
“Si bontotnya Baba... sholehah dan pinter kan? Nggak repotin Buna kan? Pasti kangen Baba ya? Baba mau tengok ya Bun?” bisik Baba Ardi di dalam kamarnya memeluk Buna dari belakang dan mengelus perutnya.
“Ish... ck, Baba!” jawab Buna berdecak tau modus suaminya kalau sudah peluk peluk begitu.
“Buna nggak kangen apa sama Baba?” jawab Baba Ardi tersenyum nakal pada Buna.
“Iya sama Iyu belum tidur Ba, kasian mereka Buna tinggal!” jawab Buna.
“Nggak apa- apa Bun, kan ada Nila sama Ikun! Buna nggak kasian sama Baba?” jawab Baba meski tua tapi manjanya masih sama ketika muda.
Baba tidak peduli pada anak kembarnya yang super aktif manggil- manggil Buna. Difikiran Baba, mereka sudah dia belikan oleh- oleh, Iya dan Iyu harus ikhlaskan Buna untuk Baba malam ini.
Baba langsung mengajak Buna ke kamar dan melepaskan rindunya setelah beberapa hari pergi ke luar negeri.
Sebagai istri Buna hanya mengikuti Baba. Menunaikan kewajibanya sebagai istri. Sebagai laki- laki matang, Baba Ardi meski tua tetap tampan dan gagah, apalagi Baba beruang, godaa. di luar banyak. Demi menjaga agar Baba tetap setia, Buna selalu bersedia kapan saja suaminya menginginkanya.
Karena sudah tua, dan sedang hamil, mereka menunaikan hasratnya seperlunya, tidak lama. Yang penting kapan Baba mau, disempatkan.
Jika Baba dan Buna sudah masuk kamar dan menutup pintunya, putra- putrinya pun tahu diri tidak mengganggu.
Tidak butuh waktu berjam- jam, mereka sudah selesai, Baba kini memeluk Buna hangat dibalik selimut.
“Nak Rendi sudah berusia matang, kita majukan saja pernikahan Jingga dan Rendi Ya Bun!” tutur Baba sampil menciumi rambut Buna.
“Tapi Jingga masih 20 tahun Ba...!"
"20 tahun justru sedang mekar- mekarnya Bun. Baba yakin Jingga juga udah Puber. Pas lah! Justru bagus, Jingga nikah muda akan melindungi Jingga agar tidak tergelincir ke perbuatan Zina, Bun!" jawab Baba mantap berpendapat menikahkan Jingga secepat mungkin.
"Dia belum lulus kuliah juga! Terus pernikahan kan butuh persiapan! Jingga juga belum sepenuhnya menerima perjodohan ini Ba, jangan gegabah!” jawab Buna pelan.
“Kita dulu nikah juga Buna belum lulus. Kita nggak pakai persiapan apa-apa, sekarang kita bahagia, anak kita udah mau 7. Kamu sama mas juga terpaut 5 tahun. Kamu nggak tahu ya... laki- laki itu kebutuhan sekssual itu penting. Tidak baik terlalu lama menunda!” jawab Baba menyamakan dirinya.
__ADS_1
“Hhhh!” Buna Alya menghela nafasnya diam.
"Pokoknya Jingga harus cepat menikah!" jawab Baba lagi.
"Bilang aja Baba ingin berbagi beban biar ada yang bertanggung jawab nasehatin Jingga!" jawab Buna lagi mencibir.
“Nggak gitu Bun! Jingga kan anak Baba! Jingga takut Jingga salah jalan! Kalau udah nikah udah tenang Baba!"
"Baba mah gitu. Orang modern tapi berpikirnya kayak orang jaman dulu!" cibir Buna lagi.
"Besok pagi, Amer dan Jingga sampai. Biar Rendi yang jemput!” jawab Baba tidak mau tau apa kata Buna.
“Lhoh... Jingga jadi pulang?” tanya Buna kaget.
“Iya... tadi pilot Papa ngabarin, mereka udah sampai di pulau S. Mereka istrirahat sebentar di sana. Terus besok pagi sampai sini!” jawab Baba.
Perjalanan dari pulau P ke ibukota sekitar 9 jam, di tambah transit dan istirahat di pulau S jadi 11 jaman.
“Ah.. itu nggak penting! Jingga kalau mau mengabdi kayak Buna aja, di Panti banyak ladang untuk Jingga mengabdi. Baba mau Jingga kaya Buna!” jawab Baba.
“Babaa... Jingga itu bukan Buna... jangan samakan Jingga dengann Buna! Kasian Jingga. Kalau boleh jujur Buna juga pengen praktek lagi, Ba...!’
“Nggak! Buna nggak boleh praktek, udah urus anak aja! Kalau Buna ngeyel, Baba bikin hamil lagi setelah hamil yang ini!” jawab Baba mengancam.
“Baba!” cubit Buna kesal, bisa- bisa nya belum lahira udah diancam suruh hamil lagi.
“Hehe... udah tidur, pokoknya Buna di rumah aja, nggak boleh sibuk di luar!” jawab Baba memeluk Buna dan mengajaknya tidur.
*****
Sepanjang perjalanan di pesawat, Jingga terus diam dan merenung bahkan sesekali menangis. Meski Jingga bahagia akan kembali pulang ke rumah mewah bak istana keluarga Babanya dan bertemu dengan keluarganya, Jingga sangat sedih berpisah dari Adip. Jingga takut tidak bisa bertemu lagi.
__ADS_1
Akan tetapi Jingga terus teringat kata- kata Adip.
"Jaga auratmu untukku, akan lebih bahagia jika kamu melakukan itu. Kamu mencintaiku kan?"
Jingga jadi berfikir, saat ini, bukti cinta terbaik dari Jingga untuk Adip adalah kesetian menunggu. Menjaga hatinya, cintanya dan dirinya untuk Adip. Termasuk keindahan dirinya, kecantikanya, kemolekan tubuh dan seluruh pesonanya untuk Adip. Iya, sekarang, meski kepastian hukumnya masih dipertanyakan, Jingga merasa dan memang ingin sungguhan menjadi istri Adip.
"Mungkin sekarang waktunya aku turuti mau Buna dan Baba juga!" batin Jingga jadi ingin ikut Bunannya memakai hijab.
Jingga kemudian menyeka air matanya.
“Udah sih Kak... nggak usah lebay nangis gitu!” ejek Amer memberikan tisu.
“Pokoknya kamu harus bantuin Kakak, kalau Kakak itu udah jadi istri orang!” tutur Jingga dengan mode galak.
"Ya kakak usaha ngomong sendirilah. Amer tugasnya jemput Kakak!" jawab Amer egois.
"Amer!" pekik Jingga kesal dan memukul lengan adiknya.
Sesaat pemberitahuan pesawat mau landing. Jingga bersiap- siap turun mereka akan segera menginjakan tanah ibukota kembali.
*****
Di apartemen mewah tempat tinggal mahasiswa berkumpul. 3 orang pemuda sedang berkumpul menghadap laptop dan sambil menghisap rokok.
"Jika Jingga tetap menolakku! Pastikan saat Jingga balik ke kampus dia tidak berani menampakan wajahnya!" tutur Tama ke kedua temanya.
"Siap Bos. Ini pasti akan jadi trending topik di kampus kita. Malah kalau bisa ke seantero negara kita.Bakal jadi cuan...Hahahaha!"jawab teman Tama tertawa lepas.
"Yang penting amankan akun kita. Jangan sampai bocor kalau kita yang sebarkan!" jawab teman yang lain.
"Orang yang harus lihat pertama adalah si Rendi dosen bangkotan itu, dia pasti akan nangis darah dan membenci Adip!" sahut Tama tertawa licik.
__ADS_1
Mereka bertiga sedang berencan membuat akun palsu dan hendak menyebarkan berita buruk tentang Jingga dan Adip yang diarak warga kampung Adat.