
"Jingga, Jingga dimana?" tanya Oma Rita pertama kali ketika sadar melihat Nila sedang bersimpuh di atas sajadah membaca Al Qur'an. Sementara Amer tampak tidur, dan Ikun tampak sibuk dengan laptop.
Meski Jingga cucu yang paling bawel, tetap saja Jingga yang paling dicari. Di antara yang lain Jingga juga paling bodoh.
Ikun menekuni dunia teknologi, Amer lebih ke bisnis serta kepemimpinan. Nila sendiri hafalan hadis dan Qur'anya bagus.
Sementara Jingga tidak menyukai apa- apa. Kuliah kedokteran juga karena Opa Nando yang memotivasi. Kelebihan Jingga di fisiknya, Jingga jauh lebih tinggi datri Nila.
Nila langsung menghentikaan bacaanya tatkala mendengar suara Oma. Ikun juga menghentikan jarinya yang sedari tadi berselancar di laptop mahalnya.
Sebagai cucu yang baik, meski bukan nama mereka yang dipanggil, mereka langsung mendekat.
"Alhamdulillah Oma sudah bangun? Oma baik- baik saja kan?" tanya Nila lembut.
"Are you oke Oma? What do you want Oma?" imbuh Ikun.
"Jingga... dimana Jingga kakak kalian?" tanya Oma lagi.
Jingga adalah cucu pertama dan cucu kesayangan. Jingga juga satu- satunya cucu Oma yang kerap kali membuat jantung seisi keluarga hampir copot. Bahkan dulu pernah, semua sudah ingatkan Jingga punya alergi, tapi Jingga ngeyel alhasil Jingga masuk rumah sakit dan semua panik. Sekarang juga.
Amer dan adik-adik lain pun mengerti dan tidak iri sama sekali. Mereka juga sayang ke Jingga. Meski Jingga juga kerap kali bertindak tidak mencerminkan sebagai Kakak malah seperti adik, Jingga tetap disayang.
"Kak Jingga di rumah Oma. Gimana? Apa yang Oma rasa dan inginkan katakan pada Nila Oma!" tutur Nila.
"Ya Oma, katakan apa yang Oma mau? Kak Jingga baik- baik saja kok," sambung Ikun.
"Oma mau ketemu Kakak kalian dan anak Oma, baba kalian!" tutur Oma lembut.
Ikun diam, sementara Nila menoleh Ikun tanda tanya. Nila kan belum tahu masalahnya.
"Kata Buna... Baba akan selesaikan masalahnya Oma. Kak Jingga juga baik- baik saja. Oma harus sehat dan sembuh dulu! Oma tenang saja!" tutur Ikun sambil menggenggam tangan Oma.
"Kamu tahu masalahnya?" tanya Oma. Oma menebak akan ada perang besar di antara dua orang yang sama- sama keras jika Baba dengar Jingga sudah menikah.
"Ya Oma... Kak Jingga dan Kak Amer sudah beritahu semuanya!" jawab Ikun.
"Oma ragu, Baba kalian akan baik- baik saja, kasian Jingga kalau Baba kalian marah!" tutur Oma pelan.
Oma tidak tahu masalah fitnahan Jingga. Oma hanya tahu, anaknya akan murka karena persiapan pernikahan Jingga sudah sangat matang malah Jingga nikah dengan orang lain.
Oma jadi kepikiran seperti apa suami Jingga sekarang? Salah orang atau tidak? Benar atau tidak?
Oma merasa bertanggung jawab harus bertemu dengan keluarga Pak Dhe Farid dan sepupunya, untuk membatalkanya. Jangan sampai peekara Jingga membuat keluarga mereka berjauhan. Pak Dhe Farid kan teman Baba kesayangan Oma.
__ADS_1
Dulu sebetulnya yang sangat ingin keluarga Gunawijaya berbesan dengan keluarga Pak Dhe Farid adalah Oma dan Opa Aryo.
"Oma tenang saja, yang penting Oma sembuh. Selama ada Buna, Baba akan baik- baik oke Oma. Everything will be Oke Oma!" rayu Ikun lagi.
"Hhhhhh!" Oma hanya menghela nafas.
"Oma mau makan apa? Biar Ikun belikan!" jawab Ikun lagi.
Oma diam, lama- lama Ikun terus merayu dan Oma luluh tidak lagi menanyakan Jingga. Nila yang tidak tahu apa- apa jadi dibuat bingung apa masalah yang menimpa kakaknya.
"Apa adanya aja. Oma sehat... Oma mau cepet pulang!"
"Iya Oma..... makan makanan yang dari rumah sakit aja ya. Nila suapi!" tutur Nila memegang sepiring makanan dari rumah sakit.
****
Di sebuah rumah tahanan.
Tama sebagai saudara yang baik yang sudah dilimpahi amanah harta yang melimpah menjenguk Om dan Tantenya di penjara.
"Bagaimana?" tanya Om Tito, saudara Tama. Dia adalah orang bermusuhan dengan Baba Ardi dan mendapat hukuman penjara seumur hidup gara- gara Baba Ardi.
"Semua berjalan sesuai rencana Om. Ini..." tutur Tama menyerahkan foto screenshootan berita Jingga.
"Dia akan merasakan rasanya malu dan hancur. Hahahahahaha!" ucap Laki- laki tua seumuran Baba yang wajahnya seram itu sambil tertawa seperti setan.
"Saya akan paatikan bisa menidurinya, dan mengancamnya. Sayang nomernya tidak aktif Om!" tutur Tama lagi.
Tama kan masih punya foto telanjangg Jingga. Tama mau mengancam Jingga, jika Jingga tidak mau menemuinya dan melayaninya, bukan hanya foto Jingga yang diadili di pohon pinang, tapi foto toples Jingga akan disebarkan.
"Jangan hubungi nomer terdekatnya. Bapaknya pasti sudah mengambil ponselnya. Suruh orang untuk datang atau menteror saja! Kirim fotonya ke kamarnya!" tutur Om Tito mengajari trim jahat ke Tama.
Tama pun mengangguk.
Setelah berbincang dan membahas perusahaan Omnya yang sekarang dikelola Tama dan keluarganya, Tama pun pamit.
****
Di Rumah Gunawijaya.
Tidak diketahui Tama, dalam waktu singkat, semua berita tentang Jingga sudah berhasil ditakedown.
"Penjarakan penyebar beritanya Din!" ucap Baba Ardi memberi perintah.
__ADS_1
"Maaf Tuan, sepertinya penyebar utama foto dan berita ini bukan orang sembarangan juga. Informasi identitasnya susah dicari juga!" ucap Dino orang kepercayaan Baba.
"Apa maksudmu. Anakku sudah tahu siapa pelakunya. Kamu hanya tinggal menemuknya dan bawa padaku!" jawab Baba Ardi.
"Kalau untuk mencarinya dan bawa dia ke anda saya bisa tuan. Tapo kalau memenjarakan orang yang menyebar ini harus ada buktinya Tuan! Prosesnya panjang!" jawab Dino.
"Ya sudah cari bocil bernama Tama ini? Siapa dia?Bawa dia padaku!" jawab Baba.
"Siap Tuan!" jawab Pak Dino.
Pak Dino kemudian berpamitan.Baba masih tidak sanggup membayangkan putrinya diperkosa. Rasa memang sangat sakit membayangkan putrinya yang ketika orang lain menyentuhnya saja dia marah ini malah diperkosa.
Baba pun mengurung diri di ruang kerja, merenung dan menangis tidak ada yang dengar sampai tanganya berdarah terus meninju barang yang ada di dekatnya.
****
Melihat Pak Dino dan anak buahnya sudah pergi Buna sigap mengambil kesempatan.
"Iya.. Iyu... kalian main sama Kak Jingga ya. Buna mau ada perlu sama Baba!" tutur Buna memberi pengertian ke kedua balitanya yang sudah pintar.
"Ya Buna!" jawab Iya dan Iyu.
Buna kemudian mengantar Iya dan Iyu ke kamar Jingga. Jingga yang sedang melamun merindukan Adip sampai memeluk guling erat sekali tersadar. Kehadiran Iya dan Iyu membuat sakit rindunya terobati.
Buna kemudian memberikan ramuan teh dari tumbuha untuk suaminya. Buna juga membuat makanana kecil, singkong keju dengan tanganya sendiri. Itu makanan yang Baba suka.
Dengan berjalan pelan, membawa sendiri nampan minuman dan makanan Jingga mendatangi ruang kerja Baba.
****
Maaf baru Up.
Hehehehe
Insya Alloh abis ini gas ngetik lagi...
Tungguin yaa...
Semoga Buna bisa hibur Baba. Kasian Baba udah patah hati banget.
Sabar ya Ba... meski pembungkua putrimu sudah terbuka, tapi putrimu masih segelan kok.
Malam itu Tama juga gemetaran dan lola.
__ADS_1
Jadi Jingga selamat.