Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
76. Perahu Siap


__ADS_3

Tidak menghiraukan Nita dan Siska, Jingga dan Tari ke puskesmas. Mereka kemudian rapat bersama kepala puskesmas setempat, bidan koordinator dan perawat setempat. Bersama Adip, dokter Reza, Jingga, Tari dan Aji. 


“Pak tapi kami mahasiswa, kami belum punya STR dan pengalaman klinik yang mumpuni bagaimana kami akan melakukan tugas kami Pak?” 


Saat Pak Martin seorang mantri senior itu menjelaskan harapan Jingga dan Tari mampu membantu mereka sebagai garda terdepan di pelosok dan membantu pihak puskesmas menggantikan tugas nakes yang kosong Jingga merasa keberatan. Ijin mereka kan kesitu sebagai peserta ruang inspirasi yang terjun ke anak- anak sekolah bukan ke medis, sebab Medis juga ada prosedur dan aturanya. 


“Kalian bisa dan menguasai pertolongan medis dasar dan identifikasi penyakit kan?” tanya Dokter Markus kepala puskesmas. 


“Iya Dok, kami punya itu!” jawab Jingga. 


“Kami paham kalian masih mahasiswa dan belum mempunyai STR. Fungsi kalian di sana bukan sebagai tenaga medis melainkan sebagai kader dari kami. Peraturan memang harus ditegakan, tapi di pedalaman seperti desa kalian nanti, kita tidak membahas teori dan hukum, kita membahas keadaan kegawatan dan darurat, serta skala prioritas. Akses di daerah sangat susah apalagi jika musim hujan tiba. Skrining setiap masalah yang kalian temui. Tolong jika kalian bisa tolong di sana, kalau tidak kirim ke kami, jadi tugas utama kalian dalam perbantuan kali ini adalah sebagai kader kami!” tutur Kepala Puskesmas panjang kali lebar. 


“Baik Dok, kami mengerti!” jawab Jingga. 


“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi kami sangat butuh bantuan kalian, karena petugas kami sedang cuti!” tutur Dokter Martin lagi. 


“Baik Dok, kami akan melakukanya dengan senang hati!” jawab Tari paham. 


Rapat pun diakhiri, sesekali Jingga curi- curi pandang ke Adip yang mengikuti rapat itu dengan seksama. Sementara Adip tampak sangat diam dan dingin tidak seperti biasanya, bahkan dengan Aji yang sesama teman laki- laki Adip diam. 


Entah kenapa, saat Adip diam begitu, kelas kualitasnya semakin terlihat. Adip seperti tidak pantas dan tidak mirip dengan laki- laki yang memalaki Jingga seratus ribu. 


Sementara Tari dan Aji yang merupakan anggota satu tim tampak mengobrol. Jingga pun pamit kembali ke tempat pengiapan di rumah ketua suku ingin bergabung bersama Yuri dan yang lain. 


“Gue balik ke beskem ya Ri!” pamit Jingga. 


“Ya! Lo jangan mau ditindas Nita dan Siska, Ngga! Lo harus lawan mereka!” ceplos Tari. 


Karena masih satu ruangan tentu saja, Adip dan Aji mendengarnya. 


“Apa maksudnya ditindas?” tanya Aji. 


Adip yang tadi sekilas melihat keributan memilih diam dan menyimak, menunggu bagaimana adik- adiknye menyelesaikan permasalahanya. Jika dibutuhkan Adip baru keluar suara, sebab Adip di situ kan punya misi dan tugas sendiri, bekerja sebagai veteriner yang membantu masyarakat setempat bisa membudidayakan bahan pangan dari hewan dan melestarikan satwa langka. 


“Ini semua gara- gara Lo, Ji!” ucap Tari terus terang tanpa saringan. 


“Kok, aku?” tanya Aji. 

__ADS_1


“Nita dan Siska itu cemburu lo deket- deketin Jingga!” 


“Haish anak itu, nggak ada berubah!” jawab Aji sebenarnya sudah tahu Nita adaa rasa, tapi Aji menganggapnya sahabat. 


“Lo udah tahu, Nita suka sama lo?” 


“Tau!” 


“Kalau lo tau, jaga kondisi kita di sini. Di sini kompak itu utama!” tutur Tari lagi. 


“Ya gue ngerti!” 


“Ya udah lo tanggung jawab! Jelasin tuh ke temen lo, kasian Jingga!” 


“Ya maafin gue. Emang apa yang mereka lakuin ke kamu Ngga?” tanya Aji. 


“Udah berlalu, nggak apa- apa kok!” jawab Jingga. 


“Gue minta maaf ya!” ucap Aji. 


“Ya gue maafin!” jawab Jingga. 


“Oh ya? Bener Nggak? Siapa calon lo?” tanya Aji patah hati. 


“Pak Rendi!” jawab Tari menyahut. 


“Apaan sih Ri.. baru rencana!” sahut Jingga malu. 


“Pak Rendi, Dokter Rendi yang kemarin itu?” tanya Aji lagi. 


“Ya!” jawab Tari nyerobot terus. “Sebelum kita berangkat ke desa, tugas lo selesain tuh kesalah pahaman Nita!” ucap Tari berniat baik melindungi Jingga. 


Sayangnya seseorang yang duduk di depan mendengarkan mukanya sangat tidak enak dan langsung bangun pergi. 


“Bang Adip mau kemana?” tanya Aji. 


“Gue cabut dulu, mau siapin yang buat ke desa! Cuacana panas, kayakya kita berangkat hari ini!” jawab Adip. 

__ADS_1


“Oh oke, Bang! Nanti gue nyusul!” jawab Aji. “Ayok gue harus ngomong ke Nita!” jawab Aji mengajak Tari dan Jingga. 


Aji yang tadinya mengira Jinggajomblo kini jadi segan dan menghormati Jingga, tapi Aji tetap baik dan perhatian ke Jingga. Selain Jingga cantik, Jingga juga perkataanya berkelas. 


Mereka pun sampai ke rumah kepala suku, anak- anak perempuan terlihat sedang duduk, dan berkemas. Jingga melihat ke stop kontak, harapan untuk mencharge ponselnya pun sirna, selalu ada kabel yang menempel. Padahal di situ meski hilang timbul ada signal, kan lumayan seharusnya Jingga bisa berkabar dengan Bunanya. 


Ajipun merasa bersalah ke Jingga dan berusaha meluruskan ke Nita sebagai tanggung jawabnya. Di situasi seperti mereka sangat tidak baik terjadi perselisihan apalagi permusuhan. 


“Nit,” panggil Aji ke Nita. 


“Ya!” 


“Gue mau ngomong sama Lo!” ucap Aji mengajak Nita. 


Mereka berdua pun menepi dari keramaian. 


“Lo apain Jingga?” tanya Aji langsung to the point. 


Nita pun gelagapan. 


“Tolong dong Nit, kalau emang lo suka sama gue, tunjukin dong kamu pantes dipilih! Kita di sini saling bergantung sesama tim, lo jangan jadi cewek mengerikan!” ucap Aji tajam dan langsung menghunus ke perasaan Nita.


“Maksud lo apa?” 


“Jingga nggak salah apa- apa, dia tim mu, kamu juga bertanggung jawab sebagai ketua tim di sini. Gue kecewa sama lo!” ucap Aji lagi. 


“Ehm!” Nita semakin terpojok. 


“Please! Tunjukin kualitas lo sebagai pemimpin dan perempuan yang pantas gue pertimbangin di sini!” ucap Aji lagi. Sewaktu di kampus Nita memang pernah ungkapin perasaanya tapi Aji menolak dan mengajaknya berteman. 


“Gue minta maaf, gue cemburu Ji, gue nggak rela lo deketin cewe lain lo tau kan perasaan gue gimana? Kapan lo bisa ngerti perasaan gue?” jawab Nita terbata. 


“Gue udah bilang kan ke Lo. Kalau Lo begini? Apa alasan gue harus terima Lo?” ucap Aji lagi langsung membungkam mulut Nita. 


“Gue nggak ada hubungan apapun dengan Jingga!” lanjut Aji memberitahu.


Sebenarnya mau Aji, Nita itu mikir, kalau mau jadi perempuan yang disukai Aji, jadilah perempuan yang baik, jangan justru jadi orang yang buat Aji illfeel. 

__ADS_1


Setelah merasa cukup memberi peringatan Aji berlenggang pergi. Di saat yang bersamaan, pekerja di rumah kepala suku memberitahu, perahu ke desa sudah siap. 


__ADS_2