Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
35. 1 masalah clear


__ADS_3

Jingga duduk di pojokan kantin menunggu dengan cemas. Pandangan Jingga berputar ke sekeliling.


"Huuft semoga Pak Rendi nggak lihat aku di sini!" batin Jingga dengan mengatupkan dan menggerakan kedua jari telunjuknya dengan gerakan teratur.


Sesekali Jingga melihat jam tanganya, masih jam 11. Rupanya Jingga mengerjakan soal ujianya sangat cepar demi menemui Tama.


"Kakak kan minta ketemu kamu jam satu kenapa sekarang?"


Tama datang langsung dengan marah-marah. Jingga yang nggak jarang dikasari meski sering dipaksa Babanya langsung terdiam. Jingga sedikit Syok dengan Tama.


"Maaf Kak!" ucap Jingga menundukan muka.


"Whatsap Kakak kenapa nggak dibalas?" tanya Tama lagi ketus.


"Maaf!" jawab Jingga lagi menatap Tama.


Jingga benar-benar tidak menyangka Tama yang biasanya terlihat manis sekarang tampak murung dan seram. Sampai Jingga gemetaran.


Tama kemudian mendekat ke Jingga dan menggenggam tangan Jingga. Jingga yang selalu di warning Bunanya untuk menghindari kontak fisik dengan laki-laki langsung ketakutan.


"Siapa yang boncengin kamu tadi pagi? Hah?" tanya Tama lagi


"Itu ojek online Kak!" jawab Jingga.


"Kenapa laki-laki? Kenapa kamu naik ojek?" tanya Tama cerewet.


"Ya Jingga nggak tahu dapet nya itu!" jawab Jingga.


"Emang kamu mau kemana? Supir kamu kemana?" tanya Tama lagi.


"Ehm.... Supir aku harus bantuin Buna juga!"


"Masa, pegawai Babamu kan banyak? Kamu kemana sih?" tanya Tama lagi.


Ternyata Tama lebih posesif dan cerewet dari Baba Ardi. Jingga kemudian langsung illfeel ke Tama. Niat Jingga cerita tentang seleksi Ruang Inspirasi dia batalkan.


"Jingga harus temuin temen Kak, dia sakit dan butuh bantuan!" jawab Jingga bohong.


"Please jangan tanya siapa temenku? Kenapa Kak Tama jadi lebih galak dari Baba sih?" batin Jingga menggigit bibirnya.


Doa Jingga tes terkabul. Ponsel Tama tiba-tiba berbunyi. Rupanya Tama ada kuliah dan teman-teman Tama mencarinya.


"Lain kali kalau kemana-mana telpon Kakak. Kamu pacarku. Biar aku yang mengantarmu!" ucap Tama tegas.


Jingga menelan ludahnya, mengangguk.


"Iya Kak!" jawab Jingga.


"Kakak ada kuliah. Kakak Kuliah dulu ya!" pamit Tama.


"Kak Maaf, Jingga nanti harus segera pulang! Jadi jam 1 nggak bisa ketemu Kak Tama." jawab Jingga beralasan padahal Jingga mau ketemu Pak Rendi.


"Ya nggak apa-apa. Kaka juga disuruh ikut rapat!" jawab Tama lagi.


"Ya Kak. Maafin Jingga ya Kak!" ucap Jingga lembut tidak ingin Tama marah.


"Lain kali balas wa kakak. Kalau butuh teman kemanapun, telpon Kakak. Biar kakak yang antar!" ucap Tama lagi.

__ADS_1


"Ya!"


"Dah!" ucap Tama pamitan


"Dah Kak!" jawab Jingga melambaikan tangan.


Tama kemudian pergi tanpa memesan makan.


"Hooh!" Jingga mengelus dadanya.


Jingga terselamatkan. Rupanya otak Jingga memang masih encer. Jingga merasa dirinya bisa menyelesaikan masalah barunya.


"Kenapa aku sekarang merasa aku seperti play girl yang berkencan dengan banyak pria ya?" batin Jingga tersenyum dan merutuki dirinya.


"Ishh! Enak aja aku bukan play girl. Pak Rendi kan bukan cowokku!" batin Jingga lagi menjawab pertanyaanya sendiri.


"Tapi, kata temen dan Buna sebaiknya aku nggak pacaran dan putusin Kak Tama. Kenapa aku malah temui dia dan minta maaf ke dia. Ah tapi Tama ganteng" batin Jingga lagi.


"Kak Tama hari ini galak banget. Aku jadi nggak berani putusin dia. Nggak apa-apalah. Bener nggak sih aku lanjutin hubungan ini?"


Jingga benar- benar labil dan belum punya identitas sendiri. Satu sisi Jingga takut, sayang dan ingin patuh pada Bunanya. Satu sisi Jingga juga penasaran, ingin seperti teman-temanya. Jingga juga ingin mencoba hal-hal di luar yang belum dia tahu.


"Jalani aja dulu kali ya!" batin Jingga kemudian.


Jingga mengambil tasnya ingin ke masjid hendak mencuci muka wudzu dan menunggu waktu sholat dzuhur. Tepat jam satu nanti Jingga harus menemui Pak Rendi. Ancaman putus lebih mengerikan dari ancaman menikah cepat.


Jingga harus mencari cara untuk kabur agar tidak jadi menikah dan dijodohkan. Jingga kan belum berhasil ikut Ruang Inspirasi. Itu satu-satunya solusi untuk Jingga menepi, menjernihkan pikiran dan menghindar dari Pak Rendi dengan jalan terhormat.


"Jingga!" panggil seseorang dari luar kantin


Jingga menoleh. Ternyata Amoora, dan Faya.


Amoora dan Faya langsung mendekat ke Jingga.


"Kamu kok cepet banget sih keluarnya? Aku tadi masih kurang lima nomor tau!" ucap Amora, dia selalu bergantung pada Jingga saat ujian


"He.. maaf!" jawab Jingga nyengir merasa tidak enak.


Jingga memang sebaik itu. Saking baiknya Jingga tidak sadar kalau temanya mendominasi Jingga.


Di saat yang bersamaan, Uti dan Tari juga ke kantin, mereka duduk di meja di belakang Jingga. Jingga menoleh ke mereka dan tersenyum menyapa. Buat Jingga mereka berdua kan juga sahabat barunya.


"Lo berteman dengan mereka beneran Jing?" tanya Faya lagi.


"Ya kan mereka sekelas sama kita!" jawab Jingga.


"Hemm yaya!"


"Kalau besok nilaiku jelek gimana dong? Aku tadi belum sempat liat jawaban kamu!" celetuk Amoora lagi sangat menyebalkan.


Jingga tersenyum


"Kamu kan juga pintar Amoora. Yakin dong sama diri sendiri. Kalaupun kamu sama dengan jawabanku belum tentu jawabanku bener kok!" tutur Jingga menasehati


"Kamu sekarang nggak mau contekin kita lagi?" tanya Amoora tersinggung.


"Nggak! Bukan gitu?" jawab Jingga.

__ADS_1


"Terus? Kenapa kamu buru-buru keluar?" tanya Faya.


Jingga menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Aku ada perlu sama Kak Tama" jawab Jingga.


"Oh." jawab Faya


"Kirain kamu udah nggak mau contekin kita!" jawab Faya lagi.


"Aku mau kok contekin kalian, tapi beneran, aku juga nggak selalu bener. Kalian jangan tergantung sama aku!" ucap Jingga menasehati. Jingga tulus ingin memberitahu hal yang benar ke sahabatnya itu.


"Kok kamu bilang gitu sih Jing? Kamu nggak mau temenan sama aku?" jawab Amoora malah tersinggung.


"Bukan. Maksud aku kita juga harus sama- sama usaha. Bukan saling menggantungkan!Karena aku juga nggak belajar maksimal. Aku juga ada beberapa soal yang bisa aku jawb kok!" ucap Jingga lagi menjelaskan.


"Hhh!" Amoora beneran salah paham. Amoora mengambil tasnya dan pergi.


"Amoora, kamu mau kemana?" tanya Jingga merasa tak enak hati.


Amoora manyun dan pergi begitu aja. Jingga kemudian menatap Faya.


"Amoora marah?" tanya Jingga.


"Ya kamu gitu sih!" jawab Faya


"Ada yang salah denganku?" tanya Jingga merasa benar.


"Menurut kamu gimana? Kamu beneran udah nggak mau contekin kita kah?" tanya Faya ikut-ikutan kaya Amora.


"Astagfirulloh, kan aku tadi juga udah contekin kalian. Aku emang harus segera ketemu Kak Tama!" ucap Jingga lagi meluruskan.


"Oh. Oke. Cabut yuk!" ajak Faya, Faya lebih mengerti maksud Jingga.


"Kemana?" tanya Jingga.


Faya kemudian mencondongkan badanya dan berbisik ke Jingga.


"Makanan di sini nggak enak. Kita ke mall yuk. Sekalian nonton, refreshing kan abis ujian!" ajak Faya mau meracuni Jingga.


Jingga nyengir. Untuk yang kesekian kalinya Jimgga diajak main temanya, selama ini alasanya adalah pengawalnya sudah menunggu, kali ini bukan pengawalnya tapi Pak Rendi.


"Pasti kamu udah ditunggu pengawal ya?" tebak Faya.


"He.. maaf ya, sholat dulu aja, yuk! bentar lagi dzuhur" ucap Jingga lagi.


Faya kemudian manyun.


"Ya usah kalau kamu nggak bisa ikut. Gue cabut yak!" ucap Faya menolak ajakan Jingga dan meninggalkan Jingga.


Jingga kini sendirian. Jingga kemudian memesan air mineral kemasan dan beranjak pergi ke masjid kampus.


"Hai Nggaaa!" sapa Uti dan Tari, ternyata mereka menyusul ke Masjid juga.


"Hai!" jawab Jingga girang.


"Sendirian?" tanya Uti

__ADS_1


"Huum!"


__ADS_2