Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
140. Batu Alam


__ADS_3

3 hari sudah  Adip dan Jingga melewati masa  sandranya.


Guru tua juga sudah selesai dari urusanya, para warga adat datang ke bukit menemui Jingga dan Adip di subuh hari.


Pengawal Amer yang sebelumnya tidak tahu sempat emosi dan hampir gegabah maju menyerang, kenapa tuan dan nona mudanya didatangi beberapa orang seram.


Akan tetapi Amer dan Adip menghalanginya. Sementara Jingga masih di dalam gubug.


“Selamat pagi, Guru Tua!” sapa Adip memilih merendah dan menghormati. 


Guru Tua mengangguk dan tersenyum. 


“Kalian boleh pergi dari desa ini, kalian juga boleh datang ke desa ini kapanun kalian mau!” tutur Guru Tua ramah sekarang percaya Adip orang baik. Adip juga diketahu sebagai pegawai kontrak dari pemerintah.


Adip mengangguk hormat. 


“Dimana istrimu?” tanya Guru tua lagi. 


Adip dan Amer saling pandang dan melirik ke arah gubuk, belum ada tanda- tanda Jingga bangun. 


“Dia masih tidur!” jawab Adip.


“Baiklah, hukuman kalian sudah selesai. Pulanglah!” jawab Guru Tua mempersilahkan Adip dan Jingga melanjutkan kehidupanya, lalu pamit. 


Adip dan Amer bernafas lega.


“Mer!” panggil Adip kemudian.


“Ya, Bang!” 


“Jingga ingin pamit ke desa T, apa kalian akan singgah ke desa T dulu?” tanya Adip memikirkan Jingga.


Adip juga masih ingin bersama Jingga memberikan kenang- kenangan juga. 


“Maaf Bang, sebelum Baba sampai rumah, Amer dan Kak Jingga harus sudah di rumah! Kita juga nggak tahu bagaimana cuaca esok, kak Jingga harus ikut Amer kekota secepatnya! Barang- barangku, buat Kak Adip aja. Insya Alloh bermanfaat dan bisa digunakan!” jawab Amer menolak mampir ke desa T.


Adip menelan ludahnya dan hanya bisa mengangguk.


Meski seharusnya, Adip sebagai suami, berhak menentukan kemana Jingga pergi, tapi Adip ingin menghormati Baba Jingga dan Amer keluarganya. Adip menghargai mereka yang lebih dulu menyayangi Jingga dan membesarkan Jingga.


“Oke, bangunkan kakakmu, subuh hampir habis!” tutur Adip ke Amer sambil berjalan menjauh dengan mengantungi kedua tanganya.


Amer hanya bisa diam mengangguk melihat Adip pergi. 


“Huuft!” Amer membuang nafasnya tidak peduli kemana Adip pergi pagi buta begini.


Sebagai anak buna Alya yang taat, yang penting Amer harus bawa Jingga pulang. Amer pun ke gubuk hendak membangunkan Jingga. 


Betapa kagetya Amer, melihat Jingga ternyata sudah bangun menangis, masih mengenakan mukenah dan menghentakan kakinya seperti anak tk yang permenya diambil Amer. 


“Kakak kenapa?” tanya Amer kaget, apa saking khusuknya berdoa tapi kenapa sambil menghentakan kaki.  


Bukanya menjawab Jingga membuka mukenahnya dan memukul Amer dengan mukena itu. Amer pun menghindar.


“Kakak kenapa sih?” tanya Amer lagi.


“Kenapa kamu biarin aku tidur?” tanya Jingga dengan mengkerucutkan bibirnya. 


“Lah, kakak tidur- tidur sendiri kenapa marahin Amer, Kak?” jawab Amer lagi, kakaknya aneh banget. 


“Semalam aku tidurnya dimana? Aku tidur dengan siapa? Aku tidurnya gimana?” tanya Jingga lagi semakin membuat Amer mengernyit heran.


Amer juga udah puber dan pernah naksir cewek di kampusnya, tapi Amer biasa saja, bahkan menepis perasaan itu, karena Amer ingin seperti Babanya, mencintai 1 wanita sampai menjadi ibu dari anak- anaknya. Jadi menurut Amer Jingga itu parah dan aneh. 


“Kan gubuknya nggak ada sekat Kak, kita tidur di ruangan ini bersamalah, kakak tidur di sampingku di pojokan sini!” jawab Amer. 


Jingga memang tidur di samping Amer di ujung, mengingat Jingga perempuan sendiri. 


“Aku ke sini sama siapa? Gimana?” tanya Jingga lagi. 


“Kakak ketiduran sama Bang Adip di gendong dibawa ke sini!” jawab Amer dengan nada bete dan kesal. Lalu mengemasi barangnya. 


“Benarkah?” tanya Jingga girang kemudian mendekat ke Amer. Amer pun menatap kakaknya heran. 


“Ya!” 


“Jadi, Bang Adip menggendongku? Membawaku?” tanya Jingga lagi.


“Iya!” jawab Amer mengangguk. 


“Huaaa!” Jingga malah menutup wajah dengan kdua tanganya lagi dan merasa kesal. 


“Haisssh!” desis Amer merasa sangat bete ke kakaknya. Jingga aneh.


“Kenapa aku tertidur, aku kan jadi nggak bisa ngrasain digendong Bang, Adip. Waktu berhargaku yang tinggal berapa jam, kenapa aku tertidur? Aku kan harusnya gunain waktu berharga ini bersmanya. Huaaa!” racau Jingga sambil menutup wajahnya dan menangis lagi. 


Jingga berpikir seolah ini adalah pertemuan terakhir dan berharga bersama Adip.


“Astagah!” gumam Amer geleng- geleng kepala. Sampai Amer bingung, pelet apa yang Adip pakai sampai kakaknya bucin akut begitu. Amer jadi bingung bagaimana nanti menyampaikan ke Baba dan Bunanya kalau kakaknya terkena virus bucin. 

__ADS_1


“Kaak, Bang Adip dan Kak Jingga masih berada di bumi yang sama, masih berada di negara yang sama. Kakak masih bisa ketemu Bang Adip. Nggak usah lebay!” omel Amer ke Jingga. 


Jingga langsung terdiam mengangkat wajahnya menatap kesal ke Amer. Tega banget ngatain Jingga lebay. 


“Ihhh. Nyebelin banget sih lo! Ini udah jam berapa? Suamiku kemana?” tanya Jingga kemudian. 


“Nggak tahu tadi turun ke bawah bukit! Udah kakak siap- siap. Kita pulang sekarang!” jawab Amer lagi tidak pengertian ke Jingga, Amer kemudian mengacuhkan Jingga dan merapihkan barangnya sendiri. 


Jingga juga bangun dan hendak mencari Adip. 


“Mau kemana?” tanya Amer sedikit membentak. 


“Mau ke suamiku lah!” jawab Jingga. 


“Kakak beresin barang Kakak, kita pulang sekarang!” jawab Amer. 


“Ih kamu nyebelin banget sih? Nanti!” jawab Jingga. 


Tahu gelagat kakaknya mau ngewalan Amer langung meraih tangan Jingga dan menyuruhnya kembali dan  beberes. 


“Siang ini pesawat Baba akan sampai ke pulau ini. Kakak cepat beberes, sebelum dzuhur kita harus sampai ke kota!” ucap Amer lagi mempertegas. 


“Wuaah!” pekik Jingga mulai merasa kembali terpenjara. “Kakak mau mampir ke desa T dulu, dong!” jawab Jingga. 


“Nggak sempet Kak!” jawab Amer. 


“Amer... kakak punya anak asuh di sana, kakak punya teman di sana, kakak masih punya tanggung jawab di sana. Barang- barang kakak juga ada di sana! Kakak pamitan dulu!” jawab Jingga lagi. 


“Nanti suami Kakak yang pamitin. Barang- barang apa sih? Kata bang Adip ponsel kakak, laptop kakak juga hanyut kan? Udah sih ihklasin aja! Baju doang!” jawab Amer lagi. 


“Sebentara aja!” jawab Jingga berusaha. 


“Nggak Kak! Sebelum dzuhur kita harus sudah di kota!” 


“Mer...” panggil Jingga meminta, hati Jingga sungguh terasa sangat sesak dengan sifat Amer yang terlewat patuh.


“Nggak, Kak! Segeralah berkemas!” tutur Amer tegas, kali ini Amer mirip Babanya. 


“IiH!” Jingga pun hanya bisa menelan ludahnya gondok sambil memilin bajunya. Sungguh Jingga merasa sangat kesal. Kalau sudah begini Jingga tidak bisa melawan dan hanya bisa menelan rasa kesal.


Jingga baru saja menemukan kebahagiaanya, kenapa harus dirampas paksa secepat ini. 


Jingga pun tak kuasa menahan emosinya, tapi tidak bisa protes, sampai air matanya menetes lagi saking tidak tahu mau bicara apa.


Amer pura- pura tidak melihat Jingga dan menyibukan diri.


Sebenarnya Amer tidak tega. Amer juga ingin main- main, tapi musibah yang menimpanya membuat Amer bertemu dengan pengawal Baba. Amer tidak bisa menolak kemauan Baba juga. Amer juga beroikir dua kali melawan Babanya.


Jingga sungguh masih ingin di sini. Jingga baru saja merasa bangga dan bahagia terjun ke masyarakat.


Jingga masih punya banyak janji pada anak- anak didiknya dan warganya. 


Jingga juga baru saja pecah telur, perasaan yang selama ini menyesakkan dadanya akhirnya bisa dia ungkapkan. Lebih dari itu perasaanya terbalas. Jingga baru mulai merasakan indahnya cinta dan kekebersamaan, kenapa harus di rampas begitu saja. 


“Hughs... hugs...” Jingga terus meneteskan air matanya dan meyekanya sendiri sambil merapatkan resleting tas bidan Risa.


Jingga ingin marah dan kabur, tapi pengawal Amer sudah menunggu di luar. Jingga tahu, sejauh apapun Jingga pergi pasti Babanya akan menemukanya. 


"Hiks!" Jingga hanya bisa pasrah dan berharap ada keajaiban bisa kembali.


Amer sudah selesai berkemas, Amer pun bangun menenteng tasnya. Pengawal Amer pun mengingatkan matahari mulai naik dan meminta Jingga dan Adip segera berkemas. 


“Ayo Kak!” ajak Amer. 


Jingga masih terisak, dan tanganya terus menyeka air matanya. Jingga merasa sangat berat harus pergi. 


“Ayo!” ajak Amer lagi. 


“Bang Adip mana?” tanya Jingga terisak. 


Amer diam dan menoleh ke sekeliling, dia juga bingung kenapa Adip malah pergi. 


“Bang Adip udah pamitan, Kak!” jawab Amer, karena semalam Adip memang sudah menitipkan pesan ke Amer. 


“Tunggu Bang Adip, sebentar aja!” tutur Jingga meminta. 


“Hhhh” Amer menghela nafasnya mencoba mengerti. 


“Kakak cari Bang Adip dulu!” jawab Jingga masih melihat barang Adip itu artinya Adip masih di sekitar situ


“Ya!” jawab Amer mengangguk.


Jingga pun  meletakan tasnya, mencoba mencari Adip. Jingga tahu, kalau pagi Adip sangat suka melihat laut di undakan lembah di bawah puncak tebing. 


Belum Jingga sampai, Adip muncul dari bawah tebing. Jingga pun berlari mendekat ke Adip.


Tidak peduli diliat banyak orang, atau dilihat adiknya. Jingga berlari dan langsung memeluk Adip kencang. 


“Hiks... hikss!” Jingga pun terisak di dada Adip. 

__ADS_1


Adip terdiam menahan sesak juga sambil membuang mukanya menahan tangis.


Sesaat Adip membiarkan Jingga menangis dan mengatur emosinya agar tetap waras dan berkepala dingin.


Setelahnya Adip pun membalas pelukan Jingga hangat dan membelai rambut Jingga lembut. 


“Its oke... every thing will be ok. Nggak apa- apa. Kita akan ketemu lagi. Pulanglah!” bisik Adip pelan. 


“Apa sungguh kamu ingin aku pulang?” tanya Jingga kesal, sifat manjanya keluar merasa Adip tak menginginkanya. Kenapa Adip tidak menahanya dan terus menyuruhnya pulang.


“Bukan begitu, kamu ingin Baba dan Bunamu memberi restu ke kita kan? Tunjukan pada Baba dan Bunamu, kamu bukan anak pembangkang. Berbuat baiklah pada mereka. Demi kita, demi aku. Buat mereka percaya padamu. Percaya aku!” tutur Adip lagi pelan. 


“Bagaimana kalau Baba tetep nikahin aku sama Pak Rendi?” tanya Jingga masih terisak dan sangat takut.


Adip kemudian menggerakan kedua tanganya menyeka air mata di pipi Jingga dengan lembut, kemudian menangkup kedua pipi Jingga dengan kedua tanganya. Menatap Jingga dalam dan hangat.


“Amer akan bantu jelaskan. Kita sudah menikah, kamu istriku. Lusa setelah aku selesaikan pekerjaanku di desa T, aku ke kota, aku akan telepon Pak Rendi. Ingat aku suamimu, ini kenyataanya dan tidak ada yang bisa merubah itu. Kita hanya perlu memantapkanya ke Baba, hem?” tutur Adip dengan tatapan dalamnya.


Jingga mengangguk mengerti.


“Kamu janji kan nggak akan deket- deket dengan perempuan lain?” tanya Jingga lagi masih saja otaknya dipenuhi cemburu dan curiga. 


Adip pun tersenyum dan memencet hidung Jingga. 


“Bawel banget sih. Aku milikmu, aku punyamu! Otakku, hatiku, mataku, semua sudah penuh diisi kamu” jawab Adip membuat Jingga tersipu. Jinggapun kembali memeluk Adip kencang, sangat kencang, sampai Adip sesak dan adik kecil Adip bangun mengeras dan menegak sempurna, kali ini Jingga mulai peka dan merasakanya. 


“Ups!” Jingga segera mengurai pelukanya, tiba- tiba sundulan keras di bawah itu sedikit menekan, dan membuat tubuhnya memanas.


“Apa itu?” bisik Jingga malu.


“Ehm!” dehem Adip salah tingkah dan tidak menjawab. Untuk mengusir kecanggungan itu, Adip kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. 


“Maaf, aku belum bisa kasih mahar yang bagus atau perhiasan mahal. Aku nemuin batu alam ini. Warnanya sangat cantik, sesampainya di kota, kamu bisa membawanya ke tempat perhiasan. Buat ini sebagai liontin atau batu cincin!” tutur Adip mengeluarkan batu alam yang warnanya sangat indah. 


Jingga sampai melongo melihatnya. Batu itu seperti mutiara tapi masih tersimpan dalam bentuk kotak tak beraturan dan belum terasah, warna biru bercampur putih.


“Ini seperti batu giok mentahan, kamu dapat darimana?” tanya Jingga tidak menyangka Adip menemukan harta karun itu. 


"Di gua kecil di lereng bukit ini, kemarin aku melihatnya dan baru sempat kuambil. Simpanlah, buatkan sepasang agar aku bisa memakainya juga. Di ibukota banyak kan tempat yang bisa mengolah ini!” jawab Adip. 


Jingga pun tersenyum mengangguk. Adip kembali membelai kepala Jingga.


"Jaga dirimy untukku. Aku lebih bahagia lagi kalau kamu juga tutup auratmu untukku!" tutur Adip pelan dan mengagetkan Jingga.


"Iya!" jawab Jingga mengangguk.


Jinggapun lebih legowo untuk pergi. Adip kemudian mengantar Jingga sampai ke dermaga. 


Hari itu, Jingga pun pulang tanpa pamitan ke desat T. Barang- barang Amer dan Jingga, Amer amanahkan ke Adip. Mereka percaya Adip akan menepati janji datang ke rumah Baba Ardi. 


*****


Kaak maaf. Numpang promo lagi ya..


Punya Kak Meidina.


Yuuk kepoin.




Judul: perjalanan mistis si kembar


penulis: Meidina


Eps14 (mengenali bau).


dari sebrang jalan rumah mereka, ada mahluk yang menyeringai karena panggilan dari Faraz.


sosoknya yang begitu seram dengan wajah penuh berbelatung, dan begitu banyak borok di lengan, tubuh dan wajahnya.


bahkan rambut hitam panjang yang acak-acakan, panjangnya sampai menyentuh tanah.


pay*d*r* yang menggelantung sampai sepaha, mahluk itu adalah Wewe gombel yang sering menculik anak-anak.


"errg..." suara mahluk itu yang tak bisa mendekat.


sedang dari dalam rumah, Arkan berdiri di depan pintu dan bisa melihat sosok seram itu sedang melihatnya.


Aryan meminta semua mengambil air wudhu untuk sholat dan Arkan akan berjaga terlebih dahulu.


"idih... Nini Wewe, ngapain di situ masih Magrib woi, mending minggir we," kata pocong yang selalu mengikuti Raka.


"diam..." suara Geraman itu terdengar menakutkan.


"jadi hantu jangan goblok ya, kamu gak akan bisa masuk, orang itu ada pagar ghaib, dan di dalam rumah itu bukan anak yang bisa kamu ganggu, jika tak ingin mati konyol, ha-ha-ha-ha," ledek pocong gosong itu.


"kamu saja yang pergi, aku ingin membawa mereka," kata Wewe gombel itu dengan marah.

__ADS_1


tapi baru juga menabrak pagar gaib tangan mahluk itu terbakar, pocong itu pun tertawa melihat tingkah wewe gombel bodoh itu.


__ADS_2