
”Bagaimana ini? Apa kita lapor Bos Besar?” tanya salah satu pengawal Amer yang setia dengan Baba Ardi bernama Widi.
“Gobblook!” jawab pengawal yang lain, pengawal baru yang setia dengan Amer, bernama Riki.
“Lhah terus gimana?” tanya Widi
“Kalau kita lapor yang ada kita dimarahi, Den Amer kan udah kirim pesan ke kita. Dia ingin liburan dan tidak ingin diganggu!” jawab Riki memberitahu pendapatnya.
“Kalau terjadi sesuatu dengan Den Amer gimana? itu berarti kita tidak melakukan apa yang Tuan Ardi perintahkan! Kita menyalahi aturan!” ucap Widi.
“Haish... Den Amer kan sudah bilang dia akan baik- baik saja! Dia hanya ingin bersenang- senang!” jawab Riki lagi.
“Aku sudah dapatkan identitas pria yang lari bersama Den Amer, dia pegawai dari balai veteriner!” celetuk Agus pengawal yang lain sambil menghadap layar komputer.
Mereka melacak melalui plat nomer motor yang dipakai Adip. Nama pemilik motor adalah teman senior Adip.
"Lets go!"
Mereka kemudian mendatangi asrama tempat Adip seharusnya berdinas, di dekat laboratorium balai veteriner.
Teman Adip yang sedang bercengkerama dengan keluarganya pun dibuat kaget dengan kedatangan pengawal Amer, tetangga Asrama pun ikut kepo.
“Maaf kalian siapa ya?”
“Dimana Tuan Muda kami?” tanya pengawal Amer tanpa bosa basi.
Teman Adip kemudian garuk- garuk kepala tidak mengerti.
“Tuan muda siapa?” tanya teman Adip.
“Anda pemilik kendaraan dengan plat nomor ini kan?” tanya pengawal Amer menunjukan plat nomer yang dinaiki Adip.
“Ya benar... itu motornya! Ada apa? Saya tidak melakukan pelanggaran lalu lintas ko. Saya dan istri saya juga selalu pakai helm. Motor saja juga baru saja lunas cicilanya.” jawab teman Adip mengira pengawal Amer polisi atau dept colektor dari pihak motor.
“Dimana Tuan Muda kami?” tanya pengawal Amer lagi, bersiaga dengan mode galaknya sehingga penduduk rumah dinas balai veteriner pada keluar dan ikut menonton semakin kepo.
“Ini apa- apaan sih?” istri teman Adip pun beraksi tidak terima ada segerombolan pria berseragam hitam- hitam menyergap suaminya.
“Geledah!” ucap salah satu pengawal Amer menyuruh mereka masuk.
“Eee... eee! Enak saja main geledah! Nggak ada main- main geledah. Aku tuh beresin rumah pegelnya nggak ilang- ilanh tahu. Main geledah diberantakin! Jelasin dulu! Ada apa? perasaan suami saya nggak punya utang deh! Kalian siapa mau cari apa?” tanya istri teman Adip dengan mode emak- emak maksimal.
Pengawal Amer kemudian mengeluarkan logo Gunawijaya, menunjukan mereka pegawai dari rumah besar keluarga terpandang dari ibukotam Istri teman Adip kan perawat yang melek gadget dan informasi.
“Hohh!” Dia langsung terbengong, tidak menyangka pengawal dari perusahaan nomer satu di negaranya ada di asramanya. Istri teman Adip yang bernama Tita kemudian salah tingkah dan mode ramah.
“Kalian cari apa ke sini, suami saya tidak melakukan apapun?” tanya Tita.
“Tuan Muda kami lari naik kendaraan kalian! Dimana kalian sembunyikan Tuan Muda kami!” jawab pengawal.
“Ohh... motor itu?” jawab Tita mengerti.
“Ya!”
“Adipati, Bang... Adipati!” bisik Tita mencubit pinggang suaminya.
“Oh anak laki- laki yang dibonceng Adip itu?” bisik teman Adip kemudian ngeh.
"Ya... dimana Tuan Muda Amer?"
“Hoh... dia putra Gunawijaya, pantes ganteng banget!” gumam Tita malah mengomentari Amer.
“Dimana kalian sembunyikan Den Amer?” tanya pengawal lagi.
__ADS_1
“Kami tidak menyembunyikanya. Teman kami yang membawanya!” jawab istri teman Adip kemudian.
“Teman? Siapa dia? Dimana Dia?” tanya Pengawal Amer.
Saat teman pengawal Amer bertanya teman yang lain berbisik, kalau itu pria yang sore itu mendatangi Amer ke hotel.
“Dia bernama Adipati Wirajaya, dia pegawai baru di balai veteriner sini. Masih pegawai kontrak, tapi dia petugas lapangan, dia ke kantor seminggu sekali!” jawab teman Adip.
“Dia bertugas di kecamatan DT, dia keliling ke desa- desa melakukan pendampingan ke warga!” lanjut Tita istri teman Adip.
Pengawal Adip kemudian melunak mendengar informasi yang disampaikan. Mereka mengangguk, lalu pergi.
Teman- teman Adip kemudian saling bergosip dan tidak menyangka.
"Kok bisa ya Adip berteman dengan anak konglongmerat di negaranya itu? Adip kan pegawai rendahan,"
Sementara pengawal Adip malah beradu pendapat antara pengawal setia Amer dan pengawal setia Baba Ardi. Antara menyusul Amer atau menunggu Amer.
Sebelum masuk ke desa, dengan liciknya Amer memberi pesan berwaktu, kalau Amer meminta mereka menunggu di hotel, dan jangan khawatir teerhadap keselematan Amer.
Amer mengatakan ke pengawal ingin bersenang- senang dan liburan bersama kakak dan temanya.
Karena dari keempat pengawal Amer yang setia terhadap Baba Ardi hanya satu. Amer pun berhasil mengelabuhi pengawalnya.
“Sudahlah, Tuan Ardi kan tidak lihat kita, kita kantongi saja nama teman Den Amer ini, dia kan pegawai di sini. Den Amer pasti selamat, kita tunggu satu minggu, kalau Den Amer tidak kembali baru kita cari, daripada Den Amer marah!” rayu pengawal Amer.
“Kalau Tuan Ardi marah gimana? Lebih gawat!”
“Ya nggak usah bilang- bilang Gobllllok!” jawab pengawal yang lain mengeroyok pengawal setia Baba Ardi
“Oke!” jawab pelayan setia Baba Ardi kalah.
“Kita senang- senang saja di sini!” jawab pengawal yang lain.
*****
Sebagai laki- laki normal yang sejak awal bertemu memang penasaran dan tertarik dengan Jingga, meski Adip tahu diri dan mengikhlaskan Jingga jika yang terbaik untuk Jingga harus melepaskanya. Adip juga ingin mengenang Jingga setidaknya selama menjadi istrinya dan menyimpan fotonya.
Selain itu, Adip pun ingin melakukan sesuatu yang membuat Jingga tersenyum dan bahagia.
“Mau foto dimana?” tanya Adip turun dan mendekat ke Jingga.
“Ehm...!” Jingga justru salah tingkah di dekati Adip begitu, mengingat semua yang dia ketahui semalam.
“Di situ bagus tuh!” ucap Adip menunjuk batu di pinggira tebing.
‘”Ah... iya!” jawab Jingga ikut saran Adip.
Jingga kemudian berdiri menepi ke batu di pinggiran tebing. Adip pun mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera belakangnya ke Jingga.
“Satu... dua tigaa.., senyum dong!” ucap Adip memberi aba- aba layaknya fotografer prifesional.
Jingga berusaha senyum, tapi karena gerogi tetap saja senyum Jingga tak sealami biasanya.
“Biasa aja senyumnya, jangan kaku gitu!” ucap Adip menegur.
“Gimana?” tanya Jingga malu dan salah tingkah.
“Aih, bukan gitu. Yang alami. Senyum kaya biasanya, biasanya kan cantik, nggak usah tegang jelek tahu!” tutur Adip kelepasan.
Bukanya mengikuti Adip, mendengar perkataan Adip, Jingga malah salah fokus, “Hoh... iya kah? Apa aku selama ini cantik di mata dia? Kapan dia lihat aku senyum... oh ya Tuhan kenapa aku jadi dheg- dhegan gini?” batin Jingga malah ke Gr-an dan salah fokus. Jingga pun dibuat limbung karenanya.
“Aaaakh!” teriak Jingga tiba- tiba.
__ADS_1
Karena tidak fokus dan melamun Jingga berjalan dan berposenya telalu mundur. Jingga kehilangan keseimbangan dan satu kakinya salah menginjak batuan yang keropos. Jingga pun terjatuh.
Adip yang melihatnya seperti disambar petir. Ada sengatan panas yang menyerang. Adip langsung melepar ponselnya dan berlari.
“Jinggaaa...!” teriak Adip cepat.
Reflek, respon tubuh Jingga, tangan Jingga langsung meraih ujung batu tebing yang menonjol.
Untung tebing tempat mereka berpijak adalah tebing jenis bebatuan karang di tepi laut, jadi bebatuanya bergelombang, berongga dan bergerigi.
Jingga masih sempat berpegangan, dan ujung ibu jari kakinya juga masih bisa berpijak. Jingga berusaha mengaitkan tubuhnya agar tidak terperosok.
Akan tetapi meski begitu, ujung batu licin dan cukup pedas untuk di genggam. Batu pijakan Jingga juga tidak besar, hanya lubangan batu yang tertimpa air hujan bertahun- tahun.
“Hiiiiks....hiiiks”. Jingga menangia sangat takut saat menyadari dirinha menempel di ujung dinding tebing yang sangat tinggi.Di bawah Jingga ternyata lembah yang terhunung ke laun.
Jingga pun tidak berani melihat ke bawah, Jingga memilih memejamkan matanya tidak bisa berfikir. Seluruh otak dan pikiran Jingga ngebleng, karena panik. Tubuhnya pun mendadak basah dibanjiri keringat saking takutnya.
Adip langsung gelagapan melihat Jingga hampir jatuh.
“Tenang... Jingga tenang!” tutur Adip berusaha mengatur nafas dan berfikir.
“Aku tidak mau mati, Tuhan!" teriam Jingga asal.
"Aku memang tidak ingin pulang ke Baba. Aku memang ingin terus di sini, tapi bukan begini? Aku tidak mau mati... aku masih ingin hidup, hu... hu....!” Jingga pun meracau tidak jelas.
Adip yang sedang panik berfikir mencari posisi tepat mengambil ancang- ancang untuk menolong Jingga jadi tidak fokus mendengar omongan Jingga.
“Ya... ya... kamu akan selamat, tenang, tenang!” tutur Adip berusaha menangkan Jingga. “Aku akan menolongmu!” tutur Adip lagi besiap jongkok dan mengambil pijakan dan mengulurkan tangan hendak menolong Jingga.
Sayangnya Jingga tetap fokus pada dirinya.
“Hiks... hiks...Tuhan aku belum mau mati, aku mau jadi istri Adip terus... aku nggak mau jaddi istrinya Pak Rendi...katakan pada Buna dan Baba. Aku suka Adip!” celoteh Jingga lagi mengeluarkan isi kepalanya.
“Haa...” mendengar celotehan Jingga lagi, Adip semakin salah fokus dan jantungnya jadi berdebar- debar. Adip kemudian tersenyum senang mendengarnya. "Haishh kau ini!" gumam Adip.
“Kalau kau tidak mau mati. Buka matamu! Ulurkan tanganmu yang satunya! Pegang tanganku!” teriak Adip menyadarkan Jingga.
“Ha!” pekik Jingga membuka matanya.
“Ayo!” ucap Adip memberikan tanganya.
“Tebingnya berongga... kau pernah lihat orang panjat tebing kan! Ayo pegang tanganku, naiklah injak tiap rongga itu!” tutur Adip memberitahu.
Adip sedikit lega saat melihat tipe batunya.
Jika untuk gadis yang biasa ke hutan sebenarnya tipe bebatuanya mudah untuk menyelamatkan diri. Tapi karena Jingga tidak terbiasa dan melihat ketinggian cukup medebarkan membuat Jingga kewalahan. Jingga hanya bisa menangis ketakutan.
“Aku takut!” rengek Jingg lagi.
“Pegang erat tanganku!” ucap Adip lagi.
Akhirnya karena Jingga tidak kooperatif untuk manjat sendiri, Adip menyeret paksa.
Jingga tidak bisa merambat alami dengan kakinya. Jingga pun berhasil naik meski tubuhnya jadi tergores bebatuan.
“Auuuh!” keluh Jingga menyadari lututnya tergores dan berdarah.
“Alhamdulillah.... haah....” Adip tidak memperdulikan keluhan Jingga dan justru menghela nafasnya beristirahat setelah sekuat tenaga menarik tubuh Jingga.
“Periiiih!” lirih Jingga lagi meniup lututnya.
Adip kemudian menoleh ke istrinya.
__ADS_1
“Kau tadi bilang apa? Coba ulangi!” tanya Adip masih tidak peduli keluhan Jingga dan justru mengingat perkataan Jingga tadi.