Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
165. Baba berangkat.


__ADS_3

“Stop it!” ucap Buna di tengah suasana memanas antar diskusi keluarga dan membuat semua diam.


Buna yang rambutnya acak- acakan dan mukanya pucat, tetap berkuasa dan menunjukan eksistensinya. 


“Buna minta maaf, Nila, kalau Buna dan Baba menyakiti kaamu dan kalian anak-anak Buna, karena Buna dan Baba bertengkar. Buna sangat menyesal menyakitimu, karena harus melihat Baba dan Buna begini. Kamu tidak perlu berfikir sejauh itu,” 


“Buna tidak ingin juga memberi contoh yang tidak baik, akan tetapi lebih dari itu semua, sekarang yang terpenting adalah. Dimana Kaka Jingga kalian? Meski Kak Jingga pamit ke pulau P, kenapa di bandara pulau S dan pulau P yang bandaranya hanya ada satu tempat, tidak ada penumpang dengan nama kakak kalian?” 


“Jangan pikirkan yang aneh- aneh, sekarang pastikan dulu Kak Jingga aman? Baru kita selesaikan masalah lain. Oke?”


“Buna takut Kak Jingga bertemu dengan orang jahat seperti  pria bernama Tama itu. Kalaupun sudah sampai di pulau Panorama? Apa Kakak kalian akan selamat di jalan atau tidak? Dia pergi sendirian. Itu yang Buna pikirkan!” tutur Buna panjang, menghentikan pembahasan Baba, Nila dan Oma sebelumnya yang tidak kalah menyita perhatian. 


Semua diam berfikir, benar kata Buna fokus utama adalah, Jingga.


Secara tidak langsung, lewat surat itu, Jingga berpamitan dan tidak kabur mereka punya klu dan tujuan jelas Jingga. Jingga ingin menyusul suami yang dinikahkan oleh Amer dan warga adat. 


Pertanyaanta, kenapa mereka tak menemukan Jingga. Apa mungkin Jingga memalsukan identitas, sudah sampai sana dan ada signal. Atau ada halangan di jalan.


Akses ke Pulau Panorama yang mereka tahu hanya satu Bandara. Karena panik, tidak ada satupun dari mereka yang berfikir Jingga memilih jalur laut. Jalur laut memakan waktu satu minggu bisa lebih, itu juga jalur ekstream yang tidak terfikirkan sama sekali.


Jingga yang mereka kenal, Jingga yang tidak tahu apa- apa, manja, pemilih makanan dan penakut. 


Apalagi memakai hijab, tidak ada yang tahu sama sekali.


“Agar semua masalah selesai. Ya sudah kalau begitu kita bagi tugas!” celetuk Ikun. 


Meski pendiam tapi diamnya Ikun berfikir. 


“Baba dan Kak Amer cari Kakak ke Pulau P. Tujuan Kak Jingga ke Bang Adip kan. Baba dan Kak Amer juga perlu temui Bang Adip dan pastikan nasib Kal Jingga... Urusan Tama biar Ikun, dan Pak Dhe Gery! Kita juga tetap cari Kak Jingga di sini!” ucap Ikun kemudian mengantisipasi Jingga ada di Ibukota disandera Tama lagi.

__ADS_1


“Buna, Oma dan adik- adik di rumah saja, berpikir positif dan doakan semua baik- baik!” ucap Ikun lagi bijak.


Semua setuju.


Buna dan Baba kali ini juga kompak mengangguk senang dan bangga. Mereka menyadari anak mereka bisa berfikir lebih tenang dari Baba yang panik dan gerasa gerusu.


Mereka bersyukur juga punya anak banyak, satu bikin masalah yang lain yang membantu menyelesaikanya. 


"Oke!" jawab semuanya.


Di depan anak- anak dan mertuanya, Baba Ardi mengaku salah dan meminta maaf, pada Buna. Akan tetapi Buna hanya mengangguk dan tetap dingin.


Buna tidak mau tahu Jingga harus dipastikan keberadaanya dimana dulu baru mau kembali manis.


Baba dan Amer pun langsung bersiap ke Pulau P. 


Sementara Ikun mengambil laptopnya.


“Hemmm,” jawab Buna malas, mau mengeluarkan emosinya tapi malu ada Opa Nando dan Oma. 


Untungnya Opa Nando tampak sibuk berdiskusi dengan Ikun, Ikun sedang menyelidiki siapa Tama, dimana rumahnya dan identitas orang tuanya. Darimana juga Tama bisa mempunyai obat bius yang terlarang. 


Oma juga tampak sibuk menemani Iya dan iyu.


“Baba mau pergi lho Bun!” bisik Baba mendekat ke Buna.


“Udah biasa kan?” jawab Buna cuek. 


“Ehm!” Baba berdehem keki sendiri dan mengusap tengkuknya. 

__ADS_1


“Di sana nggak ada signal lhoh Bun!” ucap Baba Ardi mengkode minta perhatian akan berpisah tanpa signal, sayangnya Buna malah merespon berbeda. 


“Buna tahu, itu kan yang terjadi pada Jingga! Baba bayangin nggak Jingga ke sana nggak ada signal nggak tahu keberadaanya apa kabarnya? Baba kan yang buat Jingga pergi dan terbuang di sana!” jawab Buna lagi justru marah, bukanya baik ke Baba.


“Ehm...!” Baba berdehem salah omong lagi. 


“Ya... Maaf. Buna baik- baik di sini ya! Nggak apa- apa kan Baba tinggal?” 


“Buna sangat baik, baik sekali. Orang tuaku dan anak- anakku yang akan menjagaku!” ucap Buna lagi geram.


“Anak Baba juga Bun!” jawab Baba lagi. 


“Hemmmm!” 


“Baba boleh pamitan sama anak Baba yang di perut nggak? Bentar aja!” rayu Baba lagi dengan alasan ingin memeluk istrinya dan mengusap perutnya yang 3 hari ini mengacuhkanya. 


“Nggak! Temukan dulu anak pertama Baba, baru boleh sentuh anak yang lain!” jawab Buna lagi bangun. 


"Hahh...,” Baba pun hanya bisa menghela nafas kasar, keinginan berpamitan harus dia kubur karena Amer datang dan memberitahu semuanya sudah siap. 


Sore itu, Baba dan Amer memutuskan menyusul Jingga sekalian ingin bertemu dengan Adip. 


Amer sebagai petunjuk jalan di Pulau P.


Mereka tidak mau membuang waktu tidak ada transit- transit. Karena menggunakan pesawat pribadi Gunawijaya tidak butuh waktu berhari- hari mereka sampai di Pulau P dalam kurun waktu beberapa jam saja.


*****


Maaf kalau alurnya agak aneh.

__ADS_1


semoga masih bisa dinikmati.


Fokusin kelanjutan Jingga dan Adip dulu yaaa. Hehehe


__ADS_2