
Duduk berdua berdampingan bukan berhadapan, menghadaap ke laut yang lepas di bawah sana, dua insan itu menikmati umbi bakar.
Itu pertama kalinya bagi Jingga memakan makanan yang diolah manual seperti itu. Awalnya Jingga pun kepanasan dan tidak mengupasnya, tapi kemudian dibantu Adip.
"Enak kan?" tanya Adip dengan tatapan mesranya.
“Huum, tapi susah, tanganku jadi kotor. Tunggu dingin aja kali ya!” ucap Jingga.
“Ya nggak apa- apa sih kalau kamu masih kenyang, aku sih suka yang masih anget- anget gini, ada sensasi gosongnya, terus lembut nggak keras!” tutur Adip membuka umbi yang dia belah dan masih mengeluarkan asap, meski lumayan dingin.
“Aku nggak bisa mbelahnya, takut panas!” jawab Jingga lagi.
Adip kemudian mengambil umbi yang ada di tangan Jingga dan mengupasnya, membelahnya manul dengan tangan lalu memberikanya ke Jingga.
Jingga pun senyum- senyum sendiri, kenapa dia baru sadar kalau lelaki di depanya ini sangat sweet. Jingga pun bersedekap memandangi Adip dengan tatapan cintanya. Jingga merasa sangat bahagia bersuamikan pria tampan dan baik ini.
Adip kemudian berhenti menoleh ke Jingga yang sedang menatapnya.
“Ehm!” dehem Adip salah tingkah.
Kenapa Jingga suka sekali membuatnya mati kutu. Kenapa Adip merasa semua perempuan agresif, meski begitu tak ada yang membuatnya jadi kikuk seperti sekarang. Padahal sebelumnya Jingga sangat pendiam dan jutek, kadang cengeng juga.
“Nih! Makan!” ucap Adip ketus lalu mengalihkan pandanganya dari Jingga bangun kemudian pergi.
“Ish...dia benar- benar jual mahal! Mau kemana dia?” batin Jingga kesal karena baru aja sweet malah ditinggal.
“Bodo ah,yang penting aku mau makan!” batin Jingga kemudian memakan umbi yang Adip berikan.
"Enak!" batin Jingga senyum.
Hari itu, tidak mau dikerjai Jingga terus, Adip menyibukan diri sendiri berjalan ke tepi jurang dan menikmati angin laut sambil melihat- melihat barangkali ada bahan makanan.
Keberuntungan pun berpihak pada Adip, dari kejauhan di bawah lembah terlihat pohon jambu hutan.
“Kamu jangan nangis lagi, tunggu aku di sini! Aku mau ke bawah sebentar!” pamit Adip ke adik kecil manjanya yang sedang duduk di dalam gubug sambil menyenderkan kepalanya kekenyangan.
“Hoh?” Jingga hanya menoleh sebentar.
“Jangan nangis lagi aku mau turun sebentar!” jawab Adip lagi.
“Ya...!” jawab Jingga manis.
Adip kemudian pergi, Jingga pun hanya bisa melihat punggung Adip menjauh pergi meninggalkanya.
“Suka sekali pergi- pergi? Katanya suka aku? Kenapa dia tidak mau diam sejenak ngobrol gitu sama aku? Ish... ck. Dasar!” gerutu Jingga kemudian Jingga memilih tidur.
__ADS_1
Adip berjalan menyusuri lereng dengan sangat hati- hati, jika melihat ke bawah dan terpeleset satu langkah saja, tubuh Adip mungkin akan remuk dan Adip akan menjadi arwah gentayangan penunggu bukit itu.
Karena keterampilanya sering ikut mapala, Adip berhasil melaluinya, bahkan menemukan gua kecil yang menghadap ke hutan- hutan.
“Hufft!” Adip menghela nafasnya dan mengistirahatkan badanya.
“Aku bisa gila berdekatan terus denganya?” gumam Adip kemudian.
Sebagai laki- laki normal apalagi dengan tubuh yang sehat dan kuat, Adip selalu datang dorongan hasratt mengagahi Jingga dengan keperkasaanya.
Apalagi, Adip sudah melihat tubuh mulus Jingga, buah segarnya yang begitu terlihat menggoda untuk dilahap.
Apalagi jika Jingga bersikap genit genit dan manja. Sungguh Adip ingin segera menghabisinya.
Meski begitu, Adip mengerti, Jingga seorang putri dari seorang ayah. Adip tidak mau lancang mencuri dan menikmati Jingga sesuka hatinya sebelum bertemu dengan mereka yang membesarkan Jingga. Meski mereka sudah dinyatakan sah.
Mendapatkan tempat nyang nyaman dan ingin mengusir semua ajakan yang menyiksanya, Adip berusaha duduk mengumpulkan memory untuk menghafalkan ilmunya lagi. Itulah obat mujarabnya agar dia tetap waras.
Tapi entah kenapa, setenang apapun suasana di tempat itu, pikiran Adip selalu terbelah ke Jingga dan otaknya tidak bisa fokus. Akhirnya Adip memilih pulang ke gubug.
“Haah!” Adip menghelaa nafas lega melihat Jingga tidur dengan nyenyak. Adip akan bebas dari godaan Jingga.
Adip kemudian kembali memusatkan otaknya untuk menghafal lagi, sampai Adip lelah dan waktu sholat Ashar tiba.
****
Begitu sampai di kota, ponsel Amer yang tadinya tidak ada signal langsung terhubung dengan signal. Ribuan pesan kemudian masuk. Baik dari Baba, Buna, pengawal dan teman- temanya.
Amer menelan ludahnya bingung mau balas apa?
“Aku cerita nggak ya ke Baba?” batin Amer.
“Tapi pasti Baba akan marah, Buna juga akan khawatir, Buna kan lagi hamil?” batin Amer memutuskan.
Amer kemudian hanya mengirimkan foto dirinya dan Jingga saat tadi turun dari bukit terhenti sejenak berswa foto di panorama yang indah.
“Amer udah ketemu, Kak Jingga, Ba.. Bun! Kita semua baik- baik saja dan happy di sini!” tulis Amer ke pesan grup keluarganya.
Begitu pesan terkirim, grup langsung ramai, Baba yang sedang di luar negeri, Ikun, Amer dan Nila semua membalas, bahkan Oma Nurma, Oma Rita ikut melihatnya.
Mereka semua mengatakan kangen dan berharap mereka segera berkumpul.
Satu pesan yang berbeda dari Buna.
“Laki – laki yang bersama kalian siapa Nak? Buna kayak nggak asing lihatnya!” tanya Buna mengenali wajah Adip.
__ADS_1
“Dia veteriner teman Amer, Buna!” jawab Amer. Oma pun ikut membenarkan kalau Uma kenal dengan laki- laki itu, bahkan Umma memujinya dan senang Amer berteman dengan Adip.
Sayangnya Amer tak menceritakan peristiwa yang terjadi dengan kakaknya. Baba Ardi malah menyampaikan pesan, dan memberitahu kalau di tempatnya berada, dia satu kota dengan Rendi dan tengah membeli hadiah pernikahan indah untuk kakaknya.
Baba titip tanya ke Amer untuk bertanya pada Jingga.
“Duh kujawab apa ini?” batin Amer gelagapan, Amer kan sekarang sedang berpisah dari Jingga, bagaimana mau tanya. Amer juga jadi takut ketahuan kalau mereka meminta video call. Amer kan sedang di rumah sakit.
Amer kemudian pura- pura tidak ada signal lagi dan mematikan ponselnya demi kebaikan kakaknya. Tidak ada yang tahu kalau Jingga sekarang sedang centil- centil menggoda dan pacaran dengan suami dadakanya.
Sesuai nasehat Adip, Amer mencari dokter yang bernama dokter Reza.
“Sus...” panggil Amer.
“Ya!”
“Apa di sini ada dokter yang bernama dokter Reza?”
“Ya ada!”
“Dimana dia?” tanya Amer.
“Baru aja pulang katanya ada tamu!” jawab susster, mendengar perkataan suster Amer semakin yakin akan bertemu Tama.
Hasil pemeriksaan Amer dinyatakan retak saja dan sudah dibidai. Amer hanya diminta istirahat 1 hari.
Amer kemudian berniat mendatangi dokter Reza di messnya untuk menanyakan tentang Tama.
Sayangnya sesampainya di rumah dinasnya, dokter Reza tidak ada di tempat.
****
Di tempat landasan helikopter
“Hati- hati Bro!” ucap Dokter Reza menepuk pundak sahabatnya.
“Makasih ya!” jawab Tama.
“Gue yang makasih udah dijengukin, kalau mau main kesini lagi, kabari aja!” ucap Dokter Reza..
“Siap- siap!” jawab Tama.
Tidak lama helikopter yang membawa Tama ke kota bersiap. Tama pu segera naik.
“Gue akan gunakan foto ini untuk hancurkan reputasimu, Jingga! Kamu berani bermain api denganku? Hah kamu yang akan terbakar oleh api ini? Jika sainganku buaya kecil seperti Adip itu terlalu remeh,” batin Tama tersenyum licik memutar benda kotak di tanganya.
__ADS_1
Tama pun menyiapkan sessuatu yang tidak bisa Jingga bayangkan menyambut kepulangan Jingga ke kampus dan ibukota besok.