Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
209. Jingga menangis


__ADS_3

****


Next...


“Katamu, kamu tidak suka kalau Abang pegang keras, berarti kalau pelan boleh ya?” batin Adip tersenyum nakal, merasa sekarang saatnya beraksi.


“Seet,” 


Dengan gerakan pelan dan hati- hati, Adip menarik tali kimono baju Jingga.


Mendadak jantung Adip berdegub sangat kencang, begitu talinya di buka, kain itu terbelah menjadi dua.



Seketika mata Adip terbelalak kaget, rupanya Jingga yang tadi ke Gr-an sudah bersiap tak memakai pakaian dalam, baik bra ataupun cd.


Dan kini tepat di hadapan Adip tersaji hidangan lezat yang siap dia santap. 


Adip memang pernah melihatnya sebelumnya, tapi saat itu suasana mencekam dan memilukan.


Mereka ada di gubuk yang kotor, berdebu dan gelap.


Jangankan ada ada aroma wangi atau kesegaran, yang ada suara hewan dan badai angin karena hujan. 


Jika malam ini, suasanya begitu syahdu, wangi, dan sekelilingnya tempat yang indah dan mewah. Jingga terlihat begitu tenang dan menggairahkan. Apalagi sudah halal bebas mau apa saja.


Tidak hanya bagian atas tubuh Jingga yang sekarang nampak di pandangan mata Adip, tapi sampai bawah.


Nyata, Adip bahkan bisa melihat lahan berbentuk segitiga di tengah pangkal paha mulus Jingga. Beberapa helai rambut hitam yang tipis di atasnya juga tak luput dari tangkapan mata Adip. 


Adip yang selalu menjaga pandangan, menjauhkan hal- hal berbau maksiat seperti film- film dewasa jadi gemetaran melihat semua itu. Tubuh Adip memanas.


Adip membarinhkan tubuhnya miring menghadap ke Jingga.


“Kamu istri halalku, kan?” batin Adip meyakinkan dirinya apa yang hendak dia lakukan adalah hak.


Tangan Adip kemudian maju, menyapu lembut kedua panorama gunung indah yang berjajar di dada Jingga itu.


Di tengahnya seperti ada tombol lucu yang membuat Adip gemas. Adip kemudian menggerakan tanganya memainkan lagi. 


Adip menunggu respon Jingga, berharap Jingga bangun dan bisa dia ajak ke tahap selanjutnya tanpa Adip terkesan mencuri.


Sayangnya Jingga hanya sedikit menggeliat dan matanya tetap terpejam. 


Adip kemudian melanjutkan aktifitasnya, bukan tangan lagi yang bermain, melainkan mulutnya. 


“Euhhh...,” saat Adip memberanikan diri mengisap tombol lucu di tengah dada itu, terdengar Jingga sedikit melenguh. Adip sangat suka suara itu. 


Tidak hanya menghisap, tapi Adip membuat beberapa jejak. Ternyata sangat menyenangkan bisa membuat jejak di tubuh istrinya itu.


Fokus Adi kemudian berpindah ke lahan segitiga bawah yang tampak subur itu. 


“Hooooh,” lenguh Adip gemetar.


Suasana sudah tidak terkendali dan semakin memanas.


Meski ragu, Adip beranikan diri mendaratkan tangannya ke ladang yang ditumbubi rumput hitam itu. Ternyata di tengah kebun itu ada celah mata air. 


“Gleg....,” Adip menelan ludahnya menyadari apa itu, karena tangan Adip terasa menyentuh lendir basah.


Adip jadi penasaran ingin menyusuri sumber air lengket itu dan sedikit menekannya. 


“Aaaah,” saat Adip menekanya, Jingga merespon mendesah meski matanya terpejam. Adip sangat suka suara Jingga itu.


Adip semakin tak terkendali menggerakan tanganya, dan Adip sengaja ingin membangunkan Jingga. 


“Bangun, Sayang,” rintih Adip, tangan satunya sengaja memencet tombol coklat Jingga keras agar Jingga bangun.


“Aak....,” usaha Adip berhasil, Jingga terbangun karena sedikit pegal.


“Abang,” pekik Jingga begitu membuka mata kaget melihat tubuhnya sudah terbuka. 


"Bangun... ayo kita lakukan itu," ajak Adip dengan suara parau menahan nafsu yang membuncah.


“Hoh... ternyata ini buka mimpi,” gumam Jingga malah menyeringai. Jingga merasakan semua kenikmatan tangan Adip, tapi dia kira mimpi.


“What?” pekik Adip mendengar celetukan polos Jingga. 


“Aaah, malu,” jerit Jingga dengan bodohnya, menyadari Adip melihat bagian inti tubuhny. Jingga reflek merapatkan pahanya dan berbalik badan menmbelakangi Adip.


“Haissh,” desis Adip mengigit bibirnya gemas. Jelas- jelas udah siap tinggal ditembakan kenapa ada alasan malu. 


“Kenapa malu sih? Abang udah lihat,” keluh Adip. Jingga sangat payah.


“Malu.... belum dibersihkan,” rengek Jingga dengan lucunya memiringkan badanya menghindari Adip dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. 


“Halaaahh...ck," Adip berdecak sangat kesal. "Nggak apa- apa, Abang suka kok,” jawab Adip merayu dan berusaha menggulingkan tubuh Jingga agar terlentang lagi. 


“Nggak! Pasti jelek kan? Maluuu,” tutur Jingga lagi dengan lucunya tanganya tergerak menutupi lahan segitiganya. 


“Ck... kamu nggak pakai daleman sengaja kan? Siapin buat Abang, udah basah juga, kenapa malu? Tanggung!” rengek Adip sudah tidak bisa menahan lagi.


Apa yang Adip bilang memang benar, tadinya Jingga sudah menyiapkan mental. Adip pun berhasil menggulingkan Jingga dan mereka kini berhadapan. Tapi Adip masih berpakaian lengkap. Sementara Jingga bagian depan terbuka meski kimononya masih menempel.

__ADS_1


“Gleg,” Jingga menelan ludahnya dan bernafas ngos- ngosan.


“Jadi sekarang nih? Beneran kita mau itu? Nggak bisa ditunda besok aja?” tanya Jingga dengan polosnya.


“Beberapa hari lagi, Abang kembali kerja dan kamu kuliah lagi, waktu kita tidak banyak, Sayang. Kamu nggak kasian sama Bang Adip?” tutur Adip sambil tanganya bergerak mengangkat kaosnya dan membukanya. 


“Gleg,” Jingga mendadak keringetan melihat suaminya mulai melepas pakaianya satu persatu. 


“Hohh... hoooh...,” belum apa- apa, nafas mereka berdua sudah ngos- ngosan dan memburu.


Kini tinggal satu pakaian lagi yang belum Adip lepas, tapi isinya sudah terlihat jelas menonjol.


Jingga kemudian memejamkan matanya. Jantung Jingga berdegub sangat keras. Jingga malu dan campur aduk rasanya mau melihat pedang suaminya untuk pertama kali.


“Ck...,” Adip berdecak merasa kecewa melihat Jingga yang memejamkan matanya dan dahinya mengkerut. 


“Nggak suka yah? Sampai nggak mau lihat gitu, ya udah abang matikan lampunya!” ucap Adip kesal. 


“Jangan!” pekik Jingga. 


“Abang sakit hati lho, kamu nolak Abang dan bersikap begitu, kita udah nikah. Sah!” keluh Adip kesal dan menekankan.


“Iya... aku suka kok, aku mau!” jawab Jingga pelan dan membuka matanya perlahan.


Di depanya kini Adip berdiri di tepi kasur tanpa sehelai benang pun. Adip kan sudah turun dan berniat matikan lampu mengira Jingga tak mau melihat pusakanya. 


“Gleg,” Jingga terbengong melihat senjata Adip untuk pertama kalinya. Pas seperti badan Adip yang tinggi berotot, si dia juga berdiri tegak gagah menantang.


“Kenapa ekspresinya gitu?” tanya Adip naik ke kasur lagi. 


“Sebesar itu? Mau masuk ke sini?” tanya Jingga pelan menunjuk lahan segitiganya, sambil menelan ludahnya dan wajahnya menyeringai pucat.


“Mau nggak sih?” tanya Adip emosi sudah tidak sabar. Jingga benar- benar menyebalkan, padahal Jingga juga tadi menikmati foreplaynya. "Abang kan normal. Kalau bukan ke situ emang kemana?" tanya Adip emosi.


“Iya mau...,” jawab Jingga mengangguk ragu tidak mau membuat Adip kecewaa. 


Susana malam pertama mereka jadi seperti tawar menawar yang menyebalkan.


“Ya udah doa dulu,” tutur Adip kemudian.


“Nggak bisa do'anya” jawab Jingga jujur. 


“Ikuti Abang,” tutur Adip pelan, lalu membimbing doa. 


“Siap yah?” tanya Adip kemudian. Jingga mengangguk dengan ekspresi polosnyam


“Katanya biar nggak sakit pemanasan dulu, Bang” tutur Jingga mengingatkan.


“Kan tadi udah, punyamu udah basah kok,”  jawab Adip sudah tidak sabar ditunda- tunda terus.


“Ya dari tadi kan Abang udah mainin,” jawab Adip sudah habis kesabaranya.


Jingga benar- benar menyebalkan amatir dan tidak kooperatif. 


“Oke....,” jawab Jingga. 


Adip kemudian menempatkan posisinya, di depan Jingga. Karena minimnya pengalaman dan sudah menahan cukup lama, Adip ingin terobos langsung. Padahal belum tentu berhasil. Adip juga tidak tahu bahanya kalau kurang pemanasan.


“Kalau sakit jangan paksa ya,” ucap Jingga lagi sangat ketakutan. 


“Iyaah,” jawab Adip. 


Sebelum menjebol gawang, Adip meraba dengan tanganya dulu memastikan lagi tidak salah alamat dan siap. 


“Aaaah,” lenguh Jingga saat tangan Adip menyentuhnya. 


“Gimana? Nggak sakit kan?” tanya Adip.


“Iya, Bang, enak,” jawab Jingga polos. 


"Acc!"


Adip bersiapkan menuntun adik kecilnya, karena masih meraba dan mencari pintu masuk, Adip masih mengenalkan barangnya pelan dan baru menempel di depan.


Tapi ternyata meski baru begitu sudah membuat Jingga menggelinjang merasa nikmat, sampai ke ubun- ubun.


“Aaah, Abang...,” desah Jingga. 


“Suka kan?” tanya Adip lagi sedikit menekan. 


“Suka, Bang?” jawab Jingga. Kan memang jika ******** bertemu dengan beda tumpul itu akan berespon baik.


“Masuk yah,” tutur Adip memberi aba- aba. 


“Lah belum?” tanya Jingga kaget dikira sudah. 


“Belum,” ucap Adip gemas. Lalu Adip berusaha memasukan, tapi ternyata masih geser kanan geser kiri dan meleyot. Karena pintu Jingga ternyata masih sangat sempit. "Aihh.. ternyata susah," keluh Adip kesal merasa bodoh.


“Abang... udah belum?” tanya Jingga malah terbawa suasana panas dan ingin segera berhasil. 


Tangan Adip memeriksa lagi, dan membuat Jingga semakin tidak tahan. 


“Cepetan Bang,” rintih Jingga.

__ADS_1


“Ya... oke bentar,” jawab Adip bersiap. 


“Blus,” setelah sekian lama salah belok, kini berhasil, seperempat senjata Adip tertancap masuk menjebol pintu benteng singgahsana Jingga.


Tapi jika tadi saat salah belok meleyot membuat Jingga senang, sekarang pas tepat masuk ke pintu malah Jingga menyeeringai. 


“Aaakh, sakit Bang!” jerit Jingga merasa sangat perih dan panas. Berbeda dengan Adip.


“Ouh...,” Adip merasakan, rasa yang tidak pernah dia rasakan, adik kesil kesayanganya seperti terjepit dan ada denyutan yang luar biasa hebat. Adip ingin meneruskan perjalanya, tapi sayangnya reflek Jingga mendorongnya. 


“Stop... it! Sakit!” jerit Jingga memaksa Adip mencabut pedangnya. Bahkan Jingga meneteskan air matanga dan mencengkeram seprai. 


Meski sangat kecewa tapi melihat Jingga menangis Adip menurut. Mencabut pedangnya, padahal baru seperempat perjalanan. 


“Sakit banget?” tanya Adip panik melihat ekspresi Jingga.


“Iyaah, panass, peerrih, hiks” rintih Jingga menangis, lucu sekali. 


“Maaf,” ucap Adip lemas, lalu memeriksa barang Jingga. 


“Berdarah, Yang,” tutur Adip pucat.


“Hooh,” pekik Jingga lagi, tanganya ikut terulur memeriksa, 


“Apa banyak darahnya?” tanya Jingga takut karena di ujung jarinya ada merah darah.


Adip mengangguk polos mendadak semakin pucat, bahkan adik kecilnya jadi ikut melemas padahal belum puncak.


“Iya, merah segar, lumayan banyak,” 


“Aaah, bagaimana ini? Kita tidak salah langkah kan?” tanya Jingga berusaha menyentuh barangnya dan mengehentikan darahnya keluar. Tapi yang dia rasa malah perih. Adip membantunya mengambil tisu.


“Tidak salah, udah bener kok, itu lubang yang ngeluarin pelumas kental,” jawab Adip jadi merasa bersalah.


“Maaf ya, jangan dilanjut sekarang. Aku nggak kuat dan nggak tahan sakit!” ucap Jingga menunduk tidak tahan sakit. 


“Tunggu,” pekik Adip tiba- tiba. 


“Yah,” jawab Jingga. Kemudian berusaha bangun dan duduk.


“Kamu kesakitan dan keluar darah, apa saat di pulau Panorama juga merasa seperti ini?” tanya Adip tiba- tiba. 


“Tidak sama sekali. Saat di pulau Panorama aku tidak rasa apapun!” jawab Jingga.


“Apa artinya Abang yang pertama? Itu berarti abang datang tepat waktu?” tanya Adip antusias. 


“Iiih,” keluh Jingga kesal, memukul adik kecilnya yang sekarang mulai melentur. 


“Jangan pukul,” jawab Adip melindungi adik kecilnya.


“Kan Abang yang rasain? Abang yang tahu. Tadi rapat apa udah kebuka?” jawab Jingga kesal, ternyata Adip sama bodohnya.


“Rapat, sangat. Sayang,” jawab Adip mantap dan tersenyum sumringah.


Jingga ikut terdiam lalu tersenyum tersipu. “Jadi aku masih perawan kan?” tanya Jingga lagi. Jingga merasa senang juga memberikan yang terbaik untuk suaminya.


Senyum Adip padam lagi, mendengar ucapan Jingga.


“Sekarang ya udah nggak perawan, Yang,” jawab Adip. 


“Maksudku tadi, sebelum Abang masuk!" jawab Jingga manyun.


“Iyah, cup,” jawab Adip mengangguk. Adip juga segera mengecup kening Jingga dan memeluknya. “Makasih, ya! Kamu udah kasih yang terbaik buat Abang,” ucap Adip terharu dan menciumi kepala Jingga.


“Kita harus kasih tahu Buna dan Baba,” ucap Jingga dengan lugunya. 


“Ngapain kasih tahu?” pekik Adip mengurai pelukanya. 


“Ya, biar Baba dan Buna tahu, aku selamat dari Tama,” 


“Malulah, jangan kasih tahu, ini rahasia kita!” 


“Tapi mereka orang tuaku, Bang. Mereka harus tahu kalau aku selamat dari Tama. Aku juga mau tanya Buna biar besok nggak sakit lagi,” 


“Emang sekarang masih sakit?” tanya Adip sambil melihat ke bawah.


“Masih lah,” jawab Jingga kesal.


“Tapi darahnya nggak bertambah kok, Aku kira udah nggak biar kita lanjut!” ucap Adip lagi.


“Nggak. Masih sakit. Maaf yah,” ucap Jingga melirik ke pusaka Adip. Adip mengangguk kecewa.


“Nggak apa- apa, dia udah biasa di phpin, tapi aku senang, saat tahu aku yang pertama. Besok kita coba lagi, ya. Katanya tidak akan sakit lagi,” tutur Adip legowo.


“Iyah, bantu aku ke kamar mandi, risih,” tutur Jingga meminta bantuan.


Adip mengangguk. Meski malam pertama mereka gagal, tidak mencapai puncak pelepasan, tapi Adip bisa mengerti dan sangat bahagia saat tahu dirinya yang pertama. 


Karena sudah lewat dini hari. Sekalian membantu Jingga yang masih berjalan kesakitan, Adip sekalian mandi. 


**** 


Hehehehe....

__ADS_1


Maap kalau kurang hot. Ini aku ngetik dan rangkai katanya dari malam sampai seharian nggak keluar kamar. Hahaha.


__ADS_2