
Setelah menyantap hidangan makan siang. Mereka kemudian membahas hari pernikahan.
Keluarga Rendi yang notabenya panutan dalam agama, memilih tidak ada tunangan. Hanya kunjungan khitbah, dikasih jeda waktu untuk persiapan pernikahan selama 1 minggu setelahnya menikah.
Acara lamaran itu direncanakan 3 hari setelah Jingga pulang. Tanpa berkonsultasi denga Oma Rita, dan Oma Nurma apalagi Jingga, Baba Ardi ketok palu. Buna pun sebagai istri tak bisa berbuat banyak hanya bisa berdoa keputusan suaminya tepat.
"Saya masih ada kelas. Kalau begitu saya undur diri Tuan, Abah!" pamit Rendi.
"Ya, ada yang mau kutanyakan!" jawab Baba Ardi.
"Ya Tuan!" jawab Rendi sopan.
"Jangan panggil Tuan. Aku caloh ayahmu!" jawab Baba.
"Ya, Pak!"
"Dimana letak alamat penempatan Jingga.Bisakag kau datang ke sana untuk menjenguk dan mengawasinya?" tanya Baba.
"Ba..." pangil Buna lirih menarik ujung kemeja suaminya. Bisa- bisanua Baba bersikeras ingin mengunjungi Jingga dan tetap mengawasinya.
Kyai Ammar, istrinya dan juga Rendi tak kalah kaget. Ternyata memang separah itu keposesifan seorang Ardi Gunawijaya. Bahkan putri yang sedang mengikuti kegiatan akan disusulnya.
"Saya tahu alamatnya, tapi saya juga belum peenah ke sana!" jawab Rendi.
"Pilotku akan mengantar kalian ke sana. Bisakah kau melakukanya?" tanya Baba Ardi lagi.
Rendi menelan ludahnya, dia kan ada tugas study banding ke luar negeri dari universitas tempatnya mengabdi. Tuan Ammar pun seorang yang paham agaman jadi berfikir, sebelum menikah tak baik dan tak boleh laki- laki dan perempuan bersamaan di luar pengawawan keluarga.
"Maaf Pak Ardi, tapi minggu lusa saya harus berangkat ke Amerika untuk study banding selama 2 minggu!" jawab Rendi.
Bapak Amar pun menghela nafas lega bisa menghindarkan putranya dari sesuatu yang menakutkan baginya. Pak Ammar tidak mau anaknya terjerumus dalam hal yang mengantarkanya ke zina.
Sementara Baba Ardi mengangguk kecewa. Sikap dan pemikiranya yang egois dan semaunya sendiri, terpaksa dipatahkan.
Buna Alya ikut tim yang bernafas lega. Kenapa juga suaminya bisa berfikir ide hal yang merepotkan begitu. Sudah tahu calon mantunya orang sibuk masih saja diberi ide- ide aneh.
"Kalau gitu beri aku alamatnya!" ucap Baba Ardi di luar dugaan Buna. Rupanya Baba Ardi tidak menyerah dan masih punya ide lain.
"Baik Pak, saya kirimkan lewat pesan whastap!" jawab Rendi.
"Siap. Aku tunggu!" jawab Baba.
Mereka kemudian saling bersalam- salaman dan berpamitan. Orang tua Rendi akan pulanh ke daerah asalnya di provinsi sebrang,karena harus kembali mengurus pondok pesantrenya.
Baba Ardi juga harus mengantarkan Bunda Alya ke rumah setelah itu Baba Ardi akan bekerja.
"Ba.... Baba serius mau nyusul Jingga?" tanya Buna setelah sampai rumah.
"Serius, Sayang! Baba harus pastikan anak Baba di sana baik- baik saja!" jawab Baba.
"Kita doakan saja Ba. Doakan Jingga pulang dalam keadaan baik, sehat dan jadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri!" jawab Buna melarang.
"Kalau terjadi sesuatu dengan Jingga. Buna mau menanggung akibatnya?"
"Astaghfirulloh Baba!"
__ADS_1
"Pokoknya secepatnya!"
"Memang siapa yang akan kesana Ba?" tanya Buna lagi.
"Amer kalau nggak Ikun!" jawab Baba Ardi santai.
Buna yang mendengarnya langsung kaget.
"Amer Ba? Ikun?" tanya Buna kaget.
"Iya!" jawab Baba seenaknya saja. Buna Alya pun mengehela nafas. Nggak waktu muda nggak usah tua kalau punya ide selalu bikin Buna geleng2 kepala.
"Ba!"
"Hemm!"
"Jangan bercanda deh Ba!"
"Bercanda gimana?"
"Mereka kan di luar negeri, Ba. Mereka kan juga masih kuliah?" jawab Buna tidak mau anak- anaknya semuanya jadi benci nanti sama Babanya.
"Buna, Istri Baba yang cantik, Amer ataupun Ikun itu saudara laki- laki Jingga. Kakanya mau menikah. Ini kan juga sudah akhir semester. Mereka akan pulang! Menjaga Jingga selain baba dan suami Jingga nanti itu juga tugas mereka sebagai sauadara laki- laki. Mereka juga berhak jadi wali Jingga!" jawab Baba kekeh pendirianya.
Kalau sudah begini Buna Alya diam.
"Hmmmm," Buna hanya berdehem. Buna hafal sifat suaminya memang selalu begitu.
"Baba akan telpon dia!" jawab Baba Ardi.
"Mereka juga anak- anak Baba. Harus nurut sama Baba!" jawab Baba Ardi sudah memencet tombol panggilan.
"Terserah Babalah!" jawab Buna
Baba pun menyalakan panggilan luar negeri menghubungi jagoan- jagoanya yang sudah punya KTP.
Baba mengutarakan keinginanya.
"Kalian sudah selesai ujianya?" tanya Baba Ardi kw Amer dan Ikun.
"Sudah Ba!"
"Pulanglah!"
"Apa Kaka jadi menikah?" tanya Ikun.
"Jadi bulan depan itu sebabnumya kalian harus pulang ajak Oma Rita juga!" tutur Baba lagi.
"Ya Ba!" jawab Amer.
"Baba juga punya tugas untuk kalian!"
"Apa Ba?"
"Jaga kakak kalian.Dia ada di pulau P!" tutur Baba lagi.
__ADS_1
"Pulau P Ba?" tanya Ikun dengan nada berat, tapi di belakangnya Amer antusias.
"Jadi Kakak beneran ada di sana?" tanya Amer.
"Ya. Kalian berdua atau salah satu dari Kalian susul Kak Jingga! Pastikan Kakak kalian baik- baik saja di sana!"
"Siap Ba. Amer memang ingin kesana!" jawab Amer antusias sementara Ikun memilih diam
"Bagus! Segera pulang, Baba tunggu di rumah!" ucap Baba tersenyum puas dan bangga menutup sambungan teleponya.
Buna yang menguping pun memicingkan matanya bertanya. Meski Buna bisa menebak senyuma Baba Ardi memancarkan senyum kemenangan. Punya anak banyak itu sangat menyenangkan buat baba Ardi.
"Amer anak Baba. Dia setuju!" jawab Baba Ardi.
"Hoh!" Bunda Alya hanya bengong tidak menyangka, kenapa anaknya mau. Padahal kan Pulau P itu pulau yang suangat jauh dari temlat tinggalnya terkenal banyak binatang buas pula. Kenapa anak- anaknya pada tertarik ke sana?
"Udah Buna nggak usah protes. Amer memang ingin liburan ke sana. Di salah satu provinsi sana ada tempat wisata ikon kekayaan negeri yang indah. Baba juga ingin ajak Bunda kesana tapi nanti ya kalau anak- anak kita udah besar!" tutur Baba malah membercandai Buna dikira Buna iri.
"Ish, Buna udah tua. Buna mau di rumah aja, urus anak- anak Ba!" jawab Buna
"Ya udah Baba kerja ya!" pamit Baba meninggalkan istrinya
"Iya!" jawab Buna meraih tangan Baba dan menciumnya.
"Istirahat jangan kecapekan!" tutur Baba lembut sambil mencium puncak kepala Buna.
"Iya!" jawab Buna.
Di saat ayah dan ibu itu sedang berpamitan mesra, dari luar berlarian dua anak kembar mereka disusul putri cantik, manis dan solekhahnya mereka.
"Assalamu'alaikum Buna...Babaa..." teriak Iya dan Iyu langsung berlari memeluk Baba dan Buna mereka.
Mereka kemudian bersalaman dan memeluk disusul Nila..
"Ganti baju.cuci tangan cuci kaki ya!"tutur Buna lembut.
"Udah cuci tangan Buna!" jawab Biru.
"Ya udah ganti!"jawab Buna. Baba pun pamit pergi ke anak- anak dan istrinya.
Seperginya Baba.Nila kemudian mendekat ke Bunanya.
"Bun!" tanya Nila.
"Ya!"
"Laki- laki yang ke sini itu calon Kakak?"
"Iya, kenapa?"
"Ganteng ya Bun? Kok Kak Jingga bilang nggak mau ya?" tanya Nila.
Buna hanya tersenyum mendengar pertanyaan putrinya lalu menyuruh Nila untuk istirahat dan makan.
"Ish, apa kakak sungguh akan menolak pinangan laki- laki itu? Menurut Nila calob suami Kakak mendekati sempurna?" batin Nila memikirkan kakaknya.
__ADS_1