
“Hah hahahaha!”
Tama tertawa seperti kerasukan setaan, tapi sesungguhnya Tama juga gemetaran. Pada dasarnya, Tama juga tak sejahat itu awalnya.
Hanya saja pergaulan metropolitanya yang cenderung bebas dan orang- orang di sekitarnya, banyak memberinya ide membawa Tama ke perlakuan seperti sekarang.
“Jangan salahkan aku Jingga, kamu yang membuatku begini? Susah payah aku membangun citra dan mendekatimu, salah kamu sendiri menghianatiku dan menantangku!” ujar Tama meracau.
Tidak menunggu bermenit- menit, hanya berselang beberapa detik, begitu obat yang dibawa Tama masuk ke Jingga, Jingga langsung terserang rasa kantuk dan tak sadarkan diri.
Tama pun bebas melakukan apa saja terhadap Jingga. Termasuk sekarang, Tama mendekat ke Jingga, seperti orang gila dan mempunyai kelaianan.
Tama menyentuh ujung rambut Jingga, membelainya, kemudian memegang dagu Jingga dan membelainya dengan leluasa.
“Aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja sebelum aku dapat apa- apa!” gumam Tama lagi.
Tangan Tama menyusur ke bawah, terfokus pada kancing kemeja Jingga. Dengan gerakan yang dikuasai napssu setaan, tanpa ragu dan dengan beringas, Tama menanggalkan pakaian Jingga sehelai demi sehelai, sehingga kini Jingga seperti bayi baru lahir, tanpa seuntai benangpun yang menempel.
“Hahahahha!” Tama tertawa lagi dengan puasnya.
Mata telannjang Tama dengan liarnya menikmati ukiran indah mahakarya Tuhan yang sesungguhnya haraam untuk dia lihat itu.
Tama tak melewatkan satu incipun lepas dari pandanganya. Tama pun tidak sabar untuk menikmati karya indah yang ada di hadapanya.
“Ayahmu harus tahu siapa aku? Ayahmu harus menangis karenamu Jingga!” ucap Tama licik.
“Tante Lilaa..., aku sudah mengabulkan keinginanmu!” gumam Tama tersenyum licik.
Kemudian Tama mengambil ponselnya yang masih full bateray. Tama berniat mengambil video untuk mengambil gambar toples Jingga. Sayangnya saat Tama baru menggeser menu kamera di ponsel. Suara Adip terdengar.
“Siiialll!!” gumam Tama mengepalkan tanganya dan melirik ke Jingga.
“Bagaimana dia bisa menemukanku di sini?” gerutu Tama megenali suara Adip yang terus meracau di luar gubug.
Tama tidak tahu, Tuhan Maha menggerakan sesuatu. Sebagaiamana dia berencana dan bersembunyi jika tak dikehendaki maka tak akan terjadi.
Tama pun mulai panik, lalu mengambil senjata di dalam tasnya. Tama memang membawa sebilah pisau.
Ide jahat pun datang ke otak Tama. Sebelum Adip berhasil membuka pintu Tama mengambil baju membiarkan Jingga terus seperti itu. Dia juga mengambil foto Jingga.
“Prakk!”
Adip berhasil mendobrak pintu gubug itu sehingga mereka kini berhadapan dengan tatapan mata yang sama- sama penuh amarah.
“Kau lagi! Dasarr Bajiingann!!” seru Adip langsung maju ingin memukul Tama dengan penuh ambisi.
__ADS_1
Sayangnya, Tama berhasil menghindar dan membuat Adip tersungkur jatuh. Tama pun tertawa licik.
“Sudahlah, untuk apa kamu lelah- lelah sampai sini? Jangan ikut campur urusanku! Jingga itu milikku, kamu tidak akan bisa mendapatkanya!” ucap Tama percya diri.
Adip bangkit dari tubuhnya yang terhuyung. Dia tidak menjawab Tama dan langsung memberikan bogeman mentah ke pipi Tama sehingga satu kali pukul berhasil membuat Tama memuntahkan cairan merah dari mulut Tama.
Sekarang gantian Adip yang berdiri tegak dan tersenyum.
“Segini kemampuanmu? Breeengsek!!” umpat Adip menghentakan kakinya dan menendang kaki Tama sehingga Tama terpelanting jatuh ke ke luar gubug dan tergelincir ke bawah.
Hanya dengan dua pukulan kini Tama sudah sakit di seluruh badan, apalagi tubuh Tama terjatuh ke semak dan tumpukan kayu.
Masih membawa emosi yang membuncah dan ingin segera ditumpahkan. Adip turun keluar dari rumah panggung itu. Meski dalam kegelapan, tak menyurutkan kedua pemuda itu melanjutkan adu jotos.
“Buggg!” Adip kembali memukul Tama kali ini memukul bagian perutnya.
Tama masih terpukul, tapi masih bisa bangun dan ingin membalasnya.
"Dasar pria miskin!" ujar Tama mau membalas.
Sayangnya Adip terlalu tinggi untuk dia lawan. Pukulanya langsung di tangkis Adip.
Adip juga, malah menarik tangan Tama dan menekuk tajam hingga Tama mengeluh kesakitan, setelah itu Adip menghempaskan Tama kasar.
Sejak awal Tama memang sudah kalah dalam hal adu fisik dengan Adip. Adip pria lapangan yang bekerja keras beradu dengan matahari
Bentukan otot keduanya jelas jauh berbeda. Apalagi tenaga dan keterampilan berkelahinya. Ibarat kata, Adip kelas 10 Tama masih kelas 3.
“Kau bilang, Jingga milikmu? Hah?” ucap Adip meraih kra Tama yang tersungkur.
Heranya meski sudah babak belur, Tama masih sempat tersenyum menyeringai dan membuat Adip geram.
“Jingga ada dalam genggamanku!” ucap Tama lirih.
Dheg
Mendengar ucapan Tama, dada Adip berdesir, kenapa dari tadi fokus ke Tama. Adip kan belum bertemu Jingga. Adip kemudian menghempaskan tubuh Tama dan memberi pukulan terakhir.
"Rasakan! Bug!!" Tama kembali tersungkur mengeluarkan darah.
Adip tak peduli, kemudian berlari ke dalam rumah mencari Jingga.
“Jingga baik- baik saja kan?” batin Adip sangat panik dan hancur.
Adip akan rela dan ikhlas Jingga dinikahi orang lain asal dia pria yang baik dan lebih baik darinya, tapi jika harus membayangkan Jingga jatuh ke laki- laki bejat, sungguh, hati Adip hancur, remuk tak terbentuk.
__ADS_1
Adip sangat tahu jiwa dan hati Jingga sangat polos dan murni. Bahkan dibohongi angkot bayar 100 ribu saja Jingga patuh.
Adip pun menyalakan senternya, mengedarkan sinar mencari Jingga.
“Astaghfirulloh!”
Adip langsung membalikan matanya tatkala melihat kulit putih bersih Jingga terpampang di depanya.
Seketika itu juga, hati Adip seperti tersentuh magma yang panas. Bahkan Adip langsung meneteskan air mata sebagai ungkapan betapa sakit hatinya. Adip mengira, Jingga sungguh sudah kehilangan mahkotanya.
“Maafkan aku terlambat menemukanmu!” lirih Adip dalam kesakitanya.
Adip tergolek lemah dan menekuk tubuhnya bersimpuh. Adip benar- benar merasa gagal melindungi perempuan yang berhasil mengobrak abrik hatinya.
Adip sakit bukan hanya karena dia kehilangan Jingga, lebih dari itu, mata Adip perempuan adalah makhluk Tuhan yang mulia.
Perempuan adalah simbol atau penentu kualitas keluarga atau bahkan negara. Jika para ibu atau perempuan yang menghuni sebuah keluarga dan negara itu baik, maka dia akan melahirkan generasi yang baik pula.
Perempuan adalah makhluk yang harus Adip jaga dan dihormati. Di tempatkanya dalam martabat yang tinggi.
Perempuan bisa membawa laki- laki dan anak- anaknya dalam hidup yang indah, tapi perempuan juga bisa menjadi racun yang mematikan.
Bahkan Adip juga tahu, jika seorang ayah, kakak atau adik laki- laki yang bisa menjaga anak perempuanya tetap berada dalam ketaatan dan takwa, dijanjikan surga.
Sebegitu berharganya perempuan. Itu kenapa Adip selalu menjaga diri dan memperlakukan perempuan selalu sopan dan baik. Terlebih pada perempuan yang mencuri hatinya. Lebih dari Jingga yang tidak tahu apa- apa dalam tidurnya, Adip merasakan sakit seakan dia yang kehilangan kesucianya.
Lama Adip menangis sesenggukan. Di luar terdengar kilat petir sepertinya akan turun hujan. Adip pun berfikir kasian Jingga kedinginan.
Meski ragu, karena Adip juga baru pertama melihat sesuatu yang seharusnya dia lihat saat dia sudah melafalkan ijab qobul setelah syahadat, Adip meletakan senternya agar mengarah ke tempat berlawanan, tidak terfokus ke Jingga tapi pantulanya masih membuat Adip bisa melihat Jingga.
“Astaghfirulloh... astaghfirulloh!” Adip terus mengucapkan istighfar menekan gejolak naluri alamiah dalam dirinya melihat sesuatu yang kata gurunya bisa melemahkan ingatan dan hafalanya jika belum halal. Adip normal, melihat keindahan itu pasti miliknya yang selalu dia jaga akan bereaksi.
Adip melihat sekeliling mencari baju Jingga. Sayangnya di gubug itu kosong tak ada apapun, bahkan alas tembikar pun tak Adip temukan di situ.
Akhirnya Adip berfikir melepas pakaianya untuk menutupi tubuh Jingga. Lebih baik dia yang kedinginan, jangan sampai Jingga sakit batin dan juga sakit raga.
Kemeja outernya, Adip gunakan untuk menutup tubuh bagian bawah Jingga, sementara kaos untuk menutup bagian atas Jingga.
“Jingga bangun!” ucap Adip menggoyangkan tubuh Jingga begitu berhasil menutup sebagian tubuh Jingga.
Sayangnya beberapa kali digoyangkan, Jingga tak bergeming.
“Haisssh, dia ternyata membiusnya! Dasar bajingannn!” gumam Adip menyimpulkan.
Adip berfikir bagaimana memanggil Pak Anton dan Amer, sayangnya air kiriman dari Tuhan datang.
__ADS_1
Adip tidak mungkin membiarkan Jingga sendirian. Adip pun mengurungkan niatnya dan menunggu hujan reda.