
"Kamu sendiri siapa?" tanya Jingga ke lelaki berotot dan bertopi di depanya itu.
Lelaki itu kemudian memutar topinya ke belakang. Lalu mengelap keringatnya yang menetes di pipinya.
"Ditanya malah tanya. Harusnya aku yang bertanya, siapa kamu? Kenapa masuk ke mobil orang tanpa permisi?" tanya laki-laki itu lagi.
"Mobil orang? Apa maksudnya. Bukannya ini mobil angkutan umum? Aku naik kesini. Karena mau ke Mall Xx, " jawab Jingga balik bertanya dan menjelaskan.
Mendengar jawaban Jingga pria itu melihat penampilan Jingga dari atas sampai bawah. Barang Jingga bermerek semua. Sepatunya merek balenciaga, celananya, blousenya, tasnya, dari warnanya bentuknya terlihat kalau semuanya mahal. Apalagi dari rambut Jingga yang hitam lebat terurai rapi sangat terawat, belum lagi aroma parfum Jingga yang masih melekat. Fiks Jingga anak orang kaya.
"Ehm, apa kamu pernah naik angkot sebelumnya?" tanya pria itu kemudian.
Jingga diam, dan menelan salivanya berfikir. Jingga ikut menatap pria berotot di depanya itu dengan seksama. Apakah pria ini terlihat jahat atau tidak. Sepertinya tidak ada niat jahat sih, tapi tatapanya terlihat licik dan menyebalkan.
"Kenapa memangnya?" jawab Jingga menantang.
"Angkotku angkot eksklusif, aku mau mengantarmu. Tapi kau harus membayarku dengan tarif khusus!" jawab pria itu sungguhan tersenyum licik. Ternyata pria itu pria matre.
"Hoh? Angkot eksklusif?" tanya Jingga lalu melihat sekeliling.
"Iyuuh, eksklusif dari mana?" batin Jingga. Beberapa jok mobilnya sobek. Tidak ada ac nya tidak ada parfum mobil, seperti mobil Jingga. Bahkan cat mobil itu bukan hanya borak barik, tapi catnya mengelupas. Dan apa ini kacanya terbuka bukan sengaja dibuka tapi alat buka tutupnya sudah rusak. Fiks ini mobil rongsokan.
"Iya. Ini angkot khusus. Ini mobil angkot khusus yang biasa saya gunakan untuk mengangkut barang. Bukan orang, karena kamu sudah naik dan memintaku mengantarmu. Aku akan mengantarmu. Tapi kau harus membayar ku dengan harga lebih!" ucap pemuda itu.
Jingga pun mendelik dan menatap pria berotot itu kesal.
"Oh my God. Ternyata aku salah masuk mobil. Hah... bagaimana ini?" batin Jingga melihat sekeliling. Tidak nampak mobil angkot merah seperti yang Amora bilang.
"Bagaimana? Kalau mau kita harus membuat kesepakatan harga. Kalau tidak silahkan turun dari mobilku!" perintah pria itu lagi jual mahal melihat Jingga diam dan kebingungan. Jingga sangat terlihat kalau dirinya polos.
"Hhhh" Jingga menghela nafasnya kesal. Mau tidak mau, karena Jingga tidak tahu apa-apa Jingga setuju.
"Berapa aku harus membayarmu?" tanya Jingga akhirnya. Pria bertopi itupun tersenyum senang.
"100 ribu!" jawab pria itu.
"Oke" jawab Jingga langsung iya aja.
Pria itu pun semakin mengembangkan senyumnya tidak menyangka Jingga akan langsung setuju.
Padahal seharusnya tarif angkot biasa cukup 5 ribu saja. Tapi Jingga sendiri tidak tahu berapa tarif angkot. Baba Jingga melarang keras Jingga naik kendaraan umum.
"Oke mana uangnya!" ucap pria itu lagi.
"Hoh. Berangkat saja belum kenapa harus bayar duluan?" tanya Jingga merasa curiga.
"Kan aku sudah bilang ini angkot eksklusif. Kalau tidak mau turun saja!" ancam Pria itu lagi.
"Yaya!" jawab Jingga nurut saja.
__ADS_1
Karena Jingga anak orang kaya uang seratus ribu memang ringan saja. Tapi sungguh, pria itu sangat nakal dan iseng.
Dia pun menatap Jingga dengan perasaan puas tapi ada rasa bersalah.
"Ini anak oon, bodoh apa terlalu polos. Sepertinya dia anak sultan. Apa dia tidak pernah naik angkot. Kenapa gua kibulin mau aja?" batin pria itu nakal.
"Oke lets go!" ucap pria itu.
Lalu Jingga duduk di dekat karung berisi padi. Dan Sang sopir menyalakan mesinnya. Tidak seperti mobil Jingga yang dinyalakan mesinya langsung nyala dan suaranya sangat halus. Mobil ini harus di stater lama baru nyala. Itupun mengeluarkan suara yang sangat aneh menurut Jingga. Dan itupun tidak langsung berangkat tapi menunggu stabil dulu.
Jingga diam menunduk menikmati perjalanan dengan mobil anehnya. Jika biasanya Jingga duduk di jok yang empuk. Kini Jingga duduk di jok yang keras. Angin dari lubang-lubang jendela bertiup kencang kerena berasal dari banyak arah. Rambut Jingga pun berhamburan.
Berbeda sekali dengan mobil Jingga yang dingin karena AC dan nyaman. Jingga pun harus memegangi rambut panjangnya yang terurai. Di depan sang sopir memperhatikan Jingga dari spion.
"Ikat rambutmu dengan ini" tutur Sang Sopir memberikan ikat rambut dengan gelang karet.
"Hoh?" tanya Jingga jijik melihat karet yang biasanya digunakan mengikat nasi bungkus.
"Itu kan karet bekas!" ucap Jingga.
Sementara rambut Jingga rambut mahal yang perawatan rutinya memakan uang jutaan rupiah.
"Ya sudah kalau tidak mau" jawab Pria itu meletakan karetnya lagi di dashboard.
Jingga diam, tapi angin dari jendela mobil yang bolong melompong benar-benar merepotkan. Akhirnya Jingga menerima.
"Aku mau memakainya. Berikan karetnya padaku!" ucap Jingga akhirnya.
Tiba-tiba tanpa Kia sadari pria itu membelokan mobil dari jalan raya menuju ke perkampungan. Pria itu menjauhi arah Mall. Tentu saja membuat Jingga marah.
"Hei Kau. Kenapa kesini? Aku kan memintamu ke mall xx kenapa malah ke kampung?" tanya Jingga marah
"Kan aku sudah bilang. Hari ini aku ada tugas mengangkut barang-barang. Aku akan mengambil barang dagangan bosku. Baru mengantarmu!" jawab pria itu tanpa dosa.
"Hoh? Kenapa tidak mengantarku dulu?" tanya Jingga marah.
"Kan aku tidak bilang akan mengantarmu dulu! Kalau kau tidak mau. Kau turun saja!" jawab pria itu masih saja terus jual mahal.
"Enak aja. Aku sudah membayarmu mahal" jawab Jingga.
"Ya sudah ikut saja" jawab Pria itu.
Jingga menatap sekeliling. Jingga tidak tahu kemana pria itu membawa Jingga. Sekeliling Jingga persawahan dan sungai. Kalaupun Jingga turun Jingga akan kesusahan. Minta jemput orang rumah, yang ada Jingga dihukum. Jingga kan mau libur dari tanggung jawab menjaga si kembar.
"Ya sudah pasrah saja" Batin Jingga dalam hati.
Ternyata mobil itu berhenti di perempatan jalan dekat sawah. Di sana sudah ditunggu ibu dan bapak petani. Di tanah ada dua karung entah itu apa isinya. Lalu ada petai banyak sekali.
Jingga menatap aneh ke pria di depanya. Siapa sebenarnya pria itu. Apa pekerjaanya.
__ADS_1
Mobil itu pun berhenti. Pria itu kemudian turun dan menyapa ramah petani yang menunggunya.
"Waah bagus-bagus nih barangnya?" sapa Pria itu ke petani yang ada di situ.
"Kok tumben nggak pakai mobil Bak, Jang?" sapa perempuan paruh baya dengan pakaian daster khas ibu-ibu desa.
"Lagi ngadat dia, takut ujan juga biar aman." jawab Pria itu.
"Oh" jawab perempuan itu. Lalu mereka menoleh ke dalam mobil.
"Bawa siapa itu? Pacar?" tanya perempuan perempuan itu.
"Pengenya gitu. Tapi sayangnya bukan, hehe" jawab pria itu ngebanyol.
"Eleh elehh. Deketin atuh. Meny geulis ueyy" goda ibu-ibu.
"Jangan gitu atuh Bu. Nanti dia nangis. Kasian anak orang" jawab Pria itu.
Jingga merasa dijadikan bahan pembicaraan langsung terpaku diam seribu bahasa dan cemberut.
Lalu pria itu kemudian melakukan transaksi mengeluarkan uang untuk membayar ibu-ibu itu. Jingga memperhatikan pria itu, dan ternyata uang yang pria itu banyak dan merah-merah.
"Oh iya Bu. Mulai besok bukan saya yang ambil barang ya. Saya harus pulang kampung" pamit pria itu.
"Lah udah selesai tah kuliahnya?" tanya Ibu itu lagi.
"Sudah Bu, hehe." jawab pria itu.
"Duh Jan. Jadi kangen nanti ibu"
"Aku akan sering berkunjung, Bu!" jawabnya lagi.
"Yaya"
Setelah dibayar para perempuan itu pergi. Dan Pria itu membawa buah petai yang banyak ke dalam mobil.
"Turunlah, pindah depan. Barangnya banyak dan bau" ucap Pria itu menyuruh Jingga turun.
"Aku? Pindah ke bangku depan? Nggak mau. Kamu aja bau!" jawab Jingga lugas dan syok harus disuruh bedampingan dengan pria berkeringat itu.
"Ya udah terserah kamu. Kalau di belakang siap-siap aja banyak semutnya"
Melihat banyak semut Jinggapun bergidik dan mengeluh.
"Iih" lenguh Jingga.
"Oke aku kedepan" jawab Jingga lalu duduk di samping sopir.
Sementara pria itu tampak mengangkut barang-barang hasil tani. Jingga melihat ponselnya. Seharusnya Jingga sudah sampai ke mall dan menikmati sajian film bioskop. Tapi Jingga sudah telat berpuluh-puluh menit.
__ADS_1
Jingga berniat menghubungi temanya. Tapi rupanya tidak ada signal. Pantas saja ponselnya sangat sepi.
"Iiiiih" keluh Jingga hampir mau menangis kesal.