
"Udah makanya? Segini aja?" tanya Tama dengan tatapan mautnya ke Jingga. Jingga hanya memilih membeli roti gandum kemasan isi coklat dan air mineral.
"Iya Kak!" jawab Jingga mengangguk.
Jingga kan makan pilih-pilih, kalau menurut dia nggak sreg ya nggak makan. Apalagi kalau tempat dan cara penyajianya nggak hygienis.
Di kantis kampus kan ala kadarnya, tukang mie ayam dan baksonya tidak memakai sarung tangan, nasi sayurnya juga sudah tersaji dan terbuka di lemari kaca.
"Oh, lagi diet apa gimana?" tanya Tama lagi belum tahu sifat Jingga.
"Udah kenyang aja!" jawab Jingga beralasan.
"Oke!" jawab Tama tersenyum, Tama kemudian mengeluarkan dompet dan berniat membayar, tapi dicegah oleh Jingga.
"Udah Jingga bayar Kak!" jawab Jingga polos.
"Heh?" tanya Tama tidak menyangka.
Jingga benar-benar berbeda dengan cewek yang lain, seharusnya kan kalau makan bareng cowoknya yang bayarin. Jingga tidak berfikir hal itu, sambil memilih makanan Jingga langsung bayar sekalian punya Tama, untung Tama hanya memesan mie ayam dan es teh.
"Iya udah Jingga bayar!"
"Kak Tama jadi nggak enak. Harusnya Kak Tama yang bayar Jingga!" jawab Tama gengsi..
"Nggak apa-apa! Udah lewat jam 12 Kak, Jingga duluan ya! Jingga mau sholat dan bentar lagi ada kuliah!" jawab Jingga berpamitan
"Oke, makasih ya, Kak Tama anter sampai depan kelas gimana?" jawab Tama tersenyum dan menawarkan mengantar bentuk perhatian ke Jingga.
Hal itu membuat Jingga meleleh, dan tersanjung. Sayangnya, sebentar lagi jam kuliahnya Pak Rendi. Jingga kemudian menggulung senyumnya dan langsung menggelengkan kepala menolak.
"Nggak usak Kak! Jingga sendiri aja, kelas Jingga kan dekat" jawab Jingga menolak.
"Oke deh, padahal Kak Tama masih pengen bareng Jingga lhoh," ucap Tama mengeluarkan jurus rayuanya.
"He..." Jingga tersenyum tersipu.
"Kalau udah selesai kuliah kabari ya!" ucap Tama lagi.
"Ya Kak!" jawab Jingga mengangguk.
__ADS_1
Jingga bangun dan segera bergegas meninggalkan Tama. Jingga berjalan dengan semangat berapi-api. Dadanya seperti mengembang sempurna karena dipenuhi bunga-bunga. Bisa makan bersama dengan laki-laki yang dia kagumi lama membuatnya begitu bahagia.
Setelah selesai sholat Jingga masuk ke kelas. Untung Jingga tidak telat lagi, jadi selamat dari hukuman dosennya itu.
Jingga cerita ke teman-temanya kalau Jingga mulai hari ini resmi jadi pacar Tama.
"Cie.. makan-makan dong!" ucap Amora.
"Hehehe ayok ke rumahku, kita berbequean!" jawab Jingga mengajak.
"Ke rumahmu?" tanya Amora.
"Iya"
"Ish... kenapa nggak di kafe aja sih?" gerutu Amora.
"Iya, ogah gue ke rumah Lo. Semalam aja kamu nggak datang ke acaraku!" sahut Faya mengungkapkan kekecewaanya karena semalam Jingga tidak datang ke acara ulang tahun Faya.
"He... maaf. Bunaku sakit, jadi aku nggak bisa pergi. Oh iya tapi aku udah belikan kado kok!" jawab Jingga beralasan, lalu membuka tas nya, dan mengambil kado.
Saat mengambil kado, ada hal yang membuat Jingga heran, ada yang memasukan amplop berisi pesan untuk Jingga. Karena belum tahu isinya takut sesuatu yang berhubungan dengan Pak Rendi, Jingga tidak ingin berbagi dengan temanya. Jingga hanya mengambil kado kemudian menyerahkan pada Faya.
"Oh so sweet! Thank you Jingga!" jawab Faya menerima kado dari Jingga dengan mata berbinar.
Jingga memberikan dompet mahal bermerek channel untuk temanya itu. Faya pun jadi bahagia sekali, karena Faya sendiri tidak mampu membekinya.
Jingga memang terkenal royal, sampai temanya berlomba mendekati Jingga. Parahnya teman-teman Jingga itu posesif ke Jingga selain mereka bertiga kalau ada yang mendekati Jingga akan mereka musuhi. Jingga jadi tidak punya teman lain selain mereka bertiga.
"Maaf ya, nggak bisa dateng!" ucap Jingga lagi.
"Nggak apa-apa ini cantik banget kok!" jawab Faya.
Saat mereka sedang memegangi kado dari Jingga si dosen ganteng itu datang. Amora langsung histeris karena Amora sejak awal ngefans Pak Rendi. Sementara Jingga diam membuang muka tidak mau melihat Pak Rendi, tapi Pak Rendi selalu curi-curi pandang melihat Jingga.
Mereka kemudian kembali ke kursi masing-masing dan mengemaso barangnya bersiap dengan kuliah Pak Rendi. Seperti biasanya Pak Rendi memberikan salam pembukaan. Setelah itu bersiap mengedarkan soal.
"Siapkan balpoint dan masukan semua yang ada di meja kalian. Kita pretest dulu sebelum lanjut materi!" ucap Pak Rendi setelah mengucapkan salam.
"Ya Pak!" jawab Mahasiswa kompak.
__ADS_1
Mahasiswa pun mengikutinya, tidak terkecuali Jingga. Faya, Amora dan teman Jingga yang lain mengeluhkan Pak Rendi yang sangat suka mengadakan ujian. Jingga yang sudah tau lebih dulu hanya diam saja.
"Kenapa sih Pak Rendi itu seneng bamget kasih soal ujian?" keluh Faya.
"Iya, dia juga selalu menguji hati aku!" jawab Amora.
"Iyuhh!" jawab Faya menoyor Amora. Jingga pun hanya tersenyum mendengar temanya itu. "Jangan sampai mereka tahu kalau Pak Rendi temen Baba!" batin Jingga dibalik senyumnya.
Mereka kemudian mengerjakan soal-soal dengan hikmat dan dilanjut dengan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Menjelaskan materi dengan sangat jelas dan membuat mahasiswanya fokus mendengarkan. Pak Rendi memang dosen yang cerdas dan menyenangkan. Tapi kalau ada yang ketahuan tidur atau berbicara sendiri siap-siap saja. Langsung kena hukuman tidak ada ampun.
Sepanjang perkuliahan Pak Rendi sangat apik bersandiwara. Dia sama sekali bersikap biasa pada Jingga seakan mereka tidak saling mengenal, begitu juga Jingga. Hal itu pun membuat Jingga lupa akan pertemuan mereka tadi pagi.
Tidak terasa jam kuliah berakhir. Saat kuliah sudah selesai anak-anak berhambur keluar. Jingga memilih keluar terakhir berniat membuka isi amplop di dalam tasnya.
"Lo nunggu apa Jing, pulang yuk?" tanya Amora karena Jingga masih duduk aja.
"He.. nggak apa-apa, pengen santai aja!"
"Yuk pulang yuk!" ajak Faya.
"Kalian duluan aja! Aku nyusul!" jawab Jingga.
"Beneran nih?"
"Iya!"
"Ya udah, duluan ya!"
"Ya... Daah!" jawab Jingga tersenyum membiarkan temanya meninggalkanya.
Kini Jingga sendirian. Jingga buru-buru membuka amplop memo itu. Rupanya itu beneran dari Pak Rendi.
Pak Rendi menggunakan cara kuno untuk mendekati Jingga. Memakai memo cinta, memberintahu kalau Baba Jingga hari ini menyuruh Pak Rendi yang mengantar Jingga pulang. Pak Rendi menunggu Jingga di parkiran dekat pohon.
"Hhhh... ck!" Jingga meremas kertas itu sambil menghela nafas. "Males banget pulang sama dia! Baba tega banget sih!" batin Jingga kesal.
Jingga kemudian membuka ponselnya yang berdering. Ternyata berisi pesan dari Tama. Tama berpapasan dengan Amora dan tau kalau kelas mereka sudah pulang. Tama juga memberi kabar kalau dirinya menunggu Jingga di parkiran.
"Iyuhh... bagaimana ini?" batin Jingga berfikir mau pilih Tama atau Pak Rendi.
__ADS_1
Jingga merobek kertas dari Pak Rendi membuangnya ke tempat sampah dan segera bergegas ke parkiran.