Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
87. Ngapain?


__ADS_3

Jika di kecamatan hanya mendengar suara ayam, kini yang tertangkap di telinga Kia dan yang lain ada banyak tambahanya, yaitu suara berbagai macam burung yang berkicau bersahut- sahutan menyambut datangnya pagi. 


Tidak mau kalah dengan hewan bertelur dan bersayap itu, anjing- anjing pun ikut menampakan eksistensinya. Tentu saja suasana seperti itu tidak akan membiarkan makhluk hidup yang biasa bermalasan menjadi keterusan. 


“Ahhh.... berisik banget sih!” gerutu Jingga. 


“Bangun Kak!” ucap Yuri menyibakkan selimut. 


“Bisa nggak sih? Itu anjing- anjing suruh diem? Gue masih ngantuk!” ucap Jingga. 


“Ya sana, kakak bangun, bilangin tuh anjing- anjing sama ayam suruh diam!” jawab Yuri. 


“Ish!” jawab Jingga melempar bantal. 


Mereka berdua kemudian keluar kamar hendak ke sumur, rupanya Nita, SiskA dan Prilly sudah bangun lebih dulu. Bahkan mereka sudah berolahraga, menyapa warga sekitar. Jingga juga melihat dengan jelas mereka berbincang dengan Adip yang terlihat memakai sarung dan koko pulang dari masji. 


“Hhhh!” gumam Jingga kemudian memalingkan mukanya. Entah kenapa rasanya ngilu sekali, melihat orang lain selalu baik dan akrab dengan Adip.


Jingga pun langsung ke sumur, untung di bejana  masih ada air. Jingga jadi tidak harus bersusah payah menimba. Jingga langsung mengambil air wudzu dengan nyaman lalu kembali. 


Saat Jingga hendak masuk ke rumah warga sekitar lewat. 


“Pagi, Nona Jingga!” sapa salah seorang ibu yang mengingat Jingga saat kenalan tadi malam. 


“Pagi, Bu!” jawab Jingga berusaha ramah. 


“Baru bangun?” tanya ibu- ibu itu tanpa dosa. 


“Iya!” jawab Jingga juga tanpa malu. 


“Oh!” jawab ibu ibu itu berlalu, tapi sambil berbisik. “Payah sekali nona cantik satu itu yang lain sudah aktivitas dia baru bangun!” cibir ibu- ibu itu, Jingga pun yangdi atas tangga mendengarnya. 


“Ish... comel banget sih mereka. Suka- suka aku lah!” batin Jingga kesal jadi tidak mood. 


Jingga kemudian sholat subuh yang lumayan terlambat. Setelah selesai sholat Jingga ingin bersantai sejenak. Sayangnya belum Jingga jadi duduk, seseorang memanggil- manggil namanya. Jingga pun keluar. 


“Ada apa?” tanya Jingga ke Yuri. 


“Kakak dicariin Kak Nita!” ucap Yuri. 


“Ada apalagi sih?” tanya Jingga sangat malas. 


Jingga kemudian keluar rumah. Di depan rumah Nita dan Siska sudah berkacang pinggang. 


“Ada apa?” tanya Jingga polos. 


“Lo yang abisin air gue?” tanya Nita. 


“Air?” tanya Jingga lagi menekankan. 


“Iya air yang diember putih dan bejana!” jawab Siska. 


Jingga diam dan mengusap tengkuknya. Apa salahnya coba dia memakai air, pikir Jingga polos. 


“Iya, emang kenapa?” jawab Jingga sambil bertanya balik dengan tanpa rasa bersalah. 

__ADS_1


“What? Apa katamu? Kenapa?” jawab Siska gemas ke Jingga. 


Jingga pun mengangguk masih dengan wajah polosnya. 


“Lo tau nggak? Tangan dan pundak gue sampai pegel buat ambil air itu, itu air buat masak dan buat mandi. Kenapa lo abisin? Emang buat apa?” tanya Nita benar- benar kesal. 


Sumur di desa T masih dengan tali tanpa katrol. Jingga tidak peduli dan tidak mengerti itu, dia pikir seperti di rumah dengan ar berlimpah, berwudu, cuci muka dan sikat gigi tanpa sayang air dan tanpa peduli darimana air itu. Bahkan air diember dengan tanpa dosa Jingga tumpahkan seluruhnya untuk mencuci sendalnya yang mengijak kotoran anjing. 


Jingga menelan salivanya dan menundukan wajahnya sambil menggigit bibirnya seakan menjadi tersangka. 


“Haiishhh!” anak- anak yang sudah sedari subuh berekringat jadi sangat geramke Jingga. 


“Gue nggak mau tau! Ganti airnya!” ucap Nita galak. 


“Ganti?” tanya Jingga melotot. 


“Iyalah! Kan lo yang make? Lo pikir gue siapanya Lo di sini? Di sini harus adil, kalau mau make ya kerja!” jawab Nita lagi. 


Jingga pun menelan ludahnya kebingungan dengan katrol saja Jingga tidak bisa. Tangan Jingga bekas menyapu seisi rumah saja menggelembung belum kempes bagaimana ini.


“Diam lagi! Buruan!” ucap Siska ikut- ikutan Nita. 


“Aku nggak bisa nimba!” jawab Jingga jujur. 


“Hoh! Alasan!” jawab Siska tidak percaya dan mencibir. 


“Gue nggak mau tau. Lo bisa nimba atau enggak. Yang pasti lo harus ganti airnya, lo harus tanggung jawab!” ucap Nita kemudian. 


“Cepat!” bentak Siska. 


Jingga melirik ke sekeliling, tak ada orang dirinya dikeroyok 3 orang temanya. Kalau Jingga bisa pulang hari itu Jingga akan melawan dan menolak, sayangnya Jingga masih ada  29 hari lagi di situ. 


Jingga berjalan meski dirinya ragu. Saat di depan Nita Jingga berhenti. 


“Aku sungguhan tidak bisa menimba air, boleh kau ajari aku dulu?” tanya Jingga sopan dan ramah. 


Nita dan Siska saling pandang dan memanyunkan bibirnya. 


“Prilly!” panggil Nita. 


“Ya!” jawab Prilly, 


“Ajari Jingga menimba, tapi jangan bantu dia!” ucap Nita memberi perintah. 


“Ya Kak!” jawab Prilly. 


Prilly dan Jingga ke sumur. Jingga menurut dan tidak melawan, Jingga juga sungguhan tulus ingin bisa ambil air dengan timba agar dirinya tak tergantung dengan orang lain. Jingga juga mau buktikan dirinya bukan anak manja, 


Setelah sampai di bilik sumur yang lantainya banyak bebatuan alam yang disusun padat rapih dan bersih, Prilly melihat sekitar. Prilly memastikan Siska dan Nita menjauh. 


“Lo beneran pengen bisa nimba?” tanya Prilly. 


“Iya beneran!” jawab Jingga. 


“Perhartikan baik- baik ya!” jawab Prilly. 

__ADS_1


“Oke!” 


Prilly pun mengambil tali timba air dan embernya. Sambil memperagakan, Prilly juga menjelaskan. 


“Lo harus pegang ni tali jangan sampai lepas, ulurkan begini, setelah sampai air, gerakan embernya agar dapat air. Setelah dapat, angkat begini!” tutur Prilly memperagakan. 


Jingga yang baru pertama belajar menimba mengangguk –angguk. 


“Bisa kan?” 


“Bisa!” jawab Jingga. 


“Sok! Dicoba!” ucap Prilly menyerahkan tali timba. 


Jingga kemudian mempraktekan apa yang prilly ajarkan. Sayangnya berulang kali Jingga menggerakan embernya air yang nyangkut dan keangkat sedikit. 


Prilly pun benar- benar gemas ke Jingga. Kenapa ada makhluk seperti Jingga ikut acara begituan, Jingga harusnya udah diam aja di rumah jadi Nona. Kalau begini kan jadi ngrepotin temanya. Prilly pun menggaruk rambutnya gemas. 


Prilly menoleh ke luar, Nita tampak di dalam rumah. 


“Gue bantu sinih, tapi jangan bilang- bilang!” bisik Prilly berbaik hati. Sebenarnya tadi pagi yang mengambil air paling banyak juga Prilly, Nita dan Siska memang menimba tapi sedikit. 


Jingga mengangguuk bahagia, karena Prilly baik. Prilly mengambil tali timba dari tangan Jingga. 


“Perhatikan baik- baik carannya!” ucap Prilly. 


Prilly pun menimba banyak air sampai setengah ember. Belum penuh satu ember Nita memanggil. Prilly yang patuh pada Nita langsung menyerahkan timba air ke Jingga. 


“Sok lanjutin!” ucap Prilly pergi. 


Jingga yang ingin membuktikan dirinya bisa pun  mencoba lagi dengan sekuat tenaga. 


“Ihh kenapa nggak nyangkut juga sih airnya? Perasaan caraku menggerakan embernya sama kenapa air yang menyangkutnya sedikit?” gumam Jingga menggerutu. 


Jingga pun tanpa lelah mencoba lagi berulang kali. Saat Jingga berhasil menenggelamkan embernya dan terisi air Jingga bersorak sendiri. 


“Yeayyy... aku bisa!” ucap Jingga bahagia, lalu Jingga menarik air itu ke atas. 


“Hoh! Kok berat sih?” gerutu Jingga lagi ternyata menarik air saat ember timba terisi air penuh lumayan berat. Jingga berhasil mengangkatnya lalu mengumpulkan airnya ke ember. 


Pencapaian itu terasa sangat membanggakan untuk Jingga, Jingga sampai tersenyum puas. Meski lelah dan susah, karena bahagia, Jingga melanjutkan lagi, berniat mengisi penuh semua air. 


“Cemplung...! cemplung! Yeaay, berhasil!” setiap Jingga berhasil Jingga bersorak kegirangan sendiri. 


“Syoor!” Jingga dengan semangat mengumpulkan air ke ember tidak menyadari dirinya bajunya basah karena tidak hati- hati. 


Jingga menimba lagi, karena terlalu bersemangta Jingga lupa kalau kemarin jemarinya melepuh. Saat menarik tambang tali sumur itu salah satu lepuhan jemari Jingga mengelupas dan terasa perih.


“Auh!” keluh Jingga baru kerasa, lalu tarikan tali tambang Jingga pun terlepas. 


“Byur!” ember setali- talinya masuk ke sumur. 


“Yah... yah...! gimana ini?” batin Jingga kebingungan. 


Jingga kemudian keluar sumur mencari pertolongann. Jingga yakin semua temanya akan marah karena ember timbanya jatuhm, padahal satu-satunya. 

__ADS_1


Jingga pun melihat bambu panjang. Jingga inisiatif mengambil pakai itu, tapi lama Jingga berusaha tak berhasil. Akhirnya Jingga menyerah dan bersimpuh di dekat sumur menangis kesal. 


“Kau ngapain di situ?” tanya seseorang memergoki Jingga seperti anak kecil yang dihukum ibunya. 


__ADS_2