Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Sembab


__ADS_3

“Ke rumah kamu kemana?” tanya Baba langsung berdiri dan wajahnya menegang. 


“Ya ke rumah Jingga,” jawab Jingga mengencangkan tas punggungnya. 


“Rumah kamu di sini! Mau kemana memangnya!” tutur Baba suaranya meninggi. 


“Baa... Jingga kan sudah menikah” jawab Jingga lagi. 


“Sabar, Ba...,” lerai Buna. 


Buna sebenarnya juga sedih, tapi Buna tahu maksud Jingga. Buna lebih siap dari Baba, karena Buna juga dulu merasakan, bagaimana Buna harus patuh dan ikut mau Baba. 


“Duduk dulu, sini Nak!” sahut Buna meminta Jinga duduk dulu. 


“Kenapa kamu pakai jaket dan celana begitu juga?” omel Baba lagi menelisik penampilan Jingga yang sporty bukan cantik atau elegan, Jingga kan mau naik motor. 


“Maaf, Ba.. Bun. Jingga udah pernah kan bahas ini sama Bang Adi dan juga Baba dan Buna. Jingga harus tinggal di rumah Bang Adip, Ba!” tutur Jingga pelan meminta ijin. 


Baba ingat permintaan menantunya, Baba juga sudah menyetujui saat itu. Bahkan Baba dan Buna juga udah survey tempat, tapi entah kenapa. Baba mendadak sedih dan tidak rela anak manjanya sungguhan akan meninggalkan rumah. 


Baba menelan ludahnya, tercekat dan membisu menahan sesak di dadanya. Jika Amer dan Ikun, Baba merasa tenang, Nila juga sudah terasah selama 3 tahun, tapi Jingga pergi rasanya sangat berat. 


“Apa nggak bisa besok saja, Sayang. Nila baru saja berangkat. Masa kamu juga mau ninggalin, Baba sama Buna!” tutur Buna menawar. 


Setiap orang tua ingin anaknya selalu ada di dekatnya dan dalam pandanganya. 


“Jingga kan nggak ninggalin Baba dan Buna. Kata Baba, Nila aja nggak apa- apa masih satu pulau, Jingga masih satu kota, nggak nyampe berjam- jam sampai kan? Jingga akan sering ke sini kok!” jawab Jingga dewasa. 


Baba memang yang mengatai Jingga cengeng ditinggal Nila. Jadi Baba tengsin mau cegah Jingga pergi. 


“Ya sudah hati- hati di jalan!” tutur Baba singkat, tapi suaranya seperti tesedak menahan tangis. 


“Ya.. Ba. Jingga pamit ya Bun Ba!” jawab Jingga mendekat mencium tangan Baba dan Bunanya. 


Baba mengulurkan tanganya tidak mau menatap Jingga, sementar Buna memeluk dan menciumnya. 


“Sama Mbak Vera kan? Naik mobil kan?” tanya Buna. 


“Jingga naik motor dulu, Bun!” 


“Kok motor!” pekik Baba langsung marah. 


Jingga tersenyum. 

__ADS_1


“Jingga sama Mbak Vera kok Ba! Nggak apa- apa pakai motor!” jawab Jingga


“Di rumah kan banyak mobil nganggur Sayang, pakai mobil yah! Itu lebih aman, dulu Buna juga nggak boleh bawa motor!” tutur Buna lembut. Ya bBuna dulu dilarang keras naik motor sama Baba. 


“Kan katanya kalau udah nikah Jingga harus lebih patuh kata suami. Suami Jingga ajarin, Jingga biar nggak macet naik motor aja, kalau nggak angkutan umum. Jingga kan bawa motor Bang Adip. Kalau Jingga butuh mobil, besok Jingga ke sini Bun!” jawab Jingga lagi dewasa. 


Buna dan Baba pun tercekat malu. Ya kata Adip benar. Baba dan Buna juga tidak menyangka Jingga sampai sudah sejauh itu mengikuti pola Adip. 


“Oke... kalau begitu hati- hati ya!” tutur Buna akhirnya pasrah. 


Jingga tersenyum bangun dan bersiap pulang ke rumah suaminya. Buna dan Baba mengantar sampai depan. Iya dan Iyu yang sedang diasuh Oma dan maid pun mendekat dan berpelukan. 


Mbak Vera juga sudah menunggu. Setelah pamitan dengan melambaikan tangan dan tersenyum Jingga berangkat, perlahan menjauh dan menghilang dari pandangan Buna dan Baba. 


“Hiks...,” Baba meneteskan air mata langkanya. 


Buna menoleh mendengar isak suaminya. Buna pun mengulurkan tanganya mengusap Baba. 


“Kita sudah tua, Ba.. anak- anak kita sudah menemui jalanya sendir- sendiri!” tutur Buna lembut. 


Baba tidak menjawab hanya memijat tulang di tengah kedua matanya. Menyeka air matanya kemudian merangkul Buna dan mengecup puncak kepala Buna. 


“Iya Sayang,” tutur Baba singkat, Baba kan dari dulu tidak pandai merangkai kata. 


**** 


Benar kata Adip, perjalanan naik motor lebih cepat. Sekitar 50 menit, meski harus nyelap nyelip dan mengambil celah di antara bis atau mobil besar, Jingga dan Vera sampai di rumah Adip. 


Jingga juga mulai merasakan sensasi dan pacuan jantung saat motor berhasil melewati jalanan padat. 


“Mbak Jingga?” sapa karyawan Adip ramah. 


Jingga pun mengangguk sopan. 


Lalu Jingga masuk bersama Mbak Vera. 


“Ini kamar Mbak Vera ya Mbak! Tapi kalau aku kesepian, tidur bareng aku ya!” tutur Jingga menunjukan Vera si bodyguardnya. 


“Iya Non.. tapi apa nggak apa- apa saya tidur di kamar Den Adip dan Non Jingga, katanya nggak baik kalau orang sudah suami istri kamar tidurnya dimasukin orang lain,” jawab Vera sopan. 


“Oh iya kah?” jawab Jingga tidak tahu. 


Vera hanya mengangguk. 

__ADS_1


Jingga diam dan berfikir, iya juga sih, kamar pribadi mereka kan kamar indah tempat pertempuran mereka, harus dijaga istimewanya. Jingga kemudian membiarkan Mbak Vera menata kamarnya dan Jingga juga masuk ke kamar Jingga. 


“Bang Adiip,” gumam Jingga duduk di tepi ranjangnya dan mengelus spraynya. Semua bayang kebersamaanya bersama Adip teringat jelas. Malam dimana Jingga dan Adip sama- sama melampiaskan cintanya dengan penyatuan tanpa lelah dan bosan. 


Jingga kemudian menyentuh perutnya. 


“Kenapa aku malah berharap hamil ya?” gumam Jingga tiba- tiba ingin hamil saja. 


“Tapi apa bisa aku hamil tanpa Bang Adip di sisiku?” batin Jingga lagi. 


Jingga kemudian memeluk selimutnya, bau Adip masih menempel di selimut itu. “Semoga Alloh selalu lindungi kamu Bang!” batin Jingga. 


Ingat Adip, Jingga pun jadi ingat tugas kuliahnya. Jingga pun langsung meletakan selimutnya lagi dan segera mengambil laptopnya untuk segera belajar dan menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa. 


Mbak Vera yang sudah selesai beberes pun inisiatif masak dan membuatkan makanan. Setelah masak mereka makan berdua. 


***** 


Hari terus berganti sudah masuk minggu ketiga  Jingga tinggal di rumah Adip laju kuliah dari situ. 


Tiga minggu itu juga Jingga belum pulang ke rumah Baba. Kebetulan jadwal kuliah Jingga padat. Malah Baba, Oma dan Buna serta Iya dan Iyu yang sudah 10 kali berkunjung. Mereka tidak tahan rindu Jingga. Jadi rasanya mereka masih terus bersama.


Jingga mulai terbiasa dengan hidup mandiri, sebetulnya tidak sepenuhnya mandiri karena Vera dan karyawan Adip banyak membantu Jingga dan melayani Jingga. Jingga seperti hanya berpindah tempat tinggal. 


Selama tiga minggu Jingga tinggal, tepat di jam 04.00 jam 16.00 pagi, Jingga mengirim pesan ke Adip. Meski tak terbalas, Jingga tidak ada lelah mengirimnya. 


Jarak waktu di Ibukota dan tempat Adip kan 3-4 jam. Jingga berharap dan menunggu, kalau- kalau Adip sedang ke kota, maka pesanya akan terkirim. Jingga tidak mau melewatkan itu. Pokoknya Jingga yang harus lebih dulu menghubungi Adip. Padahal Jingga hanya mengirim pesan. 


“Bang Adip suamiku, i love you!” begitu seterusnya rutin Jingga ketik., tanpa bosan. 


Hingga di hari kedua puluh satu ini, Jingga meneteskan air matanya saking rindunya. Jingga menatap lekat layar ponselnya. 


“Kenapa selalu tidak terkirim, kapan kamu ke kota Bang? Bukankah seharusnya dua minggu sekali kamu dinas di kota? Aku rindu aku ingin dengar suaramu? Aku ingin dengar kabarmu, kalaupun tidak telepon aku ingin tahu kabarmu? Kamu sehat kan Bang?” 


Isak Jingga kesal menatap luar jendela kamarnya. 


Sayangnya sampai Jingga sesak karena menangis, dan matanya sembab, tak ada yang berubah. Layar ponsel Jingga tetap sepi, pesan Jingga ke Adip tetap tidak terkirim. 


Ponsel Jingga pun menyala justru alarm tanda Jingga harus kuliah. 


“Isshh malas banget kuliahnya Pak Rendi?” batin Jingga melihat jadwal hari ini kuliahnya Pak Rendi. 


3 pertemuan kemarin Pak Rendi digantikan dosen lain, karena katanya Pak Rendi ada dinas ikut pelatihan ilmiah di luar kota. Ini pertemuan pertama mereka  setelah Rendi menjadi suami Nila. 

__ADS_1


“Duh mataku sembab lagi” batin Jingga kesal ternyata matanya sembab karena menangis. 


__ADS_2