Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
32. Sangat Dingin


__ADS_3

Karena mentok dan adanya Tari, Uti. Jingga berniat curhat ke teman barunya itu.


"Tari, Uti!" panggil Jingga sambil menoel bahu sahabatnya itu.


"Ada apa Nggak?" jawab Uti menoleh ke Jingga.


"Gue boleh cerita nggak?" tanya Jingga


"Sok atuh cerita aja. Apaan emang?" tanya Tari.


Jingga kemudian menoleh sekeliling. Sepertinya tidak etis curhat di dalam bus.


"Entar yak kalau udah turun!" jawab Jingga.


"Oke!" jawab Tari.


Jingga kembali diam dan duduk manis. Halte bus berhenti di depan sebuah pasar tradisional. Di halte itu banyak pasien baru masuk.


Jingga yang tadi memilih tempat duduk dua orang dan Jingga kira akan selamanya nyaman ternyata salah. Dari halte tersebut rupanya banyak penumpang dari pedagang pasar. Salah satu penumpang yang naik itu, **** (maaf nggak disebutin takut sara bayangin aja pokoknya bapak-bapak yang bekerja keras tapi lupa mandi dan parfuman)


Tanpa permisi dan bosa basi, bapak-bapak patuh baya itu duduk di samping Jingga dengan nyaman. Jingga pun jadi diam seribu bahasa dan menunduk. Aroma baju bapak itu pun menyengat ke hidung Jingga. Aroma keringat rokok dan bau pasar.


"Ya Tuhan, apa ini? Ternyata ada yang lebih parah dari bau keringat sopir gila itu?"


Sebenarnya Jingga ingin muntah. Tapi Jingga cukup mempunyai perasaan dan sopan santun jadi Jingga tahan.


"Mau turun kemana Neng?" tanya Bapak itu ramah.


Jingga hanya melirik merasa enggan bertutur sapa dengan orang yang selama ini tidak pernah Jingga temui dalam hidupnya.


"Duh. Sok kenal, banget sih ini orang?" batin Jingga sombong.


"Mau kemana Neng?" tanya Bapak itu lagi. Untuk Si Bapak beramah tamah dan mengobril dengan orang asing sebangku dalam bus itu biasa. Tapi untuk Jingga ini luar biasa dan menyebalkan.


"Apa sih bapak ini tanya- tanya terus?" Batin Jingga kesal, kemudian Jingga ingat pesan Bunanya untuk jangan sombong. Jingga kemudian menoleh menggerakan bibirnya ingin menjawab.


Tapi belum sempat Jingga menjawab bapak itu udah bicara lagi.


"Cantik-cantik bisu ya Neng?" tanya Bapak itu membuat Jingga emosi.


Jingga sebenarnya sangat geram. Tapi karena Jingga memang sedang malas bicara Jingga kemudian nyengir dan mengiyakan bapak itu agar tidak diajak bicara. Jingga kan di panti Gunawijaya juga belajat bahasa isyarat.


"Oh maafin Bapak ya. Bapak nggak tahu kalau kamu nggak bisa ngomong!" jawab Bapak itu lagi.


Jingga pun mengangguk senyum dengan bahasa isyarat. Untung halte kampus Jingga ada di halte depan. Tidak lama bus berhenti, Jingga dan teman-temanya kemudian turun.

__ADS_1


"Hah... " Jingga menghela nafas lega, karena sudah tidak tahan Jingga langsung mengeluarkan muntah di sembarang tempat di selokan bawah pohon.


"Hoeeek.... hooek!"


"Lo kenapa Nggaaa?" tanya Tari melihat Jingga langsung mutah.


"Lo mabuk naik bus?" sambung Uti.


"Air.. air.. ada air nggak?" tanya Jingga.


Uti dan Tari kemudian mengambil air mineral bekal mereka dan langsung memberikanya. Jingga yang biasanya anti berbagi makanan dan minuman langsung tenggak karena cairan muntahan dari tubuhnya terasa sangat tidaj enak.


"Lo baik-baik aja kan Jing?" tanya Uti lagi.


"Baik kok baik!" jawab Jingga menyerahkan minum.


"Lo bilang ya kalau lo mabuk kendaraan!? ucap Tari.


"Enggak, aku nggal mabuk kendaraan kok! Aku nggak tahan sama bau bapak di sampingku itu!" ucap Jingga bercerita.


Tari dan Uti kemudian saling pandang..


"Naik kendaraan umum tuh emang gitu. Lo harus terbiasa. Apagali nanti kalau lo terjun ke masyarakat Jing. Pasien tuh macem-macem dan nggak semuanta wangi. Terlebih anak dari pedalaman!" ucap Tari menasehati.


"Huh?" tanya Jingga terhenyak dan menelan ludahnya.


Mendengar ucapan Tari Jingga langsung tersinggung. Apa salahnya coba Jingga merespon bau seseorang terus muntah. Menurut Jingga itu wajar.


"Nggak gue akan tetep ikut!" jawab Jingga tidk terima.


"Tapi lo kek gini?" tanya Uti.


"Lah emang kalian kalau membau sesuatu yang aneh nggak mau muntah? Wajar dong gue muntah karena emang bapak itu bau rokok dan keringat!" jawab Jingga membela diri.


"Jing, petani dan bapak di desa atau murid-murid di tempat tertinggal itu nggak ada yang pake parfum lho!" ucap Tari memberi peringatan.


"Nggak semua manusia di muka bumi ini mampu beli parfum mahal kaya lo!" sambung Uti.


Mendengar itu Jingga diam menelan ludahnya.


"Teru caranya gimana biar nggak mutah? Gimana kalian menahanya?" tanya Jingga kemudian.


"Ambil nafas, tahan buang. Lo harus bisa nahan dan sembunyikan ekspresi lo. Atau kalau saking nggak tahanya jaga jarak dan pake masker. Tapi yang pasti lo harus biasakan diri lo!" ucap Tari lagi.


"Oke gue akan belajar!" jawab Jingga.

__ADS_1


"Tapi gue penasaran? Kok lo ngebet banget sih Jing mau ikut acara ini?" tanya Uti.


"Ye emang kenapa?" jawan Jingga tersinggung.


"Kita akan banyak nemuin kesulitan hidup lho!" ucap Tari mengingatkan.


"Nggak apa-apa menurutku ini keren. Ini program Nasional kan? Dan nanti kita ketemu dengan banyak orang dari kampus lain? Aku juga pengen tau dunia luar di luar ibukota tercinta kita ini!" jawab Jingga


"Oh. Oke. Oh ya katanya kamu mau cerita? Cerita apaan?" tanya Uti.


Jingga hendal bercerita, tapi tiba-tiba ada yang berdehem di belakang mereka.


"Ehm!"


Uti, Tari, dan Jingga langung menoleh. Jingga pun langsung memanyunkan bibirnya tambah kesal.


"Eh Pak Rendi, pagi Pak!" sapa Uti dan Tari. Sementara Jingga hanya diam.


"Kalian anak kelas 2A kan?" tanya Pak Rendi sok-sokan lupa-lupa ingat. Padahal Pak Rendi amat sangat tau kelas Jingga.


"Ya Pak benar!" jawab Tari.


"Ngapain kalian di sini?" tanya Pak Rendi sok co ol tapi tatapanya curi-curi pandang ke Jingga yang telihat pucat berkeringat dan memegang minuman.


"Istirahat aja Pak!" jawab Tari.


"Kamu!" tunjuk Pak Rendi ke Jingga. Jingga pun kaget karena ditunjuk.


"Kamu sakit?" tanya Pak Rendi sedikit salah tingkah.


"Enggak! Saya baik-baik aja!" jawab Jingga cepat. Sama-sama bersandiwara seakan tidak kenal Pak Rendi. Sementara Tari dan Uti hanya menyimak.


"Oh syukurlah!" jawab Pak Rendi dengan tatapan penuh artinya.


"Ada lagi Pak?" tanya Uti


"Bukanya kalian sebentar lagi ujian? Kenapa di sini? Cepat masuk!" ucap Rendi soj memerintah.


"Iya Pak!" jawab Uti dan Tari.


Jingga hanya menunduk dan menelan ludahnya sangat kesal. Mereka bertiga kemudian mengeratkan tali tasnya dan berlalu meninggalkan Pak Rendi. Saat melewati Pak Rendi Jingga pun sedikit menghentakan kakinya.


"Ih, dasar orang nyebelin!" batin Jingga. Sementara Pak Rendi masih dengan tampang cool.


"Tumben ya, Pak Rendi mau nyapa kita?" cibir Uti.

__ADS_1


"Lagi kesambet kali!" jawab Tari.


Jingga hanya diam, buat Uti dan Tari, Pak Rendi selama ini kan sangat dingin.


__ADS_2