
Di saat Adip sesenggukan, menangis tidak kuasa mengendalikan emosinya menghadapi kenyataan yang tidak pernah Adip duga. Buna justru menanyakan sesuatu yang membuat semua terdiam dan menoleh.
Bukan Buna tidak terharu ata bersyukur. Kalau bisa diungkapkan, di antara mereka berenam, Bunalah yang paling bersorak bahagia atas kenyataan indah yang digariskan untuk Putri Buna.
Betapa tidak, salah satu sponsor atau pahlawan dibalik layar terbesar, terselenggaranya pesta yang meriah dan kedatangan Om Dika adalah Buna. Tentunya semua kehendak Yang Di Atas.
Akan tetapi Buna yang berjuang agar suaminya mengikutinya. Buna yang bersikeras membela hubungan Adip dan Jingga. Tante Dinda datang mengajak Om Dika juga berkat kebaikan Buna yang membuat Dokter Dinda begitu sayang dan rindu keluarha Buna sampai merelakan jadwal padatnya untuk terbang datang ke resepsi.
Buna juga orang yang paling pertama jatuh hati dengan Adip jauh sebelum Jingga merasakan debar- debar cinta. Buna yang selama ini yakin Adip orang yang baik.
Dan sekarang kenyataan yang dia dengar dari Dika, suami sahabatnya, yang dulu seorang pemuda lebih muda darinya tapi sekarang terasa sejajar, sungguh menggelitik.
Buna pernah ada di posisi itu, menghadapi kenyataan siapa Ayah Buna sebenarnya. Bertemu dengan Tante Intan yang ternyata sepupunya.
Akan tetapi, meski kenyataan keluarga Buna lebih menyakitkan. Buna tetap mendapatkan haknya, diberi kasih sayang melimpah dari Oma Mirna. Oma Mirna juga bisa jelaskan semuanya.
Kenapa? Seorang Adip yang katanya orang tuanya terpelajar sampai terbengkalai dan diasug orang lain padahal seharusnya tak begitu?
Adip menyeka air matanya. Pertanyaan Buna membuat otak Adip bekerja. Memutar kembali memory masa kecilnya dan menggali beberapa pertanyaan yang sering menghampirinya.
"Siapa Uwak? Siapa Emak? Siapa Bapak? Dimana makam Bapaknya yang sebenarnya?"
"Adip tahu makam ibu dan adiknya tapi tidak makam Ayahnya? Bapak Adip orang kaya? Sebanyak itukah biaya pengobatan sakit ibunya sampai tak ada bekasnya?"
"Bunaaa...," lirih Jingga terkejut.
Adip masih menunduk, dadanya bergemuruh, dan seperrinya puing- puing puzzle yang tercecer akan Adip kumpulkan lagi.
"Ehm...," Om Dika berdehem menatap Baba.
"Maaf, bolehkah Aku minta ngobrol empat mata dengan Wira?" tanya Om Dika.
"Kenapa? Kenapa harus empat mata? Memanngnya kenapa kalau aku di sini? Adip sekarang anakku. Dia anakku dan aku ayahnya" jawab Baba tegas, sekarang Baba sayang Adip dan penyakit posesifnya tidak terkecuali berlaku untuk Adip.
"Saya malu, harus menyampaikan ini?" jawab Om Dika.
"Kenapa malu?" tanya Buna
Om Dika kemudian terdiam, lalu menatap Adip yang tampak mengelap air matanya dengan tissu dan mengatur nafasnya agar berangsur membaik.
"Apa yang kamu ingat tentang masa kecilmu, Adip?" tanya Om Dika malah balik bertanya ke Adip.
Jingga mengelus bahu suaminya, memberi dukungan agar Adip buka suara. Untuk manusia usia 25 tahun terlalu sulit mengingat memory usia 3 tahunan.
__ADS_1
"Saya tidak ingat apapun tentang Ayah dan Ibu. Saya hanya ingat, saat hari raya Emak dan Bapak selalu ajak Adip berkunjung ke rumah Uwak. Emak selalu bilang, barangkali ada jatah baju baru untukku, kata emak Uwak kan Uwakku!" tutur Adip bercerita.
Semua kemudian tertegun, cerita Adip terlalu mentah untuk dicerna.
"Maksudnya gimana? Memang Emak Bapakmu tidak bisa belikan baju lebaran? Memang kamu bertemu Uwakmu hanya pas lebaran?" tanya Buna lagi cerita Adip aneh.
"Adip tidak ingat banyak Buna. Itu semua memory yang paling Adip ingat, karena pasti setelah dari rumah Uwak, Emak ajak Adip ziarah, ya Adip ziarah setahun sekali, untuk pertama kalinya saya paham, Emak kasih tahu Adip kalau makam yang sering kita kunjungi itu Makam ibu Adip. Saat aku tanya banyak, baik Emak saya atau Uwak saya tidak pernah jawab. Mereka hanya bilang, Ibu saya sakit, adik saya juga sakit, Uwak yang obatin dan menanggung hidup kami," tutur Adip sopan.
"Jadi Mbak Maharani dan Indira meninggal?" tanya Dokter Dinda dengan kata terbata.
"Iya... kata Emak dan Uwak begitu," jawab Adip.
"Huuuh," Dokter Dinda meneteskan air matanya lagi. "Mbak Rani... maafkan kami," gumam Dokter Dinda.
"Siapa yang menyekolahkanmu?" tanya Om Dika lagi.
"Emak dan Bapak!" jawab Adip.
"Apa hubungan Emak dan Bapak dan Uwakmu? Boleh tahu siapa Uwakmu?" tanya Om Dika lagi.
Adip mengangguk. "Boleh, Emak Adip karyawan Uwak,"
"Lah kalian kan besanan? Masa nggak tahu?" pekik Baba ke Om Dika memotong pembicaraan Adip.
"Setahu kami saat menikah dan bercerita, Mbak Rani tidak pernah bawa saudara kecuali ibunya. Bapaknya meninggal pas Mbak Rani kuliah. Aku tidak kenal dengan Uwaknya Adip!" jawab Dokter Dinda.
"Gleg!" Adip terdiam.
"Oh ya ngomong-ngomong di resepsi kemarin Uwakmu datang nggak? Yang mana?" tanya Baba lagi.
Adip semakin tidak bisa menjawab dan mengeratkan rahangnya.
"Bagaimana om Dika bisa kehilangan komunikasi dengan ibu saya? Dimana makam Bapak sebenarnya?" tanya Adip kemudian, bukanya menjawab tapi malah bertanya, Adip tidak sabar mau susun puing puzzlenya sendiri.
Om Dika menghela nafasnya.
"Maaf ya.., semoga kamu tidak tersinggung dengar cerota ini," ucap Om Dika.
"Ya Om! Cerita saja!"
"Makam ayahmu ada di Di kampung om dika,"
"Bukan di Pulau panorama?" tanya Adip langsung menyergap tanya.
__ADS_1
"Awalnya iya. Katanya sih permintaan ayahmu. Tapi Eyang putrimu, bersikeras untuk membongkar dan menjemput sendiri jenazah ayahmu dan memakamkan di sini. Tepat satu minggu setelah ibumu dan Eyang Utimu bertengkar!"
"Bertengkar?" tanya Semuanya heran.
"Maafkan kami ya. Nggak apa-apa Dip Pak Lik cerita cerita di depab mertua dan istrimu?" tanya Om Dika.
"Aku ayahnya Adip sekarang!" ucap Baba tegas.
Adip mengangguk acc.
"Seseorang mengadu pada Yang Utinya Adip, katanya mbak Rani selingkuh dengan dokter yang operasi Mas Indra. Dia mengaku teman dekat ayah dan ibumu,"
"Ayahmu sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan yang bunuh ayahmu, katanya pacar ibumu itu, seharusnya katanya, Mas Indra bisa selamat jika operasinya berjalan dengan baik, tapi.." tutur Om Dika terpotong.
Di bagian ini Adip cukup tercengang. Kata Emak Ibunya bukan orang seperti itu. Tapi,kalung peluru itu, darimana Ibu Adip bisa buat peluru yang membunuh ayahnya dibuat kalung? Adip pun jadu gusar.
"Tapi isu itu tidak bisa kami benarkan, kami tidak punya bukti. Meski begitu, Yang Uti marah tetap marah! Yang Uti memaki Kak Rani sehingga kami tak saling komunikasì," tutur Om Dika lemah.
"Siapa yang sampaikan ke Eyang Uti, kalau Ibuku selingkuh?" tanya Adip.
"Teman Ibumu, sesama perawat kalau nggak salah, namanya Odah, suaminya Namanya Jajang suharman atau siapa gitu?" ucap Om Dika.
"Gleg!" Adip langsung menelan ludahnya dan mengepalkan tanganya. Itu kan nama Uwak Adip. Mata Adip memerah, tapi Adip berusaha menahanya. Adip ingin Om Dika selesaikan ceritanya.
"Maafkan kami, sejak pertengkaran itu, Yang Utimu jadi marah dan berfikir kalau amanah minta dimakamkan di sana itu bohong. Yang Uti tidak terima anaknya dimakamkan di tempat yang jauh. Kami kemudian berangkat ke pulau Panorama untuk memindahkan makam ayahmu, kami mwngerahkan semua yang kami bisa,"
"Iya ribet banget tuh waktu itu. Untung makam ayahmu pakai peti!" sahut Dokter Dinda ikut mengimbuhi.
"Dan di sana. Kami bertemu dengan dokter yang operasi ayahmu dan banyak teman ibumu, teman ayahmu juga. Kami sangat menyesal, ternyata berita itu bohong, Dip. Ibumu tidak selingkuh, kami sunggung menyesal percaya orang begitu saja!" lanjut Om Dika dengan ekspresi kecewanya.
"Maafkan kami, kami sudah termakan omongan orang. Sebab orang itu membawa foto- foto yang terlihat nyata ibumu dekat dengan dokter itu, makan di luar, berjalan bersama, ngobrol intens. Eyang utimu sangat marah, tapi ternyata, kata teman ibumu, ibumu dekat dengan dokter itu karena ibumu pasienya juga! Ibumu katanya tertular penyakit, karena menolong pasien tanpa pelindung diri yang standar," tutur Om Dika lagi lemas.
"Selesai urusan makam ayahmu. Om usaha cari ibumu. Tapi ibumu sudah tidak menempati rumah dinasnya, kami cari ke desa asal ibumu, kalian juga tidak ada?"
"Kami berfikir, ibumu sengaja memutus tali silaturrahim dengan kami, toh Ibumu bisa hidup layak dengan uang tunjangan dan uang pensiun ayahmu!" ucap Om Dika mengakhiri ceritanya.
"Maafkan kami, Yang Uti jadi tertekan rasa bersalag karena merindukan kalian, Eyang Uti jadi sakit sampai akhir hayatnya, ingin bertemu denganmu, dengan ibumu dan adikmu. Tolong maafkan eyang utimu yah. Pak Lik minta maaf!" tutur Om Dika matanya memerah lagi.
Adip menghela nafasnya dan mengeratkan rahangnya. Air mata Adip tidak kuasa Adip bendung. Dada Adip rasanya terbakar, sesak sekali.
"Bu Odah itu Istri Uwak saya!" celetuk Adip geram.
"Whoah?" semua kaget dan terbengong mendengar kata Adip.
__ADS_1