahal tidak ada bibi baru.
Sementara Adip menunduk menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Tapi mau bagaimanapun juga Jingga istri kesayanganya. Adip mau Jingga bahagia.
"Bumbunya juga ini agak beda dari biasanya? Buna kan udah bilang jangan kasih cabe dulu," ucap Buna lagi.
Jingga pun tersenyum ceria.
"Iya... ini sopnya juga lebih enak dari biasanya. Nggak begitu asin. Oma suka! Emang ada pegawai baru?" tanya Oma.
Jingga semakin berbunga hatinya. Kalau ini Mah berhasil rencananya. Tapi mau Jingga tahan.
"Buna tidak lihat ada pegawai baru!" jawab Buna.
"Ya sudah makan dulu aja!" jawab Oma..
Buna dan baba kemudian mengambil sopnya.
"Oma gimana sih. Sop hambar begini?" celetuk Baba menjatuhkan mental Jingga lagi.
Oma kan sudah tua jadi tak begitu suka asin. Baba memang cenderung ingin yang ada rasa kuat.
"Ya kamu makan kok protes terus!" omel Oma.
__ADS_1
"Panggil pegawai baru!" omel Baba badmood.
"Jangan!" pekik Jingga melarang
"Ck... apa sih kamu!" omel.Baba.
"Nggak ada pegawai baru Ba!" sahut Jingga.
Baba dan Buna kemudian terdiam dan semua menatap Jingga. Adip serba salah mau melindungi Jingga tapi Adip juga mau biar ortunya tahu usaha Jingga. Jadi Adip memilih diam.
"Jangan bilang ini Kakak yang masak?" tanya Buna menebak.
Jingga menunduk.
"Iya Kak? Kakak masak?" tanya Nila semangat.
"Iyaah," jawab Jingga.
"Waaah...," seketika wajah muram Baba langsung mencair begitu juga Oma
"Sejak kapan kamu masak Sayang? Oma suka kok masakan kamu!" tutur Oma.
"Ehm... Baba juga suka. Tapi lain kali bumbunya dihaluskan kalu yang geprek jangan disajikan!" imbuh Baba juga senang Jingga mulai masak.
"Ah Baba... bohong. Baba marah- marah juga!"
"Nggak ini enak kok. Nanti masak lagi yah!" ucap Baba.
"Terimak kasih ya Nak Adip. Buna tahu ini pasti kamu yang ajarin kan? Atau jangan- jangan Adip yang masak?" cletuk Buna masih ragu denhan anaknua sendiri.
"Nggak kok. Bukan Bang Adip Bun. Ini beneran Jingga yang masak! Iya kan Bang?" jawab Jingga tidak terima.
"Iya!"
"Ya tetep aja. Buna makasih ke kamu Dip. Selama ini Jingga paling anti ke dapur! Ini amazing!" jawab Buna.
"Ih Bunaa..., kan Jingga sekarng udah jadi istri!" jawab jingga.
"Yaya!"
"Udah makan. jangan ngobrol!" lerai Baba langsunh makan dengan lahap.
__ADS_1
Karwna tahu si Jingga masak tak ada yang berani nyela lagi.
Selesai sarapan Baba pun menyampaikan niatnya untuk ikut Adip. Tapi Baba hari ini harus ke kantor dulu. Adip pun mengajak Jingga ke suatu tempat sebelum berangkat.