Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
153. Fotokopian Baba.


__ADS_3

Ketika terdengar suara lembut Buna, api Baba yang sedang menyala meredup perlahan. Baba membukakan pintu ruang kerja dan mempersilahkan Buna masuk.


Seperti biasa Buna pandai menenangkan Baba.


"Baba masih lama kerjanya?" tanya Buna bosa basi.


Sebenarnya Buna tahu Baba tidak sedang bekerja tapi nangis biar tidak ketahuan jadi di ruang kerja. Baba sudah tua tapi masih suka begitu, kalau ngambek mengurung diri.


"Masih!" jawab Baba salah tingkah.


"Buna bawain minuman dan camilan, dimakan ya Ba!" tutur Buna merayu.


"Taruh aja!" jawab Baba dingin.


"Baa... !"


"Hemmm...!


"Ini kok berantakan? Sampai pecah begini?" tanya Buna menemukan beberapa barang berserakan dan ada pecahan kaca. Buna menatap Baba dengan penuh telisik dan ekspresi mau menghakimi.


"Ehmmm....!" Baba malu pada Buna ketahuan.


Buna kemudian tersenyum lalu duduk di dekat Baba.


"Minum dulu Ba...pumpung masih anget!" tutur Buna menyodorkan secangkir teh hangat, kalau hanya ditaruh pasti tidak diminum.


Meski Baba enggan minum, terhadap Buna yang sedang hamil dan tadi hampir kenapa- kenapa Baba pasrah dan minum.


"Buna beresin dulu ya!" tutur Buna bangun dan ingin merapihkan bekas amukan Baba.


"Jangan Sayang!" Baba segera meletakan minumanya dan mencegah Buna bekerja.


"Kenapa?"


"Biar para pekerja yang bereskan, Baba tidak mau Buna kenapa- kenapa!" jawab Baba sambil merengkuh Buna dan menyuruhnya duduk.


"Oke... Buna nggak akan ngapa- apapin.Tapi kalau Baba sedih dan kacau begini, Buna juga pusing Ba...! Baba abis ngamuk lagi kan? Baba udah tua lho. Jaga kesehatan. Kalau ngamuk terus nanti darah tinggi. Anak kita yang masih kecil ada 3 Ba," ucap Buna akhirnya memulai misinya.


"Buun!"


"Hemm!"


"Kok Buna ngatain Baba sakit?"


"Lah Baba... udah tua masih nggak bisa, atur emosi!" jawab Buna.


"Salah ya Baba begini? Jingga anak kita Bun? Pantaslah Baba hancur. Kenapa Buna bisa baik- baik saja? Baba tidak bisa menjaga anak Bana Bun. Bagaimana dengan masa depan anak kita? Baba tidak tahu harus bagaimana menghadapi keluarga Rendi? Baba gagal Bun!" tutur Baba banyak dengan frustasi.


Buna menghela nafas, tersenyum kemudian mendekat ke Baba dan menggenggam tangan Baba.


"Ba...., ingat, semua hal yang terjadi di dunia ini adalah takdir!" tutur Buna pelan


"Takdir, takdir! Takdir gimana Bun? Semua yang terjadi kan tergantung kita dan usaha kita juga! Baba sudah gagal!" jawab Baba sambil emosi masih tidak mau menerima takdirnya.


"Baa... Baba sudah tua lhoh. Baba seharusnya lebih dingin juga hadapi masalah. Jingga akan baik- baik saja!" tutur Buna lagi.


"Baik- baik saja gimana? Anak kita diperkosa, anak kita difitnah anak kita hampir mati karena itu!" ucap Baba lagi ngotot tapi Buna malah tersenyum.


Baba pun jadi tersinggung dan sedikit marah ke Buna.

__ADS_1


"Kok Buna malah tersenyum!"


"Tapi kan kenyataanya datang Pangeran penyelamat anak kita Ba!" tutur Buna tenang sekali.


Baba menelan ludahnya, mendadak pucat nama Adip kemudian kembali teringat.


"Tapi kan anak kita diperkoosa Bun!" sahut Baba lagi.


"Mas ingat? Apa yang Mas lakukan ke Ibu untuk bisa menikahiku?" ucap Buna menskak suaminya.


"Ehm....!" Baba pun berdehem salah tingkah.


"Baa...!" panggil Buna lagi menatap suaminya sambil tersenyum. Baba mendadak tersipu malu.


"Baba tahu kan sekarang gimana perasaan Ibu dulu?" tutur Buna lagi.


"Apa sih? Kok Buna malah bahas Ibu?" jawab Baba tersinggung.


"Keyakinan ibu Insya Alloh tepat Ba. Menurut Buna, Jingga masih terselamatkan oleh pemuda yang bernama Adip itu. Ciri- ciri korban tindak asusila juga tidak Buna temui pada Jingga!" tutur Buna pelan.


"Bagaimana Buna tahu?"


"Ya Buna kan perempuan Ba... meski tidak seratus persen benar, tapi firasat Buna sangat kuat. Kalau Baba mau lebih yakin bisa kita lakukan fisum. Kalau Jingga mau sih Ba!" tutur Buna memberitahu.


"Ya udah visum sekarang!" jawab Baba cepat sifat otoriternya kambuh.


Baba ikut sangat lega mendengar pendapat istrinta yang selama ini banyak benarnya.


"Baaaa... Jingga bukan robot!" tegur Buna.


"Apa maksud Buna?"


"Udah Bun... ngomong yang jelas! Nggak usah muter- muter!"


"Ba... apa yang akan Baba tentukan buat Jingga. Libatkan Jingga! Jangan asal perintah dan tentukan!"


"Jingga itu manusia dewasa Ba. Semoga sih Jingga beneran selamat, dan hanya cukup sampai di penyebaran berita itu. Bagaimana jika ternyata Jingga beneran jadi korban? Menurut Baba siapa yang salah?" tanya Buna ingin membuat suaminya berfikir dan merenung.


"Buna!" jawab Baba masih tidak sadar dan mudeng.


"Kok aku?"


"Kenapa Buna ijinin Jingga pergi?" tanya Baba balik mau menyalahkan Buna.


"Lah. Buna ijinin Jingga pergi masih terpantau dia pergi kemana dengan siapa? Kalau Jingga kabur dan nggak tahu kemana? Salah siapa?"


"Salah Jingga?" jawab Baba masih tidak sadar.


"Baa... Baba berarti mau beneran kehilanhan Jingga?"


"Ya tidak!"


"Jingga pergi karena dia tidak mau menikah dengan Rendi. Lihatlah sekarang takdir Tuhan. Jingga menikah dengan orang lain. Jadi, mulai sekarang terhadap apapun yang akan Baba putuskan untuk Jingga. Kita diskusikn denhan Jingga Ba. Jangan asal putuskan, termasuk visun ini!" tutur Buna memberi pengertian ke Baba.


"Tapi Baba tidak bisa tenang Bun! Baba harus pastikan sekarang!" jawab Baba menggebu.


"Oke... ayo ke Jingga! Tanya Jingga dulu!" jawab Buna.


Akhirnya Baba dan Buna ke kamar Jingga. Di kamar Jingga tampak bermain dengan Iya dan Iyu. Iya dan Iyu sedang asik dan fokus bermain puzzle. Mereka sampai tak keberatan kakak dan orang tuanya mengabaikan mereka.

__ADS_1


Buna pun mengutarakan niatnya dengan pelan.


"Nggak! Jingga nggak mau visum!" tolak Jingga langsung dengan mantap dan berani membuat Baba melotot gemas.


Sementara Buna hanya mengehela nafas sudah menebak.


"Jingga!" pekik Baba.


"Nggak Ba! Jingga nggak mau visum!"


"Kamu mau menyiksa Baba? Ini penting untuk nasib kamu dan memenjarakan temanmu itu!" tutur Baba memberitahu.


"Jingga nggak peduli Ba!" jawab Jingga sekarang setelah mencurahkan isi hatinya pada Buna, Jingga lebih plong dan berani.


"Jingga! Ini penting! Kenapa kamu tidak peduli?"


"Ba... Jingga masih perawan atau tidak? Tidak akan ada yang berubah dan berpengaruh terhadap apapun. Suami Jingga terima Jingga apa adanya bahkan kalau Jingga hamil pun suami Jingga terima! Jingga cuma mau divisum Bang Adip. Titik" ucap Jingga ngotot.


Baba pub hanya bisa menahan amarah dan tidak menyangka anaknya bisa bicara begitu. Buna pun hanya bisa bersiap- siap dan dalam hati malah ingin tertawa. "Silahkan Ba... lawan fotokopianmu!"


"Jingga!" pekik Baba kesal. Mau Baba kalau Jingga terbukti masih ori, Baba mau tetap lanjutkan perjodohan dan jelaskan ke orang tua Rendi.


"Bang Adip terima Jingga dan tidak permasalahkan keadaan Jingga. Itu sudah cukup Ba. Jingga mohon nikahkan Jingga dan Bang Adip dengan selayaknya. Jingga mau jadi istri Bang Adip beneran Ba. Kata Bang Adip, pernikahan kita belum mantap tanpa Baba! Jingga mohon!" tutur Jingga pada Baba, sekarang lancar.


Sesuai janjijya pada Adip.Jingga harus berjuang.


"Adip... Adip...!" gumam Baba tidak berkomentar, kata Buna betul Putrinya benar- benar menolak menikah dengan Rendi.


"Untuk penjarain Tama. Pencemaran nama baik, fitnahan dan penggunaan obat terlarang juga bisa menjeratnya Ba! Jingga tidak peduli Tama Ba. Nikahin Jingga dan Bang Adip!" jawab Jingga lagi, semakin berani melawan Babanya tanpa menangis lagi.


Baba mendadak pusing dan terskak dengan putrinya.


********


Makasih udah nunggu.


Oh iya.. numpang promo karya temen ya Kak.


Insya Alloh kereen.


Cuuuss.



Judul: Penjara Cinta Untuk Stella


Penulis: Rini Sya


Stella ditalak sang suami, usai dia melakukan malam pertama.


Keadaan ini membuat orang tua Stella tidak terima dan mengusir wanita cantik itu dari rumah.


Bukan hanya diusir, Stella juga dihajar hingga hampir kehilangan nyawa.


Beruntung, takdir baik masih berpihak padanya.


Dalam keadaan antara hidup dan mati itu, Stella dipertemukan dengan seorang pemuda baik hati yang diam-diam menaruh hati padanya.


Mungkinkah Stella mau menerima cinta pemuda tersebut? Ataukah dia masih mengharapkan cinta pertamanya🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2