Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
67. Malu


__ADS_3

Adip tampak terlihat berwibawa berjalan menghampiri kawan sesama laki- lakinya, meninggalkan Siska dan kawanya yang terus menempel dan mencari perhatianya.


Tari dan Jingga kemudian saling mendekat dengan penuh gembira. Pertama bahagia karena dekat dengan sahabat, kedua Tari bahagia doanya terkabul, idolanya akan bekerja di tempat yang sama denganya.


“Meni kusam gitu wajahnya? Kita nanti tetanggaan lho. Happy dong!” ucap Tari bahagia. 


Meski saat di kampus mereka tak begitu akrab, karena di situ hanya mereka berdualah teman satu almamater dan satu kelas, jadi mereka terasa seperti saudara yang saling mengikat. 


“Iyah, nanti kamu main ya ke tempatku! Semoga kita betah!” ucap Jingga. 


“Oh ya kenalin, temenku Lili!” sambung Tari mengenalkan teman yang nanti akan menjadi teman satu rumahnya. 


“Hai Jingga!” sapa Jingga mulai mempraktekan ilmu dari Tari untuk menampakan muka ramah pada seseorang. 


Jika tersenyum ramah begitu, Jingga terlihat sangat cantik, rekahan senyum dari bibirnya seperti kelopak bunga yang sedang mekar, memancarkan kecantikan yang menyihir siapapun yang melihatnya. Hal itu pun tidak lolos dari lirikan seseorang yang curi- curi pandang ke Jingga tanpa Jingga tahu. 


“Hai... aku Lili, kamu yang kemarin disuruh berdiri di depan ya?” jawab Lili malah mengingatkan Jingga ke hal memalukanya, tapi hal itu membuat Tari dan Jingga tau,ternyata Jingga jadi populer gegara itu.


“Ha... iya, jangan diinget- diinget ya, aku malu!” jawab Jingga. 


“Kamu bule ya?” tanya Lili polos, mengagumi kecantikan Jingga bak mahadewi seperti artis- artis film laga  luar negeri yang sering dia lihat. 


“Ah enggak, aku orang lokal, ibuku Jawa, ayahku juga orang Jakarta, hanya saja Kakek buyutku memang bukan Indo!” jawab Jingga. 


“Pantas kamu cantik banget!” puji Lili. 


“Ah kamu bisa aja,” jawab Jingga malu- malu menundukan wajah sambil menyelipkan rambut halus yang terlepas dari ikatanya. Saat begitu Jingga terlihat sangat anggun dan semakin menyenangkan untuk dilihat. 


Yuri yang paling muda tampak berdiri celingukan dia juga sama seperti Jingga tak pandai bergabung bersama Siska, Nita dan Prilly. Jingga pun menoleh ke Yuri. 


“Yuri sini. Tari, kenalkan ini Yuri, dia temanku!” ucap Jingga ramah. Yuri pun tampak bahagia karena Jingga terkesan menyambutnya dengan baik. 


“Pumpung belum berangkat, sholat dan ke kamar mandi yuk!” ajak Tari. 


“Hayuk!”


Mereka kemudian berjalan ke arah mushola di bandara tempat itu. Kebetulan Tari, Lili, Yuri dan Jingga muslim semua, meski tak ada yang memakai hijab. Mereka segera mengambil air wudzu untuk menunaikan sholat Ashar. 


Saat mereka masuk ke muhola, di barisan depan ternyata sudah berdiri dua shaf laki- laki mengucapkan takbir.


Satu orang yang berdiri di depan sendiri sebagai imam adalah Adip. Seketika itu tubuh Jingga memanas dan ada debaran yang tak bisa diartikan saat mendengar suara Adip melafalkan surah Alfatihah dengan indah dan fasih. Jingga pun segera mengikuti nya sebagai jamaah. 


Setelah beberapa saat salam diucapkan. Mereka pun mengaminkan doa dan dzikir yang Adip panjatkan. Setelah itu mereka bubar ke tempat masing- masing. 


“Aku mau, ke toilet dulu ya!” ucap Jingga pamit ke ketiga temenya. 


“Ditungguin nggak Kak?” tanya Yuri baik menawarkan diri.


“Nggak usah kalian duluan aja!” jawab Jingga. 


Jingga kemudian merogoh ponselnya sebelum ke kamar mandi. Pak Rendi mengirim banyak foto, Babanya sudah pulang bersama adik cantiknya yang seperti miniatur ibunya. Jingga tersenyum mengusap foto Nila yang amat manis dalam balutan hijabnya. Meski sifat mereka berbeda,Jingga juga sangat sayang Nila dan rindu ingin memeluk dan tidur bersama saling bercengekerama.

__ADS_1


Pak Rendi juga memberitahu, keluarga Pak Rendi dan keluarga Jingga makan siang bersama hari ini. 


“Kok Baba nggak wa aku ya? Buna juga?” batin Jingga kecewa, kenapa harus Pak Rendi yang memberitahunya. Jingga mengirim pesan ke Baba dan Bunanya untuk pamitan dan minta maaf juga blum dibaca. 


“Apa Baba marah sama aku?” batin Jingga.


Ah ya sudah, kemarahan Baba memang sudah ditebak. Babanya kan memang lebih percaya Rendi dibanding ke Jinhga sendiri.


Yang penting, Jingga selalu laporan ke Bunanya kalau mau berangkat. Terakhir kemarin sebelum naik pesawat masih di balas, tapi sekarang belum.


Jingga kemudian memasukan ponsel ke sakunya berjalan sedih ke kamar mandi, sendirian. Sayangnya Jingga menamui sial, Jingga salah masuk ke kamar mandi rusak yang airnya tidak mengalir dan ada bekas kotoran seseorang yang belum bersih. 


“Uwwekkk... uweekkk....!” reflek Jingga yang selalu bersihan dan jijikan langsung datang keinginan muntah.


Suara mual Jingga yang hendak muntah menarik perhatian seseorang yang ada di kamar mandi putra di seberang Jingga. Jingga berlari ketempat wudu menahan mualnya tanpa melihat jalan. 


Seseorang yang ada di kamar mandi putra merasa terusik dan mencoba memeriksa sehingga berjalan ke arah Jingga. 


Bruk. Jingga menabrak orang itu.


“Uwwek!” Jingga yang muntahanyanya sudah naik ke mulut tak bisa dia tahan dan jatuh ke lelaki itu yang tidak lain adalah Adip


“Sssshhh, Ck!” ucap Adip langsung mendesah kesal, dan menarik longgar kaosnya agar mutahan Jingga tak meresap ke kulitnya. Adip menatap Jingga dengan tatapan sangat jengkel.


Jingga menoleh ke atas dengan memicingkan matanya sangat malu dan merasa bersalah. 


“Maaf!” ucap Jingga langsung menundukan pandanganya, takut dimarahi. 


“Kamu lagi kamu lagi!” ucap Adip saat itu juga di hadapan Jingga membuka kaosnya. 


“Ck! Nggak usah GR, kamu pikir aku tahan dengan bau muntahanmu!” jawab Adip kesal dan membawa kaosnya ke kran tempat wudzu. 


Jingga kemudian membuka tanganya dan melirik ke Adip yang tampak mencuci bekas muntahan Jingga. Jingga jadi mwrqsa bersalah.


Jantung Jingga mendadak berdebar kencang, Adip terlihat sangat seksi bertelanjang dada begitu, apalagi kulit Adip sawo matang dan tidak putih seperti Rendi dan Tama. Otot- otot Adip keluar nyata menjelaskan betapa dia banyak bekerja keras dan tampak kuat. Adip jadi terlihat seperti laki-laki perkasa.


Adip pun memeras kaosnya kencang lalu memasukanya ke dalam tas kreseknya. Setelah itu dimasukan ke tas punggungnya lagi. Jingga sedikit heran, Adip begitu telaten, memelihara kaosnya. Jingga berfikir mungkin stok baju Adip sedikit.


Adip kemudian mengambil kaosnya lagi dan memakainya masih di tempat yang sama tanpa malu, terhadap Jingga.


Jingga berdiri mematung melihat itu tidak berani berkutik. 


“Kenapa berdiri di situ?” tanya Adip melihat Jingga salah tingkah. 


“Maaf!” ucap Jingga lagi.


Padahal sebenarnya Jingga sedang menahan gejolak hatinya yang tidak tahu kenapa berdetak sangat kencang, bahkan Jingga merasa sesak dan tiba- tiba udaranya mendadak panas. Hasrat ingin ke kamar mandinya juga hilang. 


Melihat Jingga menduk pucat, Adip mendekat ke Jingga. Bahkan berdiri sangat dekat di depan Jingga, tentu saja Jingga semakin dheg- dhegan.


Tanpa ijin Adip menggerakan tanganya menyentuh kening Jingga, tatapan Adip penuh perhatian dan tidak marah atau mengumpat.

__ADS_1


Jingga pun tak kuasa menolaknya dan menurut saja. Bahkan ada desiran aneh yang Jingga rasa. Jingga merasa diperhatikan.


“Kamu mahasiswa kedokteran kan? Badanmu tidak panas kok? Kamu punya obat kan?” tanya Adip dingin. 


“Obat untuk apa?” tanya Jingga polos. 


“Kamu mabuk kendaraan?” tanya Adip lagi. 


“Nggak!” jawab Jingga, sedikit tersinggung, Jingga nggak katro katro amat kali. Masa naik peswat mabuk.


“Kamu hamil?” tanya Adip lagi semakin membuat Jingga tertuduh.


“Enak aja hamil. Ngarang kamu!” jawab Jingga. 


“Terus kenapa kamu mual-mual dan muntah begini? Kalau kamu hamil dan sakit, telpon keluargamu sekarang, pumpung di sini masih ada signal, kamu bisa pulang ikut penerbangan besok, nggak usah ikut ke lokasi!” ucap Adip memberitahu.


Adip berniat menjelaskan yang trbaik untuk Jingga, tapi justru Jingga merasa diremehkan dan tersinggung. Jingga kan mutah karena jijik.


“Sok tahu banget sih? Orang mual itu bukan berarti sakit apalagi hamil!  Enak aja hamil ciuman aja belum pernah!” gerutu Jingga lirih sehingga didengar Adip.


“Terus, kamu kenapa?” tanya Adip.


“Aku tuh jijik, sama kamar mandi itu, tuh! Di situ ada kotoran yang blum digontor!” ucap Jingga menunjuk kamar mandi yang Jingga masuki.  Mereka pun kompak menoleh ke toilet yang Jingga tunjuk.


Saat melihat pintu kamar mandi itu, Adip tersenyum mengejek, sementara Jingga mengernyitkan matanya malu. 


“Lain kali gunakan mata kamu dengan baik, anak manja!” ucap Adip dingin dan mengatai Jingga. Adip kemudian mengencangkan tasnya dan berlalu pergi meninggalkan Jingga. 


“Hoh!” ucap Jingga melengos. Di depan kamar mandi itu sudah ada tulisan rusaknya, tapi kecil. 


"Ah ini sangat memalukan. Kenapa aku nggak lihat? Dan Apa? Dia mengataiku anak manja? Enak aja. Aku bukan anak manja!"


Jingga kemudian memakai kamar mandi di sebelahnya. Setelah itu menyusul ke teman- temanya. Ternyata sang pilot mereka sudah datang dan bersiap. 


“Lama banget sih Ngga? Kebiasaan deh hampir aja ditinggal!” ucap Tari. 


“Maaf!” ucap Jingga lirih lalu melirik ke Adip yang tampak biasa saja mengobrol dengan teman laki- laki kelompok Tari. Jingga pun memilih tidak cerita kejadian memalukan tadi. 


“Ya udah yuk, bentar lagi kita berangkat ke distrik T!” ucap Tari.


"Ayok!" jawab Jingga


Sore itu pun mereka bersiap melakukan perjalanan ke kecamatan pelosok tujuan mereka dengan pesawat kecil yang hanya muat 15 orang itu. 


****


Maaf ya Kakak.Author kemarin berniat Up pagi sepulang nguli.


Tapi ternyata Author tepar. Jadi pagi author tidur dulu dan baru sempet Up malam. Maaf... ini agak banyakan kan katanya.


Heheh semoga suka yaa.

__ADS_1


Semoga selalu sehat semuaah


Lope lope sekebon buat kakak semua


__ADS_2