
Belum sempat Pak Dino memberi perintah pada anak buah Gunawijaya untuk meminta data penumpang ke pelabuhan, Ikun menelpon Amer.
“Iya dhek, kenapa?”
“Ternyata Kak Jingga naik, kapal, Tama beres dan aman,di tanganku!”
“Kamu udah cek?”
“Udah. Kak Jingga naik kapal Pe**i C****a*, berangkat 3 hari yang lalu pagi, ada 6 titik pelabuhan yang Kak Jingga temui, jadi sekitar 4-5 harian lagi sampai sana!” ucap Amer memberitahu.
Orang- orang rumah juga sangat frustasi, memastikan semua data penumpang pesawat dan memantau Tama, tak ada tanda keberadaan Jingga. Oma Rita yang ditutup- tutupi akhirnya tahu dan justru menjadi orang pertama yang berfikir Jingga naik kapal.
Jingga memang pernah cerita ke Oma, kalau Jingga suka melihat laut. Sama seperti Baba semua merasa bodoh dan kecolongan. Opa Nando dan Ikun pun segera mencari informasi lebih dulu dari, Baba. Ternyata benar, Jingga memilih naik kapal.
Jingga juga tahu kalau Babanya mengejar. Jingga sempat melihat mobil anak buah Babanya, sehingga Jingga langsung putar haluan. Tepat saat Jingga mencari info, ada jadwal kereta yang berangkat.
“Oke makasih!” jawab Amer.
Baba yang ikut mendengar langsung menatap Amer dengan tatapan bertanya.
“Kak Jingga naik kapal P C*****a* Ba,” tutur Amer memberitahu.
Baba menelan ludahnya sampai terlihat jakunya bergerak keatas ke bawah.
“Jinggaku benar- benar berubah karena anak ini?” gumam Baba mengulum lidahnya dentgan matanya penuh dengan banyak pikiran.
__ADS_1
“Bagaimana Tuan? Kita pulang ke Ibukota? Menunggu Non Jingga di sini? Atau lanjutkan perjalanan menemui Adipati?” tanya Pak Dino.
“Siapkan semua keperluan, kita berangkat sekarang!” tutur Baba memerintah.
“Sekarang?” pekik Amer dan Pak Dino kaget, mengingat waktu sudah masuk malam dan langit gelap.
“Ya!” jawab Baba dingin.
“Sekarangnya berangkat pulang atau kemana Ba?” tanya Amer memastikan.
“Kamu anak Baba kan?”
“Ya iya, emang Amer anak siapa lagi?”
“Kenapa mesti tanya? Baba harus ketemu sama anak yang sudah jadi pencuri buat anak Baba!” jawab Baba.
Amer menelan ludahnya, mulai nih, Babanya bertindak ngawur nggak jelas apa maunya.
“Ya iya Ba... tapi kan ini malam, untuk sampai ke daerah hanya bisa naik pesawat perintis kecil dan naik perahu sungai. Pesawat kecil terlalu beresiko mendarat pada malam hari Ba, di daerah tidak ada bandara yang canggih,, hanya ada tanah lapang di lembah atau bukit!” tutur Amer memberitahu medan pulau Panorama.
“Nggak usah berisik kamu. Baba lebih tua dari kamu,” ucap Baba malah marahi Amer.
Baba mengkode Pak Dino.
“Siapkan kapal terbaik, kita berangkat ke daerah sekarang. Aku harus temukan pencuri itu sebelum putriku sampai sini!” ucap Baba memerintah.
__ADS_1
“Baik Tuan!” jawab Pak Dino segera keluar ruangan.
Amer hanya menggelengkan kepala, kadang Babanya memang sulit dimengerti apa ingin dan tujuanya. Hanya Baba yang tahu apa rencana, apa yang akan dia lakukan. Kenapa Baba ingin menemui Adip lebih dulu sebelum Jingga sampai.
Apakah Baba akan menyuruh Adip menyerah dari Jingga, menceraikanya, mengikhlaskanya dan memarahinya. Atau Baba justru akan merestui dan menjemput Adip ke kota agar Jingga tak masuk ke tempat yang membahayakan lagi.
Amer memilih diam saja, yang penting ada usaha Baba menemui Adip. Pikiran Amer kunci permasalahan adalah bertemu dengan Adip. Jadi apapun rencana Baba yang penting hadirkan Adip dan Jingga dulu.
Dengan santainya sambil menunggu Pak Dino yang kelimpungan dan tergesa menghubungi beberapa pmilik kapal, tanpa mengucap apapun, Baba justru membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya di kamar hotel.
“Bangunkan Baba kalau sudah siap, Baba nyalakan alarm 2 jam lagi, seharusnya sebelum alarm berbunyi semua sudah siap!” ucap Baba tiba- tiba bangun dan asal perintah, saat Amer sedang menggerundel dan mau mengatai Babanya.
Baba seperti punya indra keenam, tahu saja kalau anaknya sedang mencibirnya dengan banyak pertanyaan.
“Ya Ba!” jawab Amer.
“Istirahatlah, jangan banyak mengeluh dan cerewet seperti ibumu, malam ini kita akan begadang bukan?” ucap Baba lagi, sempat- sempatnya mengatai Buna. Padahal kan Buna sudah sangat sabar jadi istri menghadapi Baba.
“Ya, Ba!” jawab Amer.
Amer ikut beristirahat di dekat Babanya dan meletakan ponselnya. Tidak lupa Amer mengisi daya karena di daerah nanti tak ada listrik.
Benar sesuai perkiraan Baba, kurang dari dua jam, Pak Dino kembali. Pak dini berhasil mengontrak satu perahu listrik bertenaga solar, bahkan akan Baba beli sebagai kendaraan pribadi selama Baba di sini.
Pak Dino pun meminta pihak nahkoda menyiapkan lampu dan semua perlengkapan keamanan termasuk bahan makanan. Malam itu juga meski harus melawan cuaca yang gelap dan semua resikonya. Baba, Amer, Pak Dino dan rombongan berangkat ke daerah dengan jalur air.
__ADS_1
Karena setahu Amer, Adip sudah kembali ke desa T, mereka pun menuju ke desa T langsung, tanpa mampir ke kecamatan dulu atau tanya ke petugas setempat. Pokoknya Baba seperti polisi yang harus segera menangkap Adip yang dia anggap pencuri hati putri kesayanganya.